Bismillahirrahmaanirrahiim,
Assalaamu 'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh,

Untuk kesekian kalinya, berkenaan dengan surat berantai yang diklaim 
sebagai berita dari masjid Nabawi, telah ada penjelasan dari salah 
seorang ulama dari Arab Saudi sendiri yakni Syaikh Abdullah ibn Baz 
rahimahullah. Surat tersebut telah muncul sejak bertahun-tahun lalu dan 
isinya mengalami sedikit perubahan namun intinya masih sama.

Berikut saya salinkan terjemahan penjelasan tersebut. Semoga bermanfaat.

----------------------------------
*Wasiat Bohong dari 'Syaikh Ahmad' (Penjaga Kubur Rasulullah)*
Penulis: Syaikh Abdullah Bin Abdul Aziz Bin Baz

Dari Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, ditujukan kepada siapa saja 
diantara orang-orang Islam yang mendapatkan surat ini, semoga Allah 
menjaga mereka dengan agama Islam, dan melindungi kita serta mereka dari 
kejahatan para pendusta yang bohong dan tengik.

Assalamu âalaikum warahmatullahi wabarakaatuh. Amma baâdu :
Kami telah membaca edaran yang dinisbatkan kepada Syaikh Ahmad Khodim Al 
Haram An Nabawi, dengan judul :

âIni adalah wasiat dari Madinah Munawwarah dari Ahmad Khodim Al Haram An 
Nabawi â

Dalam wasiat ini dikatakan : pada suatu malam Jumâat aku pernah tidak 
tidur, membaca Al Qurâan, dan setelah membaca Asmaâul Husna aku bersiap 
siap untuk tidur, tiba tiba aku melihat Rasulullah Shalallahu âalaihi wa 
sallam yang telah membawa ayat ayat Al Qurâan dan hukum hukum yang 
mulia, kemudian beliau berkata : wahai Syaikh Akhmad, aku menjawab : ya, 
ya Rasulullah, wahai orang yang termulia diantara makhluk Allah, beliau 
berkata kepadaku : aku sangat malu atas perbuatan buruk manusia itu, 
sehingga aku tak bisa menghadap Tuhanku dan para malaikat, karena dari 
hari Jumâat ke Jumâat telah meninggal dunia sekitar seratus enam puluh 
ribu jiwa (160 000) dengan tidak memeluk agama Islam .

Kemudian beliau menyebut contoh contoh dari perbuatan maksiat itu, dan 
berkata : âmaka wasiat ini sebagai rahmat bagi mereka dari Allah 
MahaPerkasaâ, selanjutnya beliau menyebutkan sebagian tanda tanda hari 
kiamat dan berkata :â wahai Syaikh Ahmad, sebarkanlah wasiat ini kepada 
mereka, sebab wasiat ini dinukil dari Lauhul Mahfudz, barang siapa yang 
menulisnya dan mengirimnya dari suatu negara ke negara lain, dari suatu 
tempat ke tempat yang lain, baginya disediakan istana dalam sorga, dan 
barang siapa yang tidak menulis dan tidak mengirimnya, maka haramlah 
baginya syafaatku di hari kiamat nanti, barang siapa yang menulisnya 
sedangkan ia fakir maka Allah akan membuat dia kaya, atau ia berhutang 
maka Allah akan melunasinya, atau ia berdosa maka Allah pasti 
mengampuninya, dia dan kedua orang tuanya, berkat wasiat ini, sedangkan 
barang siapa yang tidak menulisnya maka hitamlah mukanya di dunia dan 
ahiratâ.

Kemudian beliau melanjutkan :â Demi Allah 3x wasiat ini adalah benar, 
jika aku berbohong, aku keluar dari dunia ini dengan tidak memeluk agama 
Islam, barang siapa yang percaya kepada wasiat ini, ia akan selamat dari 
siksaan neraka, dan jika tidak percaya maka kafirlah iaâ.

