banjir jakarta, satu peristiwa deterministik dan periodik yang sepatutnya dapat 
terkendali, tapi............
  tentu dengan begitu banyak tapi............
   
  berikut sebuah cerita pendek satiris dari seorang penyair, Afrizal Malna.
   
  -bobby formula
   
  Kaki-Kaki Air  
Cerpen: Afrizal Malna  
Sumber: Kompas  
  
---------------------------------
    SETELAH banjir sebulan yang lalu, yang menghanyutkan seorang gubernur dan 
mayatnya lenyap di Sungai Ciliwung, banyak jalan yang berlubang. Sejak itu 
warga kota sering bermimpi buruk tentang lubang-lubang di jalan raya itu, juga 
tentang kematian gubernur. Rakyat merayakan kematiannya sebagai kematian sebuah 
monster kota.Ruwatan kota dilakukan di Sunda Kelapa. Rakyat melakukan doa di 
atas perahu, mensucikan kembali jiwa-jiwa yang pernah tersiksa sepanjang 
hidupnya. Kampung-kampung juga melakukan selamatan bersama untuk mengembalikan 
arti kehidupan bersama.Tetapi kota ini memang seperti sebuah baskom yang buas. 
Ruko-ruko berjejer seperti pagar kota, namun juga sebagai kayu api yang mudah 
dibakar setiap kerusuhan terjadi.Seorang ibu yang mengantar anaknya sekolah, 
harus melompati atap-atap mobil untuk bisa menyeberangi jalan yang macet. 
Seorang pengendara sepeda berlari tanpa hambatan, melompati atap bis satu 
dengan atap bis lainnya. Anak-anak sekolah bermain basket di atas
 atap kereta jurusan Depok-Kota. Aih, Jakarta, kau seperti seorang nyonya 
dengan betis bengkak, dipenuhi dengan sardencis, sosis, dan mentega.Aku membeli 
koran pagi itu. Kota ini selalu ramai dengan berita. Ada wakil presiden yang 
istrinya tujuh. Ada seorang presiden yang disandera dalam video. Uang beredar 
trilyunan dalam sehari. Harga kurs dan saham. Ada pesta putauw di rumah wakil 
gubernur Jawa Barat. Kedubes Amerika ditutup, kenaikan terigu. Ada pencuri pete 
yang mati digebuki massa yang menangkapnya. Ada anggota partai yang dikarantina 
agar suara mereka tetap bulat dalam pemilihan gubernur. Padahal gubernur yang 
akan dipilih itu telah mati dalam banjir yang lalu. Ada bandar heroin yang 
tertangkap. Tiba-tiba sebuah bis keluar dari koran yang sedang aku baca. 
Kondekturnya berteriak-teriak:"Grogol!""Grogol!""Di jalan raya mesti sopan, 
dong."Buset, bagaimana orang bisa membangun kualitas hidupnya di kota seperti 
ini. Warga kota hanya soal hitungan pajak, bukan? Dan
 bagian-bagian mana saja dari kota ini yang bisa diperas.Tidak usah khawatir, 
kualitas itu tidak penting, yang penting adalah bagaimana seluruh transaksi 
harian bisa dilunasi, bukan? Dan mimpi buruk, jiwa-jiwa yang memaknai hidupnya 
sendiri lewat kegelapan, adalah cara negatif untuk mengisi kekosongan berbagai 
proses kualitas kehidupan setiap warga agar tetap berlangsung.Lebih baik aku 
meralat dusta pagi ini. Sebenarnya aku tidak membeli dan membaca koran. 
Sebenarnya berita-berita itu juga tidak pernah ada. Pagi itu aku sedang menyapu 
di halaman. Membersihkan tanaman yang kering dan menyiramnya. Tanaman perdu 
ramai sekali bercerita tentang akarnya yang terasa perih karena kekurangan air. 
Pohon mangga gatal-gatal, badannya dijangkiti jamur berwarna putih. Tetapi apa 
bedanya, sebuah bis tiba-tiba muncul dari bongkahan tanah. Kondekturnya 
berteriak-teriak:"Grogol!""Grogol!""Di jalan raya mesti sopan, dong.
   
  MATAHARI baru saja melepaskan diri dari sebuah tembok tinggi yang atasnya 
dikelilingi kawat berduri pagi ini. Kota terasa lebih sepi dari biasanya. Tidak 
banyak kendaraan yang lewat. Orang-orang juga lebih banyak tinggal di rumah. 
Sebagian besar kantor dan daerah perdagangan tutup. Sesuatu sedang terjadi di 
kota ini.Dua hari yang lalu beberapa lubang di jalan raya tiba-tiba berubah 
menjadi sumur yang dalam. Airnya jernih. Dalam sumur itu hidup ikan-ikan yang 
tidak pernah dikenal sebelumnya.Jilan, anakku, sering melihat ke sumur-sumur 
itu. Dan setiap ia pulang, setelah melihat sumur-sumur itu, aku melihat matanya 
telah berubah menjadi sepasang sumur yang dalam, yang airnya jernih, dan ada 
ikan-ikan yang belum pernah ada sebelumnya. Wabah sumur ini bergerak begitu 
cepat, jutaan warga dalam waktu cepat, matanya berubah menjadi sumur yang 
dalam, airnya jernih, dan ada ikan-ikan yang belum pernah ada 
sebelumnya.Makhluk dengan mata seperti sumur itu kini mewarnai kehidupan kota
 sehari-harinya. Gejala lain kemudian muncul, sumur itu ternyata mulai memiliki 
kekuatan yang tak terduga. Setiap kendaraan bermotor yang melewati sumur-sumur 
itu, mesinnya seketika mati. Hanya kendaraan tak bermotor yang terus bisa 
berjalan. Begitu pula setiap warga kota yang matanya berubah menjadi sumur, 
seluruh alat-alat elektronik mati manakala mata mereka menatapnya.Banyak 
peralatan elektronik atau bermesin yang mendadak mati di kota ini. Orang-orang 
yang matanya belum menjadi sumur mendadak nilainya menjadi sangat mahal dan 
dilindungi. Merekalah kini yang dikerahkan bekerja menjalankan kehidupan kota. 
Mereka mendapat pengawalan super ketat. Bila ada yang mengganggu warga kota 
yang mendadak menjadi istimewa ini, akan ditembak di tempat. Berbagai cara 
digunakan untuk melindungi mereka.Pemerintahan kota kini sibuk memikirkan 
bagaimana caranya menutup sumur-sumur yang tumbuh di seluruh jalan di kota ini. 
Masalahnya tidak sederhana, karena orang yang berusaha menutupnya,
 dari matanya akan mengalir air mata terus-menerus, tak henti-henti. Tangisan 
yang tidak bisa dihentikan oleh apa pun. Tangisan yang sedih dan pedih. 
Tangisan yang membuat setiap orang yang mendengarnya, seperti menyaksikan 
sebuah duka cita yang teramat sedih dan teramat panjang.Orang-orang kini tidak 
lagi membicarakan apa saja yang dilakukan dan telah terjadi sepanjang hari-hari 
mereka. Sejak kejadian itu, warga kota lebih banyak membicarakan apa artinya 
cinta dan apa artinya waktu. Entah kenapa kedua topik ini kini menguasai benak 
warga kota.Orang-orang yang matanya selamat untuk tidak menjadi sumur tidak 
terlepas dari perubahan topik pembicaraan ini. Mereka juga ikut membicarakan 
soal apakah cinta dan apakah waktu. Pekerjaan mereka untuk menjalankan mesin 
kota mulai ditinggalkan, karena mereka lebih banyak ngobrol soal dua topik itu. 
Para pengawal yang menjaga mereka tidak berkutik. Mereka tidak bisa melarang 
orang-orang itu untuk tidak membicarakan dua topik itu. Belum
 ada peraturan untuk melarang orang membicarakan soal cinta dan soal waktu. 
Bahkan para pengawal itu sering terpaku mendengarkan bagaimana mereka 
membicarakan cinta dan waktu. Nyanyian itu membuat langit seperti mengeluarkan 
cahaya biru di malam hari. Orang-orang terharu dengan perubahan ini. Mereka 
mulai merasa memiliki hubungan baru dengan langit. Melihat langit di malam hari 
seperti melihat kesibukan makhluk-makhluk yang tugasnya hanya merajut waktu dan 
merajut cinta.Nyanyian cinta dan nyanyian waktu terdengar di mana-mana. Banyak 
orang yang menciptakan lagu berdasarkan dua topik itu. Kota ini seketika 
berubah menjadi sangat romantis dengan nyanyian-nyanyian itu dan sumur-sumur 
itu. Orang kini lebih banyak menanam bunga dan menjahit pakaiannya sendiri, 
seakan-akan mereka juga sedang merajut waktu untuk hari esok mereka. "Lihat, 
aku baru percaya sekarang, aku baru bisa merasakan sekarang, bahwa aku 
hidup!""Lihat, aku hidup, bukan?" teriak mereka.Tubuh mereka seperti
 dialiri oleh darah yang baru. Darah yang lama, yang kotor dan hitam pekat 
telah menguap entah ke mana. Kulit mereka, yang sebelumnya tampak mati oleh 
polusi yang biadab di kota ini, juga seperti berganti dengan kulit yang baru, 
segar, dan terasa halus. Bibir mereka tidak lagi kering dan kebiru-biruan. Tapi 
berwarna merah seperti tomat. Mereka hidup seperti tanam-tanaman. "Aduh... 
lihat... ada tomat, ada wortel, ada cabai, ada... Semuanya, deh, tanaman ada di 
sini," kata Princess."Morgen, Princess, sayang."Kota ini, kini, tidak 
pontang-panting lagi mengikuti mesin yang memproduksi kecepatan berlipat ganda. 
Gerak menjadi normal, natural. Waktu juga berjalan normal, tidak berada jauh di 
luar akal sehat manusia. Gestur tubuh tidak lagi tampak tegang dan kaku. Orang 
berjalan seperti tarian. Bibir mereka seperti menyimpan banyak kata untuk 
keramahan. Pakaian mereka, aih, seperti ada rumah ibadah dalam tubuh mereka, 
rumah untuk bercinta.
   
  SUATU hari, entah siapa yang memulai, rakyat di kota ini mulai menanami pohon 
di jalan-jalan berlubang itu. Pohon yang berbuah. Bukan pohon yang tidak 
menghasilkan buah.Seluruh jalan raya di kota ini kini berubah menjadi hutan 
kota. Hutan yang dibesarkan oleh sumur-sumur itu dan oleh tangan-tangan rakyat. 
Uang pajak untuk pemerintahan kota, juga digunakan sendiri oleh rakyat untuk 
membangun kota mereka yang kini menjadi kota baru itu."Ayah, aku ingin menjadi 
tukang sapu di kota ini," kata Jilan. Dan kau tertawa mendengarnya, tawa yang 
dibanjiri oleh cara membaca dari mana hidup ini mesti dijalani. Dan cinta, 
tidak perlu lagi menggenggam sebilah pisau di tangannya, Cinta adalah janji 
pada setiap butir nasi yang kumakan, pada setiap air yang kuminum, pada setiap 
udara yang kuhirup. Cinta adalah ... sumur-sumur itu sedang menciptakan waktu 
dari kaki-kaki air.
   
  Kalimalang, 2002  
  
---------------------------------
  
                
---------------------------------
Bosan dengan spam? Mel Yahoo! memiliki perlindungan spam yang terbaik
http://my.mail.yahoo.com/

Kirim email ke