Cross-posting.
 ---------------------------------
 Surat Terbuka kepada Mendiknas:
 
 
 Tolong! Anak Saya Bukan Anak Jenius!
 Oleh Trisno S Sutanto
 
 
 BAPAK Menteri yang terhormat. Saya telah me-layangkan surat ini ke
 lembaga Bapak. Akan tetapi, mengingat surat ini ditulis bukan oleh
 orang yang penting, melainkan dari rakyat jelata, dari seorang ayah
 yang merasa prihatin melihat nasib pengajaran anaknya, besar
 kemungkinan Bapak tidak akan menerima surat ini. Atau, kalau toh Bapak
 menerimanya, besar pula kemungkinan Bapak tidak bersedia membacanya.
 
 Karena alasan itulah, saya memutuskan untuk menjadikan surat ini
 "surat terbuka" yang dapat dibaca oleh semua orang, khususnya para
 ayah-ibu yang prihatin melihat hancurnya sistem pendidikan dan
 pengajaran di sekolah-sekolah tempat anak mereka menimba ilmu. Sebab,
 menurut saya, apa yang terjadi pada anak saya lebih kurang dapat juga
 dirasakan pada anak-anak seusianya.
 
 Bulan ini, jika tidak ada aral melintang, anak saya akan menghadapi
 ujian kenaikan kelas. Kini ia kelas II di sebuah SLTP Katolik yang
 cukup terpandang di daerah Jakarta Timur. Akan tetapi semenjak
 dua-tiga bulan terakhir, kata "sekolah" dan "belajar" baginya telah
 menjadi hantu yang sangat membebani pikiran dan perasaannya. Awal Mei
 lalu, tepat pada "Hari Pendidikan Nasional", misalnya, anak saya
 menyatakan mogok pergi ke sekolah. Alasannya sederhana: "Aku benci
 sekolah!" Sebagai orangtua, saya memang dapat memaksa agar dia tetap
 pergi ke sekolah. Namun, menurut saya, model pemaksaan seperti itu
 tidak akan memecahkan persoalan. Jadi saya membiarkan ia tidak pergi
 ke sekolah, dan menjadikan hari itu sebagai kesempatan untuk
 mendiskusikan alasan-alasan ia mogok bersekolah.
 
 Hasilnya sudah dapat diduga, akan tetapi tetap mengejutkan bagi saya
 sebagai orangtua. Pertama-tama dia berkeluh kesah tentang begitu
 banyak mata pelajaran yang harus dia telan mentah-mentah, tanpa dia
 tahu untuk apa dan mengapa dia harus menelannya. Kata "telan
 mentah-mentah" sengaja saya pilih, karena hanya itulah padanan yang
 paling tepat bagi system pengajaran yang (masih terus) mengandalkan
 pada "hafalan mati" - walau pun sudah begitu banyak kritik pedas
 ditujukan pada sistem seperti itu.
 
 Standar Kurikulum
 
 Memang benar, dewasa ini orang berbicara tentang KBK (Kurikulum
 Berbasis Kompetensi) dan "otonomi khusus" masing-masing sekolah. Akan
 tetapi, pada praktiknya, tetap saja setiap sekolah akan berusaha
 memenuhi standar kurikulum yang dibuat Depdiknas, agar tidak dinilai
 "ketinggalan" dari sekolah-sekolah "favorit". Apalagi, dalam sistem
 KBK, faktor pendidikan guru sebagai "fasilitator" (perhatikan: bukan
 sebagai guru tradisional, sumber-segala-sumber ilmu pengetahuan!) akan
 sangat menentukan. KBK mengasumsikan tersedianya sumber-sumber ilmu
 pengetahuan yang terbuka, seperti internet, fasilitas perpustakaan,
 lingkungan yang memadai, dan seterusnya, serta kemampuan guru mengolah
 mata pelajaran tanpa harus membebek pada standar kurikulum. Kedua
 asumsi itu, pada praktiknya, merupakan kemewahan yang tidak dimiliki
 oleh sekolah-sekolah pada umumnya. Alhasil, sistem "telan
 mentah-mentah" kembali merajalela. Mari saya beri contoh konkret.
 Seorang siswa SLTP di Jakarta, seperti anak saya, paling tidak harus
 "menelan" 16 mata pelajaran (mata pelajaran umum, ilmiah, dan khas
 daerah), mulai dari Agama, PPKN, Fisika, Ekonomi sampai Komputer dan
 PLKJ (Pendidikan Lingkungan Kehidupan Jakarta - untuk siswa di
 Jakarta). Itu berarti, setiap siswa harus "menelan mentah-mentah"
 setidaknya 15 buku - saya mengasumsikan Matematika tidak menghafal! -
 untuk menghadapi ujian kenaikan kelas. Masalah lain yang disinggung
 anak saya, bukan saja jumlah mata pelajarannya sangat banyak, tetapi
 juga kandungan masing-masing mata pelajaran sangat rinci, dan karena
 itu terlalu berat bagi seorang siswa SLTP kelas II. Ini mudah
 dicermati jika Bapak Menteri sempat memeriksa buku-ajar standar yang
 dipakai di sekolah-sekolah kita. Mungkin Bapak Menteri tidak memiliki
 waktu cukup untuk memeriksa dengan cermat isi buku-ajar itu. Jadi,
 izinkan saya memberi contoh yang saya petik secara acak dari buku-ajar
 anak saya.
 
 Untuk mata pelajaran ekonomi, seorang siswa SLTP kelas II diharapkan
 mampu memahami mulai dari koperasi sampai pembangunan nasional. Dan,
 masing-masing subjek bahasan diurai dalam rincian yang hanya dapat
 dipahami oleh mereka yang kuliah ekonomi di perguruan tinggi.
 Misalnya, subjek bahasan koperasi, dirinci mulai dari pengertian,
 asas, landasan (idiil, struktural, mental, operasional), fungsi dan
 peran, macam-macam kegiatan dan jenis, sampai segala peraturan yang
 terkait! Dan, subjek pembangunan nasional dirinci sejak kegiatan
 negara dalam kehidupan ekonomi (seluruh aspek budgeter, APBN-APBD,
 jenis-jenis pajak, bagaimana menghitung pajak, dan peraturan yang
 terkait) sampai tahap-tahap pembangunan jangka panjang (Pelita I
 sampai Reformasi). Hal yang sama juga terjadi dalam mata pelajaran
 lain. Ambil contoh buku-ajar biologi untuk SLTP kelas II. Siswa
 diharapkan memahami mulai dari sistem pencernaan (manusia dan hewan),
 sistem pernafasan (manusia dan hewan), sistem transportasi (manusia
 dan hewan), sistem saraf, sistem indera, dan seterusnya.
 
 Lagi-lagi, masing-masing subjek bahasan diberi rincian yang luar biasa
 mendalam: siswa SLTP kelas II harus memahami perbedaan antara
 Diapedesis dengan Fibrinogen, gambar penampang kulit lengkap (Anda
 tahu Globmerulus dan di mana letak Kapsul Bowman?), gambar hubungan
 antarsel saraf (mana bagian Akson, Dendrit, Vesikel Sinapsis?), dan
 seterusnya. Karena itu, tidak heran jika seorang dosen biologi di
 sebuah universitas berkomentar, "Kalau SLTP sudah sejauh ini, apa lagi
 yang perlu diajarkan di Universitas?"
 
 Perlukah saya menunjukkan materi PLKJ, mata pelajaran khusus untuk
 siswa yang (kebetulan) tinggal di Jakarta, kepada Bapak Menteri?
 Seorang siswa SLTP kelas II di Jakarta harus menghafal mati
 pasal-pasal mana dalam KUHP yang dipakai untuk menghukum "perkelahian
 pelajar secara per orangan yang mengakibatkan satu pihak luka atau
 mati", pasal-pasal mana untuk "perkelahian pelajar secara
 berkelompok", dan pasal-pasal mana yang dipakai jika "pelajar
 menyerang guru"!
 
 Juga, jangan lupa, pasal-pasal KUHP mana yang dipakai jika "pelajar
 mabuk-mabukan, minum-minuman keras", atau jika terjadi "pemerasan oleh
 pelajar", atau "pencurian di kalangan pelajar", atau "pelajar membawa
 senjata api atau senjata tajam"...
 
 Bapak Menteri yang terhormat. Sengaja saya menguraikan secara rinci
 beban mata pelajaran yang harus ditanggung anak saya setiap hari saat
 ia pergi ke sekolah, dan khususnya saat ia menghadapi ujian kenaikan
 kelas. Menurut saya, hanya anak jenius saja yang mampu menanggung
 semua beban itu tanpa masalah berarti. Dan, saya harus akui dengan
 jujur, anak saya bukan anak yang jenius, seperti juga anak-anak pada
 umumnya.
 
 Jumlah mata pelajaran yang begitu banyak, dan kandungan informasi yang
 sangat padat tanpa memperhitungkan kesiapan mental maupun kognitif
 anak sesuai tahap-tahap perkembangannya, membuat guru tidak memiliki
 cara lain kecuali kembali pada sistem kuno: Telan Mentah-mentah!
 Jangan Tanya, Hafal Saja! Itu pula yang dituntut oleh soal-soal
 ulangan umum. Mungkin di permukaan, cara itu kelihatannya berhasil.
 Tetapi, jika dipandang dari sudut pendidikan, sesungguhnya kita telah
 gagal total! Kita telah ikut berpartisipasi menjadikan kata "sekolah"
 dan "belajar" momok yang sangat menakutkan bagi anak-anak didik -
 mereka yang akan menggantikan kita di masa depan.
 
 Seorang teman anak saya bahkan hampir bunuh diri, karena frustrasi
 menghafal mata pelajaran Biologi. Saya tidak mau peristiwa itu terjadi
 pada anak saya. Karena itu, Bapak Menteri, tolonglah! Anak saya bukan
 anak jenius! Dan jutaan anak Indonesia juga bukan anak jenius!
 *
 
 Penulis adalah Direktur Eksekutif MADIA (Masyarakat
 Dialog Antar Agama),
 Jakarta




Hemat bandwith. Hapus pesan yang tidak perlu. Subscribe milis: [EMAIL 
PROTECTED] Unsubscribe milis: [EMAIL PROTECTED] 
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kasma1/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke