DINAMIKA KOREA DALAM PRINSIP - PRINSIP PENDIDIKAN DAN PERKEMBANGAN
EKONOMI 

"Dalam zaman keemasan Asia, Korea adalah salah satu pembawa obor."

Kalimat diatas keluar dari seorang filsuf India yang terkenal yakni
Rabindranath Tagore. Bukan tanpa alasan seorang filsuf mengeluarkan
pernyataan seperti itu. Korea memang tercatat sebuah negara yang
memiliki riwayat panjang tentang sebuah keberhasilan. Negara yang
nyaris tanpa sumber daya alam namun mampu menjadi `macan asia`. Dalam
tempo yang relatif singkat, pembangunan perekonomiannya melejit dengan
amat mengesankan. Ketika Jepang menyerah kepada Sekutu pada tahun
1945, Korea menjadi negara paling modern kedua di  Asia setelah
Jepang. Korea muncul sebagai pembawa obor dengan pertumbuhan industri
yang pesat. Keistimewaan masyarakat Korea terlihat pada kesuksesannya
membangun sebuah negara dari berbasis pertanian menjadi negara
industri yang maju didunia dalam kurun waktu yang singkat yakni
sekitar 40 tahun. Kesusuksesan ini juga dapat dilihat dari pemulihan
ekonomi yang cepat pada saat krisis ekonomi 1997/1998 lalu. 

Cerita panjang kesusuksesan Korea bermula dari program untuk
membangunan kembali negerinya yang porak-poranda akibat dijajah Jepang
selama 35 tahun dan perang saudara yang melanda pada periode
1950-1953. Pada awalnya Korea dihadapkan pada posisi sulit karena
tidak memiliki Sumber Daya Alam yang memadai. Hampir 70% dari
wilayahnya berupa pegunungan yang tersusun dari bebatuan jenis gneiss
dan granit. Lahan pertanian sangat terbatas. Kondisi alam yang sulit
ini telah membentuk karakter mereka menjadi manusia-manusia yang ulet,
tangguh dan selalu ingin menang. Penulis Barat melukiskan, Bangsa
Korea adalah bangsa yang giat, banyak akal, dan mengembangkan
industrinya dengan semangat tinggi. Ada monumen-monumen yang
melambangkan orang-orang Korea sebagai pekerja keras dan penuh inisiatif. 

Tetapi justru salah satu catatan penting dalam pembangunan ekonomi
Korsel adalah keberhasilan mereka swasembada beras mulai tahun 1987.
Swasembada beras tercapai setelah Korsel melakukan modernisasi
pertanian melalui mekanisasi peralatan dan perlengkapan, peningkatan
kualitas bibit padi melalui transplantasi, meningkatkan produksi pupuk
dalam jumlah yang melimpah dan menerapkan teknologi pengolahan pasca
panen. Mulai tahun 1989, Korsel sudah surplus beras lebih dari 5 juta
ton pertahun (Chaidir).
Karakter ekonomi Korsel pun berubah sejak diberlakukannya Rencana
Pembangunan Ekonomi Lima Tahun I (1962-1966). Perusahaan Minyak Korea
mulai berdiri tahun 1964, kemudian diikuti dengan pembangunan industri
petrokimia terpadu tahun 1966 yang memiliki multiplier effect sangat
luas. Dalam tahun 1980, berdiri pula Perusahaan minyak Korea-Iran,
Ssangyong Oil Refinery. Produksi minyak meningkat dari 4,8 juta barrel
tahun 1964 menjadi 257,5 juta barrel tahun 1985.
Rencana Pembangunan Ekonomi Lima Tahun I (1962-1966) yang sukses
membangun perekonomian Korea berlanjut dengan diberlakukannya
Undang-undang Elektronika tahun 1969 dan pelaksanaannya berupa Rencana
Pembangunan Industri Elektronika 8 tahun (1969-1976). Undang-undang
ini terbukti membawa pertumbuhan industri elektronika yang sangat
cepat. Pada tahun 1980 Korsel sudah menjadi 10 besar dunia sebagai
produser barang-barang elektronik, nilai ekspornya mencapai 4,2
triliun dolar Amerika pada tahun 1985 (Chaidir).
Pada Tahun 1994, total volume perdagangan Korea mencapai 198,4 triliun
dolar, dan ini menempatkan Korsel menjadi 12 besar di dunia dengan
andalan ekspor meliputi baja, peralatan mesin, komponen elektronik,
TV, Video Camera, arloji digital, bahan-bahan kimia, microwave oven,
bahan pakaian, pakaian jadi dan peralatan olah raga.  Produk-produk
Korea seperti LG, Samsung, Hyunday, KIA, dan Daewo sudah men-dunia.
Hal ini menempatkan Korea sebagai negara maju dan sejak tahun 1996
resmi menjadi anggota OECD. Kesuksesan industrialisasinya membawa
pengaruh yang besar di Asia. Indonesia termasuk salah satu negara yang
memperoleh keuntungan dari kerjasama dengan Korea.

Aspek yang sangat penting dalam fenomena pembangunan ekonomi Korea
adalah sumber daya manusia yang handal. Masyarakat Korea dididik
spartan dari kecil. Ajaran Konfusius, yang banyak mempengaruhi pola
sikap dan tingkah laku orang-orang Korea, memberikan pemahaman penting
untuk menghargai pendidikan. Masyarakat Korea benar-benar menaruh
penghargaan kepada orang-orang yang berpendidikan dan menempatkan guru
pada posisi yang terhormat. 

