Ompung dan Si Pematung

Cerpen Martin Aleida  

Sembilan puluh satu dia sekarang. Yang dia rencanakan untuk hidupnya,
semua sudah tercapai. Yang tak pernah dia bayangkan pun malah sudah
dia nikmati. Sebuah kuburan sudah dia persiapkan di atas bukit. Dan
dia membayangkan, patungnya, patung setengah badan, akan diletakkan
hati-hati di atas penampang marmer Italia yang dikirimkan anaknya dari
Turino. Patung itu akan ditempatkan hanya selangkah dari gerbang
kuburannya.Dirinya, yang diabadikan dalam batu berwarna perak itu,
akan kelihatan seperti hidup, melayangkan tatapan abadi mensyukuri
lembah, memuliakan teluk, dan seakan-akan tak pernah berhenti memuja
pulau yang membentang di mulut teluk, nun di sana. Pulau yang tercipta
untuk menjinakkan gempuran obak Samudra Hindia. Setinggi apa pun.
Hatta sedahsyat tsunami. Karena itulah, kota kecil yang menyusu di
teluk itu akan abadi. Dia hanya akan lebur kalau seluruh daratan sudah
binasa. Sehari dalam seminggu, dia menapaki kaki bukit, berdiri dengan
kaki terpacak kuat-kuat di atas lahan di mana tubuhnya suatu ketika
akan diabadikan. Dia bayangkan dirinya yang sudah jadi batu, dengan
mata yang tiada kenal lelah, menatap jauh untuk memastikan kaki langit
masih menjadi penyekat samudra, pulau masih berjaga-jaga, gelombang
yang membantai pantai masih berdebur, dan kota di bawah sana tetaplah
sebuah pusat kehidupan yang merangsang dan heroik, walau kecil. "Amang
oi, Amang," Emak, aduhai Emak oi.., desis suaranya bertarung dengan
angin yang menggerbang-gerbangkan janggutnya. "Sudah kutatap New York
dari Twin Towers. Telah kulihat deretan gunung disaput es yang tak
pernah cair dari penginapan tertinggi di Paro, Bhutan. Tapi, yang di
bawah hidungku ini… Ah… tiada taranya. Alangkah elok pemandangan dari
sini," Ompung yang berdiri dengan kokoh di atas lututnya, di pucuk
bukit kematiannya itu, berkusip meyakinkan bukan siapa-siapa kecuali
dirinya sendiri. Perlahan dia menarik napas, tetapi dalam. Bersama
tarikan napas itu dia menelan keinginannya yang terakhir. Hatinya
begitu menggumpal. Seakan-akan minggu depan dia sudah akan mati.
Karena itu, dengan jalan apa pun dia ingin patungnya sudah diletakkan
persis di mana dia berdiri sekarang, dengan mata nanap menikmati
panorama alam leluhurnya. Di dalam khayalnya, dia bayangkan, kalau dia
sudah menemukan ajal, rohnya akan bersemayam di tubuh si patung.
Dengan begitu, mata dan hatinya takkan lekang-lekang dari hamparan
daratan di bawah, kota kecil di mana dia lahir, teluk dan ombak
tempatnya bercengkerama di masa kecil, juga pulau yang jadi juru
selamat. Bukan karena matahari sudah sepenggalah, makanya sekarang,
dengan gontai dia menyeret langkah menuruni bukit itu. Ada yang
mengganjal di hatinya. "Rosa…," dia menumpahkan setumpuk kekecewaan
pada yang punya nama. "Kusembah kau, kerjakanlah patungku itu.
Tolonglah. Ini permintaanku yang terakhir. Tunjukkanlah bahwa kau
memang mencintai aku, Amangmu ini. Aku mau melihat patung buatanmu itu
sebelum aku mati. Anakku manis, mengapa tak kau kerjakan juga...?"
Bujukan itu dia ulangi, dan ulangi lagi, pada setiap langkah kakinya
mengikuti anak tangga menuruni pinggang bukit. Kerasnya batu yang dia
pijak, lebih keras lagi hati anaknya itu. Pada pertemuan terakhir, di
meja makan, Rosa tetap menolak mengerjakan patung sang ayah. "Papi
tidak adil padaku. Jauh-jauh aku disekolahkan. Apa yang kudapat dari
sekolah, dari pengalamanku, juga penghayatanku, hanya disia-siakan."
