di teruskan dari milis sebelah..
Masih mengenai Verifikasi Jurnalistik dalam abad informasi (bukan judul
skripsi lho.. ;-)

TR.
---------------------------------------------------------------------------

> Farid Gaban Menanggapi tulisan Ulil Abshar-Abdalla di Tempo:

>
> Tulisan ini dalam format Word bisa didownload di
> www.penaindonesia.com/desktop/teror.doc
>
> Mengomentari Tragedi Bom Kuningan dua pekan lalu, Ulil Abshar
> Abdalla, cendekiawan Jaringan Islam Liberal dan Freedom Institute,
> menulis di Majalah Tempo (No. 29/XXXII/13 - 19 September 2004) di
> bawah judul: "Mengapa Defensif?".
>
> Dalam tulisannya, Ulil mengajak umat Islam untuk tidak defensif
> menanggapi tudingan polisi dan pemerintah Australia yang mengatakan
> bahwa bom itu buatan Jemaah Islamiyah. Artinya, mengakui sajalah.
>
> Ulil melandaskan argumennya pada pernyataan berbahasa Arab dalam
> situs www.islamic-minbar.com. Dalam situs itu, katanya, "Departemen
> Penerangan Jemaah Islamiyah Asia Timur" mengaku bertanggungjawab atas
> bom bunuh diri di Kedubes Australia.
>
> Ulil sendiri mengatakan tidak yakin benar otentisitas pernyataan itu.
> Namun, seluruh argumen dalam tulisan di Tempo itu menunjukkan bahwa
> Ulil cenderung mempercayainya sebagai otentik. Salah satu argumen
> penting Ulil adalah bahwa pernyataan itu ditulis dalam bahasa Arab
> standar yang mengesankan penulisnya adalah seorang "insider".
>
> Berbeda dengan Ulil, saya sendiri, setelah melakukan penelusuran,
> meragukan keotentikan klaim itu. Dan di sini, saya ingin membahasnya
> terutama dalam konteks jurnalisme, baik aspek etik maupun praktek,
> serta kecenderungan mengerikan tentang betapa rentannya media
> terhadap manipulasi dan propaganda.
>
> AMNESIA MEDIA DAN GEMPURAN "NEWS CYCLE"
>
> Klaim "Islamic-Minbar" soal Bom Kuningan saya baca pertama kali pada
> 10 September (sehari setelah tragedi) dari beberapa kantor berita:
> Associated Press, AFP dan Reuters. Berita-berita ini dikutip oleh
> hampir semua koran, termasuk The Jakarta Post di Indonesia dan The
> Sydney Morning Herald di Australia.
>
> Ada "caveat" (pengakuan lemah) dalam tulisan asli kantor-kantor
> berita tadi. Reuters, misalnya, memberita tambahan pada
> beritanya: "The authenticity of the claim could not be immediately
> verified." Dengan kata lain, berita ini masih "setengah matang".
> Masih ada pekerjaan rumah penting, yakni verifikasi, tapi tidak bisa
> segera dilakukan si wartawan.
>
> Problemnya, ini bukan pertama kali kantor-kantor berita tadi menulis
> klaim "Islamic-Minbar". Saya menemukan setidaknya ada sepuluh berita
> media massa tentang klaim "Islamic-Minbar" sejak akhir Juli 2004,
> menyangkut beragam teror hampir di seluruh dunia, termasuk drama
> penyanderaan sekolah di Rusia awal September lalu yang menewaskan
> ratusan orang.
>
> "Islamic-Minbar" mengaku bertanggungjawab atas:
>
> - jatuhnya pesawat Tupolev Rusia
> - penyanderaan anak-anak di sekolah Rusia
> - pemboman di Madrid, Spanyol
> - pembakaran sinagog di Prancis
> - bom bunuh diri di Palestina
> - bom mobil di Uzbekistan
> - pemenggal kepala warga Amerika di Irak
> - pembunuh sukarelawan Italia di Irak
>
> (Di bawah nanti, saya sertakan ringkasan berita tentang "Islamic-
> Minbar" dan rujukan pada sumbernya).
>
> Jika semua klaim tadi otentik, muncul pertanyaan paling penting di
> sini: organisasi apa sebenarnya yang ada di balik situs "Islamic-
> Minbar"?
>
> Organisasi apa yang mengklaim, lewat Bom Kuningan, sedang
> menghukum "Kristen Australia" tapi faktanya membunuh dan melukai
> secara telak Muslim Indonesia?
>
> Tentu saja, jika semua klaim tadi otentik...
>
> Problemnya, sejak Juli itu, kantor-kantor berita terus mengulang-
> ulang "caveat" yang sama, bahwa "The authenticity of the claim could
> not be immediately verified"--tanpa benar-benar menunaikan pekerjaan
> rumahnya, yakni verifikasi. Dan terus-menerus menyajikan
> berita "setengah matang" kepada audiens-nya, tanpa sadar bahwa apa
> yang sebenarnya "setengah-fakta" kemudian ditelan pembacanya
> sebagai "fakta".
>
> Membunuh ratusan orang di seluruh dunia adalah kejahatan serius.
> Tapi, meski demikian gawatnya, kenapa kantor-kantor berita
> internasional hanya selalu menyajikan berita setengah matang dan
> tidak pernah menggali lebih jauh?
>
> Ada banyak jawaban, tapi salah satunya, saya kira adalah "lupa"
> dan "tidak sempat". Di tengah gempuran peristiwa-peristiwa setiap
> hari, didera "siklus berita" yang kian pendek (jam dan menit), para
> wartawan mudah terjangkit amnesia (lupa apa yang mereka
> tulis/tayangkan dua pekan lalu) dan tidak sempat melakukan verifikasi
> sementara peristiwa-peristiwa baru terus muncul.
>
> Verifikasi (satu unsur penting dalam jurnalisme versi Bill Kovach)
> akhirnya hanya fatamorgana. Para wartawan terapung dalam buih
> peristiwa-peristiwa, mudah diombang-ambing oleh siapa saja yang punya
> agenda, yang puas bisa memanfaatkan wartawan untuk mengkontruksi
> fakta dari serpihan-serpihan setengah fakta.
>
> Agenda itu bahkan bisa sekadar keisengan belaka. Lihatlah contoh
> berikut.
>
> ISLAMIC-MINBAR DAN DONGENG PALSU DARI SAN FRANCISCO
>
> Awal Agustus lalu, Associated Press dari Kairo mencuplik video yang
> diposting di situs www.islamic-minbar.com. Video berdurasi 55 detik
> itu menggambarkan adegan pemenggalan kepala Benjamin Vanderford,
> seorang sandera Amerika di Irak, oleh teroris Islam. Tak hanya AP,
> Kantor Berita Reuters juga memberitakannya, demikian pula beberapa
> stasiun televisi di negara-negara Arab.
>
> Dalam empat versi beritanya yang disiarkan ke seluruh dunia, Kantor
> Berita AP tidak mengatakan bahwa video tersebut telah diverifikasi
> keotentikannya. Tapi berita itu terlanjur beredar cepat. Berita itu
> cepat menjalar ke seluruh dunia, dikutip koran dan televisi lokal.
> Dan kata "alleged" (diduga) yang semula ada dalam berita awal mulai
> hilang. "Seeing is believing" -- orang percaya bahwa itu memang hasil
> kerja teroris Islam.
>
> Kini terbukti, video itu bohong-bohongan belaka. "Saya membuat film
> itu di garasi rumah saya di Pleasanton (San Francisco, AS)," kata
> Martin, seorang pemusik eksperimental, kepada Koran The San Francisco
> Chronicle belakangan. "Kami membuat darah palsu dari sirup jagung
> warna merah. Kami menggunakan digital video camera murahan untuk
> merekam adegan pemenggalan yang sebenarnya dilakukan dengan posisi
> pisau terbalik."
