di teruskan dari milis sebelah.. Masih mengenai Verifikasi Jurnalistik dalam abad informasi (bukan judul skripsi lho.. ;-)
TR. --------------------------------------------------------------------------- > Farid Gaban Menanggapi tulisan Ulil Abshar-Abdalla di Tempo: > > Tulisan ini dalam format Word bisa didownload di > www.penaindonesia.com/desktop/teror.doc > > Mengomentari Tragedi Bom Kuningan dua pekan lalu, Ulil Abshar > Abdalla, cendekiawan Jaringan Islam Liberal dan Freedom Institute, > menulis di Majalah Tempo (No. 29/XXXII/13 - 19 September 2004) di > bawah judul: "Mengapa Defensif?". > > Dalam tulisannya, Ulil mengajak umat Islam untuk tidak defensif > menanggapi tudingan polisi dan pemerintah Australia yang mengatakan > bahwa bom itu buatan Jemaah Islamiyah. Artinya, mengakui sajalah. > > Ulil melandaskan argumennya pada pernyataan berbahasa Arab dalam > situs www.islamic-minbar.com. Dalam situs itu, katanya, "Departemen > Penerangan Jemaah Islamiyah Asia Timur" mengaku bertanggungjawab atas > bom bunuh diri di Kedubes Australia. > > Ulil sendiri mengatakan tidak yakin benar otentisitas pernyataan itu. > Namun, seluruh argumen dalam tulisan di Tempo itu menunjukkan bahwa > Ulil cenderung mempercayainya sebagai otentik. Salah satu argumen > penting Ulil adalah bahwa pernyataan itu ditulis dalam bahasa Arab > standar yang mengesankan penulisnya adalah seorang "insider". > > Berbeda dengan Ulil, saya sendiri, setelah melakukan penelusuran, > meragukan keotentikan klaim itu. Dan di sini, saya ingin membahasnya > terutama dalam konteks jurnalisme, baik aspek etik maupun praktek, > serta kecenderungan mengerikan tentang betapa rentannya media > terhadap manipulasi dan propaganda. > > AMNESIA MEDIA DAN GEMPURAN "NEWS CYCLE" > > Klaim "Islamic-Minbar" soal Bom Kuningan saya baca pertama kali pada > 10 September (sehari setelah tragedi) dari beberapa kantor berita: > Associated Press, AFP dan Reuters. Berita-berita ini dikutip oleh > hampir semua koran, termasuk The Jakarta Post di Indonesia dan The > Sydney Morning Herald di Australia. > > Ada "caveat" (pengakuan lemah) dalam tulisan asli kantor-kantor > berita tadi. Reuters, misalnya, memberita tambahan pada > beritanya: "The authenticity of the claim could not be immediately > verified." Dengan kata lain, berita ini masih "setengah matang". > Masih ada pekerjaan rumah penting, yakni verifikasi, tapi tidak bisa > segera dilakukan si wartawan. > > Problemnya, ini bukan pertama kali kantor-kantor berita tadi menulis > klaim "Islamic-Minbar". Saya menemukan setidaknya ada sepuluh berita > media massa tentang klaim "Islamic-Minbar" sejak akhir Juli 2004, > menyangkut beragam teror hampir di seluruh dunia, termasuk drama > penyanderaan sekolah di Rusia awal September lalu yang menewaskan > ratusan orang. > > "Islamic-Minbar" mengaku bertanggungjawab atas: > > - jatuhnya pesawat Tupolev Rusia > - penyanderaan anak-anak di sekolah Rusia > - pemboman di Madrid, Spanyol > - pembakaran sinagog di Prancis > - bom bunuh diri di Palestina > - bom mobil di Uzbekistan > - pemenggal kepala warga Amerika di Irak > - pembunuh sukarelawan Italia di Irak > > (Di bawah nanti, saya sertakan ringkasan berita tentang "Islamic- > Minbar" dan rujukan pada sumbernya). > > Jika semua klaim tadi otentik, muncul pertanyaan paling penting di > sini: organisasi apa sebenarnya yang ada di balik situs "Islamic- > Minbar"? > > Organisasi apa yang mengklaim, lewat Bom Kuningan, sedang > menghukum "Kristen Australia" tapi faktanya membunuh dan melukai > secara telak Muslim Indonesia? > > Tentu saja, jika semua klaim tadi otentik... > > Problemnya, sejak Juli itu, kantor-kantor berita terus mengulang- > ulang "caveat" yang sama, bahwa "The authenticity of the claim could > not be immediately verified"--tanpa benar-benar menunaikan pekerjaan > rumahnya, yakni verifikasi. Dan terus-menerus menyajikan > berita "setengah matang" kepada audiens-nya, tanpa sadar bahwa apa > yang sebenarnya "setengah-fakta" kemudian ditelan pembacanya > sebagai "fakta". > > Membunuh ratusan orang di seluruh dunia adalah