Kaca mata Edwin

  Peristiwa ini terjadi beberapa bulan lalu. Waktu itu bunda dan
teman-teman Forum Lingkar Pena membuat acara FLP Peduli Aceh di
Taman  Ismail Marzuki. Aku diminta menyumbang baca puisi. Ada juga
Datuk  Taufiq Ismail, Datuk Hamsad Rangkuti, Om Chaerul Umam, Tante
Rieke Dyah  Pitaloka, Tante Astri Ivo, Tante Yessy Gusman, dan lain-
lain. Om Agus  Nuramal alias PM Toh juga ada lho.

  Selain acara apresiasi seni dan lelang buku karya anggota FLP Aceh
yang  menjadi korban tsunami, ada juga lelang lainnya. Semua hasil
lelang  diberikan untuk korban tsunami. Hari itu aku juga sudah bedol
celengan  untuk ikut membeli apa yang dilelang. Kalau aku sanggup sih
alias yang  tidak begitu mahal. Kan sama saja menyumbang, malah dapat
barang lagi.

  Pertama, aku beli seprai Spiderman seharga dua ratus ribu. Aku
beli  peci Igo Ilham seharga enam puluh ribu. Terus aku belikan
bunda  selendang Tante Yessy Gusman: dua ratus ribu. Aku beli sketsa
Om Andi  Yudha seratus ribu. Selain barang-barang itu aku tidak
sanggup  membelinya karena harganya lebih mahal.

  Tak lama kemudian, Om Eki, Tante Asma dan Om Boim Lebon,
menawarkan  kacamata. Aku bilang sih keren! Kacamata itu milik Edwin,
artis lucu  yang dari Aceh itu lho.

  Waktu ditawarkan pada yang hadir, mereka tidak terlalu menanggapi.
Mulanya ada yang menawar seratus, lalu seratus limapuluh, terus aku
tawar dua ratus ribu. Sebenarnya aku tak perlu kacamata, tapi kan
uangnya untuk Aceh, ya aku jadikan perlu saja.

  Ternyata sudah dihitung sampai lebih dari tiga kali, tidak ada
yang  menawar lagi. Alhamdulillah akhirnya disahkan. Aku yang dapat
kacamata  itu! Tapi mengapa Bunda sedih?

  "Bunda kenapa? Kan aku beli. Kan uangnya untuk Aceh! Bunda marah
aku beli yang tidak diperlukan?"

  Bunda menggelang. "Harga kacamata itu sebenarnya jutaan rupiah,
Nak," kata Bunda.

  "Ya terus kenapa, Bunda?"

  "Kamu hanya membelinya dua ratus ribu," ujar bunda lagi.

  "Tapi kalau aku tidak beli, yang lain tidak beli Bunda. Dua ratus
ribu kan lumayan!" aku bingung.

  "Ya bunda dan teman-teman bunda pikir kacamata itu akan laku lebih
mahal. Sudahlah nggak apa. Bukan salah Faiz…," Bunda mencoba
tersenyum.

  Aku coba kacamata itu beberapa kali. Aku bilang sih keren. Ini
pasti  kacamata  mahal. Tiba-tiba aku suka sekali dengan kacamata
itu.  Aku akan merawatnya baik-baik! Aku genggam, aku lihat
berulangkali. Ah,  kacamata yang hebat. Aku cinta padamu.

  Aku sedang duduk menyaksikan acara yang hampir berakhir, ketika
Bunda  datang dan mengajakku ngobrol. Ada apa? Kelihatannya penting?

  "Faiz benar mau nyumbang buat Aceh? Ikhlas?"

  "Iya Bunda. Kan aku bedol celengan," jawabku mantap.

  "Faiz suka kacamata itu?"

  "Banget!" kataku mengangguk.

  "Kalau ada orang yang mau beli kacamata itu 1,5 juta bagaimana?"

  "Bagus bunda. Tapi dia telat. Kan aku udah sah jadi pembelinya."

  Bunda diam sebentar. "Pak Jalal dari FBA Press baru saja sms mau
beli kacamata itu seharga 1,5 juta. Faiz tahu artinya?"

  "Apa?"

  "Artinya sumbangan untuk saudara-saudara di Aceh jadi lebih
banyak," kata Bunda sambil membelai kepalaku.

  Aku diam lama sekali. Aku suka kacamata ini. Elit. Aku tak akan
bisa membelinya di toko karena pasti mahal.

  Bunda tersenyum menatapku. "Terserah Faiz. Sebenarnya kacamata itu
sudah punya Faiz."

  Aku menunduk. Menatap kacamata yang kupegang dengan dua tanganku.
Aku  suka sekali. Aku sudah sah membelinya. Bahkan aku sudah
mendapatkan  kwitansi pembeliannya sejak dua jam lalu.

  "Ya sudah, nggak apa," kata Bunda. Bunda beranjak meninggalkanku.

  "Bunda…!" suaraku seperti tercekik saat memanggil Bunda.

  Bunda menoleh.

  "Kalau memang ada yang mau beli lebih mahal, aku rela," kuserahkan
kacamata itu pada Bunda. "Aku kembalikan…,anggap saja belum ada yang
membeli…."

  Bunda memelukku kuat-kuat. "Faiz nggak apa?"

  Aku menggeleng. "Uang untuk korban tsunami bertambah kan?"

  Bunda mengangguk berkali-kali. "Faiz hebat. Soleh!"

  Kulihat untuk terakhir kalinya kacamata yang kemudian dibawa Bunda
pada panitia. Kacamata itu akan menjadi milik Pak Jalal.

  Setelah Bunda berlalu, entah mengapa ada sesuatu yang menjalar di
hati.  Aku merasa lega. Ah, siapa yang butuh kacamata? Yang aku
butuhkan  adalah senyum saudara-saudaraku di Aceh….


  (Abdurahman Faiz)



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Get fast access to your favorite Yahoo! Groups. Make Yahoo! your home page
http://us.click.yahoo.com/dpRU5A/wUILAA/yQLSAA/tBfwlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Hemat bandwith. Hapus pesan yang tidak perlu. Subscribe milis: [EMAIL 
PROTECTED] Unsubscribe milis: [EMAIL PROTECTED] 
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kasma1/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke