salah satu dari sekian karya dari sastra pernah mengatakan:
"adhuc coelum volvitur",  yang artinya: selama langit masih beputar.......
 
ah, apa benar pemahaman seorang seniman/sastrawan dengan seorang ilmuwan akan semesta adalah setara...........
beda kali, ya.....seniman cenderung ke perasaan, nilai estetis, dan sebagainya...sementara kalo ilmuwan analisis dan positivisme, kali, ya (??)
 
tapi begitupun tulisan beikut ini bisa menambah kazanah pengetahuan dan enak untuk dibaca............
 
met baca, yak
 
-bobby formula
 
Dekosmologisasi
 
Oleh Seno Gumira Ajdarma
 
Pernahkah Anda memandang ke langit pada malam hari, memandang bintang-bintang itu ketika langit bersih, dan kita bertanya-tanya, ada apa di atas sana?
 
Sapardi Djoko Damono pernah menulis:
Ia turun dari ranjang lalu bersijingkat dan membuka jendala menatap bintang-bintang seraya bertanya-tanya apa gerangan yang di luar semesta dan apa gerangan yang di luar luar semesta dan terus saja menunggu sebab serasa ada yang akan lewat memberitahukan hal itu padanya dan ia terus bertanya-tanya...(Catatan Masa Kecil 3)
 
Begitulah pertanyaan mengundang filsafat.Seorang gadis kecil yang begitu cinta kepada bintang-bintang, dan juga membaca sajak itu di usia remajanya, mencoba mencari jawabnya. Ia bertanya,ia membaca buku, ia meneropong bintang, dan kuliah di Jurusan Astronomi Institut Teknologi Bandung.
Pada tahun 1981 ia lulus dengan skripsi berjudul Runtuh Gravitasi dan Problema Lubang Hitam dan bukan cuma matanya, tapi juga otaknya, telah menjadi begitu cemerlang. Ia lulus cum laude.

Namun apakah pertanyaannya sudah terjawab?
Nampaknya belum, ia mencari jawab di Faculty of Physics, Space Science Programme, university College of London, dan keluar tahun 1989 dengan tesis Space Observation of Active Galactive Nucleid and the Study of Origin of the Diffuse x-ray Background Radiation. Disabetnya gelar Master of Science dengan penghargaan tertinggi distinction. Tetntu saja pantas kita menduga: barangkali saja pertanyaan-pertanyaan ketika memandang bintang-bintang itu sudah terjawab.
 
Ternyata belum juga, karena tahu-tahu ia lulu cum laude lagi, kali ini di bidang filsafat. Ditancapnya gelar Magister Humaniora setelah menggeber tesis Aku dalam Semesta pada 1994 di Universitas Indonesia.
Nah, kalau sudah belajar filsafat, mestinya banyak hal bisa disiasati bukan? Atau malah semakin ruwet? Eh,lagi-lagi ia melaju dengan penjelajahan di medan bintang-bintang,sampai lulus program doctor 12 November ini dengan disertasi Kosmologi Empiris Konstruktif: Suatu Telaah Filsafat Ilmu terhadap Asas Antropik Kosmologi. Busyet. Apa sih yang ada dalam kepala perempuan ini?
 
Tidak mungkin menyingkat disertasi setebal 258 halaman, yang bukan hanya berat timbangannya tapi juga sangat radikal penyelusuran pemikirannya. Saya ingin mengutipkan sebagian dari kesimpulannya yang mengejutkan:
 
"Sejauh ini, disertasi ini telah menunjukkan dalam kajiannya begaimana suatu kosmologi anti-realis menjalankan langkah-langkah penyelidikan yang menanggalkan tanpa membuang segala bentuk pengacuan atau penumpuan pada realitas dan keberadaan di luar gejala yang mungkin, agara dapat sampai pada alam semesta terpahami.Kosmologi yang hendak merefleksi kepada terang itu nampaknya justru harus menangguhkan semua konsepsi pengetahuan yang dipunyai mengenai alam semesta sebagai keberadaan, semua asas,asumsi, model-model kosmologis, cakrawala, keterikatan pada struktur spasial dan temporal, keterikatan pada kepentingan penyelidikan keilmuan, atau keterikatan pada minat apapun, keterikatan pada tata bahasa dan kosa kata, pada percakapan dan pada segala sesuatu yang terikat dengan alam semesta sebagai keberadaan yang-mungkin bagi manusia.
 
"Ketika segala percakapan gegap gempita keilmuan yang sudah membawa kita pada cakrawala terjauh itu ditangguhkan sementara, yang tinggal bukanlah kekosongan, melainkan ketakterpaparkan itu sendiri dalam keheningan keterbukaan transendensi kesadaran murni manusia.
 
"Ketakterpaparkan adalah suatu mysterium, sesuatu yang tak terbahasakan karena keberbedaannya, sesuatu yang tak terjangkau karena ta terkenai konsep-konsep manusiawi, karena ketakberdayaannya di dalam cakrawala; sesuatu yang ketika akan dimasuki kian memperlihatkan ketidakmampuan kita memasukinya. Ketakbercakrawalaan adalah ketakberhinggan, suatu tremendum bagi yang hingga; sesuatu yang menggetarkan. Kesadaran hening yang berhingga akan ketakberhinggaan, akan ketakbercakrawalaan, akan ketakterbahasaan, menhadirkan di dalalamnya fascinans yang memnukau. Mysterium tremendum et Fascinans."
 
Eh, ini disertasi atau karya sastra?
 
Belum pernah saya membaca sesuatu dari karya dunia ilmu pengetahuan yang bisa eksotis seperti itu. Saya sendiri selalu berpendapat, pada tingkat maestro, ilmuwan dan seniman tidak ada bedanya, karena tingkat pemahaman dan penghayatan mereka kepada semesta adalah setara. O ya, perempuan yang melakukan dekos-mologisasi itu Karlina namanya.
Saya akan menamai bintang yang terindah di langit itu dengan namanya.
 

__________________________________________________
Anda Ber-Yahoo!?
Bosan dengan spam? Mel Yahoo! mempunyai perlindungan spam yang paling baik
http://my.mail.yahoo.com __._,_.___

_____________________________________________________________

Keluarga Besar Mahasiswa Siantar-Bandung (KBMSB)
[email protected]
http://groups.yahoo.com/group/KBMSB
http://www.mail-archive.com/[email protected]

Disclaimer : Isi tanggung jawab pembaca !





YAHOO! GROUPS LINKS




__,_._,___

Kirim email ke