Generasi
Tua VERSUS Generasi Muda,
How About
Young People Pematangsiantar?
.
Oleh: Manganju Luhut Tambunan
Semoga tulisan ini tidak hanya menjadi tumpukan kertas usang atau hanya
sekedar data yang berlalu-lintas di dunia maya, tetapi menjadi setan yang
membuat kita terus berlari dan berbenah.
Narasi pendek:
Karena
sesuatu hal, dia tidak dapat lagi tinggal dikota besar setelah lama mengabdi
didaerah panas itu, teknologi maju, wire less, hari-hari yang bertemankan
internet,
menggunakan lift atau eskalator menuju ruangan ber-AC tempatnya bekerja,
mengenakan
kemeja, berpenampilan keren ala parlente, tas kerja berisikan laptop,
surat-surat transaksi diapitkan disisi tangan kanannya, berjalan kearah mobil
untuk beranjak kekantor.
Ternyata sesuatu hal itu juga, membuat
dia kembali kekampung halaman dalam wujud mayat, dan menetap dalam kurun waktu
yang lama pada tanah berukuran 2x3m yakni di kuburan, selamat tinggal dunia
selamat datang akhirat, cacing dan
bakteri sudah siap menunggu untuk melumat dengan lahap daging tubuhnya, mohon
maaf Pematangsiantar, mohon maaf kampung
halaman, mohon maaf ibu pertiwi, tak bisa bangkit lagi dari kubur untuk
mentransfer ilmu pengetahuan pada anak-anak di kampung halaman, sungguh
menyesal rasanya.
“Tugas besar seorang
pemimpin adalah membuat pemimpin baru yang minimal mempunyai
kapabilitas yang sama dengan dirinya!” (Joseph Stalin)
Sebagian orang mungkin telah mengenal Joseph Stalin,
salah satu pemimpin besar abad ke-20, yang berhasil membawa Uni Soviet dari
ancaman rezim Nazi Jerman.
Mahasiswa Indonesia mana yang tidak mengenal
Soekarno? Pemuda dengan kemampuan ”menghipnotis” tingkat tinggi lewat
pidato-pidatonya serta kharisma pemimpin yang dimiliki yang pada masanya mampu
membawa perubahan besar bagi orang-orang disekitarnya, hingga dia menjadi
pemimpin pertama bangsa ini.
Ada sebuah kalimat yang cukup menarik yang pernah
tertulis jelas disebuah spaduk bertuliskan “Lawan Dari Hidup
Bukanlah Mati Tetapi Menjadi Tua”.
Para founding
father untuk pendidikan Sumatera Utara telah memberikan contoh, Letjen. Luhut
Pandjaitan (Purn) dengan Politeknik DEL di Sitoluama, T.B Silalahi dengan
yayasan soposurungnya di Balige, Akbar Tandjung dengan SMA Plusnya di Sibolga,
serta tak lepas juga para pendidik yang mengabdikan diri, mereka adalah
generasi-generasi tua yang sekarang berumur 50-an serta 60-an tahun sudah
saatnya mereka istirahat, acungkan dua jempol buat mereka.
Lalu bagaimana dengan Pematangsiantar sendiri?
Sudah adakah tokoh seperti mereka? Atau justru menegasikan contoh yang
diberikan? Bagaimana dengan pejabat
daerah?
Pendidikan ternyata telah beralih fungsi. Proses
yang seharusnya membuat dari tidak tahu menjadi tahu, proses yang seharusnya
memanusiakan manusia, proses transformasi nilai, ternyata telah dihianati.
Ketika diberi amanah, masih ingin lagi menjadi
yang lebih besar. RT ingin menjadi RW, RW ingin menjadi lurah, lurah ingin
menjadi camat, camat ingin jadi walikota, walikota
ingin menjadi gubernur.
Tidak jarang kita mendengar atau bahkan mengetahui,
para pejabat daerah kuliah menempuh pendidikan jenjang S2, tetapi kuliah hanya
sehari saja dalam seminggu, bagaimana mungkin? Yahh mungkin sajalah, kenapa
tidak? Apakah memang otaknya sekaliber Albert Einstein hingga mampu mengikuti
perkuliahan
S2 hanya beberapa jam setiap minggunya? Wahh sungguh hebat sekali jika memang
demikian. Atau karena kongkalikong sana sini?
Secara kasat mata, dengan praduga tak bersalah dan
sedikit berlogika, pendidikannya hanya berorientasi untuk mendapatkan gelar..
tak
lebih hanya untuk gelar, gelar dan gelar. Pendidikan hanya sebatas mendapat
gelar, yang akan digunakannya untuk kendaraan politik, atau meraih jabatan saja.
Begulattuk, lumbang lurus buat itu
semua.
Bagaimana dengan generasi mudanya? Apakah
memejamkan mata, menutup telinga dengan situasi yang ada? Mungkin ya, mungkin
tidak.
Mereka yang pernah berkata, mengklaim
diri sebagai seorang intelektual?
Peran, fungsi, dan posisi
mahasiswa.
Mahasiswa memiliki peran sebagai penengah antara
penguasa (pemerintah) dengan masyarakat umum, sedangkan posisinya adalah
sebagai golongan menengah (middle class)
hingga dia memiliki fungsi : penjaga nilai (guardian
value), stok masa depan (iron stock),
dan agen perubahan (agent of change).
Dalam hal ini guardian value menandakan fungsi mahasiswa sebagai pihak penjaga
nilai-nilai kebenaran yang pada dasarnya didasarkan pada kebenaran ilmiah
(kebenaran sejati, tanpa terpengaruh kepentingan-kepentingan pihak lain). Iron
stock menandakan bahwa mahasiswa
adalah para penerus bangsa ini. Sama seperti besi, mahasiswa merupakan stok
sumber
daya yang harus terus diasah sehingga tidak karat dimakan waktu. Agent of
change menandakan mahasiswa
memiliki tanggungjawab dan fungsi untuk peka terhadap kondisi dirinya dan
lingkungan
sekitarnya, yang pada akhirnya berupaya memberikan perubahan yang baik
terhadapnya.