Orang baik-baik barangkali menganggap kata-kata itu sebagai
pemberontakan anak terhadap ayah. Jangan begitu. Lihatlah tadi,
bukankah Rosa berdiri dan mengecup pipi ayahnya sebelum menyatakan
penolakan. Bibir sang ayah sedikit menyungging dibuat kecupan itu.
Rupanya, dia menikmati cinta anak perempuannya itu yang singgah dengan
hangat di pipinya. Sehangat air teluk. "Tidak memaksa, Rosa. Jangan
begitu kau. Jangan salah sangka," pojok bibirnya merekah. "Aku hanya
ingin yang kau kerjakan tak ada yang salah. Begitu melihat patung itu,
'kan kau juga yang akan dipuji orang nanti." "Aku tak bisa mengerti,
dan tak bisa menerima cara Papi memahami penghargaan orang pada Papi.
Bagaimana aku membuat patung itu, bagaimana hasilnya, begitulah aku
menghargai Papi. Itu bukan karya Papi. Tapi, begitulah ungkapanku
memuji hidup Papi," Rosa merapat ke pangkuan ayahnya. "Pujian tak
pernah salah, Pi," mmmh… sekuntum kecupan didaratkan Rosa lagi di pipi
ayahnya. "Maksudku jangan sampai ada raut muka yang keliru. Jangan
sampai ada jurai helai janggutku yang dikacaukan angin. 'Kan kau tahu
apa arti sebuah garis pada sebuah patung. Sekecil apa pun dia bisa
memberikan gambaran buruk pada sifat seseorang." Rosa bangkit
mengambil asbak seraya menenteng sebatang rokok di antara jarinya.
Jari yang sama sekali tidak romantis, kehalusannya habis dikikis
semen, baja antikarat, perunggu, atau serat gelas. Saat anaknya
membelakanginya itulah Ompung, seperti seekor induk ayam melihat
cacing, dengan ligat mengais tissue di mana terlukis potret sang ayah
dalam guratan spidol. Duduk kembali di kursinya, Rosa sedikit pun
tidak menunjukkan gelagat kehilangan kertas di mana dia tadi
menarik-narik garis dengan cepat untuk membentuk wajah ayahnya. Dia
tahu kertas itu pasti sudah disembunyikan ayahnya. Dijepitnya di
antara dua pahanya untuk kemudian nanti dia simpan serapi-rapinya di
sebuah brankas di dalam kamar tidurnya. Itu adalah tissue kedua puluh
tujuh berisi sketsa sang ayah. Cerita maminya, tengah malam,
tissue-tissue itu diterawang si ayah helai demi helai sampai dia
tertidur lelap dibuatnya. Ompung seperti mau mencebur ke dalam hati
anaknya itu, dia tatap matanya, dan ungkapnya: "Puluhan sketsa yang
sudah kau buat mengenai diriku, tak satu pun yang meleset. Ketekunan,
bukan keberanian, itulah aku. Aku melihat itu dalam semua sketsamu.
Janggutku hanya diwakili dua garis tipis, tapi justru garis itulah
yang memperkuat kepribadianku. Dan, sekalipun tidak ada tarikan garis
yang tegas, tahi lalat di daguku terasa selalu hadir," dia berhenti,
mendehem. "Tapi, itu cuma sketsa. Patung 'kan lain lagi soalnya.
Apalah salahnya, kalau kau mulai mengerjakannya sekarang. Aku yang
punya badan. Aku yang tahu. Berilah aku kesempatan bersaksi atas
diriku sendiri." Rosa diam seribu bahasa, membiarkan rokok terus
menganggur, tetapi berasap di antara dua jarinya. Dia sudah tak mau
mengulang, dan mengulang lagi alasannya menolak keinginan sang ayah
untuk memberikan otoritas kebenaran pada karyanya. Buat dia
penghargaan adalah haknya, dengan cara bagaimanapun. Tidak diperlukan
pembenaran atau koreksi. Berulang kali ayahnya meminta supaya patung
yang dia kerjakan, sebelum dinyatakan selesai, ditilik dulu olehnya.