Inilah ringkasan dari wasiat bohong yang dikatakan dari Rasulullah 
Shalallahu âalaihi wa sallam itu, kita telah berkali kali mendengar 
wasiat bohong ini, yang mana telah tersebar luas dikalangan umat manusia 
secara terus menerus, anehnya hal ini sangat laku dikalangan umum.
Dalam wasiat tersebut terdapat beberapa ungkapan yang saling 
kontradiktif, diantaranya pendusta itu mengatakan bahwa ia (Syaikh 
Ahmad) melihat Rasulullah Shalallahu âalaihi wa sallam ketika hendak 
tidur, berarti ia melihatnya ketika berjaga (tidak dalam mimpi), ia juga 
telah mendakwakan (dalam wasiat itu) berbagai hal yang jelas jelas 
bohong dan bathil, dan kami akan terangkan nanti Insya Allah.

Pada tahun tahun yang lalu kami telah menjelaskan kepada semua orang 
tentang kebohongan dan kebatilan wasiat itu secara terang-terangan, 
ketika kami membaca selebaran terahir ini, kami ragu-ragu menulisnya, 
karena jelas kebatilannya dan keberanian pembohong itu, dan kami tidak 
menduga sebelumnya hal itu bisa laku di kalangan orang-orang berakal 
sehat, bahkan banyak dari kawan kami yang memberitahukan, bahwa wasiat 
bohong itu telah tersebar diantara mereka, dan ada yang mempercayainya.

Atas dasar itu semua kami memandang perlu untuk menulisnya ; menjelaskan 
ketidakbenaran dan kebohongan wasiat itu terhadap Rasulullah Shalallahu 
âalaihi wa sallam, sehingga tak seorangpun dapat tertipu olehnya.

Barang siapa diantara para ahli ilmu yang beriman dan orang orang yang 
berfikiran sehat mau mempelajarinya, niscaya ia akan tahu bahwa hal itu 
adalah kebohongan ditinjau dari beberapa segi, kami telah menanyakan 
kepada keluarga dekat Syaikh Ahmad yang wasiat bohong itu dinisbatkan 
kepadanya, tetapi mereka mengingkari kebohongan itu, bahkan hal itu 
merupakan pembohongan terhadap almarhum Syaikh Ahmad, sebab beliau belum 
pernah mengatakannya sama sekali, dan beliau telah lama meninggal dunia, 
seandainya Syaikh Ahmad tersebut maupun yang lebih hebat daripadanya 
mendakwakan bahwasanya ia melihat Nabi Muhammad ketika sedang tidur atau 
berjaga, kemudian mewasiatkan seperti ini, pasti kita tahu bahwa hal itu 
bohong belaka, atau yang mengatakan kepadanya setan bukan Rasulullah 
Shalallahu âalaihi wa sallam, berdasarkan keterangan keterangan di bawah 
ini.

Diantaranya : bahwa Rasulullah Shalallahu âalaihi wa sallam tidak akan 
dapat dilihat oleh seseorang ketika ia berjaga setelah beliau wafat, 
jika ada dari kalangan sufi yang mendakwakan bahwasanya ia melihat 
Rasulullah Shalallahu âalaihi wa sallam ketika ia berjaga setelah ia 
wafat, atau beliau menghadiri peringatan maulid atau yang lainnya, maka 
betul-betul ia telah berbuat salah dan menyeleweng, karena sesungguhnya 
mayat itu akan bangkit dari kuburnya pada hari kiamat, bukan di dunia 
sekarang ini.

Allah Subhanahu wa Taâala berfirman :
ØÙ ØÙÙÙ ØØØ ØÙÙ ÙÙÙØÙÙØ ØÙ ØÙÙÙ ÙÙÙ ØÙÙÙØÙØ 
ØØØØÙÙ
âKemudian sesudah itu sesungguhnya kamu sekalian pasti akan mati, 
kemudian sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan (dari kuburmu) di 
hari kiamatâ (QS. Al Muâminun, 15-16).
Dengan demikian berarti Allah Subhanahu wa Taâala telah menjelaskan 
bahwasanya kebangkitan mayat itu pada hari kiamat bukan di dunia seperti 
sekarang ini, barang siapa yang menyalahi itu berarti ia jelas pembohong 
dan penyeleweng, ia tidak mengetahui kebenaran sebagaimana telah 
diketahui oleh ulama salaf, para sahabat Rasulullah Shalallahu âalaihi 
wa sallam, dan para pengikut mereka dengan sebaik-baiknya.

