Diduga Gempa Mentawai Mencapai 9 Skala Richter
Republika, Kamis, 31 Maret 2005
Gempa di Mentawai kemungkinan besar akan disertai gelombang tsunami yang dahsyat. Setelah Aceh dan Nias, di mana petaka gempa berikutnya? Pertanyaan itu bagai menghantui ribuan warga di pesisir barat Sumatra. Namun, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) punya jawabnya.
Danny Hilman Natawijaya, peneliti dari Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI, yakin kepulauan Mentawai merupakan sasaran gempa dahsyat berikutnya. Alasannya, kata Danny, di wilayah tersebut sudah lama tidak terjadi gempa, sehingga diyakini telah terjadi penumpukkan energi yang sangat besar pada zona subduksi.
Sumber gempa di kepulauan Mentawai sendiri, kata Danny, terbagi menjadi dua. Yakni di bawah dasar laut pulau Siberut dan Sipora-Pagai. Di pulau Siberut, gempa terakhir terjadi pada 1650, sementara di Sipora-Pagai pada 1833. ''Artinya, penumpukkan energi di situ sudah sangat matang, dan tinggal menunggu waktu pelepasan energi'' terang dia, Rabu (30/3).
Danny mengaku tidak dapat memprediksi kapan gempa di kepulauan Mentawai terjadi. Namun, kata dia, dua gempa besar di Aceh dan Nias kemungkinan besar mempercepat terpicunya gempa di Mentawai. Ini lantaran ketiga zona tersebut berada dalam satu sambungan kerak bumi. ''Setiap tahunnya lempeng di Mentawai bergerak ke arah Sumatra sejauh lima centimeter. Akibat gempa di Nias, kemungkinan lempeng ini bergeser lebih jauh ke Sumatra, sehingga menekan zona tumbukan di bawahnya,'' tutur dia. ''Seperti per raksasa, lempeng ini siap untuk melesat kembali,''.
Danny mengimbau penduduk di kepulauan Mentawai serta pemerintah setempat bersiaga penuh. Ini lantaran gempa di Mentawai kemungkinan besar akan disertai gelombang tsunami yang dahsyat. ''Gempa bisa mencapai 9 skala Ritcher, seperti di Aceh. Gelombang tsunami, sangat mungkin terjadi,''.
Prediksi serupa dituturkan LIPI melalui rilis yang dikirimkan ke 17 media massa nasional Rabu (30/3). LIPI menyatakan, hingga saat ini zona tumbukan di kepulauan Mentawai merupakan satu-satunya sumber gempa di kawasan barat Sumatra yang sudah matang, dan belum melepaskan energinya sepanjang abad ini.
Potensi gempa di barat Sumatra, menurut LIPI, kemungkinan besar meningkat dengan adanya proses pergeseran kulit Bumi oleh gempa di Aceh dan Nias. Setiap gempa besar, kata LIPI, memang akan memberi tekanan tambahan pada sumber gempa bumi di sekitarnya. ''Terbukti, gempa dahsyat di Aceh menjadi pemicu gempa besar di Nias tiga bulan kemudian,''.
Berdasarkan pemantauan LIPI, telah terjadi pergerakan kulit Bumi sejauh beberapa centimeter di daerah Kepulauan Mentawai dan pesisir Padang akibat gempa Aceh 26 Desember 2004 silam. Meski belum ada pengukuran mendetail, gempa Nias Senin lalu (28/3) diprediksikan telah memberi tekanan tambahan terhadap sumber gempa di selatannya, yakni di kepulauan Mentawai.
Sejarah menunjukkan, sumber gempa di bawah dasar laut Mentawai telah memicu gempa dan tsunami dahsyat pada 1650 dan 1833. Jika kedua sumber gempa bawah laut ini bergerak sekaligus, kata LIPI, maka gempa yang dihasilkan dapat mencapai magnitudo sembilan skala Richter. ''Gempa dibawah laut ini berpotensi untuk menghasilkan tsunami besar seperti yang pernah terjadi pada 1797 dan 1833,'' ujar LIPI dalam siaran persnya.
Namun, Danny berpendapat gempa Mentawai berpotensi menerbitkan gelombang tsunami yang lebih raksasa dibanding gempa 1797, 1833, bahkan gempa Aceh. Dengan skala 8,2 Richter saja, kata Danny, gempa tahun 1797 memicu gelombang tsunami setinggi 10 meter di Padang, Sumbar. ''Di Mentawai, skala gempa yang mungkin terjadi adalah 9 skala Ritcher,'' ia mengingatkan.
Kapankah Terjadi ?
Tak satu pun alat mampu memprediksi secara akurat kapan gempa terjadi, termasuk gempa di Mentawai. Di Indonesia, kemungkinan itu semakin musykil lantaran tidak tersedianya perangkat memadai untuk, paling tidak, membuat earthquake short time prediction.
Sebetulnya saat ini sudah terpancang sebanyak 18 stasiun GPS di kawasan barat Sumatra milik LIPI dan California Technology of Science. Hanya saja, kata Danny, perangkat ini lebih ditujukan sebagai instrumen penelitian. ''Bukan jaringan early warning system yang dapat melacak gempa secara real time,'' tuturnya. Kemampuan alat ini mengkoleksi data terhitung lamban.
Sejauh ini, hanya segelintir negara yang memiliki sistem peringatan dini representatif, yakni AS, Jepang, dan Cina. Sistem ini dapat membaca pergerakan kulit Bumi secara real time, sehingga prediksi gempa jangka pendek dapat dilakukan. Tak hanya GPS, sistem ini juga meliputi seismograf, deformation metal, accelerograf, pencatat pasang surut, dan sebagainya.
Sistem ini, terbukti sempat menyelamatkan Cina pada gempa dahsyat tahun 1977, meski Cina juga sempat kebobolan dua tahun kemudian. ''Paling tidak, prediksi gempa jangka pendek bisa diamati,''. Menurut Danny diperlukan dana sebesar 13 juta dolar AS untuk membangun early warning system seperti di AS, Jepang, atau Cina. Soal sistem peringatan dini, Danny mengaku sudah bertemu Wapres Yusuf Kalla awal Januari silam bersama koleganya Prof Kerry Sieh dari California Technology of Science.
''Tapi tak ada kelanjutannya hingga kini,'' keluh Danny. ''Padahal pihak Amerika Serikat sudah siap membantu lima juta dolar AS, asalkan sisanya dari kita,''. Memang, menurutnya, diperlukan dana tak sedikit untuk mengurusi soal gempa. Untuk mengambil data-data dari sebuah stasiun GPS saja, kata dia, diperlukan dana sedikitnya 10 ribu dolar AS. ''Sejauh ini yang mendanai Caltech dari AS,'' tuturnya.
(imy )
Hemat bandwith. Hapus pesan yang tidak perlu. Subscribe milis: [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe milis: [EMAIL PROTECTED]
| Yahoo! Groups Sponsor | |
|
|
Yahoo! Groups Links
- To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/kasma1/
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