Tapi, Rosa menampik. Kalau hati anak perempuan itu adalah hati seorang
pelaut yang mudah terbakar, maka Rosa akan menutup perdebatan dengan
ayahnya itu dengan hentakan, "Sip babam!" Tutup mulutmu! Tapi, itu tak
mungkin dia lakukan. Itu sama saja dengan memenggal air. Mana mungkin
memutuskan hubungan lantaran perbedaan pandangan. Apalagi ayah
sendiri.Sebutkanlah apa yang tidak dilakukan orangtua itu dalam
membesarkan anak perempuannya itu. Sama seperti kesembilan saudaranya,
Rosa juga disekolahkan ke Eropa. Sebagai anak paling bungsu, dia
diberikan kesempatan menyaksikan mural realis Siqueiros, termasuk
lukisan termasyhur "Kematian dan pemakaman Cain," yang menggambarkan
prosesi kematian petarung yang mendebarkan itu. Juga belajar seni rupa
beberapa tahun di Meksiko.Setelah perjalanan terakhir ke puncak bukit
hari ini. Setelah membujuk Rosa selama tiga tahun dan gagal. Setelah
sketsa di atas tissue yang kedua puluh tujuh itu, si pematung tetap
tak terbengkokkan, tibalah saatnya Ompung menempuh jalannya sendiri.
Dia temui istrinya. "Sudah ribuan kali kubujuk si Rosa, dia tetap tak
sudi memulai pengerjaan patungku. Aku dapat akal. Tapi, jangan kau
bocorkan, da! Kau bantulah aku. Ini permintaanku yang penghabisan."
Istrinya bingung. Apa yang bisa dia lakukan? Enam puluh enam tahun
menyertai Ompung, dia tak pernah mengecewakan suaminya itu. "Berbohong
untuk kebaikan. Untukku. Patungku…." "Bah, berbohong…. Kapan kau
pernah mengajari aku berbohong?" "Ini permintaanku yang terakhir.
Kusembah kau, tolonglah." Keesokan harinya, manakala matahari belum
marak di kaki langit, Ompung, menggunakan perahu layarnya sendiri
bertolak ke pulau. Ditemani pembantu yang bekerja dengannya sejak
puluhan tahun yang silam. Pembantu itu diperintahkannya pulang dan
hanya boleh kembali kalau diminta. Kota kecil di mulut teluk itu
menggigil. Pada hari kedua menghilangnya Ompung, keluarga yang
ditinggalkan benar-benar gempar kehilangan induk. Seluruh pojok kota
diselidiki, bukit- bukit dipanjati mencari orangtua yang hilang.
Kesetiaan istri Ompung tiada duanya walaupun dia harus menanggungkan
penderitaan yang tak pernah dia junjung, yaitu berdusta. Kepada siapa
pun yang datang bertanya, sepandai paropera tilhang, dia tetap
mengatakan tak tahu. "Bah, manalah kutahu itu. Dia suamiku. Lebih enam
puluh tahun. Akulah yang paling sedih dari semua yang ada di sini,"
katanya meyakinkan anak-anaknya yang datang dari berbagai kota besar
dari semua penjuru angin. Pada hari kesembilan menghilangnya Ompung,
rapat keluarga memutuskan supaya semua naik ke pemakaman di atas
bukit, membuka pintu gerbangnya. Siapa tahu Ompung sudah membujur kaku
di dalam. Seluruh anggota keluarga dan penduduk kota menyemut menaiki
bukit. Pintu gerbang yang terbuat dari batu dikuakkan. Pembaringan
jenazah yang ditatah dari pualam tetap kosong. Nama lengkap Ompung
diserukan bertalu-talu. Yang menjawab cuma sipongang. Hari kesebelas,
datanglah Rosa membawa mukjizat. "Apa pun yang terjadi pada Papi, aku
harus memenuhi permintaannya. Permintaan penghabisan. Sekaranglah
saatnya. Sekarang! Aku minta maaf untuk sikapku terhadapnya selama
ini. Patung yang sejak bertahun-tahun dia minta supaya kukerjakan
sebenarnya sudah kutatah. Sudah jadi. Aku timbun di bukit pasir,
kusembunyikan di pulau. Besok aku ke sana, dan akan membawanya kemari.
