Selamat Paskah

--- In [EMAIL PROTECTED], "Mula Harahap" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

"Sebuah Pekuburan di  Jalan Gajah Mada Ujung"

Oleh: Mula Harahap


Setiap kali saya pulang ke Medan, saya selalu menyempatkan diri
untuk mampir di sebuah kompleks pekuburan yang terletak di pojok
Jalan Gajah Mada dengan Jalan Sei Wampu itu.

Salah satu alasan yang membuat saya mampir adalah bahwa sejak 20
tahun yang lalu  jasad ayah saya terbujur di sana. Tapi--tentu saja--
hal  ini belum merupakan alasan yang kuat. Adapun alasan yang
berikutnya ialah: Bahwa kuburan ayah saya  terletak di pinggir Jalan
Sei Wampu. Bahwa kompleks pekuburan itu tidak dipagar. Dan bahwa
Jalan Sei Wampu  adalah salah satu jalan tersibuk di Medan  sehingga
siapa pun--apalagi saya--yang melakukan  urusan di pusat kota pasti
akan melintasinya.

Kalau kuburan ayah terletak di bagian tengah kompleks,  mungkin
dorongan untuk mampir tidak terlalu kuat.  Siapa pula yang mau--
setiap kali--harus bersusah-payah menerobos ilalang lebat,
melompati kubus-kubus batu yang centang-perenang,  dan menghadapi
risiko terpijak kotoran manusia, hanya untuk mendatangi sebuah
kuburan yang di dalamnya belum tentu masih tersimpan sisa-sisa jasad
dari si pemilik yang namanya terukir di plakat batu  itu?

Tapi kuburan ayah saya  terletak di pinggir jalan. Kalau saya
memandang dari kaca mobil--dalam perjalanan untuk makan siang  di
sebuah mall di Jalan Iskandarmuda, atau bertemu dengan seorang
manajer toko di Jalan Gajah Mada, atau urusan-urusan lainnya--maka
temboknya yang  abu-abu itu bisa terlihat jelas. Dan kalau parit
kecil di pinggir Jalan Sei Wampu itu saya lompati maka saya sudah
sampai di sana.

Begitulah, seperti pada beberapa siang yang lain kalau saya sedang
berada di Medan, maka pada siang itu pun taksi saya suruh menepi.
Saya turun, melompati parit kecil, dan tiba di kuburan ayah.

Rupanya kedatangan saya telah diawasi oleh beberapa centeng
partikelir yang duduk di kedai kopi di ujung sana.  Tapi mereka
tidak langsung mengerubungi saya. Salah seorang dari mereka hanya
berteriak memanggil seorang lelaki yang sedang terkantuk-kantuk di
bangku seorang penambal ban.

"Barat! Baraaat!" teriaknya  seraya  menunjuk ke arah saya. Rupanya
sudah ada pembagian tugas di antara para centeng itu. Dengan
setengah berlari, lelaki yang dipanggil itu mendekati saya.

"Bah, hamu do i, Bere?" sapanya pada saya. Saya tidak mengenalnya.
Saya rasa ia juga tidak mengenal saya. Tapi dari alamat kuburan yang
saya kunjungi ia tentu tahu siapa saya Karena itu pula dengan cepat
ia tahu bagaimana harus menyapa saya.

"Ido, Tulang," sahut saya pendek.

Kami bersalaman. Lalu  lelaki itu undur diri dan duduk di sebuah
makam lain. Ia  mengawasi dari kejauhan,  dan membiarkan saya
merenung-renung sambil menyapu tahi kambing kering, puntung rokok,
dan kepingan-kepingan kartu domino yang memenuhi lantai kuburan.
Sebagai layaknya seorang centeng kuburan yang profesional ia sudah
tahu, bahwa nanti ada saatnya dimana ia harus kembali mendekat,
menemani saya meninggalkan makam,  dan menerima beberapa lembar uang
sekedar pembeli rokok dan kopi.

                            ***

Dahulu ketika saya masih duduk di bangku SD, pada hari-hari
menjelang Hari Kebangkitan Yesus Kristus, saya sering diajak oleh
ompung saya—Kores Harahap—ke tempat ini. Biasanya dari Jalan 
Serdang
kami naik bus "ODM" ke terminal Sambu, lalu dari sana mengambil
bus "Kobun" ke terminal Sei Wampu, lalu  berjalan kaki ke pekuburan
dan mencari sebuah kuburan yang di batu nisannya tertulis, "Dison--
Maradian--Nurmala--boru--Hutabarat--Ompu—ni--Mulauli".

Ketika kuburan yang dicari  telah ditemukan, ompung  akan membuka
bajunya,  mengeluarkan golok dan sabit yang dibawanya dari rumah,
dan mulai memotongi berbagai tanaman liar yang memenuhi tempat itu.

Sementara ompung  bekerja, saya dibiarkannya duduk-duduk di  bagian
batu kuburan yang telah bersih. Atau, sesekali ia meminta saya
mengangkat batang tanaman liar yang telah dipotongnya itu, dan
melemparkannya pada sebuah kobaran api yang telah lebih dulu
dibuatnya.

