dulu aku pernah tergelitik saat pertama kali baca cerpen ini sekitar 
3 taun yang liwat dari buku kumpulan cerpen s.g.a "iblis tidak pernah 
mati".  

ini untuk kali kedua aku baca cerpen ini, masih disitu lucu-nya dan 
menyegarkan. 

ketemu saat2 iseng googling :) 

-bobby tampubolon
 
Kematian Paman Gober
Oleh: Seno Gumira Ajidarma

Kematian paman gober ditunggu-tunggu semua bebek. Tidak ada lagi yang 
bisa dilakukan selain menunggu-nunggu saat itu. Setiap kali penduduk 
Kota Bebek membuka koran, yang mereka ingin ketahui hanya satu hal : 
apakah hari ini Paman Gober sudah mati. Paman Gober memang terlalu 
kuat, terlalu licin, dan bertambah kaya setiap hari. Gudang-gudang 
uangnya berderet dan semuanya penuh. Setiap hari Paman Gober mandi 
uang disana, segera setelah menghitung jumlah terakhir kekayaannya, 
yang tak pernah berhenti bertambah.

Begitu kayanya Paman Gober, sehingga ia tak bisa hafal lagi pabrik 
apa saja yang dimilikinya. Bila terlihat pabrik di depan matanya, ia 
hampir selalu berkata, "oh, aku lupa, ternyata aku punya pabrik 
sepatu." Kejadian semacam ini terulang di muka pabrik sandal, pabrik 
rokok, pabrik kapal,pabrik arloji, maupun pabrik tahu-tempe. Boleh 
dibilang, hampir tidak ada pabrik yang tidak dimiliki Paman Gober. 
Ibarat kata, uang dicetak hanya untuk mengalir ke gudang uang Paman
Gober.

Meskipun kaya raya, anggota klub milyarder no.1, Paman Gober adalah 
bebek yang sangat pelit. Bahkan kepada keluarganya, Donal bebek, ia 
tidak pernah mewmberi bantuan, meski Donal telah bekerja sangat keras 
malah Donal ini, beserta keponakan-keponakannya Kwak, Kwik, dan Kwek, 
hamper selalu diperas tenaganya, dicuri gagasannya, dan hasilnya 
tidak pernah dibagi. Cendekiawan jenius Kota Bebek, Lang Ling Lung, 
yang dimuka rumahnya tertera papan nama Penemu, Bisa Ditunggu, pun 
hamper selalu diakalinya.

Sudah berkali-kali Gerombolan Siberat, tiga serangkai kelas kakap, 
menggarap gudang uang Paman Gober, namun keberuntungan selalu berada 
dipihak Paman Gober.Paman Gober tak terkalahkan, bahkan oleh Mimi 
Hitam, tukang tenung yang suka terbang naik sapu. Sudah beberapa kali 
Mimi Hitam berhasil merebut Keping Keberuntungan, jimat Pman Gober, 
namun keping uang logam kumuh itu selalu berhasil direbut kembali. 
Tidak bisa dipungkiri, Paman Gober memang pekerja keras. Masa mudanya 
habis dilorong-lorong gua emas. Sebuah gunung emas yang ditemukannya 
menjadi modal penting yang telah melambungkannya sebagai taipan tak
tersaingi dari Kota Bebek.

Suatu hal yang menjadi keprihatinan Nenek Bebek, sesepuh Kota Bebek 
yang mengasingkan ke sebuah pertanian jauh di luar kota, addalah 
kenyataan bahwa Paman Gober dicintai kanak-kanak sedunia. Pman Gober 
menjadi legenda yang disukai. Paman Gober begitu rakus. Pman Gober 
begitu pelit. Tapi ia tidak dibenci. Setiap kali ada orang 
mengecam,menyaingi, pokoknya mengancam reputasi Paman Gober sebagai 
orang kaya, justru orang itu tidak mendapat simpati. Paman Gober bisa 
menangis tersedu-sedu meski hanya kehilangan uang satu sen. Ia sama
sekalli bukan tokoh teladan, tapi mengapa ia bisa begitu dicintai?
"Dunia sudah jungkir balik," ujar Nenek Bebek kepada Gus Angsa, yang 
meski suka makan banyak, sangat malas bekerja. Namun Gus Angsa sudah 
tertidur sembari bermimpi makan roti apel.

