Muslim di Tatarstan Dirikan Masjid Terbesar di Eropa yus/islamonline/e-islam.ru Masjid akan dilengkapi dengan madrasah yang difungsikan sebagai pusat pendidikan dan pengembangan sains. Geliat Islam semakin bergema di benua Eropa. Salah satunya ditandai dengan telah diresmikannya sebuah masjid yang dikatakan sebagai yang terbesar di Eropa. Masjid tersebut terletak di Republik Tatarstan, negara pecahan Uni Soviet. Masjid Qul Sharif merupakan nama yang diberikan kepada bangunan masjid itu. Berada di ibukota negara, Kazan, peresmiannya yang berlangsung pada Jumat, 24 Juni lalu, sekaligus bertepatan dengan hari berdirinya ibukota Kazan yang ke-1000. Hadir dalam kesempatan itu ribuan warga Muslim Tatarstan, demikian pula ratusan tamu undangan yang berasal dari perwakilan negara-negara sahabat. Sekilas pandang, masjid tadi langsung menyiratkan kemegahan. Terdapat dua ruang paviliun besar dan kolam berornamen Timur Tengah. Lantai terdiri dari dua tingkat, lantai atas adalah untuk ruang shalat sementara lantai bawah dipergunakan bagi keperluan pendidikan, museum maupun administrasi. Kubah utama masjid berwarna putih-biru ini berdiameter 39 meter. Adapun ke empat menaranya masing-masing memiliki tinggi 57 meter. Lantas berapa biaya yang diperlukan untuk membangunnya? Situs islamonline menyebut angka 375 juta rubel yang sebagian besar berasal dari donasi masyarakat Tatarstan sendiri. Tahapan pembangunan telah dimulai sejak tahun 1996 atas arahan presiden Tatarstan, Mintimer Shaymiev, yang berkeinginan memiliki sebuah masjid yang representatif dengan mengikuti contoh arsitektur Turki. Lokasinya dipilih tepat di mana pernah berdiri sebuah masjid tua di ibukota Kazan. Berdasarkan sejarahnya, masjid ini dihancurkan oleh tentara Rusia ketika menduduki kota tersebut tahun 1552 melengkapi aneksasi terhadap wilayah Kazan Khanate oleh Kekaisaran Rusia. Dari peristiwa itu tak hanya bangunan masjid yang hancur, melainkan juga terbunuhnya seorang cendekiawan Muslim terkemuka saat itu, Qul Sharif. Dialah yang namanya kemudian diabadikan sebagai nama masjid yang hendak dibangun. Pimpinan Dewan Muslim Tatarstan, Iskhakov Gusman Gumerovich, menyatakan, pembangunan masjid dan revitalisasi masjid-masjid 'mati' di Tatarstan adalah penanda semangat Islam telah lahir kembali di negaranya. Pembangunan kembali masjid tak hanya dilakukan di Kazan, tetapi juga 29 wilayah lain di negara itu. Umumnya, masjid-masjid 'mati' atau yang telah berubah fungsi dikembalikan lagi sebagai pusat ibadah kaum Muslim. ''Masjid adalah pusat pencerahan. Masjid akan menyatukan umat dan meningkatkan pendidikan moral, terutama bagi generasi muda,'' ujarnya. Sejak awal penyebaran Islam di Tatarstan, masjid menempati fungsi sentral sebagai pusat kegiatan umat dalam beragam aspek. Seiring pembangunan masjid itu, mereka juga akan membangun madrasah-madrasah yang 'menempel' di setiap masjid. ''Madrasah di masjid ini nantinya akan menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi,'' tambah mufti yang juga pimpinan Russian Islamic University ini. Islam tumbuh subur di Rusia Sekitar 20 ribu orang telah menjadi mualaf sejak periode Januari hingga Oktober tahun 2004. Angka itu, mengutip situs Islamonline, hanya di ibukota Moskow saja. Pada periode yang sama tahun 2002, sekitar 12.450 orang telah menyatakan diri sebagai Muslim. "Dari jumlah pemeluk Islam baru itu, sebanyak 60 persennya adalah dari kaum nasionalis yang belum pernah memeluk agama apa pun," tulis laporan di situs itu. Sebanyak 75 persen dari jumlah itu terdiri dari kaum hawa berusia antara 17-21 tahun dan mereka memang sedang mencari panduan melalui agama. Tidak bisa dipungkiri, semenjak peristiwa penyanderaan di sekolah Beslan beberapa waktu lalu, umat Muslim di Rusia semakin menjadi sasaran kebencian. Demikian dikatakan pejabat Muslim di Moskow. Ada pula kampanye terhadap Muslim Rusia di media massa yang menyebut seolah-olah setiap Muslimah berjilbab adalah pelaku bom bunuh diri. Kendati demikian, dengan kian gencarnya kampanye anti Islam tadi, justru mendorong semangat warga untuk mencari lebih banyak informasi mengenai Islam. Kazan, Pusat Ilmu di Timur Jauh Nun jauh dari kota-kota Islam yang mashyur sebagai pusat ilmu pengetahuan semisal Baghdad, Kairo, Damaskus, Isfahan dan sebagainya, terdapat sebuah kota bernama Kazan. Terlupakan oleh dunia Islam hingga dekade lalu, Kazan sejatinya merupakan salah satu kota terpenting dalam sejarah keilmuan Islam. Pernah menjadi ibukota kesultanan Khanate, kini Kazan adalah ibukota negara Republik Tatarstan, bagian dari Federasi Rusia. Tatarstan juga merupakan satu dari tiga negara republik dalam lingkup Federasi Rusia yang mayoritas beragama Islam -- dua lainnya adalah Chechnya dan Dagestan. Republik Tatarstan terletak di jantung Federasi Rusia dan diapit oleh dua sungai besar, Volga dan Kama. Berbeda dari dua negara Islam lainnya yang saat ini punya hubungan kurang baik dengan Moskow, Tatarstan relatif tenang dan jauh dari konflik. Islam pun berkembang pesat di sana. Hal tersebut antara lain ditunjang oleh keberadaan warga etnis Tatar yang memang memiliki hubungan panjang dengan masyarakat Rusia di samping juga jarak yang relatif dekat ke Moskow atau sekitar 500 mil. Sejarah Tatarstan dapat ditelusuri dari kehidupan etnis Bulgaria dan Finno-Ural di tepi sungai Volga pada sekitar abad 6. Hingga abad 10, mereka telah membangun peradaban yang tinggi di sana serta menjalin hubungan dengan banyak negara, baik dari Timur Tengah dan Asia Tenggara. Catatan paling awal yang berhasil ditemukan mengenai kontak hubungan tersebut adalah pada masa Dinasti Abd-al Malik yang berkuasa tahun 685 - 705. Selama lebih dari 100 tahun Islam pun berkembang di wilayah itu dan berlanjut hingga masa Dinasti Mamun ur-Rashid. Puncak dari upaya penyebaran Islam terjadi ketika etnis Bulgar memeluk agama ini tahun 922 sekaligus memproklamirkannya sebagai agama resmi negara. Selanjutnya, wilayah itu menjadi makin berkembang, sejahtera penduduknya hingga invasi dari bangsa Mongol di bawah pimpinan Bantu Khan tahun 1236 tidak banyak berpengaruh terhadap negara itu. Bangsa Mongol justru secara bertahap berasimilasi dengan etnis Bulgar yang kemudian keturunannya dikenal dengan etnis Tatar. Wilayah itu sendiri tetap berada di bawah kendali kerajaan yang kuat, Golden Horde, namun beberapa tahun berikutnya terpecah menjadi beberapa negara kecil. Penerus kerajaan Horde tadi adalah Khanate Kazan yang berdiri tahun 1445. Dan sekarang etnis Tatar memandang Khanate ini sebagai peletak dasar dari republik mereka. Tahap kedua sejarah Tatarstan mengambil waktu di tahun 1552 ketika Tsar Ivan menaklukkan Kazan dan Khanate. Warga Muslim lantas dipindahkan ke daerah pinggiran kota, yang disusul gerakan kristenisasi. Tahun 1593, Tsar Ionnovitch mengeluarkan kebijakan untuk menghancurkan seluruh bangunan masjid yang ada di wilayah tersebut dan berlanjut hingga masa kekuasaan Tsarina Anna pada abad 18. Namun pada masa Tsarina Catherine, kebijakan itu dihapuskan. Dia justru membolehkan pembangunan kembali masjid dan menghapuskan banyak larangan bagi kaum Muslim. Maka masjid pertama pun dibangun tahun 1766-70 yang diberi nama dari seorang cendekiawan Muslim, Mardzhani. Pada periode inilah, warga Muslim Kazan dapat 'hidup' kembali. Mereka pun merengkuh lagi kejayaan yang dulu pernah dicapai, termasuk dalam bidang ilmu pengetahuan. Kazan, sekali lagi, menjadi salah satu pusat pendidikan agama Islam. Akan tetapi, mulai awal abad ke-20, saat kaum Komunis Soviet berkuasa, Tatarstan sekali lagi dianeksasi. Maka pupus kembali kejayaan itu. Berita ini dikirim melalui Republika Online http://www.republika.co.id Berita bisa dilihat di : http://www.republika.co.id/Cetak_detail.asp?id=204644&kat_id=105 Hemat bandwith. Hapus pesan yang tidak perlu. Subscribe milis: [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe milis: [EMAIL PROTECTED] ---- LSpots keywords ?> ---- HM ADS ?> YAHOO! GROUPS LINKS
Kirim email ke |
Title: Republika Online : http://www.republika.co.id