>
> Martin dan teman wanitanya, Kirchner, mengaku membuat video itu untuk
> menguji penyebaran berita lewat internet dan kemampuan media-massa
> memverifikasi bahan beritanya.
>
> "Mencengangkan," kata Kirchner. "Betapa dahsyatnya internet. Seorang
> mendapatkan file video itu dan membaginya dengan beberapa orang lain.
> Lalu, tiba-tiba ditayangkan di sebuah stasiun televisi Arab dan
> diyakini sebagai kenyataan."
>
> Apakah AP, Reuters dan media-media lain meminta maaf untuk kesalahan
> itu, pengakuan bahwa mereka telah diperdaya? Tidak ada yang
> permintaan maaf, kecuali ada berita pendek tentang penangkapan dua
> orang itu oleh FBI.
>
> Tapi, "setengah fakta" sudah terlanjur menjadi "fakta", yang kemudian
> diperkuat oleh klaim Bom Kuningan, lagi-lagi di "Islamic-Minbar" yang
> sama. Dan lagi-lagi AP serta Reuters cukup puas hanya mengatakan "The
> authenticity of the claim could not be immediately verified". Dan
> lagi-lagi, orang sepintar Ulil Abshar Abdalla pun cenderung
> mempercayainya sebagai fakta.
>
> TUMPULNYA SKEPTISISME
>
> "Lupa" dan "tidak sempat" hanya dua dari banyak alasan kenapa
> wartawan tidak melakukan verifikasi. Kemungkinan alasan lain:
> kehilangan daya kritis, terperangkap dalam "frame" pembuat berita,
> atau terjebak dalam bias Rezim George Bush di Amerika.
>
> Sudah saya tunjukkan tadi bahwa "Islamic-Minbar" mengklaim beragam
> aktivitas teror Islam di seluruh dunia.
>
> Klaim terhadap Bom Kuningan diatribusikan pada "Jemaah Islamiyah Asia
> Timur". Tapi, sejauh menyangkut www.islamic-minbar.com, sebenarnya
> ada banyak atribusi lain di situ:
>
> - "Omar al-Mukhtar Brigades"
> - The Tawhid wa al-Jihad (Unification and Holy War)
> - The Jamaat Ansar Al-Jihad al-Islamiya (Group of the Holy Islamic
> War Supporters)
> - "Islambuli Brigades" (dari nama pembunuh Presiden Mesir
> Anwar
> Sadat)
> - the Islamic Army in Iraq (Al Qaedah)
> - Ansar al-Zawahiri (Al Zawahiri group)
>
> Situs "Islamic-Minbar" ingin memberi kesan adanya sebuah konsorsium
> besar teroris Islam seluruh dunia, melintasi batas negara (Indonesia,
> Uzbekistan, Chehnya, Prancis, Palestina, Irak) dan bahkan melampaui
> sejarah (kelompok pembunuh Anwar Sadat pada 1980-an katanya masih
> terlibat).
>
> Konsorsium besar itu kini bermarkas di Irak. Hampir semua klaim
> menyebut Abu Mussab al-Zarqawi (katanya pembantu Usamah bin Ladin di
> Al Qaedah) adalah tokoh sentral dan Irak adalah motif utama serangan
> terorisme. Dalam klaimnya tentang Bom Kuningan, misalnya, "Jemaah
> Islamiyah Asia Timur" mengatakan menghukum Australia karena
> keterlibatan negeri itu di Irak.
>
> Siapa saja yang mempelajari sejarah politik Islam sudah semestinya
> curiga dengan upaya membundel berbagai organisasi Islam ke dalam
> citra monolit: Al Qaedah dan Irak. Sebab, ada dua dalih palsu yang
> diberikan oleh Pemerintah George Bush ketika menyerbu Irak: pertama
> adalah senjata pemusnah massal dan kedua adalah "adanya sempalan Al
> Qaedah di Irak". Dan kini, meski kebohongan sudah terungkap,
> Amerika/Australia tetap getol mengajak dunia untuk mempercayainya.
