teman2,
apa kabar?

btw,ini bumi memang mangkin panas, yak? 

-bobby formula

Parousia 
-Cerpen Agus Noor

Pada malam Natal tahun 3026, aku terlahir kembali ke dunia ini 
sebagai seekor ular. Aku keluar dari cangkang kesunyianku. Mendesis 
pelan dan muncul lewat gorong-gorong. Kusaksikan cahaya terang kota 
yang gemerlapan. Tak ada bintang, dan langit hanya basah. Di kulitku 
yang licin, udara terasa seperti permukaan piring keramik yang 
dingin. Sayup kudengar gemerincing lonceng mekanik Jingle Bells 
mengalun dari juke box di etalase hypermarket, seperti rintihan 
kesepian. Mobil-mobil silver metalik bertenaga magnetik mendesing 
lalu lalang di jalanan. Orang-orang bergegas membawa keranjang 
belanjaan dan kado-kado Natal berbungkus kertas warna-warni. Seorang 
Sinterklas terkantuk-kantuk di trotoar. Aku benar-benar tak lagi 
mengenali kota ini. Kota di mana bertahun-tahun lampau, dalam 
kehidupanku yang lain, aku pernah begitu mencintainya.

Dulu aku memang berharap, aku ingin dilahirkan kembali di kota ini, 
tidak lagi sebagai bocah idiot yang sering diganggu dilempari kerikil 
atau tomat busuk. Aku tak pernah mengerti, kenapa dulu orang-orang di 
kota ini begitu senang menggangguku. Mungkin mereka hanya menggodaku. 
Mungkin mereka butuh hiburan. Mungkin mereka merasa bahagia bila bisa 
menggangguku. Apabila melihat aku lagi berjalan, orang-orang akan 
menghentikanku. Memberiku moke, yang membuat kepalaku berdenyut-
denyut lembut. Lalu mereka menyuruhku menyanyi dan menari. Mereka 
tertawa-tawa melihat aku menari-nari. Pasti aku tampak lucu di mata 
mereka. Aku ikut tertawa saat mereka tertawa. Biasanya, mereka 
kemudian akan bertanya hal-hal yang terdengar aneh di telingaku.

?Berapa dua ditambah dua??

?Tujuh,? jawabku, sambil menunjukkan empat jariku.

Mereka tertawa.

?Kalau tiga ditambah empat??

?Tujuh,? jawabku, sambil menunjukkan empat jariku.

Dan mereka kembali tertawa.

?Dasar idiot!?

Aku tak pernah mengerti kenapa mereka mengatakan aku idiot. Mungkin 
karena mulutku yang peyot. Mungkin karena celanaku yang selalu 
melorot. Mungkin karena tampangku yang terlihat dungu dengan liur 
kental yang terus menetes. Mungkin karena itulah orang-orang 
melihatku dengan jijik. Aku ingat, bagaimana orang-orang selalu 
mengusirku bila melihatku memasuki halaman rumah mereka. Aku tak 
mengerti, kenapa orang-orang tak memperbolehkan aku masuk rumah 
mereka. Padahal, bila ada ular masuk ke pekarangan, mereka tak pernah 
mengusirnya. Mereka selalu membiarkan ular masuk ke rumah mereka. 
Bila ada ular masuk ke rumah, mereka selalu memberi telur atau 
sejumput beras buat ular itu. Alangkah menyenangkan jadi ular. Begitu 
aku selalu merasa iri pada ular-ular yang banyak berkeliaran di kota 
ini. Aku sering bertemu ular-ular itu. Di ladang, di pinggir jalan, 
di pepohonan. Kadang kulihat seekor ular melintas menyeberang jalan, 
dan semua kendaraan yang lewat berhenti. Kurasakan, betapa orang-
orang lebih menyukai ular ketimbang diriku.

Dari omongan orang-orang, yang kudengar sepotong-sepotong dan tak 
gampang aku pahami, aku mulai tahu kenapa orang-orang di kota ini 
suka pada ular. Mereka percaya ular-ular itulah leluhur mereka. 
Ketika mula dunia tercipta, ketika Bumi masih rapuh, kabut bagaikan 
putih telur, ketika batu masih berupa buah muda, saat tanah masih 
serupa kuntum yang ranum, ular-ular itulah muasal leluhur yang 
mendiami pulau. Leluhur yang selalu membawa rezeki dan nasib baik 
bagi siapa pun yang didatanginya. Sejak itulah aku mulai berkhayal, 
betapa enaknya jadi ular. Aku ingin suatu hari nanti bisa berubah 
menjadi ular. Aku ingin Tuhan akan melahirkanku kembali ke kota ini 
sebagai seekor ular.

Aku mendesis, takjub sekaligus merasa asing memandangi kota yang 
gemerlapan. Kerlap-kerlip pohon Natal menjulang di tengah-tengah 
plaza. Lampu-lampu aneka warna menerangi pertokoan yang berderet 
sepanjang jalan. Aku benar-benar bingung dengan kota ini. Seingatku, 
sepanjang jalan ini hanya berderet pepohonan, juga beberapa rumah 
kayu sederhana. Dulu, setiap hari, aku selalu berjalan sepanjang 
jalanan ini, yang berkelok turun menuju bukit kecil. Kini terentang 
jalan layang dan jembatan penyeberangan yang bagai digantungkan 
begitu saja di udara. Mestinya, di pojokan itu ada sebuah gereja. 
Tapi di situ, kini aku melihat sebuah mal yang megah. Gerbangnya yang 
menjulang bagai mulut raksasa menganga mengisap orang-orang yang lalu 
lalang. Cahaya seperti telah menyihir kota ini dan membuatku tak 
mengenalinya lagi.

Kudengar lonceng gereja. Seperti sayup ingatan yang membuatku merasa 
tak tersesat. Bunyi lonceng seperti itulah yang dulu selalu menuntun 
perjalananku. Aku suka berjalan mengelilingi kota karena aku suka 
mendengarkan lonceng gereja. Aku tiba-tiba terkenang pada gereja-
gereja yang dulu sering aku singgahi. Aku senang dan merasa tenang 
bila mendengar suara lonceng gereja yang mengapung menggetarkan udara 
senja. Dulu, kota ini penuh dengan gereja. Kota dengan seribu gereja. 
Kudengar kembali gema lonceng itu, seperti memanggilku. Aku merayap 
menyeberangi jalan. Tiba-tiba kudengar suara jeritan.

?Ular! Ular!?

Kulihat orang-orang beringsut ketakutan, menatapku yang mendesis 
merayap pelan menyeberangi trotoar. Meski terkejut dengan reaksi 
mereka, aku mencoba tak panik. Aku teringat bagaimana dulu orang-
orang memberi makanan menyambut kedatangan ular leluhur mereka. Tapi 
kudengar seseorang berteriak, ?Cepat bunuh ular itu! Usir! Pukul? Dan 
dengan gerakan cepat seseorang mengacungkan tongkat.

Instingku merasakan bahaya dan dengan cepat aku melesat menyelusup 
tumpukan tong sampah. Kenapa mereka ingin membunuhku? Kudengar 
teriakan-teriakan mengejarku. Terdengar suara-suara tong ditendang. 
Aku begitu ketakutan, menghilang dalam kegelapan. Saat itulah 
kudengar suara mendesis pelan.

?Ssttt?. Cepat sini?.? Kulihat gadis cilik meringkuk di pojok gelap. ?
Cepat sembunyi sini?.?

Aku memandanginya ragu. Sepasang matanya yang bening membuatku pelan-
pelan merasa tenang. Ia mengulurkan tangan, memberiku cuilan roti 
yang dipungutnya dari tumpukan sampah. ?Kamu bandel sekali berani 
keluar gorong-gorong.? Ia berkata sambil mengelus kepalaku.

Kupandangi mata gadis itu, seperti kupandangi sepasang bintang yang 
menandai kelahiranku kembali ke dunia ini.

Dengan tangannya yang mungil, gadis itu memungutku. Aku merasa nyaman 
dalam dekapannya. Kemudian ia berjalan mengendap-endap, menjauhkan 
aku dari orang-orang yang kudengar masih memburuku. Suara-suara itu 
perlahan lenyap dalam gelap. Di belakangku, cahaya kota yang 
gemerlapan kulihat meredup perlahan ketika gadis ini terus memasuki 
lorong kelam. Ketika gelap dan sepi terasa lengket seperti ampas 
kopi, kulihat gadis cilik yang mendekapku ini mengeluarkan rosario 
dari kantung roknya. Kulihat rosario itu menyala kemerahan, 
memancarkan sulfur cahaya. Ditentengnya rosario itu seperti ia 
menenteng lentera. Cahaya pucat kemerahan menerangi lorong yang kami 
lalui, lorong yang berkelok-kelok, membuatku merasa seperti menyusuri 
labirin kesunyian yang pastilah akan membuatku tersesat bila 
sendirian.

Sampai kemudian aku melihat bayangan deretan rumah yang rapuh, 
berdesakan dan bau tengik.

?Kita sampai,? kata gadis cilik, sambil menurunkanku dari dekapannya. 
Saat itulah kudengar suara-suara mendesis pelan keluar dari 
reruntuhan tembok dan tumpukan kayu lapuk. Kulihat puluhan ular, 
ratusan ular, mendesis-desis menatapku.

>diaC<

Kudengar lonceng gereja yang layu dari kejauhan. Aku diam melingkar 
di pojokan, menyaksikan bayangan rumah-rumah kumuh yang bagai 
mengapung dalam kegelapan. Sungguh kota ganjil yang serba temaram. 
Aku merasa asing, meski aku bisa segera mengenali jajaran pepohonan 
di sepanjang jalan kota ini. Aku langsung teringat pada kelokan jalan 
itu, reruntuhan gereja yang kini hanya terlihat sebagai tetumpukan 
batu bata, juga bayangan bukit-bukit di kejauhan, di mana matahari 
terlihat menyandarkan cahayanya. Inilah kota yang pada kehidupanku 
yang dulu selalu kususuri jalan-jalannya. Aku merasa ini tak lebih 
dari kota lama yang ingin dikekalkan dalam ingatan.

Dan seperti menyusuri ingatan, aku merayapi jalanan kota ini, belajar 
memahami apa yang sesungguhnya telah terjadi. Aku kemudian tahu bahwa 
kota ini sesungguhnya tak terlalu jauh jaraknya dengan kota yang 
kulihat saat malam Natal sebulan lalu. Kota ini terletak di pinggiran 
kota yang gemerlapan itu, hanya dipisahkan oleh kenangan. Lorong di 
mana dulu gadis cilik itu membawaku adalah jalan menuju ke kota yang 
penuh cahaya itu. Tapi ular-ular yang kutemui selalu mengingatkan 
agar aku jangan pernah berani-berani lagi muncul di kota itu. Cara 
mereka mengingatkanku, seperti tengah meyakinkan betapa tempat 
terbaik bagi ular macam kami adalah di kota ini

Di kota ini, kami?ular-ular?memang dibiarkan berkeliaran. Para 
penduduk memberi kami sisa makanan mereka meski kadang busuk dan 
berjamur. Sering kami duduk-duduk dekat anak-anak, saat mereka 
berkumpul mendengarkan orangtua mereka mendongeng. Aku sangat senang 
mendengarkan dongeng-dongeng itu dituturkan, terdengar seperti tengah 
menyanyikan kesedihan. Dongeng tentang kehidupan mereka yang perlahan-
lahan terpinggirkan dari kota. Ketika kota mempercantik diri. Ketika 
bangunan-bangunan bertingkat mulai dibangun. Ketika banyak gereja 
diruntuhkan, untuk diganti dengan mal-mal. Pada saat itulah, sebagian 
orang yang mencoba bertahan memunguti sisa bangunan gereja itu, 
membawanya masuk ke dalam kabut kesunyian. Berusaha membangunnya 
kembali sebagai tumpukan-tumpukan kenangan. Mereka memunguti puing 
kota lama yang dihancurkan kemajuan. Pelan-pelan mereka kembali 
membangun kota mereka, dengan nyanyian dan upacara yang penuh ratapan 
pada leluhur. Dan ular-ular mengikuti mereka karena di kota yang baru 
mereka diburu dan tak lagi dituahkan. Di kota yang remang dalam 
ingatan inilah para ibu mencoba bertahan hidup dengan memetik embun 
di daun-daun, menampungnya dalam gelas, dan menghidangkannya buat 
sarapan pagi anak-anak mereka. Dan pada malam hari mereka memeras air 
mata, menyimpannya dalam botol, dan meminumkannya saat anak-anak 
mereka sakit.

Aku belajar mencintai kota ini. Apalagi gadis cilik itu selalu 
mengajakku jalan-jalan, seakan-akan ia ingin agar aku mengenal setiap 
cuil kota ini. Kami belajar saling mengerti kesepian masing-masing. 
Kami bercakap-kacap dengan bahasa leluhur yang hanya bisa kami 
mengerti. Ia bercerita bahwa sebenarnya ada jalan tembus melalui 
gorong-gorong untuk mencapai kota di seberang sana. Aku menemukannya 
tak sengaja, katanya. Dulu aku sering pergi lewat jalan itu, kalau 
aku mau menjual rosario. Dulu, bila menjelang Natal, kami memang 
sering berjualan rosario. Kami mesti menjualnya diam-diam. Sebab bila 
ketahuan, kami bisa ditangkap petugas keamanan. Dulu banyak warga 
kota ini yang setiap hari pergi ke kota itu, berjualan biji-biji 
embun dan bermacam daun, rempah-rempah dan artefak kenangan, 
menjualnya di lapak trotoar, tetapi selalu diusir. Ia kemudian 
mengatakan kalau sekarang ia makin sulit menjual rosario. Tak hanya 
karena dikejar-kejar petugas, tetapi karena sekarang ini sudah jarang 
yang mau membeli rosario. Sudah lama, anak-anak di kota itu lebih 
suka dapat hadiah Natal boneka Barbie atau nitendo daripada rosario. 
Padahal rosario buatan kami luar biasa. Kamu sudah melihatnya, kan?

Aku mendesis mengangguk. Kuingat rosario yang memancarkan cahaya itu. 
Aku pernah melihat bagaimana rosario itu dibuat. Ada salib di tengah 
reruntuhan gereja di kota ini. Salib itu menjulang, tapi terlihat 
rapuh, dan Kristus tampak murung dan sengsara dalam lindap cahaya. 
Pada tubuh Kristus terlilit selang kecil, dengan mangkuk perak 
berbentuk piala di ujung selang itu. Itulah selang yang dipakai untuk 
menampung air mata Kristus. Dalam keremangan, salib itu seperti pokok 
pohon karet yang tengah disadap. Para penduduk di kota ini menampung 
air mata Kristus, yang mereka percaya, pada waktu-waktu tertentu akan 
mengalir. Kadang air mata itu menetes bening. Kadang merah serupa 
darah. Butiran air mata itulah yang kemudian mereka kumpulkan untuk 
diuntai jadi rosario. Kemudian dijual. Aku ingat, gadis cilik itu 
pernah berkata kepadaku. ?Begitulah, dulu kami bertahan: dengan 
menyadap air mata Tuhan??

Kepada gadis cilik itu pun aku bercerita tenang kehidupanku dulu. Ia 
begitu senang saat mendengar kalau pada kehidupanku yang dulu, aku 
juga penduduk kota ini.

?Wow, siapa tahu aku ini salah satu keturunanmu,? teriaknya riang.

Tidak. Aku tidak menikah, kataku.

?Kamu Pater??

Aku mendesis tersenyum. Dulu aku idiot. Tak ada seorang pun perempuan 
suka dengan orang idiot.

?Tapi aku suka kamu!?

Aku menggeliat-geliat dalam dekapannya. Ia menyimak ceritaku dengan 
mata berkejap-kejap. Ia mendadak terbelalak saat aku bercerita 
tentang Gereja St Paulus yang sering kudatangi dulu.

?Kau tahu,? katanya, ?Itu satu-satunya gereja yang masih berdiri!? 
Mungkin tepatnya: itulah satu-satunya gereja yang sengaja dibiarkan 
berdiri, boleh jadi sebagai tugu kenangan.

Ada perasaan sendu ketika kudengar itu. Kukatakan betapa aku ingin 
melihat gereja itu. Ah, ia memang gadis yang usil dan nakal, tapi 
setidaknya ia memahami kerinduanku. ?Kita bisa diam-diam ke sana,? 
katanya.

Maka pada malam Natal beberapa bulan kemudian, gadis itu memasukkanku 
ke dalam keranjang kecil. Ia hendak membawaku mendatangi gereja yang 
kurindukan itu. Jangan sampai orang-orang di kota itu melihatmu, 
katanya. Ketika ia berjalan, ia seperti tengah membawa keranjang 
makanan dan hendak pergi tamasya. Aku melingkar tenang dalam 
keranjang. Kenangan-kenangan dalam kehidupanku yang dulu seperti 
bermunculan menenteramkanku. Kami menuju kota itu melalui gorong-
gorong rahasia. Kami keluar dari gorong-gorong, tepat di belakang 
gereja. Dari dalam keranjang anyaman, samar-samar bisa kurasakan 
cahaya kota yang gemerlapan. Aku takut ada penduduk yang memergoki 
gadis cilik ini. Pasti mereka mengusir kami?.

Puji Tuhan, kudengar gadis itu berbisik pelan mengatakan kalau kami 
sudah sampai dalam gereja. Pelan aku dikeluarkan dari dalam 
keranjang. Kusaksikan ruangan yang remang, seperti rongga semesta. 
Kudengar koor Malam Kudus dinyanyikan. Terdengar syahdu dan megah. 
Cahaya terasa ultim dan kusaksikan fresko katakombe di atas altar itu 
bagai bergetar.

Sampai kemudian aku menyadari, betapa sunyi gereja ini. Tak ada 
seorang pun mengikuti misa Natal, ternyata. Di dekat altar, kulihat 
stereo set diputar untuk mengumandangkan nyanyian puji-pujian. 
Kulihat gadis kecil di sampingku yang hanya menunduk. Mataku nanar 
melihat tubuh Kristus yang tersalib memandangi bangku-bangku 
kosong.***

Ledalero, 2006

Catatan:

1. Nama tuak/minuman keras lokal di Maumere, Nusa Tenggara Timur.
2. Disitir dan ditulis ulang dari syair tradisi yang mengisahkan 
penciptaan alam semesta, versi Krowe-Sika.
3. Dikutip dan ditulis ulang dari puisi ?Ibu yang Tabah? karya Joko 
Pinurbo.  


Kirim email ke