Tanpa kusadari, kesan orang - orang terhadap mereka sebagai pelaku pengeboman
sudah memudar, yang ada kesan Pembela Agama, iya gak yah? Tapi tulisan ini
cukup bagus, menurutku..
thx..
Jakarta - Liputan tidak fokus oleh media massa telah
menjadikan mereka selebriti baru. Pemerintah juga seolah lupa mengemas
berita tiga teroris tersebut menjadi 'pengingat'.
Kemarin
pagi, ketika hari baru saja berganti, ajal menjemput tiga aktor
pengeboman Bali. Berita besar yang tersiar ke seluruh dunia itu seolah
mengesankan matinya para syuhada yang sedang melenggang ke surga, bukan
para teroris yang kejam dan tidak bermoral. Mengapa?
Dalam kurun
6 tahun berjalan, secara perlahan tapi pasti, ketiga teroris bersurban
itu terus bermetamorfosis menjadi tokoh disegani. Kata-katanya kadang
terdengar lembut, bersahabat namun memuat kekuatan berdasarkan
nilai-nilai luhur yang dianutnya. Sering juga muncul dengan keberanian
dahsyat seolah perjuangannya haqqul yakin berada di jalan benar.
Bahkan, Tuhan yang ada di atas sana sepertinya telah berpihak penuh
tanpa reserve kepada mereka.
Uniknya, kebenaran yang diyakini
oleh para almarhum diamini oleh banyak kalangan. Tidak sedikit tokoh
datang menjenguk ke bui, memberikan simpati dan dukungan moril serta
menyampaikan doa. Di beberapa keluarga, desa dan pesantren, ketiganya
tetap dianggap para syuhada yang diyakini akan dijemput oleh puluhan
bidadari melalui wasilah pelor yang menembus tubuh mereka. Prosesi
kematian yang diracik oleh para petugas juga mengesankan seolah harus
disiapkan dengan seksama, tidak kalah dengan prosesi kematian yang
dihadapi seorang Saddam Hussein.
Sadar atau tidak, sengaja atau
pura-pura, diminta atau jalan dengan sendirinya, kita semua telah
membesarkan nama ketiga pelaku bom Bali, 12 Oktober 2002. Telah terjadi
suatu pembelokan pemahaman terhadap para pelaku. Orang pun bisa menjadi
tiba-tiba iba dan bersimpati serta melupakan kekejaman yang pernah
dilakukan.
Lihatlah, setelah mereka divonis dengan hukum mati
beberapa saat setelah ditangkap, isu yang berkembang dan melingkupi
menjadi berubah. Betul-betul menjauh dari esensi yang semestinya terus
dihembuskan. Beragam isu menyimpang dan tidak terarah itu setidaknya
ada 8.
Pertama, apakah mereka akan mendapat keringanan hukuman
atau tidak? Kedua, apakah hukuman mati itu masih tetap relevan dan
manusiawi? Ketiga, benarkah mereka ini akan menjadi para syuhada yang
langsung masuk surga? Keempat, kematiannya diulur-ulur untuk menangkap
teroris yang lain. Kelima, terajut kesedihan dari waktu ke waktu yang
dialami oleh keluarga di Tenggulun misalnya. Keenam, apakah bom akan
bermunculan kalau eksekusi dilakukan? Ketujuh, kapan waktu yang tepat
untuk eksekusi? Kedelapan, bagaimana prosesi pengamanan dan penyampaian
jenazah kepada keluarga? Perlukah memakai helikopter atau cukup pakai
ambulan? Dan masih banyak lainnya.
Beragam isu yang menyimpang
di atas terus berhembus dari hari ke hari, bulan ke bulan dan tahun ke
tahun. Media massa keasyikan dengan isu terbaru dan melupakan esensi
pengeboman. Pemerintah juga seakan lupa mengemas berita tiga teroris
tersebut menjadi berita yang "mengingatkan". Bahkan, ketika
memberitakan eksekusi ketiganya, CNN pun menayangkan wajah close up
ketiga teroris tersebut dengan wajah segar. Seolah tidak pernah terjadi
apa pun.
Peringatan bom Bali yang dilakukan setiap 12 Oktober di
Ground Zero Bali seolah tidak mendapatkan publikasi memadai. Perasaan
pedih seolah hanya tinggal dirasakan oleh para keluarga korban.
Kekejaman 6 tahun lalu telah menguap dan tidak bisa dirasakan lagi.
Padahal, waktu itu dunia terguncang, semua orang mengutuk, Indonesia
dituduh menjadi sarang teroris, masyarakat muslim menjadi kikuk,
ekonomi tambah terpuruk.
Bukankah setelah bom Bali muncul
bom-bom lainnya yang saling terkait. Berderet-deret dari Bali hingga
Jakarta. Darah dibuat berceceran di mana-mana. Pemerintah khususnya
polisi menjadi kalang kabut. Didirikan Jakarta Centre for Law
Enforcement Cooperation. Membuat jaringan Interpol lebih baik. Terus
memburu para teroris potensial. Dan, akhirnya ratusan orang harus masuk
bui karena tuduhan terkait dengan jaringan terorisme.
Orang lupa
bahwa bila tidak ada kelompok pengebom seperti itu, kita pasti sudah
lebih maju dan lebih makmur. Setidaknya banyak hal yang sudah bisa
dilakukan untuk memperbaiki ekonomi yang masih carut marut. Bayangkan
saja, pada 2002 Indonesia masih termehek-mehek mengatasi krisis ekonomi
yang meledak lima tahun sebelumnya. Kehancuran pariwisata Bali dan
Indonesia pada umumnya telah mengempiskan devisa yang mestinya sangat
berharga. Belum lagi, setelah itu bom masih bermunculan dan terus
menghardik keamanan dan ekonomi nasional.
Sayang, kemasan yang
kurang pas tentang sepak terjang para teroris tersebut telah membuat
ingatan sebagian masyarakat akan kekejaman ketiganya sirna. Liputan
berlebihan dan tidak fokus oleh media massa menjadikan ketiganya
selebriti baru. Jujur saja, kita memang harus lebih banyak belajar
tentang public relations agar tidak terjerumus ke dalam lubang yang
kita siapkan sendiri.
Moskow, 9 November 2008
Drs M Aji Surya, SH, MSi adalah warga negara Indonesia yang tinggal di Moskow,
Rusia