Silah dibaca :)

Ciao,
Ferry LS

----- Forwarded Message ----
From: Zein Wijaya <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED]
Sent: Thursday, March 6, 2008 8:45:20 PM
Subject: [Oil&Gas] Fwd:[OOT] penipuan melalui pemeringkatan PTN-PTS?

                  Menarik untuk disimak dari Mailing List sebelah

Yanuar Nugroho <[EMAIL PROTECTED] org> wrote:  To: "[EMAIL PROTECTED] com" 
<[EMAIL PROTECTED] com>,
"[EMAIL PROTECTED] com" <[EMAIL PROTECTED] com>,
"[EMAIL PROTECTED] com" <[EMAIL PROTECTED] com>,
"SMAGA-Surakarta@ yahoogroups. com" <SMAGA-Surakarta@ yahoogroups. com>
From: Yanuar Nugroho <[EMAIL PROTECTED] org>
Date: Thu, 06 Mar 2008 19:09:39 +0000
Subject: [ppi-uk] penipuan melalui pemeringkatan PTN-PTS?

kawan-kawan,

saya meneruskan email dari Rektor ITS di bawah.
mohon dicermati. sungguh memprihatinkan.

salam,
y
------------ -------

"BUBLE INFORMATION" MARKETING "PTS KONGLOMERAT" SUATU BENTUK PENIPUAN BARU
Prof.Ir. Priyo Suprobo, MS., PhD
Rektor ITS dan Tim Akreditasi PT-DIKTI
e-mail : [EMAIL PROTECTED] id <mailto:[EMAIL PROTECTED] id>

Majalah Globe Asia, sebuah majalah baru dengan positioning untuk 
eksekutif bisnis yang diterbitkan oleh kelompok Lippo, pada edisi 
Pebruari 2008 membuat pemeringkatan PTN dan PTS. Hasilnya adalah cukup 
mengagetkan, dimana UPH (Universitas Pelita Harapan) , yang juga 
dimiliki oleh kelompok Lippo, mengalahkan ranking PTN-PTN terkemuka 
maupun PTS-PTS terkemuka di Indonesia. Sebagai contoh, total score UPH 
(356) "diposisikan" mengalahkan 5 besar PTN seperti UGM (338), ITB 
(296), IPB (283), UNAIR (279), dan ITS(258). UPH juga "diposisikan" 
mengalahkan PTS terkemuka seperti TRISAKTI (263), ATMAJAYA (243), UNPAR 
(230), dan PETRA (151).

Sebagai seorang akreditor Perguruan Tinggi yang telah bertahun-tahun 
mengakreditasi kebanyakan PTN maupun PTS, termasuk pernah mengakreditasi 
UPH dan Perguruan Tinggi lain sebagaimana yang disebutkan diatas, maka 
saya merasa aneh dengan "pemosisian" ranking oleh Globe Asia tersebut. 
Keanehan pertama, Globe Asia menggunakan kriteria-kriteria yang meskipun 
"mirip"dengan lembaga pemeringkat Internasional, tetapi member "bobot" 
yang berbeda. Sebagai contoh, fasilitas kampus diberi bobot 16%, 
sementara kualitas staff akademik (Dosen) hanya dibobot 9%. Lebih parah 
lagi, kualitas riset hanya dibobot 7%. Keanehan kedua adalah sub 
kriteria dari fasilitas kampus misalnya tidak memasukkan kapasitas 
bandwidth sebagaimana standar akreditasi yang ada. Keanehan ketiga 
adalah sistem membandingkan yang tidak berbasis kaidah logis dasar 
"apple to apple" (kesederajatan) .

