Hanya sebuah ketakjelasan, hanya untuk memenuhi hasrat untuk menulis-nulis,
sekalian memenuhi permintaan “Pak Katu” Bobby F. Apa kabar semuanya? Jangan di
bawa serius, harapannya. Baik-baik saja kan? Namun, terserah sajalah...
Salam...(j.h. purba)
Telanjang
Pagi sudah merekah dari tadi. Sementara aku baru saja terjaga dari alam
ketaksadaranku. Sok berpikir sebentar: ngapai hari ini? Tak ketemu jawaban. Ku
bebaskan pandang meliat ke seluruh kamar. Ketakrapianlah yang ada:
kertas-kertas, koran-koran, buku-buku, dan abu rokok berserakan seenaknya saja.
Lalu, kebosanan pun tidak memerlukan waktu lama untuk datang menyapaku.
Karena tak mau ditaklukan, aku pun berencana untuk mandi dengan harapan:
guyuran air akan membuyarkan rasa bosan dan penat ini. Baru saja hendak
beranjak dari tempat tidur, ku mendengar, “Hai, lekas...lekaslah, tanggalkan
seluruh yang membalut tubuhmu itu, biar terliat lekuk indah dan murni tubuhmu.
Dan, sini, mendekatlah, mari bercinta...”
Aku senyap. Berkonsentrasi ‘tuk mendengar. Dan niatan ke kamar mandi pun
diurungkan dulu. Dalam kesenyapan, secara bersamaan terjadi pergolakan dalam
kepala ini: siapa itu? apa yang hendak mereka lakukan (pertanyaan bodoh)?
Berani-beraninya mereka. Dan tak dapat dipungkiri bila rasa cemburu telah mulai
bersemi dalam relung-relung hati dan pikiran ini.
Ku coba menepiskan rasa cemburu, sikap sok, dan pertanyaan-pertanyaan bodoh
itu dengan mencoba meliat dari sudut yang berbeda. Namun, tetap terkesan sok
juga, bahkan tak memiliki kejelasan. Seperti ini: masih ada kah suatu
kemurnian? Ketelanjangan? Dan, aku pun menyalahkan Hawa[i] yang gampang sekali
di goda Ular. Akan tetapi, hal itu telah terjadi. Nah, sekarang...
“Oh...oo...ooooo...” Suara itu menyadarkan kebodohanku. Lalu, senyap dalam
beberapa detik. Kemudian, terdengar suara yang tak asing bagi telingaku,” ku
berikan padamu setangkai kembang pete, tanda cinta abadi namun kere. Buang
jauh-jauh impian mulukmu sebab kita tak boleh bikin uang palsu. Kalau diantara
kita jatuh sakit, lebih baik tak usah ke dokter. Sebab ongkos dokter disini,
terkait di awan tinggi. Cinta kita cinta jalanan, yang tegar mabuk
dipesimpangan. Cinta kita cinta jalanan, yang sombong menghadapi kenyataan.
Semoga hidup kita bahagia, semoga hidup kita sejahtera...” suara Iwan Fals
dengan lagu “Kembang Pete”-nya.
Dan sekarang jelaslah semua, bila ternyata suara yang telah membuatku cemburu
itu berasal dari komputerku, tontonan pengantar tidurku, yang lupa aku remove
dalam playlist editor winamp-ku. Untung lah volumenya hanya sayup-sayup saja,
tak sampai terdengar ke luar kamarku. Klo keras...tak tahu lah aku. Lebih baik
sekarang aku pergi mandi. Dan...koma
salam,
j.h. purba,
1 mei 2007
---------------------------------
[i] ini bukan mempersoalkan gender loh karena kesetaraan juga merupakan
salah satu hal yang aku rindukan, tapi bukan kesetaraan yang bersifat Anarki
---------------------------------
Lelah menerima spam? Surat Yahoo! mempunyai perlindungan terbaik terhadap spam.
http://id.mail.yahoo.com/