"Suatu hari dia pasti mati," ujar Kwik.

"Memang pasti, tapi kapan?" Kwak menyahut.

"Kwek!" Hanya itulah yang bisa dikatakan Kwek. Dasar bebek.

Begitulah, setiap hari, Lubas, anjing dirumah Donal, membawa Koran 
itu dari
depan pintu ke ruang tengah.

"Belum mati juga!"

Donal segera membuang lagi Koran itu dengan kesal. Karena memang 
tiada lagi berita yang bisa dibaca di Koran. Banyak kabar, tapi bukan 
berita. Banyak kalimat, tapi bukan informasi. Banyak huruf, tapi 
bukan pengetahuan.Koran-korantelah menjadi kertas, bukan media.

Semua bebek memang menunggu kematian Pman Gober. Itulah kabar terbaik 
yang mereka harapkan terbaca. Paman Gober sendiri sebenarnya sudah 
siap untuk mati. Maklumlah, sebagai generasi tua di Kota Bebek, 
umurnya cukup uzur. Untuk kuburanya sendiri, ia telah membeli sebuah 
bukit, damn membangun mausoleum di tempat itu. Jadi, bukanya Paman 
Gober tidak mau mati. Ia sudah siap untuk mati.

"Mestinya, bebek seumur saya ini, biasanya ya sudah tahu diri, siap 
masuk ke liang kubur. Makanya, ketika saya diminta menjadi Ketua 
Perkumpulan Unggas Kaya,saya merasakan kegetiran dalam hati saya, 
sampai beberapa lama saya bisa bertahan? Apa tidak ada bebek lain 
yang mampu menjadi ketua?"

Kalimat semacam itu masuk ke dalam buku otobiografinya, Pergulatan 
Batin Gober Bebek, yang menjadi bacaan wajib bebek-bebek yang ingin 
sukses. Hampir setiap bab dalam buku itu mangisahkan bagaimana Paman 
Gober memeburu kekayaan. Mulai dari harta karun bajak laut, pulau 
emas, sampai sayuran yang membuat bebek-bebek giat bekerja, meski 
tidak diberi upah tambahan. Bab terakhir diberi judul Sampai
Kapan Saya Berkuasa?. Memang, Paman Gober adalah ketua terlama 
Perkumpulan Unggas Kaya. Entah kenapa, ia selalu terpilih kembali, 
meski pemilihan selalu berlangsung seolah-olah demokratis. Begitu 
seringnya ia terpilih, sampai-sampai seperti tidak ada calon yang 
lain lagi.

"Terlalu, masak tidak ada bebek lain?"

Paman Gober selalu berbasa-basi. Namun, entah kenapa, kini bebek-
bebek menjadi takut. Paman Gober, memang, terlalu berkuasa dan 
terl;alu kaya. Setiap hari yang dilakukannya adalah mandi uang. 
Ketika Donal Bebek bertanya dengan kritis, mengapa Paman Gober tidak 
pernah peduli kepada tetannga, bantuan keuangannya kepada Donal 
segera dihentikan.

"Kamu bebek tidak tahu diri, sudah dibantu, masih meleter pula."

"Apakah saya tidak punya hak bicara?"

"Bisa, tapi janngan asal meleter, nanti kamu aku sembelih."

"Aduh, kejam sekali, menyembelih bebek hanya dilakukan manusia."

"Ah, siapa bilang bebek tidak kalah kejam dari manusia."

"Lho, manusia makan bebek, apakah bebek makan manusia?"

"Yang jelas manusia bisa makan manusia."

"Tapi Pman mau menyembelih sesame bebek, apakah sudah mau meniru 
sifat manusia?"

Paman Gober mempunyai banyak musuh, namun Paman Gober suka memelihara
musuh-musuh yang tidak pernah bisa mengalahkannya itu, justru untuk 
menunjukkan kebesarannya. Paman Gober sering muncul di televise. 
Kalau Paman Gober sudah bicara, kamera tidak berani putus, meskipun 
kalimat-kalimatnya membuat bebek tertidur. Paman Gober selalu 
menganjurkan bebek bekerja keras, seperti dirinya, dan Paman Gober 
juga semakin sering menceritakan ulang jasa-jasanya kepada warga
Kota Bebek.

"Coba, kalau aku tidak membangun jalan, air mancur, dan monument, apa 
jadinya Kota Bebek?"

Tidak ada yang berani melawan. Tidak ada yang berani bicara.

"Paman Gober," kata Donal suatu hari, kenapa Paman tidak mengundurkan 
diri saja,pergi ke pertanian seperti Nenek, menyepi, dan merenungkan 
arti hidup? Sudah waktunya Pman tidak terlibat lagi dengan urusan 
duniawi."

"Lho, aku mau saja Donal. Aku mau hidup jauh dari Kota Bebek ini. 
Memancing, main golf, makan sayur asem, dan membaca butir-butir 
falsafah hidup bangsa bebek. Tapi, apa mungkin aku menolak untuk 
dicalonkan? Apa mungkin aku menolak kehormatan yang segenap unggas? 
Terus terang, sebenarnya sih aku lebih suka mengurus peternakan."

Maka hari-hari pun berlalu tanpa penggantian pimpinan. Demokrasi 
berjalan, tapi tidak memikirkan pimpinan, karena memang hanya ada atu 
pemimpin. Segenap pengurus bisa dipilih berganti-ganti, namun 
kedudukan Paman Gober tidak pernah dipertanyakan. Para pelajar 
seperti Kwik, Kwek, dan Kwak menjadi bingung bila membandingkannya 
dengan sejarah kepemimpinan kota lain. Kota Bebek seolah-olah
memiliki pemimpin abadi. Generasi muda yang lahir setelah Paman Gober 
berkuasa bahkan sudah tidak mengerti lagi, apakah pemimpin itu memang 
bisa diganti.Mereka pikir keabadian Paman Gober sudah semestinya.

Dan itulah celakanya kanak-kanak mencintai Paman Gober. Riwayat hidup 
Paman Gober dibikin komik dan diterjemahkan dalam berbagai bahasa. 
Bebek terkaya yang sangat pelit dan rakus ini menjadi teladan baru. 
Nenek Bebek tidak habis pikir, mengapa pendidikan, yang mestinya 
semakin canggih, membolehkan budi pekerti seperti itu. Generasi muda 
ingin meniru Paman Gober, menjadi bebek yang sekaya-kayanya, kalau 
bisa paling kaya di dunia.

"Paling kaya di dunia?" Kwak bertanya.

" Iya, paling kaya di dunia," jawab Nenek Bebek.

"Apakah itu hakikat hidup bebek?"

"Bukan, itu hakikat hidup Paman Gober."

Sementara itu, nun di gudang uangnya yang sunyi, Paman Gober masih 
terus menghitung uangnya dari sen ke sen, tidak ditemani siapa-siapa. 
Matanya telah rabun. Bulunya sudah rontok. Sebetulnya ia sudah pikun, 
tapi ia bagai tak tergantikan.

Semua bebek menunggu kematian Paman Gober. Tiada lagi yang bisa 
dilakukan selain menunggu-nunggu saat itu. Setiap kali penduduk Kota 
Bebek membuka koran, yang ingin meraka ketahui hanya satu : apakah 
hari nin Paman Gober sudah mati. Setiap pagi mereka berharap akan 
membaca berita Kematian Paman Gober, dihalaman pertama.

Jakarta, 16 Agustus 1994


Kirim email ke