Bila kita menilik standar akreditasi, maka ada akreditasi dalam negeri 
oleh DIKNAS (BAN PT), regional asia (Asia University Network, AUN), 
maupun sistem akreditasi pemeringkatan dunia (THES, Jiao Tong, Webbo). 
Akreditasi dalam negeri, regional, maupun dunia menggunakan 
kriteria-kriteria dan KPI (Key Performance Indicator) yang "logis secara 
akademis". Artinya adalah bahwa kriteria tersebut (meskipun bervariasi) 
adalah memang benar-benar akan menunjukkan "jaminan mutu" dari input, 
proses, sarana pendukung, hingga outcome produknya. Tidak ada dari 
kriteria dan sub kriteria yang hanya menunjukkan keunggulan "kemewahan 
lifestyle" sebagaimana yang ingin ditonjolkan dalam hasil Globe Asia 
Ranking. Demikian juga halnya dengan membandingkan antara Universitas 
dengan Institut yang nature kriterianya pasti berbeda, misalnya di 
Institut teknik manapun tidak ada yang mempunyai Fakultas Hukum dan 
Fakultas Kedokteran sebagaimana sub kriteria ranking yang dibuat Globe Asia.

Dengan demikian, maka ranking yang dilakukan Globe Asia akan menjadi 
suatu bentuk "penipuan" informasi yang bersifat "buble" kepada publik, 
khususnya orang tua mahasiswa dari kalangan eksekutif sebagai target 
pasar majalah tersebut. Penipuan ini menjadi meluas ketika dirilis 
secara "tidak kritis" oleh koran Suara Pembaruan, 29 Januari 2008.

Mungkin fenomena seperti ini adalah akibat dari komersialisasi 
pendidikan di Indonesia. Pendidikan, khususnya Pendidikan Tinggi, telah 
menjadi komoditas yang "empuk" untuk menaikkan status sosial pemilik 
hingga meraup keuntungan yang besar. Ditangan para pesulap bisnis, maka 
pendidikan juga dikelola dengan image "Lifestyle" (gaya hidup), bukan 
dengan image "Qualistyle" (gaya kualitas). Mereka menyusun ranking 
sesuai dengan "Strength" yang dimilikinya, sekaligus menyembunyikan 
"Weakness" yang seharusnya menjadi kriteria akreditasi. Akibatnya adalah 
bahwa segala cara akan dilakukan yang penting target meraih mahasiswa 
selama periode marketing setiap awal tahun (Pebruari sampai Juli) mampu 
dicapai dengan memuaskan.

Buble informasi yang dilakukan Globe Asia untuk menaikkan citra UPH 
tersebut secara langsung akan mengganggu citra beberapa PTN maupun PTS 
yang dikelola dengan kaidah jaminan mutu yang baik. Sebagai gambaran, 
sistem Webbo Rank (Juli 2007) yang merupakan sistem akreditasi dunia 
pada penekanan kriteria kerapihan manajemen data menempatkan PTS 
terkenal di kawasan Timur, yaitu Universitas Petra dalam ranking ke 49 
Se Asia Tenggara, UGM dan ITB adalah ranking ke-12 dan 13. Dalam 
Webbo rank Juli 2007 itu tidak ada kelas ranking UPH, padahal webbo rank 
adalah sistem dunia yang dianggap "paling sederhana".

Oleh karena itu, maka sudah saatnya pemerintah sebagai regulator 
bersama-sama dengan masyarakat untuk secara aktif mengawasi pola 
komersialisasi pendidikan yang dampaknya menggunakan cara-cara tidak 
"fair"dalam rangka merekrut mahasiswa. Hasil kerja dari Badan Akreditasi 
Nasional (BAN) yang membuat 15 standar penilaian antara lain: tata 
kelola kepemimpinan, fasilitas lab, alumni, jumlah Guru Besar (tidak 
perlu harus expert asing), rasio Dosen dengan Mahasiswa, prestasi 
Mahasiswa, hingga rasio antara jumlah peminat dengan yang diterima 
adalah merupakan kriteria yang sangat lengkap untuk menunjukkan daya 
saing suatu Perguruan Tinggi.

Daya saing pendidikan tinggi sebagaimana yang diamanatkan dalam konsep 
strategis HELTS DIKTI (Higher Education Long Term Strategy) haruslah 
dicapai dengan sistem penjaminan mutu yang benar, sehingga hasilnya bisa 
dilihat salah satunya dengan criteria akreditasi yang logis secara 
akademis, bukan logis secara pendekatan bisnis. (PS)

------------ --------- --------- ---
Looking for last minute shopping deals?  Find them fast with Yahoo! Search.

