Note: forwarded message attached.

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

_____________________________________________________________

Keluarga Besar Mahasiswa Siantar-Bandung (KBMSB)
[email protected]
http://groups.yahoo.com/group/KBMSB
http://www.mail-archive.com/[email protected]

Disclaimer : Isi tanggung jawab pembaca !
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/KBMSB/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 
--- Begin Message ---
Title: FW: Kisah Nyata: Kisah Seorang Pastur dan Keluarga Yahudi

 

 

-----Original Message-----
From: martino [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent:
Thursday, January 19, 2006 12:59 AM
To: Baron; Eddy,; Gugun,; Haris; Hendra; Inggrit; Iskandar,; Kris; Leonard; Lia,; Merry; Noel; Ricky,; Teddy; Thea,; Weddy
Subject: Kisah Nyata: Kisah Seorang Pastur dan Keluarga Yahudi

 

 

 Subject: Kisah Nyata: Kisah Seorang Pastur dan Keluarga Yahudi
>
>
> >
> > DESEMBER 1902
> > Hari ini hari Jumat, hari pertama kami membuka usaha
> > kami. Dengan berseri-seri, saya (17 tahun, pengantin
> > baru) berdiri di sebelah suami saya Solomon, di dalam
> > toko kami yang bernama UEBERALL 3 - 9 - 19 Sen.
> > Terletak di Brooklyn, Amerika Serikat, toko ini
> > menjual barang-barang dengan harga pas, senilai 3, 9
> > atau 19 sen. Tamu pertama kami melangkah masuk. Beliau
> > seorang Pastor Katolik muda usia, dari sebuah gereja
> > (Katolik) kecil, namanya Pastor Caruana. Beliau
> > berbelanja sedikit, dan mukanya gelap, semuram warna
> > jubahnya. "Mengapa sedih Bapa?" suami saya bertanya -
> > Pastor Katolik biasa disapa dengan sebutan Father/Bapa
> > - Solomon tergolong orang yang sangat mudah "jatuh
> > hati".
> >
> > Pastor tersebut berbicara pelan, seolah menerawang
> > menjawab, "Gereja kami harus ditutup...." "Mengapa?"
> > bagi suami saya, agama adalah penyembahan dari menit
> > ke menit. Kami menjalankan semua ritual agama kami.
> > Keluarga Ueberall, sebagaimana sebagian besar
> > orang-orang Yahudi, beragama Yahudi. Mereka menyembah
> > Allah Yehovah yaitu Allah Abraham, Ishak & Yakub, dan
> > mematuhi hukum Taurat Musa. Mereka bukan beragama
> > Kristen Katolik. Bukan demi ritus itu semata mata,
> > namun kepatuhan kami kepada Allah. Pastor tersebut
> > menjelaskan bahwa Beliau membutuhkan $500, untuk Senin mendatang.
> > Jemaatnya miskin, dan tidak mungkin memenuhi tuntutan $500 itu.Gereja
> > pusatnya tidak dapat membantu, dan rasanya tidak ada jalan keluar.
Suami
> > saya mendengarkan dengan cermat, dan tangannya meremas-remas jemari
> > saya. Saya merasakan perasaan hatinya yang terdalam.
> >
> > Kami berdua adalah orang-orang Yahudi, pindah dari
> > Austria (suami saya) dan saya dari Rusia. Kami mencari kehidupan yang
> > lebih aman dan baik di Amerika. Di Eropa, keadaannya kurang begitu baik
> > untuk bangsa kami. "Tidak! tidak boleh terjadi...." Solomon menggerutu.
> > Ia berpikir keras, dan kemudian berkata: "Jangan kawatir Bapa, kita
> > usahakan uang itu...." Saya melotot ke arah Solomon. Nggak salah? Lima
> > dollar saja tidak kami miliki saat ini. Pastor Caruana juga melotot
> > memandangi suami saya. Kemudian dengan wajah tidak percaya, Beliau
> > meninggalkan kami. Solomon menatap saya. "Esther, kita memiliki begitu
> > banyak hadiah pernikahan. Kita gadaikan itu semua. Suatu saat kita
tebus
> > itu semua kembali, namun sekarang kita cari 500 dollar...." Solomon
> > melepaskan jam emas beserta rantainya yang merupakan hadiah dari ayah
> > saya. Ia melihat kepada cincin kawin saya. Terpaksa saya buka perlahan
> > dan menyerahkan kepadanya.
> >
> > MASIH KURANG BANYAK
> > Solomon kembali petang itu dengan wajah kurang cerah.
> > Ia hanya berhasil mendapatkan $250. Pada saat makan
> > malam ia menjadi riang kembali dan berseri-seri
> > berkata: "Saya tahu, kita pinjam! Keluarga kita besar
> > dan kompak bukan?" Dan sepanjang hari minggu itu,
> > Solomon pergi mengunjungi para paman, ipar, sepupu,
> > dan kawan kawan yang pernah ia tolong. Beberapa dengan
> > simpatik langsung menolong. Beberapa berkeras hati.
> > Solomon memohon-mohon, ia mengemis-ngemis, ia
> > menghimbau, ia membangkit-bangkit, akhirnya terkumpul
> > lagi sebesar $250.-. Sejak saat itu, tiap hari Senin,
> > Pastor Caruana merupakan pengunjung toko kami yang
> > paling pagi. Beliau senantiasa membawa sebuah dompet
> > kulit, dan membayar sebagian demi sebagian. Uang
> > tersebut adalah hasil kolekte jemaatnya. Persahabatan
> > kami meningkat. Kemudian seluruh hutangnya terbayar
> > lunas....
> >
> > BERKAT MELIMPAH
> > Cincin kawin saya telah berhasil ditebus, dan semua barang-barang yang
> > kami gadaikan kembali dengan selamat. Keberuntungan senantiasa mewarnai
> > toko kami, dan berkat bagaikan luber tercurah. Tak lama sesudah itu
kami
> > mengganti nama toko menjadi TOKO SERBA ADA UEBERALL. Demikianpun dengan
> > jemaat Pastor Caruana. Dengan pelan namun pasti, jemaat itu makin kuat
> > dan makin besar. Mereka bahkan bisa membangun gereja yang lebih kokoh
> > dan bagus, dengan nama Santa Lucia. Tahun 1919 Pastor Caruana dipanggil
> > pulang ke Roma, dan perpisahannya dengan Solomon lebih merupakan
> > perpisahan dua saudara kandung.
> >
> > TAHUN - TAHUN KEMUDIAN
> > Solomon secara tiba tiba dipanggil Allah pulang,
> > meninggalkan saya dan dua anak anak. Pukulan keras ini berdampak dua
> > tahun. Saya kemudian bekerja sendiri, dan melatih putera saya mengambil
> > alih usaha. Secara pelan-pelan, ingatan akan Pastor Caruana menghilang
> > dari pikiran saya. Perang dunia II meletus, dan Hitler menderap masuk
> > Austria. Kesulitan besar terjadi di sana, dan kami menerima surat-surat
> > permohonan dari saudara serta kerabat Solomon, yang ingin disponsori
> > untuk pindah ke Amerika. Tanpa kepindahan ini, kamp-kamp konsentrasi
dan
> > maut menanti mereka. Saya berusaha keras menolong. Namun pemerintah
> > Amerika kemudian menutup kemungkinan migrasi dengan memberlakukan
sebuah
> > kuota. Surat-surat permintaan terus masuk. Tiap menerima sebuah, terasa
> > satu tikaman di ulu hati saya. Saya akan bersandar di dinding dan
> > menangis: "Oh Solomon, kalau saja engkau masih
> > hidup...."
> >
> > Akhirnya saya menghubungi Departemen Perburuhan di
> > Washington, dan mereka menyarankan agar saya membiayai
> > para pelarian masuk Cuba. (Saat itu Cuba masih
> > bersahabat dgn Amerika Serikat). Syaratnya, harus ada
> > tokoh kuat di Cuba yang bisa mensponsori, dan menjamin
> > akan kelangsungan hidup di sana. Siapa? Saya tak kenal
> > seorang pun di Cuba. Terbersit sebuah ilham. Cuba
> > negara Katholik, mungkin gereja Santa Lucia bisa
> > menolong. Seorang Pastor muda langsung mengirim kawat
> > (telex) kepada pimpinan Gereja Katholik di Havana
> > memberi kabar kedatangan saya.
> >
> > HAVANA INTERNATIONAL AIRPORT, CUBA, 2 HARI KEMUDIAN...
> > Turun dari pesawat terbang, udara hangat menerpa
> > wajah. Seorang anak laki-laki kecil berlari-lari
> > menemui saya di  tangga pesawat dengan sebuah buket
> > kembang mawar. Saya mencium pipi anak kecil ini,
> > terheran heran akan penyambutan VIP macam ini. Pelan
> > pelan saya melihat sepasang sepatu coklat di sisi anak
> > itu. Mata saya naik ke atas, terpandang sebuah gaun
> > beludru berwarna merah darah dengan rumbai-rumbai
> > kuning. Mata saya terangkat lagi ke atas, dan melihat
> > langsung kepada sepasang mata ramah, berkeriput, yang
> > memandang dalam-dalam, dengan riak-riak gelombang
> > hangat di dalamnya. Orang itu tersenyum kepada saya.
> > Saya memusatkan perhatian. Tangannya terulur kepada
> > saya, dan berkata pelan: "Esther Ueberall... tidak
> > ingatkah kau pada saya?" Pastor Caruana!! Saya
> > berenang dalam air mata....Di dalam mobil menuju pusat
> > kota, Pastor Caruana bercerita bagaimana Beliau
> > kemudian ditugaskan  Roma di Cuba, dan menjadi Bishop
> > Kepala (Uskup Agung?) di sana.
> >
> > Dengan pertolongannya, dua lusin keluarga kami
> > melarikan diri dari cengkeraman Hitler, dan tiba di
> > Cuba. Mereka menantikan dibukanya kuota imigrasi
> > Amerika, dan tidak diperkenankan bekerja. Namun,
> > gereja Katolik Cuba melindungi mereka, memberi
> > makanan, pakaian, sayur mayur segar dari kebun-kebun
> > sendiri, daging, dan enam bulan kemudian mereka telah
> > aman di Amerika.
> >
> > KEMBALI KE AMERIKA SERIKAT
> > Sejak saat itu, saya dan Pastor Caruana
> > berkirim-kiriman surat. Beliau kemudiah jatuh sakit
> > dan dirawat di kota Philadelphia, Amerika Serikat.
> > Beberapa kali saya menyempatkan diri menengok, dan
> > dalam tiap doa.... saya selalu ingat keadaan Beliau.
> >
> > Suatu hari, sebuah surat tiba di meja kerja saya, dari
> > pimpinan Gereja Katolik Philadelphia, dan isinya
> > mengatakan bahwa keadaan Pastor Caruana sangat gawat.
> > Beliau tidak ingin ditemui oleh siapapun, namun terus
> > menerus memanggil-manggil nama saya. 3 jam kemudian
> > saya telah tiba di sana, dan duduk dengan diam di sisi
> > tempat tidurnya. Beliau tampak kurus, lemah, dan tidak berdaya...
> > "Esther....", katanya memegang tangan saya. Kami berdiam diri disana,
> > saling memandang. Saya tahu, bahwa Beliau sebentar lagi akan
> > "berangkat".
> >
> > Kemudian  Beliau berkata: "Esther, jaga diri baik
> > baik, saya selalu berdoa untukmu dan untuk keluargamu" Kemudian, dengan
> > banyak kesulitan, Beliau mengeluarkan dari bawah bantalnya sesuatu yang
> > diletakkan dalam genggaman tangan saya. Beliau memberikan kepada saya
> > sebuah bros perak yang selalu dikenakannya.
> >
> > Air mata  yang panas membanjiri saya, dan sambil
> > memegang tangannya erat-erat. Pergilah dengan tenang
> > Bapa, KENANGAN akan engkau sangat MANIS di dalam hati
> > saya. Lambang dari suatu hubungan yang manis, dari
> > seikan banyak perbedaan-perbedaan umat manusia,
> > namun...saling berbuat baik, karena kenal DIA!!   Ini
> > adalah terjemahan bahasa Indonesia, riwayat kehidupan
> > Esther Ueberall ini, dimuat dua kali dalam majalah
> > Guideposts, Februari 1974 dan Mei 1987.
> >
> > Pesan dari PHW: " Di tengah ketidakadilan yang semakin
> > sering umat Kristen alami di negeri ini, marilah kita menyingkirkan
> > semua perbedaan kita dan saling membantu satu sama lain sebagai umat
> > yang mengenal Allah...."
> >
> > ditulis sendiri oleh: Esther Ueberall
> >
> >
> >




_____________________________________________________
This message is for the designated recipient only and may contain
privileged, proprietary, or otherwise private informartion. If you have
received it in error,please notify the sender and delete the mesaage
immediately. Any other use of the email is prohibited.

 

_____________________________________________________________
This message is for the designated recipient only and may contain
privileged, proprietary, or otherwise private information. If you have
received it in error, please notify the sender and delete the message
immediately.  Any other use of the email is prohibited.

 

_____________________________________________________________
This message is for the designated recipient only and may contain
privileged, proprietary, or otherwise private information. If you have
received it in error, please notify the sender and delete the message
immediately.  Any other use of the email is prohibited.

 

_____________________________________________________________
This message is for the designated recipient only and may contain
privileged, proprietary, or otherwise private information. If you have
received it in error, please notify the sender and delete the message
immediately.  Any other use of the email is prohibited.


--- End Message ---

Kirim email ke