Langsung saja kita tempatkan di pemakaman Papi," katanya membuat mulut
semua yang hadir nan sedarah terdiam tetapi menganga. Istri Ompung tak
terkecuali. Tetapi, dengan sigap, diam-diam dia perintahkan pembantu
setianya menjemput Ompung ke pulau, saat itu juga.Tengah malam, dengan
kelihaian seorang bekas pejuang, Ompung menyelinap ke dalam kamar
tidurnya. Di situ, dia ciumi istrinya habis-habisan. Tak pernah dia
berterima kasih serupa itu, sampai-sampai istrinya gelagapan. Dia
malah ingin mencium lututnya, menyembahnya pula. Sebelum matahari
merangkak sepenggalah, dari arah pulau sebuah perahu layar
menghunjamkan haluannya ke arah pantai. Tiga perahu lebih besar
menguak ombak mengiringi dari belakang. Rosa, dengan mata yang tak
lepas dari lunas, duduk di haluan. Di lunas itu, di atas hamparan kain
putih, terduduklah patung Ompung. Sementara di pantai berjibun sanak
saudara dan penduduk kota yang menanti. Kota kecil itu menggigil.
Namun, tak ada tangis. Yang ada adalah hasrat ingin tahu bagaimana
nian rupa Ompung dalam batu yang ditatah anaknya sendiri, si Rosa,
sang pembangkang. Begitu menginjakkan kaki di pantai, patung langsung
di letakkan di atas keranda panjang, terbuka menengadah ke langit. Ada
sepuluh orang yang maju mengusung patung yang terduduk di atas keranda
itu. Prosesi mengingsut. Menyemut manusia mengikuti patung itu menuju
bukit. Kota kecil di mulut teluk itu menggigil. Tak terdengar tangis,
yang mengapung cuma gumam ingin tahu di mana gerangan Ompung yang
sudah dijadikan batu itu. Berpakaian serba hitam, Rosa, si pematung,
berjalan paling depan, dada paling membusung, melangkah seperti ujung
tombak menguakkan jalan untuk gelombang manusia di belakangnya. Juga
tak ada air mata yang titik ketika patung Ompung didudukkan di
penampangnya, selangkah dari pintu kuburannya. Dan, persis seperti
kehendak yang punya badan, mata patung itu nanap memandang ke lereng,
ke kota di bawah, dan ke ombak di teluk yang tiada henti menghempaskan
diri. Terdengar gumam yang berpindah dari mulut yang satu ke mulut
yang lain. Pucuk bukit menggigil tak bisa menjawab di manakah Ompung
gerangan. Tak dinyana, tak disangka, di pinggang bukit tiba-tiba
tampak sosok laki-laki berpakaian serba putih, menapak perlahan. "Oi…
siapa itu?" mengaum suara di pucuk bukit. Sosok berpakaian putih itu
tidak peduli. Istri Ompung mendekati bahu Rosa, menempelkan bibirnya
di kuping anak bungsunya. "Papimu!" Disaksikan ribuan pasang mata,
Rosa, menuruni tangga, menjemput ayahnya. Diulurkannya jarinya. Yang
dia terima adalah penolakan. "Tak usah, aku kuat. Aku mau lihat
seperti apa aku kau buat." Ompung mengelilingi patung dirinya. Tiga
kali menurut arah jarum jam. Tiga kali dari arah berlawanan. Lama dia
menyimak lambaian janggutnya. Tersentak dia melihat bayangan tahi
lalatnya di balik janggut yang tipis. Tanda lahir itu ada tapi seperti
tiada, serupa perempuan pujaan yang menyembunyikan arnal emas di dalam
sanggulnya. Lebih merapat, Ompung nyaris menyenggol bahu si patung.
Dia melayangkan pandang ke arah mana patungnya mengarahkan mata.
"Amang oi… Amang, indahnya laut kau lihat dari sini," pujanya di
kuping patung. "Papi, yang mana yang salah?" Rosa menghampiri,
menekan. Tak ada jawaban untuk si pematung, kecuali tubuh ayahnya yang
mendekat. Di pelupuk mata orangtua itu tersekat air. Ompung memeluk
anaknya, mencium ubun-ubunnya berkali-kali, hingga air matanya tetes
di situ. Ribuan mata, angin, dan ranting menyaksikan syahdunya pelukan
itu. Membangkitkan cemburu. "Bah, mengapa aku tidak?" protes istri
Ompung. "Padahal aku sudah berbohong." Ribuan mata, angin, ranting,
dan lembah menunggu Ompung merentangkan kedua tangan dan
mendekapkannya erat-erat pada tubuh istrinya. *** 

Sumber: Kompas

Bobby

Kirim email ke