Kedua : bahwa Rasulullah Shalallahu âalaihi wa sallam tidak akan 
mengatakan sesuatu berlawanan dengan yang hak, baik di masa hidupnya 
maupun sesudah wafatnya, dan wasiat di atas tadi benar-benar telah 
menyalahi syariatnya secara terang terangan ditinjau dari beberapa segi 
seperti di bawah ini.

Memang kadang kadang Rasulullah Shalallahu âalaihi wa sallam dapat 
dilihat dalam mimpi, barang siapa yang melihat wajah beliau yang mulia, 
berarti ia betul-betul melihatnya, karena syetan tidak bisa meyerupai 
wajah beliau, sebagaimana hal itu dijelaskan dalam hadits hadits shohih. 
Yang paling penting ialah bagaimana keimanan orang yang mimpi tersebut, 
kejujurannya, keadilannya, hafalannya, agamanya dan amanatnya ? Apakah 
ia melihat wajah Rasulullah Shalallahu âalaihi wa sallam atau yang 
lainnya ? Jika ada hadits disabdakan oleh Rasulullah Shalallahu âalaihi 
wa sallam di masa hidupnya diriwayatkan tidak melalui jalur orang orang 
terpercaya, adil dan kuat hafalannya, maka hadits tersebut tidak bisa 
dijadikan landasan huhum (argumen), atau hadits tersebut melalui jalur 
di atas, tapi bertentangan dengan riwayat para perowi lain yang lebih 
terpercaya dan lebih kuat hafalannya, sedangkan tidak ada jalur sanad 
yang lain untuk dikorelasikan, maka yang pertama dimansukh (dihapus masa 
berlakunya) oleh yang kedua, dan tidak boleh diamalkan, dan hadits kedua 
sebagai nasikh, boleh diamalkan dengan syarat syarat tertentu jika 
memungkinkan, jika tidak memungkinkan untuk dikorelasikan maka yang 
lebih lemah hafalannya dan lebih rendah tingkat keadilannya harus 
ditinggalkan, berarti kedudukan hadits tadi syadz (bertentangan dengan 
hadits lain yang lebih shahih) dan tidak bisa diamalkan.

Sekarang bagaimana dengan penyampaian wasiat yang tidak diketahui bahwa 
ia telah menukil dari Rasulullah Shalallahu âalaihi wa sallam, tidak 
diketahui keadilan dan amanatnya ? Benar-benar wasiat ini harus 
ditinggalkan dan tidak perlu diperhatikan, walaupun isinya tidak 
bertentangan dengan syariat Islam, dan harus lebih ditinggalkan jika 
wasiat itu mencakup hal hal yang menunjukkan kebatilan dan kebohongan 
terhadap Rasulullah Shalallahu âalaihi wa sallam, bahkan mencakup 
pensyariatan agama yang tidak diizinkan oleh Allah, sedangkan Rasulullah 
Shalallahu âalaihi wa sallam pernah bersabda :
" ÙÙ ÙØÙ ØÙÙ ÙØ ÙÙ ØÙÙ ÙÙÙØØÙØ ÙÙØØÙ ÙÙ ØÙÙØØ 
".
âBarang siapa yang mengatakan sesuatu hal (yang dinisbatkan kepada saya) 
yang saya sendiri tidak pernah mengatakannya maka bersiaplah ia 
menduduki tempatnya dari api nerakaâ.

Pendusta itu telah mengatakan wasiat itu dari Rasulullah, sedangkan 
beliau tidak pernah mengatakannya, berarti ia telah berdusta pada 
Rasulullah dan pada dirinya sendiri, bagaimana ia akan bebas dari azab 
Allah Subhanahu wa Taâala yang sangat pedih itu, jika ia tidak 
cepat-cepat bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Taâala, dan 
memberitahukan kepada khayalak ramai bahwa ia telah mendakwakan dengan 
kebohongan wasiat itu atas diri Rasulullah Shalallahu âalaihi wa sallam, 
sebab orang yang telah menyebarkan kebatilan diantara manusia tidak akan 
diterima taubatnya kecuali dengan mengumumkannya, sehingga diketahui 
oleh mereka bahwa ia telah kembali kepada jalan yang lurus.


Allah Subhanahu wa Taâala berfirman :
ØÙ ØÙØÙÙ ÙÙØÙÙÙ ÙØ ØÙØÙÙØ ÙÙ ØÙØÙÙØØ ÙØÙÙØÙ 
ÙÙ ØØØ ÙØ ØÙÙØÙ ÙÙÙØØ ÙÙ 
ØÙÙØØØ ØÙÙØÙ ÙÙØÙÙÙ ØÙÙÙ ÙÙÙØÙÙÙ ØÙÙØØÙÙÙØ 
ØÙØ ØÙØÙÙ ØØØÙØ ÙØØÙØÙØ 
ÙØÙÙÙØ ÙØÙÙØÙ ØØÙØ ØÙÙÙÙ ÙØÙØ ØÙØÙØØ 
ØÙØØÙÙ.
âSesungguhnya orang orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami 
turunkan, berupa keterangan keterangan (yang jelas) dan petunjuk, 
setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu 
dilaknat Allah dan dilaknat(pula)oleh semua (makhluk)yang dapat 
melaknat, kecuali mereka yang telah bertaubat dan mengadakan perbaikan 
dan menerangkan (kebaikan), maka terhadap merekalah Aku (Allah) menerima 
taubatnya dan Akulah penerima taubat lagi MahaPenyayangâ (QS. Al 
Baqarah, 159-160).

Dalam ayat di atas, Allah telah menjelaskan barang siapa yang 
menyembunyikan suatu kebenaran, maka taubatnya tidak akan diterima, 
kecuali jika ia mengadakan perbaikan dan menjelaskan kebenaran tersebut, 
Allah telah menyempurnakan agama-Nya bagi hamba-Nya, dan menyempunakan 
niâmat-Nya kepada mereka dengan mengutus Nabi Muhammad Shalallahu 
âalaihi wa sallam, dan wahyu yang diturunkan kepadanya adalah sempurna, 
beliau tidak akan dicabut nyawanya kecuali telah disempurnakan 
agama-Nya, sebagaimana yang telah dijelaskan dalam firman-Nya :

ØÙØÙÙ ØÙÙÙØ ÙÙÙ ØÙÙÙÙ ÙØØÙÙØ ØÙÙÙÙ ÙØÙØÙ 
ÙØØÙØ ÙÙÙ ØÙØØÙØÙ ØÙÙØ

âPada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah 
Kucukupkan kepadamu nuâmatKu, dan telah Kuridloi Islam sebagai agama 
bagimuâ (QS. Al Maidah, 3).

Pendusta wasiat ini telah datang pada abad keempat belas untuk 
mengelabuhi manusia dan mensyariatkan kepada mereka agama baru, barang 
siapa yang mengikutinya, maka baginya disediakan sorga, dan barang siapa 
yang menolak syariat itu, maka baginya disediakan neraka. Dengan 
demikian ia hendak menjadikan wasiat ini lebih baik dari Al Qurâan, yang 
mana jika seseorang tidak menulisnya dan tidak mengirimkannya dari 
suatau negara ke negara lainnya diharamkan baginya syafaat Nabi Muhammad 
Shalallahu âalaihi wa sallam pada hari kiamat, ini merupakan pembohongan 
yang paling hina dan jelas sekali, betapa tidak punya malu pembohong 
itu, ia telah berani berbuat bohong, kerena barang siapa yang menulis Al 
Qurâan yang mulia dan mengirimkannya dari suatu negara ke negara yang 
lain, atau dari suatu tempat ke tempat yang lainnya, tidak akan 
mendapatkan keutamaan seperti itu jika ia tidak mengamalkan 
kandungannya, bagaimana ia bisa memperoleh keutamaan itu jika hanya 
menulis dan mengirimkan wasiat bohong itu dari suatu negara ke negara 
yang lain.