Namun faktualnya benarkah demikian? Ternyata tidak!
Mari kita lihat dalam ruang lingkup yang lebih kecil.
Sungguh mengherankan sebagian mahasiswa asal Pematangsiantar
yang dulu saling mengenal, saling tegur sapa, holong niroha, bisa terkena
sindrom pergaulan kota besar hingga
kecenderungan hidup individualis. Selagi aku aman, tenang-tenang saja buat apa
memikirkan hal-hal yang merepotkan hal tak jelas seperti itu?
Ada suatu fenomena menarik lagi yang terjadi pada
sebagian mahasiswa asal Pematangsiantar.
Sungguh cukup menjenakakan sekali, dengan
bertamengkan aktif di lembaga, perkumpulan kerohanian, dan dalih pelayanan,
mereka merasa dirinya telah layak mengkotbahi orang lain dan merasa lebih suci.
Menjadi suatu hal yang aneh bukan kenapa mereka sebegitu
yakinnya hanya dengan doa, bergumul saja dapat membuat perubahan pendidikan
dikota Pematangsiantar? Andai saja Karl Marx dapat hidup kembali maka dia akan
menggeleng-gelengkan kepala, tersenyum, bahkan tertawa terbahak-bahak karena
cukup menjenakakan baginya setelah melihat situasi tersebut.
Memang tidak ada salahnya, bahkan itu juga hak
individu, hal-hal prinsipil, yang dijamin negara dan tertulis pada pasal 29 UUD
1945.
Hanya saja dunia kehidupan nyata, kak, mbak, neng,
abang, dek mereka (khususnya anak-anak SMA) di Siantar sana tidak butuh hanya
sekedar doa, doa, dan doa! Mereka butuh “darah muda”, semangat muda, informasi
yang telah diperoleh dikota besar yang seharusnya bisa diteruskan pada mereka
mereka butuh pemikiran-pemikiran yang disimulasikan didunia nyata.
Apakah
dari beberapa hal tersebut masih mau mengklaim diri sebagai seorang
intelektual?
Organisasi, perkumpulan, dengan tujuan pengembangan
pendidikan seharusnya tidak di alih fungsikan menjadi fasilisator acara-acara
kegiatan rohani yang kasat mata telah beralih haluan.
Mungkin tidak akan lahir lahir Mahatma Gandi baru
dari Pematangsiantar dengan ideologi kemanusiaannya, tetapi mungkin saja justru
pemimpin sekaliber Jefferson yang lahir.
Soekarno, Tan Malaka, Hatta, Jefferson, Hobbes,
Resseau, Gandhi, dan para pemikir yang lainnya mereka yang masa mudanya dianggap
sebagai ‘orang-orang nakal’ terhadap situasi yang ada, tetapi justru mereka yang
pioner-pioner perubahan besar itu yang akhirnya layak menjadi pemimpin.
Akankah ada pemimpin yang lahir dari rahim kota Pematangsiantar?
Samakan pandang, dan serasikan langkah.
Educate-Organize-Transform.
Parluasan Pematangsiantar, Januari 2008
----------------------------------
..................................................................................................................
..................................................................................................................
Songonna
lam tok situtu do ulu mamereng akka si ‘cipit mata, sibottar’ na disiantar an,
las gabe dikendalihon do sude
perekonomian i poang, las lomo-lomona mambahen harga dohot mendistorsi pasar i,
Jl.Sutomo, Merdeka, Dipenogoro, Bandung, Surabaya, Cokro, sekitar terminal
parluasan, sude mai tahe na strategis rarat ma disi. Ngabaoi be ta pamulak
nenget-nenget
tu hutana di RRC an. Mansai tok ulu poang, hape anggo parsiantar i gabe buruh
angkut do dibahen, manjaga tokona, gabe tukang pundak, parbengkel, sudemai
karejo naborat-borati.
Ai
aha ma tahe dohonon, dung tammat sikkola sian unpad, itb, stttelkom, polban,
unpar
rappon universitas na asing tarlumobi dibandung na so tardok sada-sada, dung
dapot parbinotoani tor mangaranto do nian, manang las muli jala berkeluarga,
alai
tong do dikota besar, manang dihuta nihalak, anggo secara makro ekonomi gabe
secara tak langsung mendukung parputaron ni hepengi gabe tu pusat nama bah
alana SDM dikota nabalga relatif lebih tinggi terhadap daerah, kemajuan
pembangunan
las situtu do di kota nabalga i, tempat na maju lam maju, na tertinggal lam
tertinggal ima nian salah satu dampak globalisasi i, boido nietong alani otikna
akka Insyinur, sarjana, sian perguruan tinggi terkemuka i namulak tu huta, .
Hape
anggo parmulakna tinggal menetap dihuta annon, biasana dung mate pe las menetap
ditano narara (kuburan), selamat tinggal dunia selamat datang neraka manang
surgo i, mambahen tugu simin nama.... dang boi be transfer ilmu parbinotoani.
Ai aha ma tahe lao sidohonon
nga songoni mungkin dope dalanna (‘dengan mood sedikit putus asa’).
(* Dengan suatu
pertimbangan, sebagian tulisan ini sengaja dibuat berbahasa batak)
..........................................................................................................................
..........................................................................................................................
________________________________________________________
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di di bidang Anda! Kunjungi
Yahoo! Answers saat ini juga di http://id.answers.yahoo.com/