Dear all

Saya forwardkan tulisan dari "Amang" Mula Harahap, penulis milis favorit
saya.

Semoga berkenan, dan mohon maaf bila tidak berkenan ataupun sudah pernah
membacanya.

Txs

(DianMS)

------------
Monogami, Poligami, Discovery dan Animal Planet
Posted by: "Mula Harahap"
Wed Dec 20, 2006 8:52 pm (PST)

Monogami, Poligami, Discovery dan Animal Planet

Oleh: Mula Harahap

Bila musim kawin telah tiba, maka ratu lebah akan keluar dari sarangnya dan
terbang tinggi-tinggi. Ratu lebah ini akan terbang sejauh dan setinggi
mungkin. Sementara terbang, dia dikejar oleh banyak lebah pekerja jantan
yang sehat dan ganteng. Lalu dalam "nuptial flight" itu satu persatu dari
lebah-lebah jantan itu akan ngos-ngosan dan keok. Bila yang mengejarnya
sudah tinggal seekor, maka barulah ratu lebah akan memasrahkan diri kepada
si jantan untuk dikawini. Dan inilah cara lebah madu untuk "memperbaiki
keturunan". Ratu yang paling cantik dan sehat akan dibuahi oleh jantan yang
paling ganteng dan sehat. Tapi yang mengherankan ialah mengapa setelah
dikawini dan sebelum balik ke sarang, sang ratu harus membunuh jantan yang
ganteng dan sehat itu?

Kebiasaan membunuh suami yang sudah memberi "nafkah batin" ternyata bukan
hanya dimiliki oleh lebah. Belalang sembah betina ternyata lebih "sadis"
lagi. Bila dia sudah dikawini oleh sang jantan (yang ukuran tubuhnya
biasanya lebih kecil), maka ia langsung melumat dan menyantap kepala si
jantan dengan rahangnya yang keras itu. Apakah si betina takut bahwa si
jantan kelak akan membocorkan rahasia-rahasia pribadinya, atau menyebar
luaskan filem yang terekam di HP-nya?

Kuda laut lain lagi. Si betina akan memasukkan sel-sel telurnya ke "rahim"
yang terdapat di perut si jantan untuk dibuahi. Lalu setelah dibuahi,
sel-sel telur si betina akan berkembang di dalam "rahim" si jantan sampai
kemudian lahirlah (keluar dari sebuah sebuah lubang ) anak-anak kuda laut
yang utuh. Yang membuat masalah menjadi memusingkan tujuh-keliling ialah,
bagaimana cara menentukan bahwa fihak yang mengeluarkan sesuatu disebut
"betina", sementara fihak yang kemasukan sesuatu disebut jantan?

Konsep kuda laut tentang keluarga mungkin agak mirip dengan konsep ikan
mujahir. Hanya praktek ikan mujahir tidak seaneh dan sebrutal kuda laut.
Bila telur si betina sudah dibuahi oleh si jantan, maka si betina pergi
melenggang. Adalah tugas si jantan untuk menjagai telur yang ditaruh di
balik-balik batu itu sampai menetas. Bila telur sudah menetas, maka adalah
tugas si jantan pula untuk memomong anak-anak yang jumlahnya ratusan itu.
Oleh bapaknya, anak-anak itu digendong di dalam mulut. Kalau suasana sekitar
cukup aman, maka anak-anak itu dibiarkan untuk bermain-main. Tapi bila ada
bahaya—hup—dengan sekali sedot anak-anak itu dibawa masuk
kembali ke dalam mulut si bapak.

Masih banyak lagi hewan yang memiliki konsep "feminist" yang sangat
progresif, seperti yang dimiliki oleh kuda laut dan ikan mujahir, dimana
setelah kawin sang betina melengos pergi dan "happy-happy", sementara sang
jantan lintang-pukang mengurusi rumah tangga.

Tapi konsep perkawinan yang banyak terjadi di dunia hewan adalah konsep para
jantan yang "macho" dan tak bertanggung-jawab, yang tahunya hanya mengawini
betinanya lalu kemudian melenggang pergi. Ada pun urusan menjaga kehamilan,
melahirkan dan membesarkan anak dibiarkan dilakukan sendiri oleh betina
(ibu).

Praktek monogami yang agak "sopan" biasanya ditemukan di dunia burung. Si
jantan dan betina pacaran, kawin,membangun sarang bersama-sama, dan
membesarkan anak bersama-sama pula. Burung-burung penguin jantan Antartika
selalu sabar untuk mengerami telur-telurnya, dan membiarkan betinanya untuk
pergi beristirahat dan mencari makanan di laut. Nanti, kalau si betina sudah
kembali, barulah ia boleh pergi. Dan hal yang mengagumkan ialah, bahwa
sementara pasangannya menunggu di sarang, tidak pernah terbersit pikiran
penguin jantan atau betina untuk berselingkuh. (Padahal di bibir pantai yang
diliputi es itu ada ribuan penguin yang berdiri "plengak-plengok". Semua
memakai tuksedo "hitam-putih" yang sama. Kalau saja ada satu pasangan yang
berselingkuh di antara ribuan penguin yang seragam itu, bagaimana mungkin
suami atau isterinya bisa mengetahuinya dari kejauhan sana?)..

Tapi walau pun demikian kesetiaan burung-burung hanya sebatas untuk satu
musim kawin. Belum pernah ada burung yang berperangai seperti manusia, yaitu
yang menjalani hidup bersama dalam ratusan "musim kawin" sampai mereka
dipisahkan oleh kematian.

Dalam kasus-kasus tertentu ada juga hewan-hewan yang menjalani hidup
perkawinan sampai beberapa musim kawin. Kuda nil jantan selalu ingin kembali
ke isteri yang sama. Tapi karena masa perawatan anak kuda nil memakan waktu
beberapa tahun (sebelum disapih dan disuruh mandiri), maka kadang-kadang si
jantan atau si bapak bertindak kurang-ajar. Ia tega membunuh anaknya, dengan
harapan agar isterinya kembali "hot" dan bisa dikawini. Karena itu selama
anaknya masih kecil , kuda nil betina selalu memandang jantannya dengan
penuh "curigation".

Anjing-anjing liar Afrika lain lagi. Mereka juga melakukan praktek monogami.
Tapi karena mereka hidup dalam sebuah paguyuban yang besar, mereka membagi
tugas. Ada betina-betina tertentu yang bertugas sebagai "baby sitter"
sementara betina-betina yang lain (bersama seluruh anjing-anjing jantan)
pergi mencari makan (mengejar karir).

Beberapa jenis kupu-kupu lain lagi tingkahnya. Mereka memang melakukan
praktek perkawinan monogami. Si jantan membuahi si betina, lalu mati. Si
betina pun setelah meletakkan telurnya akan mati. Telur-telur itu akan
bermetamorfose menjadi ulat, kepompong, lalu kupu-kupu. Begitu menjadi
kupu-kup, dalam hitungan beberapa jam , mereka akan kawin lagi, lalu mati.
Sukar untuk mencerna konsep yang berbunyi seperti sajak Chairil Anwar ini,
yaitu "sekali berarti, sudah itu mati". Koq tujuan hidup hanya untuk
"gituan" sih?

Praktek perkawinan monogami yang dilakukan olehkelelawar akan membuat
jantung deg-degan. Pada siang bolong (di malam hari kelelawar mencari
makan), sambil memegang ranting pohon dengan salah satu sayapnya, kelelawar
jantan akan beringsut mendekati kelelawar betina. Lalu sambil juga memegang
ranting dengan salah satu sayapnya, kelelawar betina akan menyerahkan
dirinya kepada si jantan. Lalu dalam posisi yang rumit mereka akan melakukan
perkawinan. Dan perkawinan itu dilakukan di atas sebuah pohon yang tingginya
beberapa puluh meter dari atas tanah! Kalau saja salah satu dari kelelawar
itu terlalu "exited" dan lupa berpegangan, maka kepalanya bisa hancur
berantakan.

Lelaki yang suka menenggak obat perangsang (yang risikonya bisa mati
mendadak di hotel dan membuat malu keluarga), barangkali baik juga meniru
praktek kelelawar: Menaikkan hormon dan adrenalin dengan cara bergelayutan
dan bermain cinta di menara transmisi listrik tegangan tinggi!

Praktek-praktek poligami dalam kehidupan singa, kera, atau gorilla juga tak
kalah gegap-gempita. Di dalam koloni singa terdapat seekor jantan yang
dominan, yang cenderung menguasai semua betina yang ada. Tapi kalau ada
singa jantan muda yang bisa merayu seekor betina, lalu mengajaknya untuk
memisahkan diri dan membentuk koloni baru, singa jantan yang paling dominan
itu tak terlalu perduli. Mungkin singa jantan tua itu berkata dalam hati,
"Pokonya jangan kawin dan bermesra-mesraan di depan mata saya. Kalau kalian
mau membentuk koloni sendiri, silakan. Asal kalian tahu saja, hidup
menyendiri di luar sana tidaklah mudah."

Hal menarik yang bisa ditemukan di dunia hewan ialah, bahwa tak pernah ada
betina yang mau dijadikan isteri kesekian oleh si jantan hanya karena alasan
keamanan atau ekonomi. Berbeda dengan di dunia manusia, di dunia hewan
justeru betina-betina atau isteri-isteri itulah yang harus mencari makan
untuk anak-anak dan untuk suami.

Di Taman Nasional Serengeti atau Massai-Mara di Afrika sana, justeru
singa-singa betina itulah yang harus tunggang-langgang mengejar seekor
impala atau zebra. Nanti, setelah impala atau zebra itu berhasil
ditundukkan, barulah si jantan datang berlenggang-lenggok menuntut bagian
yang paling enak. Sisanya barulah menjadi santapan para betina dan
anak-anaknya. (Adapun sang singa jantan, ia akan kembali duduk-duduk di
kerindangan pohon. Terkantuk-kantuk sambil mengibas-ngibaskan ekornya
mengusir lalat).

Kehidupan poligami yang agak brutal dan menyerupai kehidupan poligami
manusia saya temukan di dunia kera. Kera jantan yang paling tua (paling
berpengalaman) dan paling kuat akan memonopoli semua betina yang ada di
dalam kelompoknya. (Tak perduli apakah betina-betina itu adalah isteri,
gundik, anak, cucu, keponakan, ipar dsb). Kera-kera jantan lainnya, yang
masih muda, jangan coba-coba untuk ikut mencicipi betina. Dia akan kena
"hajar" sampai babak-belur. Tapi karena betina-betina yang harus diawasi
oleh si jantan begitu banyaknya, maka kadang-kadang ia kecolongan juga. Akan
ada saja anak-anak muda yang berani mencuri-curi dan menaiki salah satu
betina. Dan herannya si betina pun mau-mau saja. Mungkin si betina tahu,
kalau tertangkap basah maka yang kena hajar adalah si jantan muda, bukan
dirinya. Lagipula—saya rasa—ia juga merasa bosan hanya
berhubungan dengan jantan yang sama. Kalau perkawinan "curi-curi" itu
memberi buah kelahiran, maka si jantan tua yang berkuasa itu selalu merasa
bahwa yang lahir itu adalah buah dari benihnya. Dan si betina pun tak berani
"berkoar-koar" untuk menyatakan siapa bapak yang sesungguhnya dari anak yang
baru lahir itu.

Kehidupan poligami seperti yang dijalani oleh "raja" kera itu sebenarnya
tidaklah nyaman. Setiap saat ia harus waspada. Karena urusan "esek-esek"
adalah urusan hajat hidup, maka setiap saat ada saja jantan muda yang
menantangnya untuk duel. Karena itu setiap saat selalu saja ada kemungkinan
baginya untuk babak belur (bahkan mati) dan tergeser dari tampuk
kepemimpinan. Kalau "raja" yang lama telah lengser, maka giliran si jantan
yang berhasil mengalahkannya itulah yang menjadi raja. Sementara
jantan-jantan lain, yang prestasinya "biasa-biasa saja", tinggal menjadi
pecundang dan menikmati seks dengan mencuri-curi. Untuk bisa mengubah nasib,
maka jantan-jantan "kelas dua" itu harus nekad dan berani mengambil risiko
untuk menantang raja.

Kirim email ke