Pengembangan dunia pendidikan, bisnis, dan teknologi terlihat jelas
merupakan obsesi masyarakat Korea. Fasilitas pendidikan tinggi dan
kecenderungan menjalin kerja sama internasional dikalangan akademis
sangat diperhatikan. Sejak tahun 1969, Korea Selatan sudah
melaksanakan program wajib belajar 9 tahun (berbeda dengan Indonesia
yang baru memulainya di tahun 90-an). Selain itu ujian masuk SLTP
(Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama) dihapuskan sehingga hampir 100%
lulusan SD (Sekolah Dasar) dapat melanjutkan pendidikan ke SLTP.
Kemudian sejak Tahun 1973, ujian masuk SLTA (Sekolah Lanjutan Tingkat
Atas) juga dihapuskan, tetapi ujian masuk Perguruan Tinggi tetap
dilakukan dan saat ini rata-rata 5596 lulusan SLTA diterima di
Perguruan Tinggi. 

Prinsip-prinsip pendidikan yang dikembangkan di Korea sebenarnya
bersifat universal, seperti mengembangkan spirit nasional, konsep
tentang kebajikan, tanggungjawab terhadap tugas, peningkatan
pengetahuan dan keterampilan, persatuan dan kesatuan serta konsep
hidup harmonis sesama manusia. Tetapi prinsip pendidikan ini justru
melahirkan masyarakat Korea yang berjiwa nasionalisme, pembelajar dan
disiplin. 

Selama ini, Korea telah dikenal sebagai negara yang memiliki
nasionalisme yang tinggi. Tentu kita masih mengingat penolakan
terhadap produk-produk non Korea beberapa waktu silam. Selain itu,
dalam kehidupan masyarakat, nasionalisme diperlihatkan melalui
identitas kebudayaan Korea mulai dari Hanok (tinggal di Rumah bergaya
Korea) Hanbok (pakaian Korea), Hansik (makan dengan makan bergaya
Korea), sampai dengan Han Geul (sistem alphabet Korea). Tidak hanya
itu saja, nasionalisme juga menyentuh sampai ke bidang olah raga
sepakbola. Bagi masyarakat Korea, memenangkan pertandingan di piala
dunia 2002 lalu sama bermartabat dengan memenangkan perang dimedan
tempur. Analogi perang pun disamakan dengan perjuangan Tim Korsel di
laga world cup, hingga slogan KTF (Korea Tim Fighting) sontak menjadi
themesong seluruh rakyat Korsel. Walau tidak semua yang gila bola,
tapi memenangi setiap pertandingan adalah impian seluruh rakyat Korsel.

Prinsip pendidikan Korea juga melahirkan masyarakat Korea sebagai
masyarakat pembelajar. Kredo yang terjadi di Korea adalah bahwa setiap
orang harus memberikan kontribusinya kepada peningkatan kesejahteraan
umat manusia. Hal ini menyebabkan masyarakat Korea untuk selalu ingin
tahu (belajar) dan haus akan informasi. Hal yang paling kelihatan
dalam pencarian ilmu dan  informasi adalah minat masyarakat Korea
terhadap internet yang begitu tinggi. 

Di dunia internet saat ini terdapat 30,6 juta pelangan internet di
Korea. Ini menandakan bahwa sekitar 62,4% persen dari 49 juta penduduk
Korea adalah pengguna Internet. Bandingkan dengan negara ASEAN lainnya
seperti Singapura (61%), Malaysia (34%), Thailand (10,7%), Brunei
(9,4%), Vietnam (6,2%), Filipina (4,2%) dan Indonesia yang hanya 3,6%
(Sapto Anggoro). Survei DPK (Departemen Penerangan dan Komunikasi)
yang dilakukan pada akhir 2003 menemukan bahwa 65 persen masyarakat
Korea yang berumur 6 tahun ke atas menggunakan Internet sedikitnya
12,5 jam per minggu. Para pelajar sekolah menengah dan atas rata-rata
online lebih dari tiga jam per hari. Mereka lebih banyak menghabiskan
waktu di Internet dibanding bermain-main ataupun menonton televisi.

Selain berjiwa nasionalisme dan bersifat pembelajar, prinsip
pendidikan Korea juga melahirkan sumber daya manusia yang bersikap
disiplin. Berbicara tentang Korea sama saja berbicara tentang
kedisiplinan. Tingginya apresiasi orang Korea terhadap tugas dan
profesinya adalah wujud kedisiplinan mereka. Dalam hal disiplin
nasional masyarakat Korea patut dicontoh. Bahkan mantan presiden RI,
Megawati pernah meminta agar rakyat Indonesia meniru dedikasi dan
disiplin nasional negara Korea. Disiplin nasional inilah yang dengan
cepat memulihkan kembali perekonomian korea yang sempat hancur akibat
krisis moneter 1997/1998 lalu. 

Pada akhirnya perkembangan perekonomian Korea saat ini tidak lepas
dari sumber daya manusia yang handal sehingga telah menjadikan Korea
sebagai model bagi negara-negara sedang berkembang, yang sedang dalam
proses industrialisasi. Apa rahasia suksesnya pertumbuhan ekonomi
Korea? Jawabannya tak lain adalah sistem pendidikan yang melahirkan
prinsip-prinsip pendidikan (berjiwa nasionalisme, bersifat pembelajar,
dan berbudaya disiplin). 


Refrensi : 

Chaidir. Catatan perjalanann ke korea. Harian Riau Pos. 

Sapto Anggoro. Pak Guru Google. www.detik.com. 






_____________________________________________________________

Keluarga Besar Mahasiswa Siantar-Bandung (KBMSB)
[email protected]
http://groups.yahoo.com/group/KBMSB
http://www.mail-archive.com/[email protected]

Disclaimer : Isi tanggung jawab pembaca !
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/KBMSB/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke