Oleh Bobby Formula
Ditujukan kepada: Bapak Antonius Bakti Tejamulya, Peneliti Budaya di Masyarakat Indonesia Sadar Budaya (Mesiass).
------------------------------
------------------------------
Salam, Pak Antonius Bakti Tejamulya !
Saya adalah Bobby Formula, mahasiswa tingkat akhir Institut Teknologi Bandung (ITB), telah membaca sebuah artikel yang Anda tulis berjudul :" Realitas Bukan Diteliti, tetapi Diproduksi" lewat forward-an email salah seorang teman di sebuah mailing list [email protected] pada tanggal 24 Juni 2006, yang dikutip dari website media kompas dengan url: http://www.kompas.com/kompascetak/0606/24/humaniora/2760738.htm
Demikianlah memang, fenomena seperti ini jamak terjadi dalam cyberspace sekarang. Sesuatu yang kelihatan menarik pasti akan selalu dicuplik, lalu akan dibagikan kan lewat surat-surat elektronik kepada sahabat-sahabat "digital" yang sekarang ini telah tersebar tanpa mengenal batas ruang dan waktu, baik yang berada baik dalam forum mailing list maupun per japri.
Dalam hal ini--setelah 2 minggu membaca artikel tersebut dan baru memiliki waktu luang sekarang -- saya ingin memberikan verifikasi terhadap tesis Anda tentang sebuah realitas, yang menurut Anda :"Realitas Bukan Diteliti, tetapi Diproduksi".
Oh, ya, sedari tadi sebenarnya saya mengalami sedikit kebingungan, tak tau akan kemana surat verifikasi ini akan saya alamat kan. Hingga saya mengambil keputusan untuk coba mengetikkan nama Anda di search engine, dan saya menemukan alamat ini: [EMAIL PROTECTED] , maka mailaddress tersebut adalah alamat pertama yang saya tujukan untuk mengirimkan surat ini dan yang kedua, ke alamat mailinglist group [email protected] dimana pertama kali artikel ini saya baca, dengan harapan: thread ini bisa berkembang menjadi bahasan yang manarik buat di utak-atuk oleh para member e-group tersebut hingga bisa menghasilkan sebuah sintesis baru tentang REALITAS !
Baiklah, saya tidak akan berlama-lama membuang waktu di kata pengantar ini. Langsung saja kita bahas premis Anda yang telah disimak oleh public di media cetak Nasional, Harian Kompas per 24 Juni 2006.
Jujur, saat pertama kali membaca, saya sangat sulit memahami gagasan yang melekat pada artikel Anda tersebut.
Namun, setelah beberapa kali menyimak dan membaca dengan berhati-hati, akhirnya tibalah saya mengambil kesimpulan bahwa: sebagian besar evidensi (yakni: bukti2 kegagalan sains menjawab kebutuhan masyarakat serta perilaku menyimpang yang ditimbulkan) maupun beberapa autoritas yang Anda gunakan untuk membuat sebuah premis :"Realitas Bukan Diteliti, tetapi Diproduksi", dalam hal ini, produk (realitas) yang anda tawarkan dikemas hanya dalam wujud Modelling Matematik, tidak bisa saya terima.
Realitas, adalah realitas yang dalam memahaminya akan selalu menggunakan pisau analisis, yakni Pengetahuan:
1. Berdasarkan keideraan atau eksperimental (Empiris), dan
2. Berdasarkan intelektual atau Filosifis (Ontologis)
Dimana menurut Daud Joesoef: "...keduanya bertemu di hadapan objek material yang sama. Yang pertama mencari kebenaran universal melalui mengukur, sedangkan yang kedua mencari hakikat/makna melalui penggunaan nalar..."
Jelas dengan premis Anda yang mengatakan:"Realitas Bukan Diteliti, tetapi Diproduksi", secara otamatis telah meniadakan/mengabaikan salah satu dari dua pisau analisis pengetahuan tersebut, yakni: SAINS, akan berpengaruh terhadap pencapaian pemahaman terhadap realitas yang TIDAK HOLISTIK.
Dan seandainya pun terbentuknya "realitas baru" yang diproduk (dalam hal ini saya memandang sebagai sebuah dialektika) oleh pemahaman realitas sebelumnya yang fungsi alihnya dijabarkan lewat terapan teknologi hingga akhirnya menimbulkan dinamika masyarakat, peran sains juga dibutuhkan untuk menganalis dan memahami fenomena tersebut lewat eksperimental.
Terbukti, semua ilmu, semua even bahkan even sosial, politik, dan ekonomi pun sekarang ini dan di masa yang akan datang pun sepertinya mesti diuji melalui positivisme, melalui kuantifikasi STATISTIK (dengan penelitian).
Adapun pemahaman realitas yang hanya dengan kemasan matematik (modelling matematik yang selalu memberi batasan/boundary pada kajian system) seperti yang Anda tawarkan sebagai fasa ilmiah baru untuk dioperasikan dan diutak-atuk sebagai produk dari realitas, tidak akan memberikan gambaran secara HOLISTIK dari realitas sebenarnya, jika dilakukan tanpa penelitian.
Memang benar, hasil eksperimen (empiris) yang digunakan dalam memahami realitas sangat tergantung kepada logika dan/atau matematika, akan tetapi logika dan matematika itu sendiri EKSISTENSINYA berada di DALAM pikiran manusia, sama saja halnya hanya sekedar menumpuk pengetahuan intelektual semata, tidak membumi (dalam numerical mehod/matematik, kalo Anda pernah dengar, ada istilah disebut floating point, mungkin mirip seperti itu), tak memiliki manfaat samasekali dalam mensejahterakan masyarakat secara langsung.
Sebenarnya, menurut pendapat saya, bentuk yang dimainkan oleh para scientis dalam hal memahami realitas dengan sains, lewat jalur penelitian (eksperimen) dan terbahasakan dengan abstraksi matematik selama ini sudah berada pada jalur yang benar.
Akan tetapi yang mungkin perlu dikritisi adalah orientasi yang selama melandasi penelitian tersebut, yakni sifat GANDA dari sains yang dikemukakan oleh St. Agustinus yang akan menjadi pilihan:
1. Tunduk pada selera, yang dalam hal ini sains dijadikan tujuan (bahkan sudah di politisir dengan tujuan/maksud tertentu), atau
2.Tunduk pada kearifan, yang dalam hal ini ilmu diarahkan kepada kebajikan tertinggi.
Maka beranjak dari sinilah seorang Ilmuwan yang berwawasan Humanism, Fritjof Capra, yang belakangan kesohor dengan istilah Dynamic Interplay-nya, dan perannya dalam dunia ilmiah selama ini tidak perlu diragukan lagi, pernah mengatakan:"...ilmu (fisika) yang dipelajari seyogyanya (memang) tidak harus berakhir dengan bom nuklir atau peralatan komunikasi yang mencerai beraikan manusia melalui benturan budaya, tapi bisa membangun visi baru mengenai kehidupan yang tiada lain adalah mendorong ilmu itu sendiri supaya terus bergulir menjadi Jalan menyempurnakan diri menjadi manusia paripurna yang berkepribadian matang dan mencintai damai setelah menemukan jati dirinya yang otentik..."
Yah, demikianlah, menurut saya.
Pandangan nyinyir, mencibir, dan sikap skeptis yang selama ini dilimpahkan kepada sains untuk memahami realitas tidak sepantasnya dilakukan.
Terbukti sejak berabad-abad, sains-teknologi (lewat pengembangan ekperimental) sudah memberikan dampak positive dan mensejahterahkan bagi kehidupan masyarakat.
Namun, orientasi dari sains tersebut yang mungkin kalo menurut saya perlu diperbaiki dengan penataan (order).
Untuk hal ini, Capra pernah merekomendasikan Dynamic Interplay, katanya :"What we need, therefore, is not synthesis but a dynamic interplay between mystical intuition and scientific analysis"
Apa Anda setuju?
Sekian verifikasi dari saya, surat balasan mungkin bisa ditujukan kepada saya langsung melalui alamat [EMAIL PROTECTED] , dan kalo Anda tak keberatan, balasan surat tersebut juga akan saya forwardkan juga ke milis [email protected] .
Tanpa melalui sensor, tentu
PS: saya heran, dengan kapasitas sebagai seorang Peneliti, kenapa Anda berpendapat: Realitas Bukan Diteliti ?
Salam,
Bobby Formula
The World Cup Is Now On Your Favorite Front Page - check out malaysia.yahoo.com __._,_.___
_____________________________________________________________
Keluarga Besar Mahasiswa Siantar-Bandung (KBMSB)
[email protected]
http://groups.yahoo.com/group/KBMSB
http://www.mail-archive.com/[email protected]
Disclaimer : Isi tanggung jawab pembaca !
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "KBMSB" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