[Non-text portions of this message have been removed]


    
          
<!--

#ygrp-mkp{
border:1px solid #d8d8d8;font-family:Arial;margin:14px 0px;padding:0px 14px;}
#ygrp-mkp hr{
border:1px solid #d8d8d8;}
#ygrp-mkp #hd{
color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:bold;line-height:122%;margin:10px 0px;}
#ygrp-mkp #ads{
margin-bottom:10px;}
#ygrp-mkp .ad{
padding:0 0;}
#ygrp-mkp .ad a{
color:#0000ff;text-decoration:none;}
-->

<!--

#ygrp-sponsor #ygrp-lc{
font-family:Arial;}
#ygrp-sponsor #ygrp-lc #hd{
margin:10px 0px;font-weight:bold;font-size:78%;line-height:122%;}
#ygrp-sponsor #ygrp-lc .ad{
margin-bottom:10px;padding:0 0;}
-->

<!--

#ygrp-mlmsg {font-size:13px;font-family:arial, helvetica, clean, sans-serif;}
#ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}
#ygrp-mlmsg select, input, textarea {font:99% arial, helvetica, clean, 
sans-serif;}
#ygrp-mlmsg pre, code {font:115% monospace;}
#ygrp-mlmsg * {line-height:1.22em;}
#ygrp-text{
font-family:Georgia;
}
#ygrp-text p{
margin:0 0 1em 0;}
#ygrp-tpmsgs{
font-family:Arial;
clear:both;}
#ygrp-vitnav{
padding-top:10px;font-family:Verdana;font-size:77%;margin:0;}
#ygrp-vitnav a{
padding:0 1px;}
#ygrp-actbar{
clear:both;margin:25px 0;white-space:nowrap;color:#666;text-align:right;}
#ygrp-actbar .left{
float:left;white-space:nowrap;}
.bld{font-weight:bold;}
#ygrp-grft{
font-family:Verdana;font-size:77%;padding:15px 0;}
#ygrp-ft{
font-family:verdana;font-size:77%;border-top:1px solid #666;
padding:5px 0;
}
#ygrp-mlmsg #logo{
padding-bottom:10px;}

#ygrp-vital{
background-color:#e0ecee;margin-bottom:20px;padding:2px 0 8px 8px;}
#ygrp-vital #vithd{
font-size:77%;font-family:Verdana;font-weight:bold;color:#333;text-transform:uppercase;}
#ygrp-vital ul{
padding:0;margin:2px 0;}
#ygrp-vital ul li{
list-style-type:none;clear:both;border:1px solid #e0ecee;
}
#ygrp-vital ul li .ct{
font-weight:bold;color:#ff7900;float:right;width:2em;text-align:right;padding-right:.5em;}
#ygrp-vital ul li .cat{
font-weight:bold;}
#ygrp-vital a{
text-decoration:none;}

#ygrp-vital a:hover{
text-decoration:underline;}

#ygrp-sponsor #hd{
color:#999;font-size:77%;}
#ygrp-sponsor #ov{
padding:6px 13px;background-color:#e0ecee;margin-bottom:20px;}
#ygrp-sponsor #ov ul{
padding:0 0 0 8px;margin:0;}
#ygrp-sponsor #ov li{
list-style-type:square;padding:6px 0;font-size:77%;}
#ygrp-sponsor #ov li a{
text-decoration:none;font-size:130%;}
#ygrp-sponsor #nc{
background-color:#eee;margin-bottom:20px;padding:0 8px;}
#ygrp-sponsor .ad{
padding:8px 0;}
#ygrp-sponsor .ad #hd1{
font-family:Arial;font-weight:bold;color:#628c2a;font-size:100%;line-height:122%;}
#ygrp-sponsor .ad a{
text-decoration:none;}
#ygrp-sponsor .ad a:hover{
text-decoration:underline;}
#ygrp-sponsor .ad p{
margin:0;}
o{font-size:0;}
.MsoNormal{
margin:0 0 0 0;}
#ygrp-text tt{
font-size:120%;}
blockquote{margin:0 0 0 4px;}
.replbq{margin:4;}
-->






      
____________________________________________________________________________________
Never miss a thing.  Make Yahoo your home page. 
http://www.yahoo.com/r/hs

Kirim email ke