Kisah nyata yang sangat menyentuh, dan bisa menjadi perenungan kita akan
arti “persahabatan”

________________________________________________________________

 

 

DITINGGALKAN OLEH SAHABAT 

Hampir tiap orang di dunia ini pernah mempunyai seorang sahabat karib, entah
pada saat kita masih kecil maupun saat sekarang ini. 

Bagaimana kalau Anda di tinggal mati oleh sahabat karib Anda? Tempat dimana
Anda bisa berbagi suka maupun duka. 

Hal inilah yg terjadi pada saat ini dengan diri saya, sobat karib saya, Ben
kemarin telah  meninggal dunia dalam usia 46 th, karena penyakit kanker. Hal
ini mengingatkan kembali ketika saya di tinggal mati oleh si Udin. 

Sejak usia 2 th saya telah di tinggal ayah, karena ia ditawan oleh tentara
Jepang. Ibu harus berkerja keras untuk bisa membiayai hidup anak-anaknya.
Ibu sering melakukan puasa, karena tidak cukup makanan dirumah, bahkan
kamipun sering tidur dengan perut lapar. 

Hal inilah yg mendorong saya untuk minggat dari rumah, karena ingin
meringankan bebannya Ibu. Padahal waktu itu usia saya baru 6 th dengan rasa
berat hati dan air mata terlinang saya berangkat meninggakan kampung halaman
dengan tujuan pergi ke kota besar Bandung, karena ingin mencoba mencari
nafkah sendiri. 

Saya berangkat berdua dengan sobat karib saya si Udin yg usianya 3 th lebih
tua daripada saya. Ber-jam-jam kami berjalan kaki seharian tanpa makan,
sedangkan uang tidak kami miliki, satu-satunya harta yang kami miliki ialah
sehelai baju yang melekat di badan kami. 

Karena sudah tidak tertahankan lagi, saya mengusulkan kepada si Udin untuk
mencuri buah-buahan di kebun orang, tetapi si Udin walaupun ia anak yatim,
ia sangat taat sekali kepada agama, ia melarang saya untuk mencuri, ia
bilang lebih baik kita mengemis daripada mencuri. 

Kami melewati satu gedung besar, dan kami berpikir disinilah kita bisa
mengemis untuk memohon sesuap nasi, tetapi belum saja kami bisa masuk ke
halaman rumah, kami telah dikejar oleh anjing sipemilik rumah, kami lari
terbirit-birit, tetapi dengan kaki yg masih kecil, saya belum bisa berlari
cepat, sehingga saya jatuh tersungkur dan anjing menggigit saya. Akhirnya si
Udin datang melindungi dan menghalau anjing tersebut. 

Hujan telah turun dgn deras, badan kami menggigil kedinginan, karena telah
tak tertahankan lagi, kami mencari makan di tempat sampah, ternyata disitu
masih ada sisa sepotong roti kecil, dan beberapa genggam nasi. 

Karena badan saya telah lemah lunglai apalagi telah digigit anjing, si Udin
memberikan roti maupun nasi tersebut semuanya untuk saya, makanlah ia
bilang, karena saya lagi puasa, walaupun kenyataannya tidaklah demikian,
tetapi ia mengikhlaskannya untuk saya. 

Malam hari itu kami tidur di emperan rumah orang, tepatnya di depan sebuah
kelenteng. Malam-malam saya terbangun, karena saya mendengar si Udin
mengeluh kesakitan, badannya menggigil, tak satu katapun bisa ia ucapkan
tetapi matanya kelihatan sayu. 

Saya mengetahui ia sakit, karena lapar, ia sudah tidak makan sejak lebih
dari dua hari, dan bagian makanannya selalu diberikan kepada saya, sehingga
badannya menjadi sedemikian lemahnya. 

Dari luar kelenteng masih kelihatan cahaya api lilin remang-remang diatas
meja sesajen, tanpa pikir panjang saya memanjat pagar dan pintu kelenteng
untuk bisa masuk ke dalam, akhirnya saya berhasil mencuri sesajen berupa dua
potong kueh. Saya berlari kepada si Udin cepat-cepat untuk memberikannya
kepada dia, karena saya merasa takut sekali kehilangan dia. 

Ketika saya tiba, saya berusaha memeluk badannya si Udin yang gemetaran dan
mencoba menyuapkan kueh ke dalam mulutnya, tetapi rupanya telah terlambat.
Sang Pencipta telah memanggil dia balik kepangkuan-Nya. 

Apakah Anda bisa membayangkan betapa perasaan seorang bocah berusia 6 th
yang di tinggal mati oleh kawan dan sobat satu-satunya yg pada saat itu
tidak memiliki siapapun juga, karena jauh dari kampung halaman? 

Bagaimana perasaan Anda apabila sobat karib Anda meninggal dalam pelukan
tangan Anda? 

Dibawah hujan rintik-rintik dengan badan menggigil kedinginan, saya menangis
terseduh-seduh. Saya mendekap badannya si Udin erat-erat dan dengan suara
tersendat-sendat saya mengucapkan: "Jangan tinggalkan saya, Din! Jangan
tinggakan saya seorang diri......” 

Hal inilah yg terulang dan teringat kembali, bagaimana sakitnya perasaan dan
hati saya di tinggal oleh seorang sobat karib. Dengan air mata terlinang
saya menyanyikan lagu: "What we have a friend in Jesus!” 

Selamat jalan Ben! 
A brother may not be a friend, but a friend will always be a brother. 

------------------   
(eLia.STRS) 

 

 

Kirim email ke