>
> Upaya seperti itu benar-benar sesuai dengan keinginan Amerika untuk
> menjustifikasi serangan dan pendudukannya atas Irak.
>
> KLAIM MERAGUKAN, TAPI IMPLIKASI LUAS
>
> Ulil Abshar Abdalla mengajak umat Islam untuk tidak defensif, atau
> dengan kata lain, mengakui sajalah semua klaim tadi. Ulil mengabaikan
> implikasi tiga tahun "perang melawan teror" yang dikumandangkan Rezim
> Bush.
>
> Dengan klaim meragukan, seribu lebih orang kini ditahan di Guantanamo
> Bay tanpa pengadilan, ratusan muslim lain ditangkapi di Amerika
> mengabaikan prosedur hukum, universitas Amerika dilarang menerima
> mahasiswa/dosen Muslim, jutaan dolar yayasan Islam dibekukan dan
> seterusnya.
>
> Dan kita kini melihat Irak. Dengan klaim meragukan, Amerika mengubah
> Irak menjadi ladang pembantaian dan siklus teror-anti-teror
> berkepanjangan. Ribuan orang tewas di situ. (Afghanistan? Kita sudah
> lama melupakannya).
>
> Bahkan tidak hanya orang Islam yang menanggung implikasi dari "war on
> terror". Seribu lebih pasukan Amerika tewas di Irak, meninggalkan
> ribuan istri dan anak mereka. Berapa uang pajak warga Amerika yang
> disedot untuk peningkatan anggaran militer setelah 11 September?
> Berapa uang pajak warga Asutralia untuk membiayai pertahanan rudal
> yang diilhami "munculnya terorisme internasional"?
>
> Belum lagi implikasi "intangible", betapa ketegangan hubungan Islam
> dan non-Islam terus meningkat di berbagai belahan dunia akibat klaim
> yang tidak diverifikasi.
>
> "War on terror" ala George Bush juga berbahaya karena mencegah kita
> mendiagnosis secara jernih persoalan politik domestik di masing-
> masing negara. Ada kecenderungan besar sekarang ini untuk melakukan
> simplifikasi berlebihan: bahwa apa yang terjadi di Indonesia,
> Chehnya, Uzbekistan, Palestina dan Irak adalah sebuah fenomena
> tunggal, yaknik fenomena Al Qaedah. Bahkan kerusuhan di Ambon dan
> Poso pernah dinisbahkan pada Al Qaedah, mengubur kemungkinan kita
> memahami persoalan itu dari sudut pandang lain.
>
> Tentu saja, ada banyak kekerasan di negara-negara berpenduduk Muslim.
> Tapi, "Dalih Al Qaedah" sudah menutup kemungkinan kita mendiskusikan
> akar sebenarnya terorisme di Chehnya atau Palestina misalnya.
>
> LOGIKA AMORAL ALBRAIGHT
>
> Banyak orang di negeri mayoritas Muslim sudah jelas dan lama
> marah kepada Pemerintah Amerika dengan apa yang terjadi di
> Afghanistan, Irak, dan Palestina. Survai-survai global terakhir,
> termasuk yang dilakukan oleh lembaga-lembaga Amerika sendiri,
> mendukung gejala itu. Jadi kemarahan terhadap Pemerintah Amerika
> adalah hal yang jamak. Ini bahkan tidak monopoli masyarakat Muslim,
> lihatlah opini di kalangan Kristen/Katolik Eropa sendiri. Tanyalah,
> misalnya, pandangan Gereja Katolik tentang kasus Palestina.
>
> Dalam Perang Teluk Pertama (1990), sebuah majalah konservatif
> Amerika, "US News & World Report", menulis bahwa mayarakat Amerika
> tidak perlu bersimpati kepada rakyat Irak (anak, perempuan dan
> manula) yang tewas dalam perang menghalau Saddam Hussein dari Kuwait.
> Kita tidak perlu bersimpati, katanya, karena "mereka toh pendukung
> Diktator Saddam Hussein" atau setidaknya "punya peluang untuk melawan
> kediktatoran tapi tidak melakukannya".