Barang siapa yang tidak menulis Al Qurâan dan tidak mengirimkannya dari 
suatu negara ke negara yang lain, maka tidak diharamkannya baginya 
syafaat Rasulullah Shalallahu âalaihi wa sallam, jika ia benar-benar 
mengimaninya dan mengikuti syariatnya, satu kebohongan dalam wasiat ini 
saja sudah menjadi bukti atas kebatilannya, kebohongannya yang jelas, 
kecerobohan, kebodohan, dan jauhnya dari ajaran Rasulullah Shalallahu 
âalaihi wa sallam.

Selain apa yang telah kami sebutkan tadi, masih banyak lagi hal-hal yang 
menunjukkan ketidakbenaran wasiat tersebut, walaupun pendusta itu 
bersumpah seribu kali atau lebih atas kebenarannya.

Seandainya pembuat wasiat itu bersumpah, jika ia berdusta pasti ia akan 
tertimpa azab yang sangat pedih sebagai saksi atas kebenarannya, maka 
tetap ia tidak bisa dipercaya, dan wasiat itu tidak berubah menjadi 
benar, bahkan saya berani bersumpah demi Allah dan demi Allah, bahwa 
perbuatan itu merupakan kebohongan yang paling besar dan kebatilan yang 
paling hina, kita bersaksi kepada Allah dan kepada malaikat yang telah 
datang kepada kita dan kepada kaum muslimin yang telah memperoleh 
tulisan ini, suatu kesaksian kita sampaikan kepada Allah, bahwasanya 
wasiat ini dusta dan bohong kalau dinisbatkan kepada Rasulullah 
Shalallahu âalaihi wassalam, semoga Allah membuat hina orang orang yang 
menisbatkan wasiat itu kepada Nabi Muhammad Shalallahu âalaihi wassalam, 
dan menyiksanya sesuai dengan perbuatannya.

Diantara sekian banyak kebatilan dan kebohongan wasiat tersebut adalah :
Pertama :
Isi kandungan wasiat tersebut yang berbunyi :â karena dari Jumâat ke 
Jumâat telah meninggal dunia sekitar 160.000 orang dengan tidak memeluk 
agama Islam â, kerena hal itu merupakan ilmu ghaib, dan wahyu bagi 
Rasulullah Shalallahu âalaihi wa sallam telah berhenti setelah beliau 
wafat, sedangkan pada masa hidupnya beliau tidak tahu ilmu ghoib, mana 
mungkin hal itu bisa terjadi sepeninggal beliau ?

Allah Subhanahu wa Taâala berfirman :
ÙÙ ÙØ ØÙÙÙ ÙÙÙ ØÙØÙ ØØØØÙ ØÙÙÙ ÙÙØ ØØÙÙ 
ØÙØÙØ ÙÙØ ØÙÙÙ ÙÙÙ ØÙÙ ÙÙÙ ØÙ 
ØØØØ ØÙØ ÙØ ÙÙØÙ ØÙÙ ÙÙ ÙÙ ÙØØÙÙ ØÙØØÙÙ 
ÙØÙØØÙØ ØÙÙØ ØØÙÙØÙÙ
âKatakanlah: aku tidak mengatakan kepadamu bahwa perbendaharaan Allah 
ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghoib dan tidak (pula) 
aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat, aku mengetahui apa 
yang telah diwahyukan kepadaku, katakanlah, apakah sama orang yang buta 
dengan orang yang melihat ? maka apakah kamu tidak memikirkan(nya)?â 
(QS. Al Anâam, 50).

