Tulisan ini di bawah ini menurutku bagus, bisa untuk dijadikan sebagai
pencerahan. Semoga bermanfaat. Salam.
_______________________________________________________________
Berikut ini adalah butir2 analisis yang mendalam tentang Agama, Allah, dan
Bangsa yang diharapkan dapat menjadi bahan renungan kita semua :
Dalil 1.
Allah itu tidak beragama. Jadi Ia berlaku adil bagi semua manusia. Agama
adalah sekedar sarana untuk mengenalkan Allah, namun Allah sendiri tidak
beragama. Dan menurut Gus Dur tidak butuh sembahan dari kita. Yang
terpenting bagaimana kita sadar akan kebenaran dan berlaku bijak.
Dalil 2.
Tingkat pencapaian puncak pemahaman agama adalah RELIGIOSITAS. Salah satu
definisi umum tentang religiositas adalah sbb : Sikap hatinurani, batin
dan pikiran manusia yang selalu diarahkan kepada perbuatan baik, kasih
sayang, kebenaran dan keadilan. Religiositas adalah setingkat lebih tinggi
dari agama. Religiositas dapat diperoleh tanpa melalui agama, ia diperoleh
terutama dari pengalaman hidup. Ibarat kuliah, ini adalah Philosophy
Degree atau gelar Doktor.
Setelah bergelar Doktor, maka ilmu lebih penting daripada almamaternya.
Kalau baru taraf kuliah, seorang mahasiswa masih suka memamerkan
identitas2 universitasnya. Ia masih suka petentang-petenteng dengan jaket
almamaternya. Kalau seorang sarjana yang sudah bekerja masih tersekat oleh
kotak2 almaternya, dan setiap ke kantor pakai jaket almamaternya, betapa
kantor itu akan menjadi ajang sikut-sikutan antar universitas, dan betapa
menyedihkan jiwa orang itu (yang terbelenggu oleh almamaternya)! Demikian
pula dengan agama, intisari agama yaitu Allah dengan sifat dasar Nya
("Maha Adil, Pengasih dan Penyayang") menjadi lebih penting daripada agama
itu sendiri, atau bahkan agama menjadi tidak dominan lagi sekedar seperti
almamater saja. Jadi, kalau sudah mumpuni keagamaan seseorang, bukan
agamanya yang penting, melainkan religiositasnya yang amat sangat penting.
Ia tidak lagi tersekat-sekat oleh kotak sempit yang disebut agama.
Dalil 3.
Keterbatasan kitab suci. Agama berbasis kitab suci. Dengan demikian, agama
mempunyai keterbatasan yang cukup mencolok seperti disebutkan dalam
kitab-kitab suci Al-Quran dan Injil. Misal dalam Al-Quran ditandaskan
bahwa apabila semua ajaran Allah SWT dituliskan, maka tinta sebanyak
samudera rayapun tidak akan mencukupi. Demikian pula dengan Injil yang
menandaskan apabila semua ajaran Isa Almasih dituliskan maka dunia beserta
isinya pun tidak akan bisa memuat. Dikatakan bahwa Allah adalah Maha Besar
atau Maha TAK TERBATAS; mana mungkin sesuatu yang Tak Terbatas (Allah,
milyaran tahun) cukup dijelaskan oleh satu orang saja yang SANGAT TERBATAS
(para nabi, yang umurnya mencpai k.l. 80 tahun)! Jika Allah itu dari minus
tak terhingga (alpha, tak tahu kapan awalnya) dan berakhir di plus
terhingga (omega, tak tahu kapan berakhirnya), maka seorang manusia yang
hidup di suatu range (daerah) umur yang sangat terbatas (katakan 80 tahun)
adalah tidak mungkin menjelaskan secara tuntas sesuatu yang tak terhingga
(milyaran tahun)! Bumi dan universe sudah milyaran tahun, dan masih
milyaran tahun lagi, maka seribu, sejuta atau bahkan semilyar nabi
disertai ilmuwan tidak akan pernah selesai mempelajari universe dan Allah!
Jadi, ke "Mahabesaran Allah" tidak mungkin cukup diwadahi dalam buku
setebal/setipis kitab suci. Ke "Mahabesaran Allah" juga tercermin pada
luas dan dalamnya ilmu pengetahuan.
Dalil 4.
