|
----- Original Message -----
From: IBW
To: (SKI)
Sent: Friday, October 21, 2005 9:30 AM
Subject: berita kompas 21 Oct 05 Belajar dari Keajaiban Ekonomi Nagoya
Julius Pour Pegawai boleh saja libur, tetapi tugas saya 24 jam sehari, tujuh hari seminggu, kata Shinsaku Ishikawa (72), Wali Kota Togo, sambil membungkuk tanda menghormat. Hari itu Sabtu (24/9) pagi, semua ruangan di Balai Kota Togo, Prefectural Aichi, 30 km barat Nagoya, Jepang, kosong tanpa tampak seorang pun pegawai. Kesibukan justru muncul di perpustakaan, museum kota, serta warung makan sekaligus halte bus di gedung samping. Di Jepang, pemerintah pusat bertanggung jawab dalam urusan pertahanan dan kebijakan luar negeri, tugas selebihnya diserahkan pemda yang dipilih secara langsung, baik untuk tingkat prefectural (47) dan 3.170 kota, termasuk 13 kota besar dengan penduduk di atas satu juta jiwa. Sejak Juni 2003, PM Junichiro Koizumi semakin mengurangi subsidi dan mewajibkan pemda lebih aktif mengelola keuangan, sebagai langkah pendorong agar pemda tidak selalu menadahkan tangan ke Tokyo. Sebagai kelanjutan Expo Aichi 2005, setiap negara peserta menjalin kekerabatan dengan sebuah kota, kami terpilih jadi sahabat Indonesia, maka ingin melakukannya dengan tulus, kata Ishikawa serius. Masyarakat Togo juga menyambut antusias, di antaranya spontan ikut membikin pentas seni untuk merayakan hari Proklamasi 17 Agustus. Dilanjutkan mengirim delegasi ke Indonesia, mencoba melihat apa yang bisa dilakukan. Salah satu hasilnya, Togo membuka program pertukaran siswa. Sebab kalau dari kecil kita bersahabat, sesudah dewasa bisa jadi saudara.... Keajaiban ekonomi Nagoya Pilihan kepada Togo sangat menguntungkan. Kota berpenduduk 80.000 jiwa ini termasuk kawasan yang sekarang sedang berkembang pesat dan telah mengungguli seluruh Jepang. Bahkan, kini muncul istilah The Nagoya Boom, ledakan ekonomi dari Nagoya. Semula kawasan ini bertumpu pada industri pembuat alat kantor, keramik, tekstil, kimia, dan mobil yang sudah mulai dikuasai oleh negara-negara lain akibat tingginya ongkos produksi. Sejak beberapa tahun terakhir, Nagoya tetap pada industri yang sama, tapi dengan gaya pendekatan serta pengelolaan baru. Dengan demikian, Nagoya berhasil kembali merebut keunggulan dan malah jadi teladan. Dengan sengaja Nagoya memindahkan industri low-end mereka ke negara lain, tetapi tetap mempertahankan high-end produknya. Untuk tetap unggul, mereka memacu divisi R&D, penelitian, dan pengembangan. Contoh nyata dilakukan Toyota, produsen mobil yang pada 1937 mendirikan pabrik mesin tekstil. Mobil Kijang diproduksi di Indonesia, begitu juga Corolla dan Camry diproduksi di luar Nagoya. Tetapi mobil Lexus yang mewah atau Prius dengan bahan bakar bensin-listrik dipertahankan di pabrik lama. Selain itu, Toyota juga menguasai saham dari 500 pabrik pemasok peralatan sehingga bisa mengalokasikan dana untuk litbang dan bukan membaginya sebagai dividen. Sebuah kebijakan yang tak akan bisa dilakukan pabrik mobil di AS sebab mereka harus membagi habis semua keuntungan demi memuaskan pemegang saham. Perubahan kebijakan bisnis Langkah serupa juga dilakukan Brother: faksimile dan mesin tulisnya dibuat di China dan Malaysia, tetapi mesin jahitnya yang canggih pasti buatan Nagoya. Begitu juga Yamazaki Mazak, pembuat peralatan mesin terbesar di dunia. Model yang ecek-ecek dibikin di luar Jepang, tapi yang perlu keterampilan tinggi tak bakal dilepaskan keluar Nagoya. Menurut Paul Sheard, pakar moneter di Tokyo dalam The Asian Wall Street Journal, Gaya Toyota bukan berarti mereka tidak bersedia membagi dividen. Tetapi, dengan kebijakan tersebut, mereka tetap bisa merancang jenis mobil paling unggul tanpa dicekik modal pinjaman. The Nagoya Boom berhasil mengoreksi kekeliruan yang pernah terjadi pada kebijakan konvensional Jepang. Ketika tahun 1990-an kemajuan ekonominya mulai tersendat, hasil riset kemudian menunjukkan bahwa jaminan hidup pegawai, panutan senioritas, dan rumitnya pembagian saham berikut tetek bengek lain mengharuskan perubahan. Perubahan tidak hanya dilakukan Toyota, tetapi juga Nissan, Sony, Toshiba, dan sejumlah industri lain. Mereka sekarang menghapuskan promosi senioritas, mengundang manajer profesional, dan mendasarkan pembagian saham pada kemampuan manajerial. Banyak pabrik mobil Jepang nyaris bangkrut ketika sibuk berlomba membuat mobil canggih tapi tidak laku atau memborong kompleks perumahan mewah di New York. Begitu harga saham jatuh dan gelembung kosong sektor properti pecah, dampaknya berlarut. Industri di Nagoya berhasil selamat dan kemudian tampil jadi teladan karena berani mengambil langkah drastis. Kerja keras, penghematan, dan memakai prinsip mottainai, tidak ingin menghamburkan kekayaan alam. Mingguan ekonomi Aera melukiskan, konsumsi hiburan per keluarga Nagoya hanya 1.200 dolar AS setahun, lebih kecil dari rata-rata pengeluaran penduduk Jepang, 2.100 dolar AS. Warga Nagoya yang berjumlah 7,2 juta jiwa juga terbukti hemat dalam penggunaan pulsa telepon seluler dan membatasi sekali pengeluaran konsumtif lainnya. Maka, jangan heran kalau sekarang Nagoya tampil sebagai pelabuhan tersibuk di Jepang. Ketika awal tahun 2005 Nagoya meresmikan Bandara Centair (Central Japan International Airport) di Chebu, anggarannya bisa dihemat satu miliar dollar AS dan diselesaikan dua bulan lebih cepat. Sampai pertengahan tahun 2005 separuh lebih surplus perdagangan Jepang-AS dihasilkan di Nagoya. Dengan demikian, dewasa ini tersedia 1,8 lowongan untuk setiap orang pencari kerja, ini semua ikut memicu mengarusnya pekerja dari China sampai Brasilia. Sudah berakhir Warga Nagoya masih ingat ketika tahun 1980-an kereta api ekspres dirancang menghubungkan Tokyo-Osaka dalam waktu sekejap, semula Nagoya tidak akan disinggahi karena dinilai tidak punya prospek. Sementara itu dalam Perang Dunia II, Nagoya justru dihancurkan oleh serangan udara Sekutu karena menjadi lokasi pabrik pembuat pesawat terbang pemburu legendaris Zero. Buku bertajuk Nagoya: The Shock of The World's Most Powerful Economy atau The Methods of Nagoya's All Powerful Merchants kini tampil sebagai bahan acuan dan diperbincangkan di seluruh dunia. Takara, pabrik pembuat boneka, tahun lalu meluncurkan Rika-chan, gadis Nagoya dengan mode rambut ikal pendek, mata besar, dan rok pendek. Penjualan boneka tersebut langsung laris terjual di seluruh penjuru dunia. Anda mencari Barbie? Seperti boneka Jepang pakai kimono, itu semua adalah kisah masa lalu, sebab kini pilihannya Rika-chan eks Nagoya Ya, mengapa kita masih harus memakai model lama kalau keajaiban ekonomi Nagoya sudah membuktikan keberhasilannya? Resepnya jelas: kerja keras, penghematan, dan berani melalukan perubahan. _____________________________________________________________ Keluarga Besar Mahasiswa Siantar-Bandung (KBMSB) [email protected] http://groups.yahoo.com/group/KBMSB http://www.mail-archive.com/[email protected] Disclaimer : Isi tanggung jawab pembaca ! YAHOO! GROUPS LINKS
|
