Oleh: Bobby Formula
Pagi indah, cerah ceria.
Matahari tua bertengger di atas cakrawala dengan cahaya gilang gemilang menggenangi semesta. Sinar yang dipancarkannya bergerak lurus menembus awan tipis, menyelusup dari celah ranting dan daun pepohonon hingga akhirnya dengan lembut menyentuh tubuhku.
Matahari pagi itu sehat dan menguatkan tulang, begitu dulu kata
ibuku.
Maka aku biarkan cahaya matahari lembut itu bersama dengan belaian selendang angin pagi bebas membasuh sekujur tubuh, membuat suasana kian terasa nikmat kala menghirup udara segar Tanah Air.
Pagi itu, aku yang cuma ditemani oleh bayangan ku sendiri sedang berdiri tegak di bawah pohon rindang yang tumbuh kokoh di tepi jalan sambil menanti Angkutan Kota yang tak kunjung datang.
Rasanya sudah hampir 10 menit aku menunggu dengan rasa bosan mulai datang menindih. Sementara beberapa
kenderaan pribadi sudah hilir mudik sedari tadi, angkutan kota tak kelihatan sama sekali.
Kemana semua ini sopir angkot ?, aku menggerutu.
Untuk mengisi kekosongan waktu, mengalihkan rasa bosan, aku sibukkan diriku ku dengan bersenandung ria irama Dangdut Kontemporer sambil membersih-bersihkan lubang hidung dengan jari telunjuk. Hmmm...sedap nian ngupil di pagi hari begini sambil berjemur di tepi jalan, aku pikir.
Sampai tak berapa lama, sejauh mata memandang dari arah kejauhan sana, aku lihat Angkotan Kota yang aku nanti-nanti melaju dengan cepatnya. Meliuk-liuk diatas permukan jalan berlapis aspal hitam.
Hati senang bukan kepalang. Yang dinanti akhirnya kunjung datang jua.
Aku julurkan tanganku untuk menghentikan angkot yang sedang melaju kencang menembus udara pagi.
Stop !
Tepat di hadapan ku ia berhenti diikuti bunyi tajam gesekan antara ban dan aspal hitam. Di
balik kemudi mobil aku perhatikan si Abang Sopir yang bertampang seram, berkaca mata hitam, duduk dengan gagahnya sambil mengisap Dji Sam Soe yang menjadi rokok kegemaran para Sopir Angkot pada umumnya. Mulut dan hidungnya mengeluarkan asap rokok mengepul tebal.
Dan semakin lengkap sudah keseramannya tak kala ia sengaja pamerkan sebuah tatoo bergambar Sendok dan Garpu yang saling bersilang , terukir di otot lengan kirinya yang kekar bergelombang.
Tapi tak begitu kuhiraukan semua itu. Aku langsung masuk diikuti oleh bayangan ku yang semenjak tadi selalu setia menemani.
Kembali Abang Sopir menginjak pedal, tancap gas.
Suasana di dalam sepi. Begitu sepi. Hanya ada seorang gadis yang tampak sedang bersusah hati.
Matanya sembab, tanda ia baru menangis.
Aku coba curi pandang untuk memastikan.
Ups, dia
tau.
Dia memandang aku. Aku pandang ia kembali. Kali ini tidak curi-curi lagi. Aku perhatikan dalam-dalam wajahnya, bulat, putih, bersih juga dilengkapi dengan: sepasang bibir tipis, dan mata indah gilang gemilang bak sepasang kejora, namun sayang, awan gelap disana coba menghalangi pancarannya. Tak lupa aku katakan bahwa hidungnya juga mancung, tetap dengan dua lubang yang menganga, tentu.
Perlahan aku perhatikan awan gelap yang membalut mata indah bak sepasang kejora itu pecah, menitikkan air (mata), dan ia pun terisak kembali.
Gawat, apa yang harus aku lakukan?
Mengapa si gadis ini menangis dan mesti tepat dihadapan ku pula?
Aatau, apakaaaaaaah...?
Ough, jangan-jangan....? Pikiranku bergerak liar sambil aku kembangkan cuping hidungku coba mengendus bau sesuatu, snip...snip...siapa tau nasib si Gadis ini sama dengan gadis yang aku temukan bercel (red:berak celana) minggu yang lalu, aku pikir.
"Wah, nihil....", tak ada aroma yang mencurigakan.
Aku coba untuk lebih berkonsentrasi. Aku lebih pusatkan pikiran untuk memerintahkan syaraf-syaraf penciuman melakukan fungsinya lebih optimal.Cuping hidungku kembali kembang kempis beberapa kali. Hasilnya tetap nihil. Tak ada aroma yang tak sedap sama sekali.
Lantas.....?
Sebelum pikiran ku selesai bertanya-tanya. Si Gadis menyapa,"Mas...hiks....hiks...", isaknya
dengan air mata berlinangan.
Aku tau, sepertinya ia ingin menceritakan sesuatu. Aku coba respon dan berharap aku bisa memberikan sesuatu yang dapat menguatkan dirinya.
"Kenapa, Mbak...?Ada apa?"
"Mas...hiks....hiks...uhu...uhu....", ia sesunggukan dan sepertinya mengalami kesulitan untuk memulai cerita.
Aku tunggu beberapa saat, coba untuk bersabar menunggu ia mulai bercerita.
Sementara mobil terus melaju kencang bergesekan dengan udara pagi. Tak peduli juga itu kelokan, si Abang Sopir tetap tancap gas.
Dasar emang sopir edan, gumanku.
Tiba-tiba,"Stop...!!! Kiri, Pak..!!", si gadis meminta si Abang sopir menghentikan angkot-nya.
Angkot berhenti tepat di depan mulut gang. Si gadis membayar
ongkos sebagaiman wajibnya.
Sementara di dalam angkot aku masih bengong, lah, Si Gadis khan belum selesai bercerita, eh..., jangankan selesai, memulai pun ia belum.
Uh, betapa misteriusnya.
Apa gerangan yang membuat ia menangis terisak-isak seperti itu. Aku penasaran. Harus kah aku turut turun serta bersamannya dan mendengarkan sampai akhir ceritanya? Sementara mobil angkot sudah kembali melaju, Si Gadis hilang di balik gang membawa cerita misteriusnya.
.............Bersambung............
Bobby Formula
The World Cup Is Now On Your Favorite Front Page - check out malaysia.yahoo.com __._,_.___
_____________________________________________________________
Keluarga Besar Mahasiswa Siantar-Bandung (KBMSB)
[email protected]
http://groups.yahoo.com/group/KBMSB
http://www.mail-archive.com/[email protected]
Disclaimer : Isi tanggung jawab pembaca !
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "KBMSB" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