ÙÙ ÙØ ÙØÙÙ ÙÙ ÙÙ ØÙØÙÙØØ ÙØÙØØØ ØÙØÙØ ØÙØ 
ØÙÙÙ ÙÙØ ÙØØØÙÙ ØÙØÙ ÙØØØÙÙ

âKatakanlah tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui 
perkara ghoib, kecuali Allah, dan mereka tidak mengetahui kapan mereka 
akan dibangkitkanâ (QS. An Naml, 65).


Dalam hadits shahih disebutkan, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu âalaihi 
wa sallam bersabda :
" ÙØØØ ØØØÙ ØÙ ØÙØÙ ÙÙÙ ØÙÙÙØÙØ ÙØÙÙÙ : ÙØ 
ØØØ ØØØØØÙ ØØØØØÙØ ÙÙÙØÙ ÙÙ : 
ØÙÙ ÙØ ØØØÙ ÙØ ØØØØÙØ ØØØÙØ ÙØÙÙÙ ÙÙØ ÙØÙ 
ØÙØØØ ØÙØØÙØ : ÙÙÙØ ØÙÙÙÙ 
ØÙÙØØ ÙØ ØÙØ ÙÙÙÙØ ÙÙÙØ ØÙÙÙØÙÙ ÙÙØ ØÙØ 
ØÙØÙÙØ ØÙÙÙÙ ÙØÙØ ØÙÙ ÙÙ ØÙØ 
ÙØÙØ ".
".
âBanyak orang orang yang dijauhkan dari telagaku pada hari kiamat nanti, 
maka aku berkata : ya Rabb, mereka adalah sahabat sahabatku, mereka 
sahabat sahabatku, maka dikatakan kepadaku : sesungguhnya engkau tidak 
tahu tentang apa yang mereka perbuat setelah engkau wafat ?, maka aku 
berkata sebagaimana hamba sholeh(Nabi Isa) berkata :â Dan aku menjadi 
saksi bagi mereka selama aku hidup bersama mereka, maka setelah Engkau 
telah mewafatkan aku, Engkaulah yang menjadi penguasa bagi mereka dan 
sesungguhnya Engkau MahaMengetahui atas segala sesuatuâ.

Kedua :
Ungkapan yang mengatakan : âbarang siapa yang menulisnya sedangkan ia 
orang fakir, maka Allah akan menjadikan kaya, atau ia berhutang maka 
Allah akan melunasinya, atau ia berdosa maka Allah akan mengampuninya 
serta kedua orang tuanya berkat wasiat ini, â dan seterusnyaâ, ini 
merupakan kebohongan besar dan bukti nyata atas kebohongan pedusta itu, 
betapa ia tidak punya malu terhadap Allah dan hamba hambaNya, karena 
ketiga hal di atas tidak bisa dicapai hanya dengan menulis Al Qurâan, 
apalagi menulis wasiat ini yang jelas batilnya, tidak lain pelaku dosa 
ini hanyalah akan mengkaburkan manusia saja, serta menjadikan mereka 
selalu bergantung kepada wasiat itu, sehingga mereka mau menulisnya dan 
mengelu elukan keutamaan yang dijanjikan, dengan meninggalkan tuntunan 
yang telah disyariâatkan Allah kepada hamba hambaNya, ia menjadikan 
wasiat itu sebagai sarana mencapai kekayaan, membayar hutang, dan 
ampunan Tuhan, kita berlindung kepada Allah dari kehinaan, mengikuti 
hawa nafsu dan syetan.

Ketiga :
Isi kandungannya yang berbunyi :âSedangkan barang siapa yang tidak 
menulisnya, maka hitamlah mukanya di dunia dan akhiratâ.

Ini juga merupakan kebohongan besar dan bukti nyata atas kebatilan 
wasiat tersebut serta pengecutnya pendustanya, mana ada orang yang 
berakal akan menerima perkataan itu, pembawa wasiat itu adalah seorang 
manusia yang hidup pada abad keempat belas hijriyah, dan tidak diketahui 
identitasnya, ia mendakwakan kebohongan atas diri Rasulullah Shalallahu 
âalaihi wa sallam dengan anggapan bahwa barang siapa yang menulisnya 
akan dijamin dengan tiga jaminan di atas.

MahaSuci Engkau Ya Allah, ini merupakan kebohongan yang besar, bukti 
bukti dan realita yang secara empiris telah menunjukkan atas kebohongan 
pendusta itu, betapa besar dosanya di sisi Allah, sebab kelancangannya 
benar-benar ia tidak punya malu terhadap Allah dan semua manusia, karena 
telah banyak orang yang tidak menulis wasiat ini, namun mereka toh 
mukanya tidak hitam, di lain pihak telah banyak orang yang menulis 
wasiat ini, namun mereka masih juga tetap tidak bisa membayar hutangnya, 
dan tetap saja dalam kefakirannya.

Maka marilah kita berlindung kepada Allah Subhanahu wa Taâala dari 
kecenderungan hati dan dari kotoran dosa, sifat-sifat dan 
balasan-balasan di atas tidak pernah di janjikan oleh syariat yang mulia 
bagi orang orang yang menulis kitab suci Al Qurâan, kitab yang paling 
mulia dan paling agung, bagaimana hal itu bisa dicapai oleh orang yang 
menulis wasiat bohong, wasiat yang mencakup berbagai kebatilah, dan 
dihiasi bermacam macam kekafiran.

MahaSuci Allah, alangkah sabarnya Dia (Allah) terhadap hamba hamba yang 
berbuat dusta atas-Nya.

Keempat :
Isi wasiat ini berbunyi :âBarang siapa yang percaya kepada wasiat ini, 
pasti akan selamat dari siksaan neraka, jika tidak percaya kafirlah diaâ.

Ini juga merupakan keberanian yang luar biasa untuk berbuat bohong, 
dengan kebatilannya pendusta itu mengajak semua manusia untuk 
mempercayai tipu dayanya, ia mengira bahwasanya mereka akan selamat dari 
api neraka jika memang mau mempercayainya, dan barang siapa yang tidak 
mempercayainya maka ia pantas dianggap kafir, demi Allah, pembohong itu 
tidak mengatakan sesuatu yang haq, bahkan sebaliknya, jika ada orang 
yang mempercayainya maka ia pasti dianggap kafir, bukan orang yang 
mendustakannya karena dakwaannya tidak berdasar dalil.

Kita bersaksi kepada Allah, bahwasanya dakwaan itu adalah bohong belaka, 
pendusta itu hendak mensyariatkan kepada manusia apa apa yang tidak di 
izinkan Allah, dan sengaja memasukkan sesuatu hal baru dalam agama 
mereka apa apa yang tidak ada didalamnya, sedangkan Allah telah 
melengkapi dan mencukupkan agama umat ini, sejak empat belas abad yang 
silam, yaitu sebelum datangnya pendusta ini.

Maka berwaspadalah, wahai para sidang pembaca dan kawan-kawan seagama, 
janganlah percaya terhadap dakwaan-dakwaan dusta seperti ini, jauhilah 
penyebarannya di kalangan anda sekalian, karena yang haq selalu disinari 
oleh cahaya yang tidak kabur, carilah kebenaran disertai dalilnya, 
bertanyalah kepada para Ulama jika kamu mendapatkan kesulitan, dan 
janganlah tertipu oleh sumpah sumpah bohong pendusta, karena iblis telah 
bersumpah kepada kedua orang tua kita yaitu Adam dan Hawa, bahwasanya ia 
sebagai penasehat bagi keduanya, padahal ia tak lain adalah gembong 
penghianat dan pendusta ulung, sebagaimana yang diceritakan Allah dalam 
Al Qurâan :

ÙÙØØÙÙÙØ ØÙÙ ÙÙÙØ ÙÙÙ ØÙÙØØØÙÙ

âDan dia (syetan) bersumpah kepada keduanya (Adam dan Hawa), 
sesungguhnya saya adalah termasuk orang orang yang memberi nasehat 
kepadmu sekalian â (QS. Al Aâraf, 21).

Maka dari itu, anda sekalian harus selalu waspada terhadap pendusta ini 
dan para pengikutnya, sebab banyak diantara mereka yang mempunyai sumpah 
bohong, mengingkari janji, dan menghiasi perkataan-perkataannya untuk 
membujuk dan menyesatkan.

Semoga Allah tetap memelihara kami, anda sekalian dan kaum muslimin 
semua dari segala kejahatan syetan, fitnah orang-orang yang menyesatkan, 
penyelewengan orang orang yang menyimpang, dan tipu daya musuh musuh 
Allah Subhanahu wa Taâala, mereka hendak membaurkan agama dan memadamkan 
cahaya Allah dengan mulut-mulut mereka dan mengkaburkan agamaNya bagi 
umat manusia, tetapi Allah pasti menyempurnakan cahaya-Nya serta 
menolong agama-Nya, walaupun musuh musuh-Nya baik dari kelompok syetan 
dan pengikutnya maupun orang orang kafir dan atheis itu tidak rela.

Adapun hal hal yang telah disebutkan pendusta ini tentang timbulnya 
kemungkaran-kemungkaran adalah realitas, dan Al Qurâan dan hadits pun 
telah memperingatkan kita sejauh mungkin, pada keduanya (Al Qurâan dan 
Hadits) terdapat hidayah dan kecukupan.

Mari kita memohon kepada Allah, agar berkenan memperbaiki keadaan kaum 
muslimin dan memberi karunia kepada mereka untuk tetap mengikuti yang 
haq dan tetap konsisten dalam menjalankannya, serta mau bertaubat 
kepada-Nya dan meminta ampunan-Nya dari segala macam dosa, karena 
sesungguhnya Dia Maha Penerima taubat, Pemurah dan berkuasa atas segala 
galanya.

Adapun yang telah disebutkan tentang tanda-tanda hari kiamat, maka hal 
itu sudah dijelaskan oleh hadits-hadits shahih, selain juga Al Qurâan 
telah menyinggung sebagian saja, barang siapa yang ingin mengetahuinya 
ia dapat mendapatkannya pada bab-bab tertentu dalam buku buku hadits 
serta karangan karangan para ahli ilmu dan iman.

Akhirnya, sudah cukup jelas bagi kita bahwa kebohongan pendusta itu 
tidak diragukan lagi, karena ia telah mengkaburkan dan mencampur adukan 
antara yang haq dan yang batil, cukup Allahlah sebagai penolong kita, 
Dia sebaik baik pelindung, tak ada kekuasaan dan kekuatan apapun kecuali 
di tangan Allah.

ØÙØÙØ ÙÙÙ ØØ ØÙØØÙÙÙÙØ ÙØÙÙ ØÙÙÙ ØÙÙ ØØØÙ 
ÙØØÙÙÙ ØÙØØØÙ ØÙØÙÙÙØ ÙØÙÙ ØÙÙ 
ÙØØØØØÙ ÙØØØØØÙ ØØØØØÙ ØÙÙ ÙÙÙ ØÙØÙÙ.

Dikutip dari ØÙØØØ ÙÙ ØÙØØØ Tulisan Syaikh Abdullah Bin Abdul Aziz 
Bin 
Baz, Mufti Saudi Arabia. Penerbit Departemen Agama Saudi Arabia. Edisi 
Indonesia "Waspada terhadap Bid'ah".

Diambil dari:
http://www.salafy.or.id/print.php?id_artikel=332
----------------------------------

-- 
Ahmad Ridha ibn Zainal Arifin ibn Muhammad Hamim
(l. 1980M/1400H)




Hemat bandwith. Hapus pesan yang tidak perlu. Subscribe milis: [EMAIL 
PROTECTED] Unsubscribe milis: [EMAIL PROTECTED] 
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kasma1/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke