Nice share masbro.. :D


 Salam,
Kautsar Taufiq
"aLL is noT 4eveR"  

| Id Ym : kwtsr_idh |
| another email : [email protected] |






________________________________
From: Cira Cira <[email protected]>
To: karisma_honda <[email protected]>
Sent: Tuesday, May 4, 2010 10:24:58
Subject: [karisma_honda] OOT: Melajang atau Menikah

  
Iseng2 buka2 dokumen lama ternyata banyak artikel menarik yang menurut gue 
perlu dibaca lagi sambil santai minum kopi atau sambil denger musik, mudah2an 
bisa berguna buat yang membacanya dan mohon ma'af jika sudah ada yang pernah 
dapat atau pernah membacanya. 

om momod numpang bandwith ya 


Just 
want to share with you guyz...

Banyak orang yang masih single berpikir 
bahwa alangkah menyenangkannya hidup pernikahan itu. Ada seseorang untuk 
berbagi, dalam suka dan duka, dalam untung dan malang, dalam keadaan sehat dan 
sakit, sebagaimana yang dinyatakan dalam janji pernikahan.
Itu benar adanya, 
saya tidak pernah memungkiri betapa benarnya kenyataan itu! Namun di lain 
pihak, 
terdapat harapan dan impian Hollywood, sebagaimana film-film dramanya 
memberikan 
gambaran, betapa kehidupan yang diarungi berdua itu indah-indah saja dan pasti 
endingnya sebagian besar adalah “Happy End”.

Saya tidak mengatakan bahwa 
kehidupan perkawinan tidak ada unsur yang menyenangkan. Sama sekali tidak! 
Namun 
sejak saya pribadi menjalani kehidupan perkawinan yang masih seumur jagung ini, 
saya pun mulai menyadari bahwa untuk benar-benar bertahan dalam kehidupan 
perkawinan, mimpi romantisme saja tidaklah cukup.

Kehidupan sebagai 
seorang lajang, tidak lepas dari begitu banyak kebebasan. Kalaupun ada yang 
mengikat tentunya hanya sang pacar dan keluarga kita.
Namun ketika kita 
memutuskan untuk menikah, keterikatan itu tidak lagi sebatas apel di malam 
minggu, nonton atawa makan bersama yang mungkin cuma makan waktu sekitar 2-3 
jam 
seminggu 2-3 kali misalnya.
Keterikatan itu menyangkut penyesuaian diri 
dengan seseorang yang bisa-bisa selama 24 jam bersama-sama dengan kamu dan itu 
bukan main-main, untuk seumur hidupmu!
Dua pribadi yang dipersatukan, 
tentunya memiliki banyak perbedaan. Mungkin ketika berpacaran, kamu dengan 
gampang menemukan begitu banyak persamaan antara kamu dengan pasangan. Dan 
ketika kamu memasuki mahligai perkawinan, kemudian kamu menjadi bingung, 
mengapa 
kamu semakin melihat begitu banyak perbedaan?
Untuk itu penyesuaian dan 
pengertian yang terus menerus amat dibutuhkan oleh kedua belah pihak dalam 
rumah 
tangga.

Dan bukan itu saja, keterikatan itu termasuk perkawinan plus plus 
di Indonesia. Kenapa saya katakan perkawinan ++ (baca: perkawinan plus plus)? 
Karena keterikatan dalam suatu perkawinan juga termasuk dengan keluarga 
suami/istri dan seluruh kerabatnya. Keluarga besar, begitu istilahnya.
Dan 
tiba-tiba saja, saudara kita bertambah amat banyak, dikarenakan tali pernikahan 
yang kita jalani.
Mungkin kamu pernah dengar pernyataan begini, “ Itu lho… 
Pak Ade, adik dari ipar saya…” Atau mungkin, “ Itu keponakan dari mertua 
saya…”
Belum lagi terkadang istilah-istilah yang begitu kompleksnya, yang 
pasti ujung-ujungnya ada hubungan saudara dikarenakan perkawinan 
…

Berhadapan dengan semakin banyak orang, tentunya berhadapan pula dengan 
semakin banyak karakter. Dan disadari atau tidak, tentunya banyak kepala 
semakin 
banyak permasalahan yang dihadapi. Untuk banyak pasangan, pertengkaran tidaklah 
terjadi antarmereka, namun banyak kali dikarenakan campur tangan dari pihak 
ketiga, keempat, bahkan kelima yang semakin memperkeruh suasana.
Jadi, 
pasangan yang menikah dengan kekerabatan plus plus hendaknya pandai-pandai 
memilah situasi, sehingga mereka tidak gampang terhasut oleh pihak-pihak yang 
tidak bertanggung jawab, walaupun itu adalah dari pihak keluarga 
sendiri.

Perkawinan mengajarkan saya untuk hidup lebih realistis. Tidak 
selamanya pasangan kita berada pada ‘top performance’ sebagaimana yang 
ditunjukkan selama masa berpacaran atau masa ketika sang wanita tengah 
‘dikejar’ 
oleh sang pria atau sebaliknya sang pria yang ‘dikejar’ wanita.
Perkawinan 
membawa seseorang ke tahap di mana harus menerima kalau pasangannya tengah 
kelelahan selepas kerja dan mendengar celotehan yang penuh amarah adalah hal 
terakhir yang diinginkan pada saat itu karena tubuhnya penat amat membutuhkan 
istirahat.

Menikah, apabila mendapatkan seseorang yang cocok, memang 
memberikan satu ketenangan batin dan ketentraman. Yang paling penting adalah 
azas yang diterapkan, tetap bersama dalam keadaan apa pun, tetap 
dijalankan.

Jujur saja, kehidupan lajang yang belum memiliki pacar alias 
jomblo atau sedang ‘kosong’ sebetulnya juga sangat menyenangkan. Kamu bisa 
lakukan apa saja yang kamu mau, mau pergi karaoke keluarga bersama 
teman-temanmu, mau nonton, mau jalan-jalan ke luar negeri, mau pelayanan 
sana-sini, mungkin tidak jadi masalah. Itu bakal jadi sesuatu yang berbeda 
ketika ada seorang pacar dan kemudian menjadi pasangan, suami atau istri kita, 
harus dilakukan penyesuaian di sana-sini dan tentunya saling toleransi antara 
satu dengan yang lain.

Namun, yang namanya manusia, sering kali tidak 
pernah puas, dan tidak jarang ada perasaan bosan menghinggapi hati kita apabila 
rutinitas itu-itu saja yang kita alami. Yang single berkeinginan segera 
mengakhiri kehidupan melajangnya dan melabuhkan hatinya kepada seseorang yang 
cocok. Sementara tidak jarang yang sudah menikah dan punya anak merindukan 
saat-saat lajang, di mana kebebasan menjadi begitu berarti di mata 
mereka.
Rumput tetangga sepertinya kelihatan selalu lebih hijau…
Bagaimana 
mencari penyelesaian agar kita bisa mensyukuri kehidupan yang kita jalani pada 
saat ini, sebetulnya merupakan kunci permasalahan. 

Pada 
akhirnya, saya menilai bahwa kehidupan perkawinan akan jadi sangat menyenangkan 
bila:

Menikah dengan seorang yang cocok, dari segi intelektual, 
kepercayaan/ agama, strata sosial, dan pemikiran akan masa depan berkeluarga 
yang bakal diarungi bersama. 
Menjalani cinta romantisme- denyut 
jantung yang berdetak semakin cepat saat bertemu dengan si Dia, muka yang 
memerah (blushing)- dengan penuh rasa syukur namun tidak terbius olehnya. 
Sehingga tidak kecanduan akan cinta romantis ini dan bisa menerima 
keadaan ketika cinta romantis menjadi cinta realistis. 
Berusaha mengerti kondisi pasangan, terutama pada saat-saat pasangan tengah 
menghadapi hal yang kurang menyenangkan ataupun menghadapi masalah besar. 
Pengertian adalah dasar yang utama yaitu dengan berusaha menempatkan diri pada 
posisi pasangan. 
Tanggung jawab yang tinggi akan keputusan untuk menikah dan 
menjalani kehidupan bersama. Dalam kondisi apa pun! 
Tetap setia dan 
menyertakan Tuhan dalam relasi ini. Adalah sangat beruntung apabila kedua orang 
yang terikat dalam satu mahligai rumah tangga adalah orang yang sama-sama 
memiliki hubungan pribadi yang indah dengan sang Pencipta. Karena 
banyak kali dalam kehidupan ini, kita mengalami kekecewaan dengan pasangan 
kita. 
Mungkin yang paling sering mengecewakan kita adalah pasangan kita, namun 
apabila 
kita punya relasi yang baik dengan Tuhan, yakinlah bahwa kita akan dimampukan 
memaafkan dan mengasihi pasangan kita. Namun, bila hanya salah satu pihak yang 
lebih dekat relasinya dengan Tuhan, sebaiknya mendoakan pasangannya agar bisa 
merasakan cinta Tuhan secara pribadi dan setia menunggu saatnya Tuhan 
tiba bagi pasangannya untuk merasakan hal itu.



Jika belum 
menemukan yang cocok, apa yang harus dilakukan?

Tetaplah mengasihi Tuhan 
secara sempurna, jangan marah-marah atau ‘complain’. Kalaupun ada ‘complain’ 
nyatakan kerinduan dan kegelisahan hatimu kepada Tuhan. 
Nikmati ke-single-an 
itu sebagai berkat Tuhan juga, karena kamu tidak pernah tahu apa yang harus 
kamu 
hadapi ketika kamu menikah. Tanggung jawab yang lebih berat, juga masalah yang 
lebih besar. Ketika kamu menghadapi itu semua, mungkin kamu tidak kuat, makanya 
Tuhan menunggu waktu yang tepat untuk memberikan seseorang yang tepat pula 
untuk 
kamu. 
Dan yakinlah, apabila Tuhan sudah bertindak, dan memberikan yang 
terbaik untukmu, Dia tidak pernah lepas tangan! Dia dengan setia terus 
membimbing agar kita siap mengalami semua perubahan yang terjadi. Dengan 
demikian, sebagai seorang single, kita hidup dalam kepenuhan, dan kita mampu 
mengucap syukur dengan kehidupan melajang itu. Dan ketika saatnya kamu harus 
menikah, kamu pun memiliki rasa syukur yang tinggi atas kehidupan single yang 
sudah kamu jalani selama ini, dan mampu mengambil tanggung jawab akan kehidupan 
berumah tangga yang Tuhan percayakan kepada kamu.

Jadi, lajang atau 
menikah, tidaklah jadi masalah asal kita menjalani kehidupan ini dengan 
realistis, sekaligus penuh pengharapan di dalam iman kita kepada Tuhan.
Tuhan 
tahu yang terbaik untuk setiap kita, jangan pernah ragukan itu! Bersyukur atas 
apa yang Dia beri, itu adalah yang terbaik yang bisa kita lakukan pada saat 
ini… 
 

Kirim email ke