Pada waktu itu saya tidak terlalu mengerti, mengapa dari sekian
banyak anak dan  cucu yang dimilikinya--bahkan banyak yang lebih
besar--hanya saya sajalah yang selalu diajaknya untuk menemaninya
membersihkan kuburan isterinya.

Walau pun perjalanan ke pekuburan akan berakhir di kedai kopi dimana
saya boleh minum segelas "tes manis" dan makan sepotong "roti bolu",
tapi kalau boleh memilih sebenarnya saya lebih ingin tinggal di
rumah dan bermain-main. Tapi--anehnya--saya tak pernah berani
menampik ajakan ompung. Mungkin pada waktu itu, walau belum bisa
memahaminya benar,  di hati saya sudah timbul rasa "kesadaran dan
tanggung jawab konstitusional" sebagai cucu "panggoaron".

Satu atau dua hari setelah perjalanan membersihkan kuburan,
biasanya kami akan kembali lagi ke sana. Tapi kali ini, alih-alih di
sore hari,  kunjungan akan dilakukan pada subuh hari: Bersama-sama
dengan keluarga Batak-Kristen lainnya di seantero Medan kami akan
merayakan Kebangkitan Yesus Kristus di kuburan orang-orang yang kami
cintai. Kunjungan seperti ini selalu menggembirakan hati, karena
bukan hanya saya dan ompung yang datang ke kuburan, tapi juga handai-
taulan lainnya:

Di mana-mana terlihat kelompok orang  berkumpul, bernyanyi dan
berdoa mengelilingi kuburan kekasihnya.  Bahkan ada kelompok yang
membawa peralatan musik tiup, lampu petromaks, dan pendeta.
Kelompok yang terakhir ini--tentu saja--bukan berkumpul mengitari
sebuah kuburan,  tapi memilih untuk berkumpul di sebuah tempat yang
lebih luas di kompleks pekuburan.

Kuburan ompung--tentu saja--tak kalah ramai.  Di sana berkumpul
semua keluarga besar ompung. Ada bapak, ada "mamak", ada uda, ada
inanguda,  ada namboru, ada amangboru, dan ada ito serta lae.

Beberapa batang lilin dinyalakan. Lagu-lagu rohani dan doa
dipanjatkan. Ceret yang berisi kopi susu atau "tes manis", dan
nampan yang berisi "itakl" atau "lampet" diedarkan.  Sesekali ada
yang bersendawa, "Eeek..." Lalu ada yang berkata, "Lehon hamu  jo
minyak angin i  tu Si Panjaitan...." Sesekali ada yang kentut di
ujung sana, lalu yang lain "mesem-mesem" seraya terus bernyanyi.

Sebagaimana anak-anak lainnya, saya juga tentu ingin menikmati
Paskah Subuh itu dengan sepuas-puasnya: Membakar batang rumput
kering, berebut lilin dan mengganggu sepupu yang lebih kecil. Tapi
entah dari mana, akan ada saja suara yang nyeletuk, "Hush! Baik-baik
kau, Mula! Namamu ada di kepala kuburan sana. Jangan bikin malu
ompung yang sudah mati itu...." Dan dengan hati sedikit mangkal,
terpaksalah saya menjadi anak baik

Dahulu, pada saat-saat menghadiri Paskah Subuh,  saya pernah
diliputi oleh rasa  iri karena hanya "memiliki" satu orang mati.
Beberapa kawan sekolah saya, yang saya temui di pekuburan,
memiliki "beberapa" orang mati.  Alangkah "seru" dan "asyik"-nya
kawan-kawan sekolah saya itu. Dari kuburan ompungnya, mereka bisa
beranjak ke kuburan bapaknya, lalu ke kuburan adiknya, lalu entah ke
kuburan siapa lagi. Sementara saya, sampai jam enam nanti, hanya
berkutat di kuburan ompung-boru.

                             ***

Ketika saya sudah selesai merenung-renung sambil menyapu tahi
kambing kering, puntung rokok, dan kepingan-kepingan kartu domino
yang memenuhi lantai kuburan ayah, datanglah Tulang "Centeng"
Hutabarat menghampiri saya.

"Ai ompungmu do na di san i, `kan?!" kata Tulang Centeng membuka
percakapan dan mencoba memecah kebekuan suasana di antara kami.

"Ido, Tulang," sahut saya.

Lalu Tulang Hutabarat mulai bercerita bahwa ia mengenal
semua "tondong ni lae on" yang ada di kompleks pekuburan ini.  Ia
menyebut kata-kata "lae on" sambil menunjuk ke kuburan ayah saya.

Saya sendiri sudah terlalu lama meninggalkan Medan, dan tidak tahu
lagi secara persis siapa-siapa "tondong" yang telah lebih dahulu
pergi, dan dimana mereka dikubur.  Karena itu kata-kata Tulang
Centeng menarik perhatian saya.

Lalu, atas permintaan saya, Tulang Centeng mulai membeberkan apa
yang dia ketahui. Ia tahu bahwa di sana ada kuburan abang dari Kores
Harahap, yaitu Bileam (William) Harahap. Di sana ada kuburan—juga—
abang dari Kores Harahap, yaitu Nahor Harahap. Di sana ada kuburan
puteri dari Kores Harahap, yaitu Maria Harahap. Di sana ada kuburan
suami dari Maria Harahap, yaitu Constan Siregar. Di sana ada kuburan
anak dari Kores Harahap, yaitu Maruli Harahap. Di sana ada si anu.
Di sana ada suami si anu. Bahkan Tulang Centeng juga tahu kuburan
dari beberapa sepupu yang—dahulu pada saat Kebaktian Paskah  Subuh—
pernah bergelut berebut lilin bersama saya di pekuburan ini.

Hati saya diliputi oleh berbagai perasaan ketika mendengar
Tulang "Centeng" Hutabarat  menunjukkan siapa-siapa handai taulan
itu, dan dimana saja tempat mereka di kompleks pekuburan ini.

Tiba-tiba saya pun diliputi oleh kesadaran bahwa ternyata kini saya
juga sudah "memiliki" banyak orang mati.  Tapi anehnya, alih-alih
membuat "seru" dan "asyik" sebagaimana yang dahulu  saya
imajinasikan di saat kanak-kanak; kesadaran "memiliki" banyak orang
mati di saat beranjak tua ternyata membuat saya menjadi takut dan
sepi.

Saya tak tahu lagi harus berkata apa. Karena itu, setelah terdiam
agak lama, saya berkata kepada Tulang Centeng, "Temanilah dulu saya
ke  kuburan ompung...."

Sejak dari masa SD dahulu,  saya sudah tak pernah lagi ke kuburan
ompung. Bahkan ketika ompung Kores Harahap meninggal, saya sudah
tidak berada di Medan lagi. Hanya, dari orang-orang lain saya
mendengar, bahwa ketika jasad ompung hendak diberangkatkan ke
pekuburan, protokol upacara adat berkata dengan
gagahnya, "Seharusnya yang memimpin kita mengiringi jasad orangtua
ini ke pekuburan adalah cucu panggoarannya. Tapi saat ini cucu
tersebut sedang `setudi' di Jakarta..."

Kami pun berjalan dengan susah-payah menuju ke sebuah kuburan yang
terletak di bagian tengah kompleks: Menerobos alang-alang dan
melompati  balok  beton dari aneka kuburan yang centang-perenang.

Seperti biasa, dibutuhkan upaya untuk membersihkan berbagai semak-
belukar yang menggerombol di kuburan yang kami temukan. Setelah
kuburan itu sedikit bersih barulah saya bisa membaca apa yang
tertulis di masing-masing plakatnya: "Dison--Maradian--Kores--
Harahap" dan "Dison--Maradian--Nurmala--boru--Hutabarat".  Kedua
plakat  batu itu sudah  rompal. Ayat-ayat Alkitab dan nama saya
sebagai "pewaris generasi", yang dicukilkan di atasnya,  sudah tak
bisa terbaca. Rupanya ada saja orang iseng yang mencungkilnya entah
untuk tujuan apa.

"Tulang," kata saya dengan lirih kepada Tulang "Centeng"
Hutabarat. "Kurasa plakat batu ini harus kita perbaharui...".

"Bah beres ma i! Asal ma dilehon hamu konsep-na," kata Tulang
Centeng dengan mantap. "Bah, las dohot hepengna antong," katanya
lagi menambahkan dengan cepat.

"Hulehon pe di bagasan dua-tolu ari on," kata saya.

Saat itu juga saya pun mulai berpikir-pikir  tentang ayat Alkitab
yang paling tepat untuk ditorehkan pada plakat batu yang akan
menjadi pertanda bagi kuburan Kores Harahap--guru Sekolah Rakyat
yang lembut dan bersahaja itu--dan bagi kuburan isterinya--Nurmala
boru Hutabarat--yang tak pandai berbicara dan tahunya  hanya
menangis itu. Ayat Alkitab itu--tentu saja--harus sesuatu yang bisa
bergaung bagi kami "tondong ni na mate", yang masih hidup  dan belum
terbujur kaku ini.

Seraya berjalan meninggalkan kuburan ompung, saya masukkan beberapa
lembar uang ribuan ke dalam genggaman Tulang Centeng. "Pasi sigaret-
mu," kata saya

Lalu ketika saya melompati parit untuk kembali ke taksi yang sedang
menunggu di pinggir Jalan Sei Wampu itu, terbersitlah sederet kata-
kata di kepala saya. Aha! Kata-kata  itu--tampaknya--adalah kata-
kata yang paling tepat untuk "diucapkan" oleh  kedua ompung kepada
cucu "panggoaron"-nya, yang ditinggalkan untuk meneruskan kehidupan
di negeri amburadul dan dilanda berbagai krisis ini.

Saya tinggalkan kompleks pekuburan Jalan Gajah Mada Ujung tersebut
sambil melafalkan ayat dari Mazmur itu--Psalmen itu, tepatnya--
dengan berulang-ulang, "Sai marhaposan to Jahowa ma ho jala ulahon
na denggan. Ingananhon ma tano i jala radoti haburjuon....."

Kirim email ke