kejahatan serius. > Tapi, meski demikian gawatnya, kenapa kantor-kantor berita > internasional hanya selalu menyajikan berita setengah matang dan > tidak pernah menggali lebih jauh? > > Ada banyak jawaban, tapi salah satunya, saya kira adalah "lupa" > dan "tidak sempat". Di tengah gempuran peristiwa-peristiwa setiap > hari, didera "siklus berita" yang kian pendek (jam dan menit), para > wartawan mudah terjangkit amnesia (lupa apa yang mereka > tulis/tayangkan dua pekan lalu) dan tidak sempat melakukan verifikasi > sementara peristiwa-peristiwa baru terus muncul. > > Verifikasi (satu unsur penting dalam jurnalisme versi Bill Kovach) > akhirnya hanya fatamorgana. Para wartawan terapung dalam buih > peristiwa-peristiwa, mudah diombang-ambing oleh siapa saja yang punya > agenda, yang puas bisa memanfaatkan wartawan untuk mengkontruksi > fakta dari serpihan-serpihan setengah fakta. > > Agenda itu bahkan bisa sekadar keisengan belaka. Lihatlah contoh > berikut. > > ISLAMIC-MINBAR DAN DONGENG PALSU DARI SAN FRANCISCO > > Awal Agustus lalu, Associated Press dari Kairo mencuplik video yang > diposting di situs www.islamic-minbar.com. Video berdurasi 55 detik > itu menggambarkan adegan pemenggalan kepala Benjamin Vanderford, > seorang sandera Amerika di Irak, oleh teroris Islam. Tak hanya AP, > Kantor Berita Reuters juga memberitakannya, demikian pula beberapa > stasiun televisi di negara-negara Arab. > > Dalam empat versi beritanya yang disiarkan ke seluruh dunia, Kantor > Berita AP tidak mengatakan bahwa video tersebut telah diverifikasi > keotentikannya. Tapi berita itu terlanjur beredar cepat. Berita itu > cepat menjalar ke seluruh dunia, dikutip koran dan televisi lokal. > Dan kata "alleged" (diduga) yang semula ada dalam berita awal mulai > hilang. "Seeing is believing" -- orang percaya bahwa itu memang hasil > kerja teroris Islam. > > Kini terbukti, video itu bohong-bohongan belaka. "Saya membuat film > itu di garasi rumah saya di Pleasanton (San Francisco, AS)," kata > Martin, seorang pemusik eksperimental, kepada Koran The San Francisco > Chronicle belakangan. "Kami membuat darah palsu dari sirup jagung > warna merah. Kami menggunakan digital video camera murahan untuk > merekam adegan pemenggalan yang sebenarnya dilakukan dengan posisi > pisau terbalik." > > Martin dan teman wanitanya, Kirchner, mengaku membuat video itu untuk > menguji penyebaran berita lewat internet dan kemampuan media-massa > memverifikasi bahan beritanya. > > "Mencengangkan," kata Kirchner. "Betapa dahsyatnya internet. Seorang > mendapatkan file video itu dan membaginya dengan beberapa orang lain. > Lalu, tiba-tiba ditayangkan di sebuah stasiun televisi Arab dan > diyakini sebagai kenyataan." > > Apakah AP, Reuters dan media-media lain meminta maaf untuk kesalahan > itu, pengakuan bahwa mereka telah diperdaya? Tidak ada yang > permintaan maaf, kecuali ada berita pendek tentang penangkapan dua > orang itu oleh FBI. > > Tapi, "setengah fakta" sudah terlanjur menjadi "fakta", yang kemudian > diperkuat oleh klaim Bom Kuningan, lagi-lagi di "Islamic-Minbar" yang > sama. Dan lagi-lagi AP serta Reuters cukup puas hanya mengatakan "The > authenticity of the claim could not be immediately verified". Dan > lagi-lagi, orang sepintar Ulil Abshar Abdalla pun cenderung > mempercayainya sebagai fakta. > > TUMPULNYA SKEPTISISME > > "Lupa" dan "tidak sempat" hanya dua dari banyak alasan kenapa > wartawan tidak melakukan verifikasi. Kemungkinan alasan lain: > kehilangan daya kritis, terperangkap dalam "frame" pembuat berita, > atau terjebak dalam bias Rezim George Bush di Amerika. > > Sudah saya tunjukkan tadi bahwa "Islamic-Minbar" mengklaim beragam > aktivitas teror Islam di seluruh dunia. > > Klaim terhadap Bom Kuningan diatribusikan pada "Jemaah Islamiyah Asia > Timur". Tapi, sejauh menyangkut www.islamic-minbar.com, sebenarnya > ada banyak atribusi lain di situ: > > - "Omar al-Mukhtar Brigades" > - The Tawhid wa al-Jihad (Unification and Holy War) > - The Jamaat Ansar Al-Jihad al-Islamiya (Group of the Holy Islamic > War Supporters) > - "Islambuli