>
> Beberapa tahun lalu, Menteri Luar Negeri Medelline Albraight ditanya
> oleh wartawan: "Apakah layak, demi menggulingkan Saddam Hussein,
> setengah juta anak-anak Irak tewas akibat embargo ekonomi 10 tahun
> yang disponsori Amerika?" Jawaban Albraight: "Layak"
>
> Tulisan "US News" dan jawaban Albraight, menurut saya, amoral. Dan
> cobalah pertanyaan itu dibalik. Apakah kita setuju orang
> Amerika/Australia tak berdosa dibantai demi melampiaskan kemarahan
> kita pada Pemerintahan Bush/Howard?
>
> Saya pribadi tidak setuju. Tapi, memang ada orang Islam yang punya
> pandangan seperti itu. Mereka memakai logika yang dibuat Albraight
> sendiri: kenapa rakyat Amerika memberi legitimasi pada Pemerintah
> Bush yang brutal itu?
>
> Ada banyak orang Islam yang marah di Chehnya, di Palestina, di Irak,
> atau di Aghanistan--untuk motif yang jelas, dan tidak bisa
> diterangkan sesederhana kita mengucapkan Al Qaedah.
>
> MOTIF ANEH JEMAAH ISLAMIYAH
>
> Lalu, bagaimana dengan Jemaah Islamiyah di Indonesia? Inilah kelompok
> yang paling tidak jelas motifnya. Berbeda dengan di Chehnya dan
> Palestina, orang Islam di sini tidak dalam posisi ditindas. Umat
> Islam di Indonesia juga secara politik merdeka, berbeda dengan di
> Uzbekistan tempat Diktator Islam Karimov dukungan Amerika memberangus
> partai dan organisasi Islam.
>
> Bom Marriot katanya ditujukan pada Amerika dan Bom Kuningan ditujukan
> pada Australia, namun kenyataannya dua teror itu membunuh orang
> Indonesia. Bahkan lebih banyak warga Indonesia tewas di Kuta (Bali)
> pada 2002 ketimbang turis asing Australia. Ketiga bom itu juga
> merugikan Indonesia lebih dari negeri manapun, dan merugikan
> mayoritas penduduknya yang Muslim.
>
> Setelah reformasi, Indonesia kini menjadi negeri demokrasi terbesar
> di Dunia Islam (Indonesia adalah negeri dengan penduduk Muslim
> terbesar di dunia). Dan selama lima tahun terakhir kita menyaksikan
> perubahan sangat positif dalam tatanan politik demokratis, suatu hal
> yang sangat membanggakan jika kita mengingat apa yang terjadi di
> negeri Muslim lain, khususnya di Kerajaan Saudi, negeri yang berada
> di bawah ketiak Amerika. Namun, aksi terorisme segelintir orang dan
> dengan motif yang tidak jelas ini telah mengaburkan prestasi yang--
> jika kita fair melihatnya dalam konteks transisi demokrasi
> kontemporer--sebenarnya sangat fantastis.
>
> Walhasil, "perang melawan teror" memiliki implikasi sangat luas,
> tidak hanya di Amerika tapi juga di Indonesia. Bagi banyak masyarakat
> Muslim implikasi itu sangat merugikan. Jadi saya kira wajar jika
> orang Islam menuntut akuntabilitas pemerintah, politisi, polisi,
> badan intelejen dan bahkan media massa ketika membuat klaim
> menyangkut penyelidikan kasus terorisme.***
>
> farid gaban, 22 september 2004
>
>
> DAFTAR BERITA DAN RUJUKAN:
>
> INDONESIA
> Reuters (10 September 2004)
>
> "Jemaah Islamiah in eastern Asia - department of information -
> Indonesia.", The al-Qaeda-linked group Jemaah Islamiah has claimed
> responsibility for yesterday's car bomb attack outside the Australian
> embassy in Jakarta that killed at least nine people and wounded 182,
> and warned of further attacks.
>
> An Islamist web site, www.islamic-minbar.com, posted a statement
> saying: "We decided to settle accounts with Australia, one of the
> worst enemies of God and Islam, ... and a mujahideen brother
> succeeded in carrying out a martyr operation with a car bomb against
> the Australian embassy" in Jakarta.
>
> The authenticity of the claim could not be immediately verified.
>
> ----------
>
> IRAK
> Arab News Agencies (30 Juli 2004)
>
> A group with alleged links to al-Qaeda terror network operative Abu
> Mussab al-Zarqawi has warned Pakistan, Saudi Arabia and other Islamic
> nations against sending any Arab or Muslim force to Iraq.
>
> The idea of such a force has been mooted by Saudi Arabia and welcomed
> by the United States.
>
> However, in a statement posted on the Islamist website (www.islamic-
> minbar.com), the "Omar al-Mukhtar Brigades" of the Tawhid wa al-Jihad
> (Unification and Holy War) group warned that "we will not stand
> idle
> if forces from any Arab or Muslim country, notably Saudi Arabia,
> Pakistan or Egypt, are sent to Iraq."
>
> The statement attributed to Zarqawi's group also threatened the
> governments of Mauritania, which has diplomatic ties with Israel, and
> Libya for being "subservient to their Zionist masters."
>
> PALESTINA
> Arab News Agencies (30 Juli 2004)
>
> In a separate message about reported threats by Jewish extremists to
> attack the Al-Aqsa Mosque compound in Jerusalem, the group warned any
> such attack would prompt strikes against "all Zionist, American and
> European interests in the Arab world".
>
> "Synagogues in Europe, the United States and Egypt will be reduced to
> ashes" if the Muslim holy site is touched, it warned, adding
> that "members of the Zionist intelligence services posing as
> tourists" would be particularly targeted by its fighters.
>
> UZBEKISTAN
> BBC (awal Agustus 2004)
>
> On 30 July, suicide bombers struck again in Uzbekistan, just as the
> trials opened of people accused of a wave of bombings in late March.
> The recent spate of suicide attacks - a form of violence most
> commonly associated with the Middle East - is seen by the Uzbek
> authorities as confirming their claim that the violence is the work
> of radical Islamic militants.
>
> But some independent analysts are not convinced.
>
> Uzbekistan has identified two groups in particular as being
> responsible for the March attacks - the Islamic Movement of
> Uzbekistan (IMU) and Hizb ut-Tahrir (Liberation Party).
>
> The Uzbek president, Islam Karimov, has accused the same groups of
> being responsible for the latest bombings, which targeted the US and
> Israeli embassies and the Uzbek prosecutor-general's office. He
> pointed to what appeared to be admissions of responsibility by both
> groups, published on an Islamic website (islamic-minbar).
>
> PRANCIS
> AFP (22 Agustus 2004)
>
> A previously unknown group has claimed responsibility for an arson
> attack on a Jewish centre in Paris, in a statement posted on an
> Islamist website Sunday.
>
> "A group of young mujahedeen (fighters) ... have torched the Jewish
> temple in Paris at 4:00 am Paris time," said the Arabic statement
> posted in the name of the Jamaat Ansar Al-Jihad al-Islamiya (Group of
> the Holy Islamic War Supporters) at http://www.islamic-
> minbar.com/forum/viewtopic.php.
>
> The claim could not be independently verified.
>
> RUSIA
> Associated Press (28 Agustus 2004)
>
> MOSCOW -- Russian officials said Friday they detected traces of a
> high explosive in the wreckage of one of two crashed jetliners,
> branding it the work of terrorists, while an Islamic group claimed
> its suicide attackers brought down both planes because of the war in
> Chechnya.
>
> On an Internet site connected to Islamic extremists, a statement from
> a militant group said the planes were attacked in retaliation for
> Russia's war in the predominantly Muslim region of Chechnya and
> warned it was only the first in a series of planned operations. There
> was no way to check the claim's authenticity.
>
> Forty-eight hours after two Russian Tupolev airliners took off from
> Moscow airport minutes apart and crashed, killing all 89 people
> aboard, al Qaeda has finally come forward with a claim of
> responsibility, published by the Islamic Minbar website associated
> with the Islamist organization. The statement, signed by
> the "Islambuli Brigades" (named for the killer of Egyptian
> president
> Anwar Sadat) claims two groups of five men each hijacked the planes
> and promises to circulate soon a video clip showing the
> "martyrs"
> reading out their last wills and testaments. The statement adds that
> the attacks were the first in a series and there are more operations
> to come.
>
> ITALIA
> Italian Adnkronos International Agency (1 September 2004)
>
> The kidnappers of French journalists would ask bin Laden to issue a
> fetva (a kind of religious verdict), which should decide the fate of
> the two French journalists that were kidnapped in Iraq, Italian
> Adnkronos International agency reported. In a message that appeared
> at the Islamist Internet site Islamic Minbar, signed by the Islamic
> Army in Iraq, they insist on the direct interference of Al
> Qaeda's
> leader Osama bin Laden to settle the fate of French journalists.
>
> TURKI
> AFP (7 September 2004)
>
> DUBAI, Sept 7 (AFP) - An Islamic website on Tuesday published a
> statement purporting to be from an Iraqi group threatening Turkey and
> Jordan with painful reprisals unless they closed their embassies in
> Iraq and left the oil-rich country.
>
> "We demand that the Jordanian and Turkish governments close their
> embassies in Iraq and leave the country because of their attitude in
> terms of supplying ... the invading forces in our country, which
> encourges them to prolong their stay in Iraq," the statement said.
>
> The statement was signed by "the Al-Hussein Islamic brigades" and
> published on the site www.islamic-minbar.com.
>
> The group, which gave no indication of its political leanings or its
> representation inside Iraq said: "If this demand is not met, we will,
> in our own way, carry out painful reprisals."
>
> The authenticity of the text has not been confirmed.
>
> ITALIA
> Reuters (9 September 2004)
>
> There has been no news of Simona Pari and Simona Torretta, the two
> Italian volunteers kidnapped in Baghdad last Tuesday. But there has
> been an announcement on the Islamic Minbar internet portal, signed by
> the supporters of Al Zawahiri. It is the second communication in two
> days. Yesterday, the group claimed responsibility for the kidnapping.
> Today, it issued a more threatening message, "We will not free
> the
> Italian women even if Italy yields". The messages are not thought
> to
> be reliable. Meanwhile in Baghdad, Iraqi mothers and children,
> friends of the two Simonas, took to the streets to demand their
> release.
>
> THE WEB ANNOUNCEMENT - "We will not free the Italian women even
> if
> Italy yields". This is the brief message published via internet
> on
> the Islamic Minbar portal, signed by the group that supports Al
> Zawahiri. The message, dated September 9, contains only these words
> in the title. The Al Zawahiri group is the same alleged terrorist
> organisation that on Wednesday issued the communiqu� claiming
> responsibility for the abduction of the two Italian volunteer
> workers. Both documents are highly unreliable since it is thought
> likely that the abduction was carried out by individuals linked to
> the head of Al Qaeda in Iraq. Abu Musab Al Zarqawi, assuming that
> responsibility for the kidnapping should be attributed to an Islamic
> group and not to supporters of Saddam Hussein.
>
> http://www.corriere.it/english/articoli/2004/09_Settembre/09/Protest.s
> html
>
> DENMARK
> The Copenhagen Post (10 September 2004)
> http://www.cphpost.dk/get/81636.html
>
> The Iraq-based Islamic extremist group Ansar al-Zawahiri, presumably
> linked to al-Qaida and several hostage-takings in Iraq, has
> threatened to "punish" Denmark. The statement, which appears on the
> homepage www.islamic-minbar.com, could not be verified by official
> sources.
> --- End forwarded message --- 




------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/tBfwlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Hemat bandwith. Hapus pesan yang tidak perlu. Subscribe milis: [EMAIL PROTECTED] 
Unsubscribe milis: [EMAIL PROTECTED] 
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kasma1/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke