PECUNDANG
Cerpen: Wayan Sunarta
Akhirnya aku kembali ke tempat ini. Aku tidak bisa menahan perasaanku untuk
tidak menemuinya lagi. Aku hanya ingin melihatnya dari jarak yang agak jauh,
dari tempat yang agak terlindung. Dari balik malam, dengan leluasa aku bisa
melihatnya tertawa dan tersenyum --tawa dan senyum yang dibuat-buat-- di
hadapan para tamu.
Tempat dia duduk menunggu tamu cukup terang bagi mataku, meski tempat itu hanya
ditaburi cahaya merah yang redup. Aku masih bisa merasakan pancaran matanya
yang pedih. Aku merasa dia sedang memperhatikan aku. Aku berusaha bersembunyi
di balik kerumunan para pengunjung yang berseliweran di luar ruangan. Tapi
sejenak aku ragu, apakah benar dia melihatku? Ah, jangan-jangan itu hanya
perasaanku saja. Aku yakin dia kecewa dengan aku. Dia kecewa karena aku gagal
membawanya pergi dari tempat ini.
Hampir setiap malam aku mengunjungi tempat ini hanya untuk melihatnya dari
kegelapan dan memastikan dia baik-baik saja. Aku seperti mata-mata yang sedang
mengintai mangsanya. Atau mungkin aku seorang pengecut yang tidak berani
menunjukkan batang hidung setelah kegagalan yang menyakitkan hatiku. Atau bisa
jadi aku telah menjadi pecundang dari kenyataan pahit ini.
Biasanya aku akan datang sekitar jam delapan malam. Aku memarkir motor di
kegelapan dan berjalan perlahan menuju tempat dia biasa menunggu tamu. Jelas
aku tidak akan berani masuk ke dalam ruangan yang pengab dengan asap rokok dan
bau minuman itu. Aku terlanjur malu dengan dia. Makanya, aku hanya berani
berdiri di luar, di dalam kegelapan, dengan tatapan mata yang sangat awas yang
tertuju pada ruangan di mana dia duduk santai sambil mengepulkan asap rokoknya.
Seringkali aku dibakar api cemburu ketika ada lelaki yang menghampirinya dan
merayunya. Api cemburu itu semakin menjadi-jadi ketika dia juga meladeni lelaki
yang merayunya dengan senyum dan tawa. Dan hatiku benar-benar hangus ketika
kulihat dia masuk ke dalam biliknya ditemani lelaki itu. Saat itu juga batok
kepalaku dipenuhi berbagai pikiran-pikiran buruk. Ya, sudah jelas, di dalam
bilik sederhana itu mereka akan bergulat, bergumul, dan saling terkam dalam
dengus napas birahi.
Ah, sebenarnya tidak begitu. Itu hanya pikiran-pikiran burukku saja. Aku tahu
dia perempuan lugu yang terjebak dalam situasi seperti itu. Semacam anak kijang
yang masuk perangkap pemburu.
Aku merasa aku telah jatuh hati padanya. Kamu tahu, bagaimana proses jatuh hati
itu kualami? Baiklah, akan kuceritakan untukmu. Saat itu aku diajak oleh kawan
karibku datang ke tempat ini. Kawanku itu menemui langganannya. Sedang aku
hanya bengong-bengong di ruangan sambil minum kopi. Seorang ibu paruh baya
menghampiriku. Dengan mata genit ibu itu mengatakan padaku kenapa aku tidak
masuk kamar? Aku bilang bahwa aku lagi ingin sendiri, lagi ingin menikmati
suasana saja. Ibu itu mengatakan ada yang baru, masih belia, baru datang dari
kampung. Ibu itu bilang usianya baru 15 tahun. Dalam hati aku tertarik juga
dengan perkataan ibu itu. Wah, masih belia sekali? Aku jadi ingin tahu kayak
apa perempuan yang dibilang belia itu? Ibu tua itu kemudian memanggil dia.
Sehabis mandi, ibu tua itu mengantar perempuan itu kepadaku. Dengan malu-malu
perempuan ingusan itu duduk di sebelahku. Dia hanya diam dan tidak
berkata-kata. Wajahnya manis dan memang masih bau kencur. Entah anak siapa yang
disesatkan ke tempat seperti ini. Ibu tua itu menyuruhku segera mengajaknya
masuk kamar, tentu dengan tarif khusus, lebih mahal dari biasanya.
Di dalam kamar, perempuan itu masih diam, tak banyak bicara. Dari wajah
kekanak-kanakannya terpancar perasaan cemas dan keragu-raguan. Aku jadi iba
melihat tingkahnya yang memelas itu. Aku segera mencegah saat dia hendak
melucuti busananya. Dia bingung dengan tingkahku.
"Saya harus melayani tamu saya," jelasnya.
"Aku tak perlu dilayani. Aku hanya ingin ngobrol denganmu. Dan aku akan tetap
membayar sesuai tarif yang telah disepakati," ujarku.
Aku menatap wajah yang lugu itu. Entah kenapa aku jadi tidak tega dan merasa
simpati dengan dia. Mungkin aku terjebak pada pancaran matanya yang begitu
diliputi kepolosan sekaligus kecemasan. Aku telah mengenal sejumlah perempuan
yang bekerja seperti ini. Tapi dengan perempuan satu ini, aku merasakan dalam
diriku bangkit suatu keinginan menjadi hero, ingin menyelamatkannya.
Aku mendekapkan kepalanya ke dadaku. Aku membelai-belai rambutnya yang sebahu.
Tiba-tiba saja aku merasa menjadi seorang kakak yang ingin melindungi adiknya
dari segala marabahaya.
"Mengapa kamu bisa berada di tempat seperti ini?" tanyaku lirih. "Seharusnya
kamu menikmati masa-masa sekolahmu, seperti teman-temanmu yang lain.."
Perempuan itu diam dan menatapku lembut.
"Saya tidak tahu, Mas. Saya diajak oleh tante saya ke sini. Saya dijanjikan
pekerjaan dengan gaji yang menggiurkan. Tapi ternyata saya dijebak di sini oleh
tante saya sendiri."
Aku kaget mendengar pengakuannya yang memilukan itu. Diam-diam dalam hatiku,
rasa kasihan perlahan menjelma rasa simpati dan keinginnan untuk mengasihinya.
"Kamu ingin pergi dari tempat ini?"
"Ya, jelas, Mas. Tapi bagaimana caranya saya bisa pergi dari sini?"
"Aku akan ngomong sama bosmu."
"Mustahil, Mas!"
"Mengapa mustahil?"
"Mas tidak paham situasi di sini. Sekali perempuan terjebak dalam tempat ini,
maka seumur hidup akan berkubang di sini."
"Tidak. Aku akan menyelamatkanmu. Kamu harus melanjutkan sekolahmu. Dan kamu
mesti cari kerja yang lebih bagus dari kerja begini."
Perempuan bau kencur itu menundukkan kepalanya. Matanya memancarkan harapan,
harapan bagi sebuah kebebasan.
Aku cium keningnya. Aku bisikkan beberapa patah kata agar dia bersabar dan
tabah. Aku ke luar dari bilik dengan perasaan gundah.
"Gimana, Mas? Bagus, kan?" Ibu paruh baya itu berdiri di depan pintu dan
mengerlingkan mata genit ke arah mataku.
Tiba-tiba saja aku ingin muntah melihat tampang ibu genit itu.
"Aku ingin ngomong sama bosmu," ujarku dengan nada agak geram.
"Ada apa, Mas? Apa servisnya tidak memuaskan ya...? Wah, kalo gitu saya akan
lapor ke bos."
"Jangan. Bukan masalah itu. Ada yang aku ingin bicarakan sama bosmu. Tolong
panggil dia."
Perempuan paruh baya kepercayaan bos itu tergopoh-gopoh menemui bosnya. Tak
berapa lama, dia muncul kembali mengiringi perempuan agak gembrot dengan wajah
menyiratkan kelicikan.
"Ada apa, Mas? Apa dia tidak melayani Mas dengan baik?"
"Bukan masalah itu, Bu. Kira-kira kalau aku ingin mengajak dia keluar dari
sini, gimana?"
Wajah perempuan gembrot yang licik itu seketika berubah curiga.
"Maksud Mas gimana?"
"Aku ingin mengajak dia pergi dari sini."
"Kalau begitu Mas harus menebusnya Rp 5 juta, gimana?"
Aku terkesiap. Gila benar si gembrot ini. Mengapa aku mesti menebusnya sebanyak
itu? Bukankah setiap orang berhak memilih kebebasannya?
"Kenapa aku mesti menebus sebanyak itu? Dia bukan barang mati. Dia manusia yang
memiliki kebebasannya," ujarku geram.
Si gembrot tersenyum sinis.
"Mas ini kayak tidak mengerti aja. Dia berada di bawah pengawasan dan tanggung
jawab saya. Tantenya telah menitipkan dia pada saya."
"Kalau begitu, kamu tidak berhak menjual dia dengan mempekerjakan dia sebagai
pelacur," ujarku semakin geram melihat tingkah si gembrot.
"Hidup makin sulit Mas. Semua orang perlu uang dan sekarang ini segala sesuatu
diukur dengan uang. Begini saja Mas. Kalau Mas mau membawa dia, maka Mas
sediakan uang Rp 5 juta. Itu saja."
Si gembrot sambil menggerutu pergi meninggalkan aku yang masih
terbengong-bengong. Sejenak aku tidak tahu apa yang harus kuperbuat. Aku pun
pergi meninggalkan tempat itu dengan perasaan luka. Sepintas kulihat mata
perempuan yang ingin kuselamatkan itu berkilat basah menatap kepergianku.
Beberapa hari kemudian aku berusaha mendapatkan uang sebanyak itu untuk menebus
dia. Aku berusaha meminjam kepada kawan-kawanku. Namun usaha kerasku hanya
berbuah kesia-siaan. Aku hanya bisa mengumpulkan Rp 2 juta. Aku kembali ke
tempat itu dan mencoba tawar-menawar dengan si germo gembrot, tapi sia-sia
belaka. Si gembrot tetap pada pendapatnya semula.
Aku merasa kecewa dengan diriku sediri. Aku tidak berdaya menyelamatkan dia.
Aku tidak habis-habisnya mengutuki diriku sendiri, mengapa aku tidak
berkesempatan jadi orang kaya.
Maka seperti saat ini, setiap malam aku hanya bisa menatap dia dari kegelapan
malam. Sambil menahan hatiku yang hampir hangus dibakar cemburu, aku melihat
dia bercengkerama dengan para tamu. Sepertinya dia bahagia dengan pekerjaan
yang dijalaninya. Setiap melihat senyum dan tawanya, aku merasa bersalah
sekaligus kecewa dengan diriku sendiri. Pada akhirnya aku hanya jadi
pecundang.***
Denpasar, 2005
---------------------------------
Kini dengan simpanan sebanyak 1GB
http://my.mail.yahoo.com/