Brigades" (dari nama pembunuh Presiden Mesir > Anwar > Sadat) > - the Islamic Army in Iraq (Al Qaedah) > - Ansar al-Zawahiri (Al Zawahiri group) > > Situs "Islamic-Minbar" ingin memberi kesan adanya sebuah konsorsium > besar teroris Islam seluruh dunia, melintasi batas negara (Indonesia, > Uzbekistan, Chehnya, Prancis, Palestina, Irak) dan bahkan melampaui > sejarah (kelompok pembunuh Anwar Sadat pada 1980-an katanya masih > terlibat). > > Konsorsium besar itu kini bermarkas di Irak. Hampir semua klaim > menyebut Abu Mussab al-Zarqawi (katanya pembantu Usamah bin Ladin di > Al Qaedah) adalah tokoh sentral dan Irak adalah motif utama serangan > terorisme. Dalam klaimnya tentang Bom Kuningan, misalnya, "Jemaah > Islamiyah Asia Timur" mengatakan menghukum Australia karena > keterlibatan negeri itu di Irak. > > Siapa saja yang mempelajari sejarah politik Islam sudah semestinya > curiga dengan upaya membundel berbagai organisasi Islam ke dalam > citra monolit: Al Qaedah dan Irak. Sebab, ada dua dalih palsu yang > diberikan oleh Pemerintah George Bush ketika menyerbu Irak: pertama > adalah senjata pemusnah massal dan kedua adalah "adanya sempalan Al > Qaedah di Irak". Dan kini, meski kebohongan sudah terungkap, > Amerika/Australia tetap getol mengajak dunia untuk mempercayainya. > > Upaya seperti itu benar-benar sesuai dengan keinginan Amerika untuk > menjustifikasi serangan dan pendudukannya atas Irak. > > KLAIM MERAGUKAN, TAPI IMPLIKASI LUAS > > Ulil Abshar Abdalla mengajak umat Islam untuk tidak defensif, atau > dengan kata lain, mengakui sajalah semua klaim tadi. Ulil mengabaikan > implikasi tiga tahun "perang melawan teror" yang dikumandangkan Rezim > Bush. > > Dengan klaim meragukan, seribu lebih orang kini ditahan di Guantanamo > Bay tanpa pengadilan, ratusan muslim lain ditangkapi di Amerika > mengabaikan prosedur hukum, universitas Amerika dilarang menerima > mahasiswa/dosen Muslim, jutaan dolar yayasan Islam dibekukan dan > seterusnya. > > Dan kita kini melihat Irak. Dengan klaim meragukan, Amerika mengubah > Irak menjadi ladang pembantaian dan siklus teror-anti-teror > berkepanjangan. Ribuan orang tewas di situ. (Afghanistan? Kita sudah > lama melupakannya). > > Bahkan tidak hanya orang Islam yang menanggung implikasi dari "war on > terror". Seribu lebih pasukan Amerika tewas di Irak, meninggalkan > ribuan istri dan anak mereka. Berapa uang pajak warga Amerika yang > disedot untuk peningkatan anggaran militer setelah 11 September? > Berapa uang pajak warga Asutralia untuk membiayai pertahanan rudal > yang diilhami "munculnya terorisme internasional"? > > Belum lagi implikasi "intangible", betapa ketegangan hubungan Islam > dan non-Islam terus meningkat di berbagai belahan dunia akibat klaim > yang tidak diverifikasi. > > "War on terror" ala George Bush juga berbahaya karena mencegah kita > mendiagnosis secara jernih persoalan politik domestik di masing- > masing negara. Ada kecenderungan besar sekarang ini untuk melakukan > simplifikasi berlebihan: bahwa apa yang terjadi di Indonesia, > Chehnya, Uzbekistan, Palestina dan Irak adalah sebuah fenomena > tunggal, yaknik fenomena Al Qaedah. Bahkan kerusuhan di Ambon dan > Poso pernah dinisbahkan pada Al Qaedah, mengubur kemungkinan kita > memahami persoalan itu dari sudut pandang lain. > > Tentu saja, ada banyak kekerasan di negara-negara berpenduduk Muslim. > Tapi, "Dalih Al Qaedah" sudah menutup kemungkinan kita mendiskusikan > akar sebenarnya terorisme di Chehnya atau Palestina misalnya. > > LOGIKA AMORAL ALBRAIGHT > > Banyak orang di negeri mayoritas Muslim sudah jelas dan lama > marah kepada Pemerintah Amerika dengan apa yang terjadi di > Afghanistan, Irak, dan Palestina. Survai-survai global terakhir, > termasuk yang dilakukan oleh lembaga-lembaga Amerika sendiri, > mendukung gejala itu. Jadi kemarahan terhadap Pemerintah Amerika > adalah hal yang jamak. Ini bahkan tidak monopoli masyarakat Muslim, > lihatlah opini di kalangan Kristen/Katolik Eropa sendiri. Tanyalah, > misalnya, pandangan Gereja Katolik tentang kasus Palestina. > > Dalam Perang Teluk Pertama (1990), sebuah majalah konservatif > Amerika, "US News & World Report", menulis bahwa mayarakat Amerika > tidak perlu bersimpati kepada rakyat Irak (anak, perempuan dan > manula) yang tewas dalam perang menghalau Saddam Hussein dari Kuwait. > Kita tidak perlu bersimpati, katanya, karena "mereka toh pendukung > Diktator Saddam Hussein" atau setidaknya "punya peluang untuk melawan > kediktatoran tapi tidak melakukannya". > > Beberapa tahun lalu, Menteri Luar Negeri Medelline Albraight ditanya > oleh wartawan: "Apakah layak, demi menggulingkan Saddam Hussein, > setengah juta anak-anak Irak tewas akibat embargo ekonomi 10 tahun > yang disponsori Amerika?" Jawaban Albraight: "Layak" > > Tulisan "US News" dan jawaban Albraight, menurut saya, amoral. Dan > cobalah pertanyaan itu dibalik. Apakah kita setuju orang > Amerika/Australia tak berdosa dibantai demi melampiaskan kemarahan > kita pada Pemerintahan Bush/Howard? > > Saya pribadi tidak setuju. Tapi, memang ada orang Islam yang punya > pandangan seperti itu. Mereka memakai logika yang dibuat Albraight > sendiri: kenapa rakyat Amerika memberi legitimasi pada Pemerintah > Bush yang brutal itu? > > Ada banyak orang Islam yang marah di Chehnya, di Palestina, di Irak, > atau di Aghanistan--untuk motif yang jelas, dan tidak bisa > diterangkan sesederhana kita mengucapkan Al Qaedah. > > MOTIF ANEH JEMAAH ISLAMIYAH > > Lalu, bagaimana dengan Jemaah Islamiyah di Indonesia? Inilah kelompok > yang paling tidak jelas motifnya. Berbeda dengan di Chehnya dan > Palestina, orang Islam di sini tidak dalam posisi ditindas. Umat > Islam di Indonesia juga secara politik merdeka, berbeda dengan di > Uzbekistan tempat Diktator Islam Karimov dukungan Amerika memberangus > partai dan organisasi Islam. > > Bom Marriot katanya ditujukan pada Amerika dan Bom Kuningan ditujukan > pada Australia, namun kenyataannya dua teror itu membunuh orang > Indonesia. Bahkan lebih banyak warga Indonesia tewas di Kuta (Bali) > pada 2002 ketimbang turis asing Australia. Ketiga bom itu juga > merugikan Indonesia lebih dari negeri manapun, dan merugikan > mayoritas penduduknya yang Muslim. > > Setelah reformasi, Indonesia kini menjadi negeri demokrasi terbesar > di Dunia Islam (Indonesia adalah negeri dengan penduduk Muslim > terbesar di dunia). Dan selama lima tahun terakhir kita menyaksikan > perubahan sangat positif dalam tatanan politik demokratis, suatu hal > yang sangat membanggakan jika kita mengingat apa yang terjadi di > negeri Muslim lain, khususnya di Kerajaan Saudi, negeri yang berada > di bawah ketiak Amerika. Namun, aksi terorisme segelintir orang dan > dengan motif yang tidak jelas ini telah mengaburkan prestasi yang-- > jika kita fair melihatnya dalam konteks transisi demokrasi > kontemporer--sebenarnya sangat fantastis. > > Walhasil, "perang melawan teror" memiliki implikasi sangat luas, > tidak hanya di Amerika tapi juga di Indonesia. Bagi banyak masyarakat > Muslim implikasi itu sangat merugikan. Jadi saya kira wajar jika > orang Islam menuntut akuntabilitas pemerintah, politisi, polisi, > badan intelejen dan bahkan media massa ketika membuat klaim > menyangkut penyelidikan kasus terorisme.*** > > farid gaban, 22 september 2004 > > > DAFTAR BERITA DAN RUJUKAN: > > INDONESIA > Reuters (10 September 2004) > > "Jemaah Islamiah in eastern Asia - department of information - > Indonesia.", The al-Qaeda-linked group Jemaah Islamiah has claimed > responsibility for yesterday's car bomb attack outside the Australian > embassy in Jakarta that killed at least nine people and wounded 182, > and warned of further attacks. > > An Islamist web site, www.islamic-minbar.com, posted a statement > saying: "We decided to settle accounts with Australia, one of the > worst enemies of God and Islam, ... and a mujahideen brother > succeeded in carrying out a martyr operation with a car bomb against > the Australian embassy" in Jakarta. > > The authenticity of the claim could not be immediately verified. > > ---------- > > IRAK > Arab News Agencies (30 Juli 2004) > > A group with alleged links to al-Qaeda terror network operative Abu > Mussab al-Zarqawi has warned Pakistan, Saudi Arabia and other Islamic > nations against sending any Arab or Muslim force to Iraq. > > The idea of such a force has been mooted by Saudi Arabia and welcomed > by the United States. > > However, in a statement posted on the Islamist website (www.islamic- > minbar.com), the "Omar al-Mukhtar Brigades" of the Tawhid wa al-Jihad > (Unification and Holy War) group warned that "we will not stand > idle > if forces from any Arab or Muslim country, notably Saudi Arabia, > Pakistan or Egypt, are sent to Iraq." > > The statement attributed to Zarqawi's group also threatened the > governments of Mauritania, which has diplomatic ties with Israel, and > Libya for being "subservient to their Zionist masters." > > PALESTINA > Arab News Agencies (30 Juli 2004) > > In a separate message about reported threats by Jewish extremists to > attack the Al-Aqsa Mosque compound in Jerusalem, the group warned any > such attack would prompt strikes against "all Zionist, American and > European interests in the Arab world". > > "Synagogues in Europe, the United States and Egypt will be reduced to > ashes" if the Muslim holy site is touched, it warned, adding > that "members of the Zionist intelligence services posing as > tourists" would be particularly targeted by its fighters. > > UZBEKISTAN > BBC (awal Agustus 2004) > > On 30 July, suicide bombers struck again in Uzbekistan, just as the > trials opened of people accused of a wave of bombings in late March. > The recent spate of suicide attacks - a form of violence most > commonly associated with the Middle East - is seen by the Uzbek > authorities as confirming their claim that the violence is the work > of radical Islamic militants. > > But some independent analysts are not convinced. > > Uzbekistan has identified two groups in particular as being > responsible for the March attacks - the Islamic Movement of > Uzbekistan (IMU) and Hizb ut-Tahrir (Liberation Party). > > The Uzbek president, Islam Karimov, has accused the same groups of > being responsible for the latest bombings, which targeted the US and > Israeli embassies and the Uzbek prosecutor-general's office. He > pointed to what appeared to be admissions of responsibility by both > groups, published on an Islamic website (islamic-minbar). > > PRANCIS > AFP (22 Agustus 2004) > > A previously unknown group has claimed responsibility for an arson > attack on a Jewish centre in Paris, in a statement posted on an > Islamist website Sunday. > > "A group of young mujahedeen (fighters) ... have torched the Jewish > temple in Paris at 4:00 am Paris time," said the Arabic statement > posted in the name of the Jamaat Ansar Al-Jihad al-Islamiya (Group of > the Holy Islamic War Supporters) at http://www.islamic- > minbar.com/forum/viewtopic.php. > > The claim could not be independently verified. > > RUSIA > Associated Press (28 Agustus 2004) > > MOSCOW -- Russian officials said Friday they detected traces of a > high explosive in the wreckage of one of two crashed jetliners, > branding it the work of terrorists, while an Islamic group claimed > its suicide attackers brought down both planes because of the war in > Chechnya. > > On an Internet site connected to Islamic extremists, a statement from > a militant group said the planes were attacked in retaliation for > Russia's war in the predominantly Muslim region of Chechnya and > warned it was only the first in a series of planned operations. There > was no way to check the claim's authenticity. > > Forty-eight hours after two Russian Tupolev airliners took off from > Moscow airport minutes apart and crashed, killing all 89 people > aboard, al Qaeda has finally come forward with a claim of > responsibility, published by the Islamic Minbar website associated > with the Islamist organization. The statement, signed by > the "Islambuli Brigades" (named for the killer of Egyptian > president > Anwar Sadat) claims two groups of five men each hijacked the planes > and promises to circulate soon a video clip showing the > "martyrs" > reading out their last wills and testaments. The statement adds that > the attacks were the first in a series and there are more operations > to come. > > ITALIA > Italian Adnkronos International Agency (1 September 2004) > > The kidnappers of French journalists would ask bin Laden to issue a > fetva (a kind of religious verdict), which should decide the fate of > the two French journalists that were kidnapped in Iraq, Italian > Adnkronos International agency reported. In a message that appeared > at the Islamist Internet site Islamic Minbar, signed by the Islamic > Army in Iraq, they insist on the direct interference of Al > Qaeda's > leader Osama bin Laden to settle the fate of French journalists. > > TURKI > AFP (7 September 2004) > > DUBAI, Sept 7 (AFP) - An Islamic website on Tuesday published a > statement purporting to be from an Iraqi group threatening Turkey and > Jordan with painful reprisals unless they closed their embassies in > Iraq and left the oil-rich country. > > "We demand that the Jordanian and Turkish governments close their > embassies in Iraq and leave the country because of their attitude in > terms of supplying ... the invading forces in our country, which > encourges them to prolong their stay in Iraq," the statement said. > > The statement was signed by "the Al-Hussein Islamic brigades" and > published on the site www.islamic-minbar.com. > > The group, which gave no indication of its political leanings or its > representation inside Iraq said: "If this demand is not met, we will, > in our own way, carry out painful reprisals." > > The authenticity of the text has not been confirmed. > > ITALIA > Reuters (9 September 2004) > > There has been no news of Simona Pari and Simona Torretta, the two > Italian volunteers kidnapped in Baghdad last Tuesday. But there has > been an announcement on the Islamic Minbar internet portal, signed by > the supporters of Al Zawahiri. It is the second communication in two > days. Yesterday, the group claimed responsibility for the kidnapping. > Today, it issued a more threatening message, "We will not free > the > Italian women even if Italy yields". The messages are not thought > to > be reliable. Meanwhile in Baghdad, Iraqi mothers and children, > friends of the two Simonas, took to the streets to demand their > release. > > THE WEB ANNOUNCEMENT - "We will not free the Italian women even > if > Italy yields". This is the brief message published via internet > on > the Islamic Minbar portal, signed by the group that supports Al > Zawahiri. The message, dated September 9, contains only these words > in the title. The Al Zawahiri group is the same alleged terrorist > organisation that on Wednesday issued the communiqu� claiming > responsibility for the abduction of the two Italian volunteer > workers. Both documents are highly unreliable since it is thought > likely that the abduction was carried out by individuals linked to > the head of Al Qaeda in Iraq. Abu Musab Al Zarqawi, assuming that > responsibility for the kidnapping should be attributed to an Islamic > group and not to supporters of Saddam Hussein. > > http://www.corriere.it/english/articoli/2004/09_Settembre/09/Protest.s > html > > DENMARK > The Copenhagen Post (10 September 2004) > http://www.cphpost.dk/get/81636.html > > The Iraq-based Islamic extremist group Ansar al-Zawahiri, presumably > linked to al-Qaida and several hostage-takings in Iraq, has > threatened to "punish" Denmark. The statement, which appears on the > homepage www.islamic-minbar.com, could not be verified by official > sources. > --- End forwarded message --- ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> $9.95 domain names from Yahoo!. Register anything. http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/tBfwlB/TM --------------------------------------------------------------------~-> Hemat bandwith. Hapus pesan yang tidak perlu. Subscribe milis: [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe milis: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/kasma1/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
