dari milis tetangga,euy... -Bobby
--- RDP <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Hampir semua anak2 berbakat ini akhirnya "digodog" di Univ LN. Apakah memang lebih baik mereka skalian bekerja di LN saja atau di DN ? Di LN mereka sangat mungkin mengoptimumkan kiprahnya dalan dunia fisika - Indonesia memperoleh keharuman nama saja, cukup ? Atau lebih baik berkiprah di DN demi kemajuan bangsanya sendiri ? lah,itu pilihan mereka bukan maunya kita kan ? Selamat dulu deh **Kemilau Indonesia di Olimpiade Fisika** Tak banyak waktu luang bagi para juara Olimpiade Fisika asal Indonesia. Setelah menempuh perjalanan lebih dari 10 jam dari Salamanca, Spanyol, mereka sudah harus terbang lagi ke luar negeri. Kali ini mereka bertolak ke Nanyang Technological University (NTU),Singapura. Jago-jago fisika itu adalah Andhika Putra (SMA Sutomo 1 Medan), Ali Sucipto (SMA Xaverius 1 Palembang), Purnawirman (SMAN 1 Pekanbaru), Michael Andrian (SMA Regina Pacis Bogor), dan Ario Prabowo (SMA Taruna Nusantara Magelang). Keempatnya meraih medali di ajang Olimpiade Fisika Internasional ke-36 di Spanyol, pekan lalu. Andhika dan Ali meraih medali emas, sementara ketiga rekannya meraih medali perunggu. Mereka tiba di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, Rabu (13/7) --tanpa sambutan meriah. Kecuali Andhika yang masih kelas dua SMA, keempat siswa cemerlang ini sudah harus tiba di NTU Singapura, Jumat (15/7) pagi. Para siswa jenius memang telah terdaftar di universitas paling bergengsi di Negeri Singa itu. Mereka memperoleh beasiswa penuh. ''Lusa, saya sudah harus kuliah,'' ujar Ali yang meraih kursi di Jurusan Fisika NTU. Dibajak asing? Profesor Yohanes Surya, koordinator Tim Olimpiade Fisika Indonesia (TOFI), menolak anggapan demikian. Kata Yohanes, keempat siswa ini memang telah diterima di NTU sejak Mei 2005, jauh sebelum Olimpiade Fisika Spanyol digelar. Yohanes yakin mereka akan kembali ke Tanah Air setelah jadi 'orang' di luar negeri. Ia mengambil contoh BJ Habibie yang pada 1970-an kembali ke Indonesia setelah malang-melintang di Jerman. Pada prinsipnya, Yohanes memang lebih setuju siswa-siswa cemerlang itu digodok dulu di luar negeri, dan kalau perlu sampai menyandang gelar guru besar. ''Nanti, begitu Indonesia mau bangun, kita panggil mereka pulang. Yang penting kita perkuat dulu komunitas Indonesia di luar negeri,'' kata Yohanes mengungkap rencana besarnya. Kata Yohanes, beberapa alumni TOFI sudah meraih gelar doktor di Amerika Serikat (AS) dan siap pulang. Alumni TOFI 1993, Okky Gunawan, sudah meraih PhD (doctor of philosophy) dari Princeton University. Tahun depan, alumni TOFI lainnya, Hendra, dari University of William and Marry juga lulus PhD, dan siap menyusul pulang. Meski begitu, Yohanes menyarankan mereka tetap bercokol di sana untuk memperkuat posisi. Ia memberi contoh Nelson Tansu, alumni TOFI yang sudah menjadi profesor di sebuah universitas di Pensylvania, AS. ''Saya minta supaya ia tarik orang-orang Indonesia. Perkuat dulu komunitas di sana. Nanti begitu Indonesia mau bangun, tinggal kita panggil pulang,'' tuturnya. Yohanes tampaknya belajar pada negeri Cina. Kata Yohanes, selama 10- 20 tahun ke belakang, Cina mengirimkan mahasiswanya dalam jumlah besar ke AS, hingga menjadi pakar-pakar kelas internasional. Bahkan, dunia riset AS kini ditopang oleh ilmuwan kelahiran Cina, dan sebagian kecil India. ''Sekarang Cina membangun. Semua pada pulang. AS malah kebingungan,'' tutur Yohanes. Menurut dia, Indonesia bisa seperti Cina, bahkan lebih. Ajang Olimpiade Fisika Internasional di Salamanca, Spanyol, menjadi bukti keunggulan siswa negeri ini. Dalam lomba prestisius yang diikuti oleh 340 pelajar SMA dari 77 negara dunia itu, Indonesia meraih dua emas, lebih superior ketimbang AS, Inggris, Jerman, Korea, atau Vietnam yang hanya meraih satu medali emas. ''Siswa kita tidak kalah dari siswa luar negeri,'' kata Yohanes menegaskan Capaian tim TOFI Indonesia kali ini juga lebih baik dibanding TOFI tahun lalu di Korea. Saat itu Indonesia hanya meraih satu emas, satu perak, dan dua perunggu. Sama seperti sebelumnya, di ajang Spanyol kali ini, para peserta diuji tiga soal dalam waktu lima jam. Dua soal pertama adalah tentang perubahan orbit satelit akibat salah menembakkan semburan gas. Soal kedua tentang penentuan ukuran hambatan listrik dan arus listrik standar dengan metode hukum Faraday. Sementara soal ketiga adalah eksperimen terbaru para fisikawan Prancis dari Grenoble pada 2002 yang menemukan bahwa gerak neutron, yaitu sebuah partikel netral yang tak bermuatan dalam medan gravitasi, ternyata terkuantisasi. Khusus soal ketiga, hanya ada lima orang di dunia yang mampu memperoleh nilai teori sempurna 30 poin. Andhika Putra dari Indonesia berhasil meraih 29,6 poin. Ia hanya meleset sedikit akibat kesalahan kecil pada perhitungan rumus pertidaksamaan ketidakpastian Heisenberg. Kata Yohanes, sebagai peraih medali emas olimpiade,Andhika dipastikan dapat beasiswa penuh dari Massasuchets Institute of Technology (MIT) di, Princeton, AS, tahun depan. Kepada wartawan,Andhika berjanji akan kembali ke Indonesia setelah menimba ilmu di luar negeri. Jawaban serupa meluncur dari mulut Ali Sucipto, yang lusa sudah meluncur ke Singapura. ''Saya pasti kembali keIndonesia,'' tutur lajang yang memiliki Inteleqtual Quotient (IQ) 152 itu. (n iman yuniarto ) http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=205418&kat_id=3 __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com _____________________________________________________________ Keluarga Besar Mahasiswa Siantar-Bandung (KBMSB) [email protected] http://groups.yahoo.com/group/KBMSB http://www.mail-archive.com/[email protected] Disclaimer : Isi tanggung jawab pembaca ! Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/KBMSB/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