Pemahaman akan Allah belum selesai dan tidak akan pernah selesai. Banyak
orang bijak berkata: "bukan agama yang dicari, melainkan kitab sucinya
sebagai sumber agama yang dicari; dan bukan kitab suci yang sangat
terbatas itu yang dicari melainkan kebenaran atau Allah yang selalu
dicari". Kitab suci (yang tipis sekali) beserta para nabinya adalah sangat
terbatas seperti ditandaskan sendiri dalam ayat2nya seperti telah
diuraikan diatas. Disamping itu, para nabi tsb. hidup dimasa lampau dan
singkat (puluhan tahun), sedangkan Allah beserta kebenaranNya adalah tidak
terbatas waktu dan tempat serta mengacu kemasa depan (s/d saat ini saja,
bumi diduga sudah milyaran tahun umurnya!). Sebagai gambaran KEMAHABESARAN
ALLAH: Seorang ahli komputer merumuskan suatu hukum yang disebut hukum
Moore; ia menyatakan bahwa setiap delapan belas bulan akan terjadi
lompatan teknologi dibidang teknologi informasi. Ia benar, ternyata
komputer berkembang dari XT, AT, ...., Pentium 4; demikian pula software:
dari DOS, Windows 98, ..., Windows XP. Manusia pun terus berkembang, dari
jaman batu s/d jaman ini yang ditandai teknologi informasi dan rekayasa
genetika. Ilmu Fisika tidak hanya berhenti pada hukum gravitasi Newton,
melainkan terus berkembang misalnya teori relativitas Einstein, teori big
bang, teori fusi, cloning, nano technology, dst. Buku ensiklopedi yang
berjilid-jilid dan tebal sekali, setiap tahun harus di up-date mengingat
hampir setiap hari ada penemuan baru di laboratorium riset di seantero
dunia. Kalau ilmu pengetahuan, komputer berikut softwarenya, dan
ensiklopedi beserta manusia penciptanya saja berkembang terus menerus dan
secara cepat, apalagi Allah YME! Oleh sebab itu, Allah beserta
kebenaranNya adalah dinamis, bukan statis, serta lebih banyak bergerak
mengacu ke masa depan, dan tidak terlampau sering menoleh kebelakang;
dengan demikian Allah adalah bukan milik atau dominasi sesuatu agama (yang
seolah-olah hanya berbasis sesaat dimasa lampau), melainkan milik ruang
dan waktu yang tidak terbatas dan tidak terhingga! Agama yang baik akan
selalu ingin mencari tahu rahasia Allah yang belum terkuak; bukannya
terus-menerus membelenggu, membatasi atau melecehkan Allah dengan
mengatakan: Untuk mempelajari dan menghapalkan ke Maha Besaran Allah yang
Tak Terbataskan, cukup melalui satu buku tipis saja yang disebut kitab
suci; Allah itu cukup PC XT titik (statis) bukan Pentium 5 beserta
penerusnya (Pentium X, dinamis, tak tahu s/d seri berapa nanti). Allah itu
cukup DOS bukan Windows XP, Allah itu cukup jaman dulu dan tidak punya
masa depan! Agama yang negatip hanya berkutat pada nabi2nya yang sudah
dahulu kala, dan menganggap pemahaman terhadap Allah sudah dianggap
selesai. Kemudian nabi utamanya begitu dibesar-besarkan seringkali
melebihi Allah itu sendiri, sehingga agama menjadi Maha Tak Terbatas
(mengenal Allah cukup dengan belajar satu agama saja), sedangkan Allah
menjadi Maha Terbatas (cukup dijelaskan oleh satu kitab suci setebal
kurang lebih 1000 halaman). Pusat ibadat dan puja-puji lalu diarahkan
kepada nabi2nya. Umat beragama lalu malas membaca hal2 yang baru terutama
science, sehingga menjadi terbelakang dalam berbagai segi kebudayaan.
Agama ditilik dari sisi organisasi dapat berbeda tujuan dengan kitab suci
sumber agama itu sendiri. Kitab suci sudah menandaskan dan menyadari
keterbatasan dirinya (buku setipis itu), dan KETIDAK terbatasan Allah;
sedangkan agama dilihat dari sisi organisasi, terus menerus mengatakan
"Pelajaran tentang Allah sudah selesai, yaitu Kitab suci KITA, jadi jangan
membaca kitab suci yang LAIN, apalagi pindah agama, tetaplah taat-setia
kepada agamamu (=KAMI, para pengurus organisasi agama)". Oleh agama yang
statis-beku-kaku, kita bagaikan diminta untuk terus menerus menggunakan
komputer XT dengan DOS, dan dilarang mempelajari atau menggunakan komputer
Pentium 5 dengan WINDOWS XP atau LINUX, kita bagaikan diminta untuk terus
menerus mempelajari hukum Newton, dan dilarang mempelajari fisika modern.
Jadi, agama yang kaku-beku-statis justru membatasi Allah dan membatasi
sesama manusia (tersekat-sekat atas nama agama) serta justru dapat menjadi
sumber krisis kebudayaan. Agama yang baik diharapkan menghasilkan manusia
yang religius, sekaligus cerdas dan selalu ingin lebih tahu lebih banyak
lagi tentang hal yang baru (termasuk agama baru). Manusia religius tidak
akan terbelenggu oleh agama, maka ia tidak takut berdoa di rumah ibadah
apapun (sesuai caranya sendiri), entah itu kelenteng, masjid, gereja,
pura, vihara, dst, sebab ia paham bahwa Allah tidak dapat dibatasi oleh
ruang dan waktu. Ia juga akan selalu tertarik dan mengikuti perkembangan
agama2 baru serta science yang baru.
Dalil 5.
Allah itu demokratis, sedangkan agama seringkali otoriter. Allah tidak
melarang manusia untuk tidak beragama, karena Allah sendiri pada dasarnya
tidak beragama. Allah mengharapkan agar manusia mencapai pemahaman
tertinggi yang disebut religiositas melalui berbagai sarana seperti agama,
"agama lokal" (misal Kejawen), dan ilmu pengetahuan. Keotoriteran agama
nampak pada keinginan mau menangnya sendiri seperti melarang berbagai hal
yang tidak sepaham dan ingin menjadi anak emas dinegara yang
majemuk/pluralis! Dinegara maju, apa saja boleh dan justru dianjurkan
untuk diperdebatkan (termasuk keyakinan), asal debatnya bermutu dimana
kaki dan tangan (kelahi) tidak boleh ikut dipakai dalam adu gagasan! Allah
itu Maha Cerdas, Maha Cerdas pasti suka debat, bukan main sweeping,
larang-melarang, main ancam-mengancam dan toriter. Jadi seseorang yang
cerdas pasti suka debat, karena debat mengakibatkan kemajuan. Memang, ada
kemungkinan agama akan ambruk oleh adanya demokrasi, rasionalisasi,
kebebasan berpendapat dan debat, seperti ambruknya gereja Katholik di
Eropa pada sekitar abad 18 an. Monopoli dan otoritarian ajaran agama oleh
pemuka agama menyebabkan posisi mereka tidak tergoyahkan dinegara
berkembang. Tidak mengherankan bila di Timur Tengah yang penuh dikuasai
kyai, ulama dan raja, takut setengah mati dengan demokrasi,
rasionalisasi, dan kebebasan berpendapat. Pemuka agama seringkali
memonopoli kebenaran dan takut berdebat untuk adu gagasan atau bersaing
dengan kebenaran yang lain yang lebih modern; umatnya pun selalu di brain
wash (dicuci otak) dengan mengatakan bahwa keyakinan tidak boleh
diperdebatkan; atau untuk mengunci terjadinya perdebatan lalu berkilah:
keyakinanmu adalah keyakinanmu, keyakinanku adalah keyakinanku! Bukankah
ini semua demi kelanggengan kedudukan para pemuka agama itu sendiri dan
agar umatnya tidak terpikat oleh pengetahuan baru tentang Allah? Bukankah
umat yang besar jumlahnya juga identik dengan income-ekonomi
zakat/persembahan) yang besar pula bagi para pemuka agama? Mengapa Allah
Yang Maha Cerdas dianggap bodoh, tak boleh didebat, dan Allah dianggap
takut akan demokrasi, rasionalisasi, serta kebebasan berpendapat? Pemuka
agama takut debat, lalu mereka mengatas namakan Allah bahwa Allah tidak
suka debat, keyakinan adalah harga mati - atau sesuatu yang beku, kaku dan
statis, buku2 yang sangat kritis terhadap agama (dan penyalah gunaan
agama) dilarang bahkan di-sweeping, aliran kepercayaan yang baru dan lebih
modern dimatikan, dengan demikian kelompok ini menganggap Allah adalah
sangat lemah, sehingga perlu dibela dengan mati2an.
Dalil 6.
Agama adalah sesuatu yang abstrak dan sulit dicerna, oleh sebab itu
sebaiknya tidak diberikan kepada anak-anak yang belum dewasa (disekolah
dasar), apalagi dipaksakan sebagai pendidikan agama. Agama adalah
persoalan individu dan merupakan kebebasan untuk memilih. Agama sebagai
pengajaran (knowledge) adalah penting dan perlu diajarkan (misalnya
keanekaragaman agama beserta ciri mereka masing2). Sebaiknya agama sebagai
pendidikan (untuk menarik pengikut baru) diberikan kepada manusia dewasa,
waktu mereka belum dewasa cukup diberikan pelajaran budi pekerti. Kalau
sejak kecil sudah dicuci otak (brain washing) dengan agama, maka hasilnya
persis kondisi Indonesia saat ini. Bukan kekeluargaan atau kasih saying
melainkan kecurigaan, 'keterkotakan' (SARA), tidak pandai/biasa berdebat,
kalau debat cepat marah, sulit menerima kekalahan, beku, kaku dan bahkan
ini bisa menjadi cikal-bakal kekerasan nanti disaat dewasa. Dinegara
modern seperi USA, Jepang, Korsel, Taiwan, Inggris, Australia, dst, agama
memang tidak boleh diberikan pada anak2 SD/SMP/SMA (sekolah negeri)
sebagai pendidikan (kecuali sekolah yang berafiliasi dengan agama
tertentu). Namun sebagai pengajaran (transfer of knowledge) yang
mengajarkan berbagai agama beserta karakteristiknya diperbolehkan,
pendidikan agama adalah merupakan tanggung jawab orang tua. Untuk anak,
yang lebih baik dan lebih penting adalah pelajaran budi pekerti (hubungan
horisontal-antar sesama manusia, jadi sesuatu yang lebih riel/nyata,
agama: hubungan vertikal dengan Allah, lebih abstrak). Budi pekerti
mengajarkan sopan-santun, taat hukum, menghargai alam dan isinya, keadilan
dan hidup bersosial secara baik. Benarkah dan pernahkah Nabi Muhammad SAW
dan Nabi Isa mengarahkan agama kepada anak2? Tidak kan? Oleh sebab itu,
para pemuka agama hendaknya mengasihani para anak2 dengan tidak membebani
otak mereka dengan pengetahuan yang belum saatnya (abstraksi tentang Allah
yang sulit); dan yang lebih penting dan mendasar adalah: agama syarat
dengan dogma2 yang beku-kaku, bila diajarkan secara kurang tepat dan bijak
justru akan membelenggu kecerdasan anak2, bahkan justru anak2 akan mulai
terkotak-kotak sejak dini. Hal ini akan menimbulkan dan menyuburkan
falsafah: right or wrong for my religion, yang pada akhirnya akan
menghasilkan kelompok fundamentalis yang merupakan salah satu bahan dasar
membentuk terorisme! Selain itu, mereka menjadi kurang kritis, pasif,
tidak pandai debat, dan kalau debat mudah marah (apalagi kalau kalah)!
Adalah lebih bijaksana apabila manusia dewasa dibiarkan memilih agamanya
sendiri , tanpa paksaan, setelah dewasa!
Dalil 7.
Agama bukan jaminan moralitas, kesejahteraan, kedamaian dan keadilan;
bahkan kadang2 agama justru dapat melunakan moral, etika dan hukum suatu
negara melalui persepsi yang salah. Lihat saja, ada berbagai agama besar
di Indonesia, namun persaudaraan, perdamaian dan keadilan justru tidak
ada; yang marak justru kekerasan, kerusuhan, KKN dan pelanggaran HAM. Para
elit (militer, politik dan birokrat), yang notabene berpendidikan tinggi
justru merupakan sebab utama kehancuran bangsa Indonesia. Yang diatas
rajin korupsi namun bebas dan terhormat, yang dibawah: begitu menangkap
pencuri ayam langsung dibakar begitu saja! Demikian pula yang terjadi
dengan di negara2 yang kental sekali agamanya, seperti negara2 berbasis
Nasrani: Amerika Latin (Colombia, Argentina, Chilie, Bolivia, Brasil),
Philipina; dan negara2 berbasis Islam: negara2 di Timur Tengah (Arab
Saudi, Mesir, Suriah, Aljasair, Maroko), Sudan, Nigeria, Pakistan,
Afganistan, dst. TKW kita di Timur Tengah yang sering mengalami penyiksaan
dan perkosaan juga dapat menjadi salah satu bukti nyata (frekwensi
perkosaan tertinggi). Mengapa hal ini terjadi? Jawabnya, dalam hal ini,
agama seolah-olah menekankan dan mengeksploitasi sifat Allah yang hanya
sebatas Maha Pengasih, Penyayang dan Pengampun; sifat Maha AdilNya sengaja
dihilangkan/dilupakan. Misalnya saja keyakinan bahwa apapun atau berapapun
berat dosanya jika : Percaya Yesus dosanya akan diampuni dan masuk surga
(agama Nasrani); atau jika berpuasa secara benar atau meninggal di Mekah
(saat berhaji) atau mendapatkan barokah di malam Lailatul khadar (malam
seribu bulan dimana surga akan terbuka penuh) maka seluruh dosanya akan
diampuni dan dijamin masuk surga. Dengan konsep mengobral harga "surga"
semudah dan semurah itu, agama berupaya untuk menarik minat calon pemeluk
baru (propaganda agama). Namun akibatnya justru negatip, tidak heran bila
negara2 dengan agama yang kuat (tapi beku pemahaman) justru menjadi sumber
KKN dan pelanggaran HAM! Agama justru dapat menjadi sumber krisis etika
dan moral! Sebagai contoh kongkrit perilaku para agamawan dibumi
nusantara, para koruptor kelas kakap, yang tinggal diperumahan-perumahan
elit-eksklusif, adalah donatur penting bagi kegiatan sosial atau
keagamaan. Pemuka agama dan masyarakat disekitarnya tidak pernah
mempertanyakan darimana para pejabat tinggi negara itu mempunyai dana
lebih, atau justru sebaliknya, para koruptor ini dijadikan teladan
kedermawanan lalu disanjung-sanjung! Demikian pula, melalui acara
televisi, etika dan moral generasi muda terus-menerus dirusak setiap
harinya: TV kita hanya memperlihatkan dan mementingkan wajah-wajah yang
cantik, bagus, rupawan, seksi dan kayaraya, darimana asal kekayaan itu
diperoleh tidak pernah digubris, tidak pernah ditayangkan adanya pejabat
yang korup, polisi yang busuk, dan jaksa yang kolusi, melalui film2 di TV.
Indonesia bak surga karena negara ini dipenuhi oleh manusia2 rupawan yang
kaya raya, agamis, jadi negara seolah-olah bersih dari KKN dan pelanggaran
HAM! Seharusnya sifat Maha Adil lebih ditekankan, agar manusia (pejabat)
berpihak ke rakyat jelata yang tertindas, dan menuntut para oknum pelaku
KKN dan pelanggar HAM dimuka hukum. Jadi sebelum hukum horisontal (antar
sesama manusia) terlunaskan/termaafkan, maka oknum tsb. tidak akan mungkin
masuk surga (hukum vertikal). Ulama, pastor, begawan, biksu dan pendeta
harus menandaskan bahwa kejahatan manusia juga harus dipertanggung
jawabkan dahulu didepan manusia (pengadilan), jadi tidak hanya vertikal
melainkan horisontalpun penting (sifat Maha Adil itu lebih mengarah ke
horisontal atau sesama manusia dan ini penting sekali)! Mereka harus rajin
ke DPR/DPRD, Kejagung, presiden dst. Dalam hal membela kebenaran/moral,
tanpa harus berpolitik praktis, mereka harus merasa malu dengan daya juang
para mahasiswa/LSM dalam hal pembelaan moral dan kebenaran! Mereka, para
agamawan, juga harus malu kepada seorang wanita ceking yang gigih membela
manusia melarat dan tertindas, yang bernama Wardah Hafidz dan Dita Sari,
atau pria ceking-kecil bernama Munir, yang tidak takut mengorbankan
keamanan, kenyamanan bahkan hidupnya! Mana ada ulama, kyai, ustadz,
pastur, pendeta atau biksu, yang turun tangan membela tukang becak,
penjual asongan, buruh, TKI/TKW dst secara nyata? Mana ada dari mereka
yang menuntut tuntasnya kasus BLBI, tragedi Mei 98, Trisakti, Priok,
Kudatuli, KKN, uang hibah haram, pelurusan sejarah 1965, korban cucu-cicit
PKI, membela buruh dan TKI/TKW, dst.? (seandainya ada, jumlahnya hanyalah
minim sekali, kurang dari 1%, alias satu orang dari seratus pemuka
agama!). Sebaliknya, pandanglah negara RRC yang komunis, yang justru
menampilkan kesejahteraan, kedamaian dan keadilan; koruptor kelas kakap
diburu s/d liang kuburnya dan kalau ketangkap dengan tegas diadili
kemudian ditembak mati. Kesejahteraan yang timbul dalam agama seringkali
hanya terjadi pada para birokrat (pemimpin/pengurus) agama itu sendiri
(karena zakat/derma). Penegakan hukum (legal formal) lebih menjamin
tingginya moralitas dan pertumbuhan ekonomi, yang pada akhirnya akan
memberikan kesejahteraan, kedamaian dan keadilan bagi rakyat, bila
dibandingkan dengan buaian agama yang memabokan.
Dalil 8.
Agama Harus Menghormati Budaya Setempat. Semua agama besar di Indonesia
berasal dari luar negeri, maka bias budaya pasti ada. Artinya, budaya
asing mendompleng agama akan masuk dan mempengaruhi budaya lokal. Alangkah
sedihnya kita, apabila di jalan Malioboro, seorang menyapa dengan Amitaba
... (Budha, bhs. Cina), lalu dijawab yang lainnya dengan Assalam .....
(Islam, bhs. Arab), kemudian ada lagi yang menyahut Syallom .... (Kristen,
bhs. Yahudi), tak ketinggalan ada yang berkata Hong wilaheng .... (Hindu,
bhs. Hindi); kemudian ada yang menjawab secara rasional, sopan dan
nasionalis : Selamat pagi, selamat siang dst. Demikian pula dengan budaya
berpakaian, alangkah sedihnya apabila blangkon dan surjan Yogya terdesak
oleh pakaian Arab atau sari India. Memeluk agama asing haruslah tidak
boleh mengorbankan budaya setempat. Yang paling menakutkan adalah
penjiplakan cara berpikir dan berperilaku, misalnya menganggap ilmu
pengetahuan dan teknologi itu "setan" yang harus dijauhi, dan melakukan
kekerasan demi pembelaan agama, konsep yang salah "right or wrong for my
religion" (sisi "wrong" sangat berbahaya bagi kesehatan nurani). Agama
yang baik semestinya dapat berperan untuk mempengaruhi kebudayaan suatu
suku atau bangsa kearah yang lebih baik. Alm. Mochtar Lubis dalam bukunya
yang best seller di tahun 1977 (judul: Manusia Indonesia) mengkritisi
secara habis-habisan budaya negatip manusia Jawa (sang mayoritas) yang:
munafik, enggan bertanggung jawab, feodal, percaya takhyul/mistis,
berkarakter lemah, suka KKN, pelupa, tidak tahu malu, cuek, dst. Dalam
konteks negara, agama yang baik semestinya bisa menghapus atau menipiskan
kelemahan budaya suatu bangsa. Namun sayang, di Indonesia, peran agama
justru kebalikannya, terbukti bangsa ini tidak bisa melepaskan diri dari
sumber dari segala sumber krisis yaitu krisis moral dan kebudayaan!
Bayangkan bila nalar kita tidak kritis diberbagai bidang, pinjaman uang
(utang) luar negeri yang bersyarat telah membelit kita, kurs nilai mata
uang yang jauh dari keadilan telah menjajah kita, dan budaya asing yang
lewat agama telah mendominasi budaya kita, lalu kita mau jadi bangsa apa?
Adalah sayang sekali, kebanyakan agama yang ada justru meninabobokan
kemudian secara halus-terselamur menggusur kebudayaan kita!
Dalil 9.
Agama mudah diperalat. Oleh para elit politik maupun penipu biasa, agama
sering diperalat. Sudah jamak kita tahu bila ucapan Assalamualaikum.....
di negeri ini sudah dipakai sebagai pembuka berbuat jahat, sudah menjadi
bagian penting dari birokrasi preman. Kedunguan manusia telah mengubah
ajaran suci Allah melalui para nabi menjadi belenggu bagi umat beragama.
Dan sejarah juga sering menjadi saksi bagaimana penguasa politik, militer,
birokrat, ekonomi maupun agama bahu-membahu mendungukan manusia agar dapat
dikuasai oleh ambisi-ambisi mereka. Kesetiaan dan ketaatan hampir seratus
persen kepada Allah melalui agama disalah gunakan oleh 'manusia cerdas
tapi jahat'. Antara Agama dan partai politik sudah sulit dibedakan. Antara
filsafati yang suci bersih dan politik yang hitam kotor bercampur baur.
Umat beragama bingung, apakah ia sedang mendengarkan sabda Allah atau
orasi politik yang ulung dari seorang Kyai atau Da'i (misalnya Da'i sejuta
umat), atau apakah ia sedang ada di mesjid atau sedang ada di kantor
partai politik? Awas, para politisi di Jakarta itu adalah ahli
mempolitisir agama. Para pakar politik Barat yang bagaimanapun kita harus
akui kualitasnya lebih unggul daripada para politisi kita. Mereka pasti
juga ikut dan lebih pandai menggunakan jurus politisasi agama; misalnya
saja agar Indonesia terjebak dalam persoalan agama atau agar bangsa
Indonesia mendem keblinger alias mabuk agama (semuanya mau diselesaikan
dengan agama!). Dengan demikian laju perkembangan IPTEKnya dapat dihambat.
Dengan politisasi agama, kasih sayang dimanipulasi menjadi kekerasan dan
bahkan pembunuhan, misalnya jihad bom bunuh diri dimana pelakunya
dijanjikan pahala yaitu surga. Lihatlah fakta kekerasan dan pembunuhan di
negara2 yang agamis seperti: Colombia, Argentina, Aljasair, Afganistan,
Mesir, Sudan, Pilipina, Indonesia, Bosnia, Yugoslavia, dst. Lihatlah
bagaimana mantan presiden Suharto yang tidak lulus SMA dengan begitu
indahnya mempercundangi para akademisi (mahasiswa dan dosen yang notabene
adalah bergelar profesor/doktor) di UI, ITB, UGM, IPB, dst., dengan
menaklukan/membelokan reformasi melalui politisasi agama (sebagai salah
satu strategi save exit yang ampuh; tentang hal ini, harap baca artikel
yang lain).
Dalil 10.
Agama dapat menghambat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK).
Lihatlah sejarah Eropa diabad 17 an. Agama Katholik saat itu sering
menghukum ilmuwan, dengan alasan ilmuwan itu membuat pernyataan yang
dianggap bertentangan dengan isi Injil. Ilmuwan besar yang dikucilkan
antara lain adalah Copernicus, Galileo, Columbus, dan Darwin. Pada abad
itu ketika agama Katholik begitu dominan (namun beku, kaku dan statis),
Eropa justru mengalami jaman kegelapan. Sekarang, lihatlah perbedaan
antara negara Amerika Latin (yang dominan agamanya) dan USA serta Kanada
(yang dominan religiositasnya dan ilmuwannya). Sangat kontras sekali,
misalnya saja antara USA dan Meksiko yang berbatasan. USA sangat modern,
makmur, tentram, sebaliknya Meksiko, padahal mereka sama2 pendatang dari
Eropa. Negara-negara Islam juga sama saja, katakan saja Turki, Bosnia,
Albania adalah negara2 Islam paling modern, ternyata masih jauh tertinggal
dibelakang negara2 Eropa dalam IPTEK, demokrasi dan kemakmuran. Selama
pemahaman agama itu masih sempit (fanatisme agama, bukan religiositas),
maka selama itu pula negara akan terjebak dalam hiruk pikuk eforia agama.
Kita juga dibuat tercengang dengan para ilmuwan negara komunis, misal RRC,
mereka maju pesat, misal sudah dapat mengirim astronot ke ruang angkasa,
lihat pula negara kita yang dibanjiri otomotif produk mereka dengan harga
yang sangat murah (sebab di RRC hampir tidak ada KKN). Berapa ribu jam
belajar yang sudah dihabiskan oleh anak-anak SD untuk "menghapal" hal yang
belum saatnya dipelajari (agama beserta bahasa asing dan budayanya)?
Bukankah anak2 itu ibarat di "brain washing" sehingga daya kreativitas dan
daya saing mereka untuk tingkat dunia menjadi rendah sekali. Karena cara
mengajarnya yang kebanyakan doktriner, akibatnya para siswa menjadi kaku,
pasip, tidak kreatip, tidak bisa debat, gampang marah kalau debat, dan
tersekat-sekat. Hasilnya apa? Toh mirip P4, PMP, dst. Selain itu, setamat
SD, kita masih harus menghabiskan sekian ribu jam pelajaran lagi untuk
belajar dan mengejar ketertinggalan dalam bahasa Inggris, lalu kapan SDM
kita bisa maju kalau kita tidak effisien dalam menggunakan waktu dalam
pendidikan (porsi agama terlampau banyak)?
Dalil 11.
Semakin udara suatu bangsa penuh polusi doa puja-puji kepada Allah,
semakin rusak moral bangsa itu. Kalau kita amati, seringkali tembok-tembok
ditulisi: Ngebut, benjut; Yang Kencing disini hanyalah anjing; Daerah
bebas narkotik; Dilarang buang sampah disini; dst... Dinegara maju yang
masyarakatnya sudah mencapai religiositas, tulisan2 berisi ancaman dan
aturan kasar semacam itu sudah tidak ada lagi, sebab aturan itu sudah
tertulis dihati sanubari mereka semenjak dini/kecil, yaitu melalui
pendidikan budi pekerti. Begitu pula dengan masalah agama, semakin bumi
nusantara ini dipenuhi polusi suara yang keras dan hingar bingar tentang
agama (Tabliq Aqbar, istigotsah, azan masjid, koor gereja, dsb.), kemudian
orang2nya semakin gemar memakai atau memajang aksesori keagamaan
(seringkali hanya untuk "sekedar sembunyi"), semakin menandakan bahwa
masyarakatnya masih sekedar pandai berdoa dan sekedar bosa-basi agama
(formalitas), namun tidak pandai melaksanakan ajaran agama. Siang maling
atau korupsi, malam berdoa atau meditasi; para pegawai negeri yang mengaku
abdi negara dan abdi masyarakat justru mempraktekan filosufi:"Mengapa
harus dipermudah, kalau semuanya bisa dipersulit (agar keluar uangnya)?".
Ucapan dan tindakan bangsa ini ternyata sangat kontras bedanya, alias
hipokrit/munafik. Lihatlah kelihaian para politisi tua Orde Baru dalam ber
"agama", kemudian lihatlah "track record" mereka. Alhamdulilah, seratus
delapan puluh derajat bedanya! Dengan demikian, dapat kita katakan, apa
yang terjadi di Indonesia adalah pelecehan agama, bukan penghormatan
agama, apalagi pengamalan agama! Pelecehan agama sama saja dengan
pelecehan Allah, ini akan menyebabkan kehancuran moral suatu bangsa dan
murka Allah!
Dalil 12.
Agama tidak akan berguna apabila rakyatnya lapar, miskin dan bodoh. Ada
pedoman hidup yang klasik dan bagus: "Kenyang dulu baru ber falsafah".
Sebaik-baiknya ajaran agama, namun apabila perut umatnya kosong, yang
terjadi adalah justru kriminalitas: kerusuhan dan kekerasan. Oleh sebab
itu, agama perlu meniadakan sumber-segala sumber kemiskinan dulu, terutama
kemiskinan struktural yang disengaja dan sengaja dibiarkan terjadi
berkelanjutan oleh para politisi busuk; misalnya: gaji yang tidak layak
dan tidak adil. Dirut BUMN terima 50 juta; sedangkan buruh/pns terendah
terima 0,5 juta per bulan; rasio 1:100! Sistim penggajian yang berbeda
antar departemen dan antar BUMN! Sistem gaji di Indonesia, yang bagaikan
hutan belantara, telah menjadikan gap kekayaan yang luar biasa dan
menjadikan sumber KKN. Kebodohan akan mengakibatkan kesempitan berfikir,
kesempitan berfikir dapat disalah gunakan oleh pemuka agama yang berjiwa
preman, hasil utama didikannya adalah kefanatikan, kefanatikan (mengklaim
paling suci dan paling berhak atas surga!) akan mengakibatkan radikalism
agama yang pada akhirnya akan menghasilkan terorisme! Kemiskinan dan
kebodohan menyebabkan mudahnya umat untuk di cuci otak oleh pemuka agama
preman, misalnya untuk melaksanakan: jihad (di agama Islam dapat berbentuk
bom bunuh diri, sekaligus melakukan pembunuhan masal; sedangkan bunuh diri
secara masal bentuk di agama Nasrani); semuanya dilakukan demi dalih masuk
surga! Penutup Kedunguan manusia telah mengubah ajaran suci Allah melalui
para nabi menjadi belenggu bagi umat beragama. Dan sejarah juga sering
menjadi saksi bagaimana penguasa politik, militer, birokrat, ekonom maupun
pemuka agama bahu-membahu mendungukan manusia agar dapat dikuasai oleh
ambisi-ambisi mereka. Singkat kata: "kitab suci semua agama sangat
terbatas, Allah maha tidak terbatas. Pemahaman akan Allah belum selesai
dan tidak pernah akan selesai. Oleh sebab itu, janganlah kita menghina
Allah dengan mereduksi/memperkecil kemahabesaran Nya menjadi hanya satu
buku yang sangat tipis sekali yang disebut kitab suci. Belajar agama harus
sampai mencapai tingkat tertinggi yaitu religiositas! Manusia yang sudah
mencapai derajat religiositas yang tinggi, sudah tidak lagi mementingkan
wadahnya yaitu agama, melainkan lebih mementingkan isi (intisari/makna)
suatu ajaran agama, dan ia tidak pernah berhenti untuk terus mencari Sang
Kebenaran! Dan ia menjadi manusia bebas merdeka yang tidak tersekat-sekat
lagi. Berbahagialah orang yang tidak beragama namun mempunyai religiositas
yang tinggi/dalam, sebab ia akan bebas merdeka dimana saja, kapan saja,
dilingkungan apa saja, sebab Allah akan selalu menyertai dia! Manusia
religius tidak akan pernah: membatasi Allah sebatas agamanya, membatasi
sesamanya atas dasar agamanya; sebab Allah adalah milik semua orang, baik
yang beragama maupun yang tidak beragama - sebagaimana matahari diciptakan
untuk semua manusia. Allah juga bukan masa lampau, melainkan lebih
mengarah ke masa depan. Fakta sejarah juga telah menandaskan bahwa agama
dapat diperalat menjadi sumber krisis etika, moral dan kebudayaan apabila
dipolitisasi! Sayang sekali, kebebasan beragama di Indonesia termasuk
semu, sebab agama2 baru, yang ternyata banyak sekali jumlahnya, dilarang
masuk ke Indonesia (juga kebebasan untuk tidak beragama atau
berkepercayaan)! Mungkin hal ini dikarenakan takut mengganggu kemapanan
agama2 yang sudah dahuluan masuk Indonesia. Silahkan search (cari tahu)
agama baru di internet dengan Google dengan cukup mengetikan: new
religion. Selain itu, lihatlah format KTP kita, KTP hanya memuat agama
tertentu; padahal agama terus tumbuh dan berkembang, dan religiositas
adalah pencapaian terbaik untuk umat manusia; dengan pilihan politis
demikian, sudah dapat ditebak bahwa visi kedepan bangsa ini telah salah
secara mendasar! Membatasi pengetahuan akan Allah hanya sebatas kitab suci
yang tipis, dan membatasi manusia untuk mengetahui rahasia Allah lebih
lanjut lagi adalah dosa yang tidak disadari oleh para pemimpin agama saat
ini yang pemikirannya statis-kaku-beku!!!
--
LUBIS, SANTOSA & MAULANA Law Offices
Mayapada Tower 5th Floor
Jl. Jend. Sudirman Kav. 28
Jakarta 12920
T: (62-21) 521 1931
F: (62-21) 521 1930
www.lsm86law.com
_____________________________________________________________
Keluarga Besar Mahasiswa Siantar-Bandung (KBMSB)
[email protected]
http://groups.yahoo.com/group/KBMSB
http://www.mail-archive.com/[email protected]
Disclaimer : Isi tanggung jawab pembaca !
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "KBMSB" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
