Ya,persis seperti pengalaman Bang Sutan dgn kakak kawan awak itu hahaha..,
Moga Bang Sutan segera menemukan penggantinya:)

-Bobby

On Sat Feb 13th, 2010 9:53 PM CST Sutan Sinar Situmorang wrote:

>heheheh Bob... kayak pengalam aku juga Bob... kau tahulah sama siapa itu
>
>--- On Thu, 2/11/10, BOBBY FORMULA <[email protected]> wrote:
>
>From: BOBBY FORMULA <[email protected]>
>Subject: [KBMSB] Ada Cerita di Kedai Tuak Martohap
>To: [email protected]
>Date: Thursday, February 11, 2010, 8:20 AM
>
>
>
>
>
>
>
> 
>
>
>
>  
>
>
>    
>      
>      
>      on ma goarna cinta mallabab =))
>garing2 sebelum kerja,yak... .
>
>-bobby
>
>Ada Cerita di Kedai Tuak Martohap 
>
>Cerpen
>                                                                               
>      Timbul Nadeak  , sumber: Kompas
>
>Di Kedai Tuak Martohap selalu ada beberapa orang lelaki—biasanya 4
>sampai 5 orang—yang bercakap-cakap sambil minum tuak. Selalu ada cerita
>yang mereka percakapkan. Sesekali mereka tertawa terbahak-bahak. Karena
>mereka bercakap-cakap dengan suara tinggi, maka semua tamu di kedai
>tuak itu tahu apa yang sedang mereka tertawakan. Tapi ada pula cerita
>yang mereka percakapkan dengan suara rendah. Kalau bercakap-cakap
>seperti itu, mereka pasti menggeser gelas dan botol tuak masing-masing
>ke tengah meja agar dapat menyimak sambil melipat kedua tangan di atas
>meja.
>Dua jam sebelum tengah malam, biasanya Pita mulai sibuk mengelap
>sisa-sisa makanan dan tuak yang tertumpah di atas meja. Membersihkan
>dan merapikan kursi-kursi merupakan isyarat bahwa dia sedang
>bersiap-siap untuk menutup kedai tuaknya. Satu atau dua orang tamu yang
>masih berada di kedainya harus bersiap-siap pula untuk pulang. Tapi
>pada malam itu, ada seorang lelaki beruban yang tidak menunjukkan
>tanda-tanda akan beranjak dari kursinya.
>Pita tersenyum ramah ketika mengamati
>sosok lelaki itu. Tak lama kemudian, senyumnya hilang seketika. Dia
>terkesima. Sekujur tubuhnya sempat bergetar ketika lelaki beruban itu
>membalas tatapannya.
>Pita merasa pernah mengenali wajah lelaki itu. Bahkan pernah
>mengenali tatapannya. Dia ingin segera berlari ke kamarnya untuk
>membuka album masa mudanya. Dia ingin memastikan bahwa wajah lelaki
>beruban itu adalah wajah tua milik seorang pemuda yang pernah
>dikenalnya. Wajah yang sesekali masih mampu menggelorakan rindunya.
>Pita tetap melanjutkan pekerjaannya dengan kepala tertunduk. Ada
>rasa cemas yang tiba-tiba menyergap dirinya sehingga dia segan melirik
>lelaki itu, tapi nalurinya memberitahukan bahwa mata lelaki itu sedang
>mengamati wajahnya, rambutnya, dan sekujur tubuhnya.
>”Aku pernah mengenal seseorang yang mirip kau.”
>Pita menoleh. Tanpa disadarinya, ternyata lelaki itu telah berdiri di dekatnya.
>”Sekarang aku hanya bisa mengenangnya.”
>Pita membisu, tetapi dadanya bergemuruh.
>”Maaf, aku telah mengganggu pekerjaanmu. Agar kau tak terganggu, aku
>akan menunggu hingga kau menyelesaikan pekerjaanmu. Setelah itu,
>berilah aku kesempatan untuk bicara.”
>Setelah semua meja dibersihkan dan kursi-kursi ditata kembali, Pita menguatkan 
>hatinya untuk duduk di hadapan lelaki itu.
>”Apa yang ingin kau bicarakan?”
>”Tentang seorang perempuan di masa mudaku, dulu.”
>”Apakah kau merasa aku pernah mengenalmu?”
>Lelaki itu mengangguk, lalu bertanya, ”Apakah suamimu bernama Martohap?”
>Pita membisu.
>”Atau anakmu yang memiliki nama itu?”
>Pita menggeleng.
>Lelaki itu menarik napas panjang. Ada kelegaan terbias di wajahnya.
>Lalu dia berkata dengan santun, ”Aku tidak suka minum tuak. Aku mampir
>karena membaca papan nama di depan kedai tuakmu ini. Nama siapa yang
>kau gunakan?”
>Pita menunduk. Walau telah berhasil memendam cintanya, dia tetap merasa malu 
>untuk menjawab pertanyaan itu.
>”Apakah itu nama seorang lelaki yang pernah kau cintai?”
>”Apakah kau pernah mencintai seorang perempuan?”
>Lelaki itu terdiam sejenak. Dahinya berkerut. Lalu dia berkata,
>”Maaf karena aku sangat lancang bertanya. Mengapa kau namai Martohap?
>Bukankah nama Songgop lebih berarti untukmu?”
>Sekujur tubuh Pita mulai menggigil.
>”Apakah kau pulang untuk perempuan yang kau cintai itu?”
>”Aku tidak pulang. Aku datang!” jawab lelaki itu. Matanya menatap tajam.
>”Aku yakin bahwa kau mengenal perempuan yang kumaksud. Kira-kira dua
>puluh lima tahun yang lalu, perempuan itu diperistri oleh anak Kepala
>Kampung ini,” sambungnya.
>Pita membisu kembali. Napasnya tersendat.
>”Namaku Martohap.”
>Pita bangkit dari kursinya. Ditinggalkannya lelaki itu.
>Di dalam kamarnya yang terletak di belakang kedai tuaknya, dia tak
>mampu menahan air matanya walaupun tak tahu pasti apa sesungguhnya yang
>dia tangisi. Apakah dia menangis karena terharu akan pertemuan itu atau
>menangis karena menyesal telah memberikan hatinya kepada lelaki itu.
>Gara-gara lelaki itu, tak ada lagi hati yang tersisa untuk dia berikan
>kepada lelaki lain.
>Tahun demi tahun telah dilaluinya dalam kesendirian. Dinikmatinya
>kesendirian itu sambil menunggu lelaki itu pulang untuk mengembalikan
>hatinya. Nama lelaki itu digunakannya menjadi nama kedai tuaknya.
>Setiap orang yang melewati kedai tuaknya dapat membaca nama itu dengan
>jelas. Dia memang ingin menyapa dan mengundang lelaki yang memiliki
>nama yang sama untuk singgah di kedai tuaknya.
>Di dalam hatinya, Pita berkali-kali menyebut nama Tuhannya. ”Tuhan,
>akhirnya kau kirimkan lelaki itu untuk menemuiku. Terima kasih Tuhan,
>mendekati usia senja aku masih sempat melihat wajahnya.”
>
>***
>Dua puluh lima tahun yang lalu, Pita sering termenung
>menimbang-nimbang perasaannya. Rencana pernikahan itu membuatnya resah
>dan marah. Berulang-ulang kali pula dia bertanya dalam hati, apakah aku
>benar-benar tega menistakan kehormatan yang telah berada dalam
>genggaman orangtuaku?
>Seminggu sebelum pesta pernikahannya dilaksanakan, terjadi
>demonstrasi besar-besaran yang menuntut agar sebuah pabrik bubur kertas
>ditutup. Masyarakat dari empat kampung di sekitar lokasi pabrik bubur
>kertas itu bergerak serentak menebangi pohon-pohon di hutan tanaman
>industri. Batang-batang pohon itu diseret untuk memalang jalan.
>Dahan-dahannya dibiarkan berserakan di tengah jalan. Pohon besar di
>pinggir jalan, yang batangnya berdiameter setengah meter, turut
>ditebang untuk memalang jalan. Bahkan batu gunung dilinggis
>beramai-ramai hingga menggelinding ke tengah jalan. Ribuan masyarakat
>berdiri di pinggir jalan sambil membawa spanduk-spanduk tuntutan
>mereka, ”Jangan biarkan bau busuk merusak kehidupan kami”. ”Stop
>menebar racun di Tanah Toba!”.
>Truk-truk pengangkut kayu terpaksa berhenti. Terjadi antrean panjang
>lebih dari 10 jam. Penumpang-penumpang bus lintas Sumatera terpaksa
>turun untuk membantu aparat kepolisian dan TNI. Mereka bekerja sama
>menyingkirkan batang-batang pohon yang menghalangi jalan.
>Dua hari setelah demonstrasi itu, orang-orang asing berseragam dan
>berbaju preman terlihat hilir-mudik ke luar-masuk kampung. Masyarakat
>saling berbisik. ”Kepala Kampung dituduh sebagai penggerak demo.”
>”Beberapa anggota masyarakat sedang dicari.”
>”Yang dicap sebagai tokoh harus segera bersembunyi!” Dan calon
>mertuanya sempat menghilang beberapa hari. Ada yang mengatakan sedang
>ditahan, tapi berita-berita di televisi mengatakan sedang diinterogasi.
>Beberapa hari kemudian, Kepala Kampung kembali terlihat sibuk
>mengadakan rapat dengan masyarakatnya.
>Hari pernikahan itu tentu urung dilaksanakan, tapi tepat pada hari
>itu tersiar kabar pengangkatan kepala kampung yang baru. Masyarakat
>kembali berbisik-bisik.
>”Kepala kampung yang baru itu langsung ditunjuk oleh pemerintah.”
>Pada saat yang sama, calon mertua Pita menyatakan tak akan mundur dari
>jabatannya. Sejak saat itu demonstrasi yang dilaksanakan terpecah dua.
>Ada kubu yang mendukung. Ada kubu yang menolak. Dan sejak saat itu
>pula, Songgop, pemuda yang akan menikahinya menghilang. Dia dicap
>sebagai salah seorang aktivis yang membantu bapaknya mempersiapkan
>demonstrasi besar-besaran itu.
>Martohap juga menghilang. Masyarakat di kampungnya menganggap dia
>melarikan diri karena kalah memperebutkan Pita, si perempuan kampung
>yang cantik dan cerdas. Tapi Pita menganggap Martohap yang menjadi
>pemenang. Dia telah mencicipi manisnya bibir pemuda itu.
>Bibir Martohap memang telah membuat kuncup bunga di hati Pita mekar
>bersamaan waktunya dengan sukaria pemuda dan pemudi sekampungnya. Pada
>malam itu, mereka sedang menghias sebuah pohon cemara menjadi pohon
>Natal. Beberapa pemuda-pemudi sibuk menyelipkan kabel lampu-lampu kecil
>di antara daun-daun di sekeliling pohon. Tapi Pita memilih untuk
>membantu Martohap menyangkutkan hiasan-hiasan salib dan
>serpihan-serpihan kapas. Ketika pekerjaan mereka selesai, semua lampu
>gereja dimatikan. Kegelapan menyelimuti mereka. Di balik rimbunnya
>pohon Natal, Martohap segera merengkuh dan mendekap tubuh Pita
>erat-erat. Sebelum seseorang mencolokkan kabel ke stop kontak di dekat
>altar gereja, pemuda itu telah selesai menciumnya. Ketika lampu-lampu
>pohon Natal itu menyala indah berkelap-kelip, Pita dan Martohap saling
>tatap penuh makna. Dan Songgop menatap curiga!
>Dua tahun setelah demonstrasi besar-besaran itu, Songgop kembali ke
>kampungnya. Dia pulang bersama seorang bayi berumur beberapa bulan.
>Bayi itu berada dalam gendongan seorang perempuan yang telah
>dinikahinya di Tanah Karo.
>
>***
>Sebelum tengah hari Pita membuka kedai tuaknya. Tak lama kemudian
>dua orang lelaki masuk dan segera membuka papan catur yang selalu
>tersedia di atas sebuah meja. Tapi sebelum menyusun buah caturya, salah
>seorang menyapa.
>”Tadi malam kulihat kau bercakap-cakap dengan seseorang. Siapa dia?”
>Pita sempat tergagap sebelum menjawab, ”Dia pendatang yang sedang mencari 
>seseorang.”
>”Siapa yang dicarinya?”
>”Katanya adiknya,” jawab Pita sekenanya.
>”Ah, kok bisa dia kehilangan adik? Sudah berapa lama dia merantau?”
>”Aku tak tahu!”
>Lelaki itu terdiam sejenak. ”Aneh juga. Kau lama bercakap-cakap
>dengan dia, tetapi tak tahu berapa lama dia sudah merantau.” Dahinya
>berkerut. ”Sudah kau suruh bertanya ke Kepala Kampung?” sambungnya.
>”Sudah. Kupikir, sekarang dia sedang menemui Kepala Kampung.”
>Lelaki itu berpaling dan mulai melangkahkan buah caturnya.
>Di dapur kedai tuaknya, Pita termenung. Dia menyesal telah
>berbohong, tapi kalau berkata jujur, dia mungkin akan lebih menyesal.
>Mereka akan bertanya, dan bertanya… hingga bisa merangkai sebuah
>cerita. Lalu dia akan selalu curiga bila gelas-gelas dan botol-botol
>tuak terkumpul di tengah meja. Akan semakin curiga bila mereka
>bercakap-cakap dengan suara rendah. Akhirnya terusik ketika mereka
>tiba-tiba tertawa terbahak-bahak. Dia akan ditertawai di kedai tuaknya
>sendiri. Kalau merasa sungkan, mungkin mereka akan pergi ke kedai tuak
>orang lain dan terbahak-bahak di sana!
>Pita pernah menegur. Dia tahu, saat itu mereka sedang mempercakapkan
>seorang perempuan yang sudah berumur, tetapi belum pernah dinikahi.
>Walaupun bukan dirinya yang sedang mereka percakapkan, tetapi hatinya
>cemas. Sebelum mereka tertawa, dengan lantang dia menegur, ”Sudahlah!
>Jangan mempercakapkan cerita seperti itu. Apa kalian tak ingin menjaga
>perasaanku?!”
>Tegurannya membuat cerita yang sedang mereka percakapkan dianggap
>telah selesai. Biasanya, cerita baru dianggap selesai beberapa menit
>sebelum kedai tuak itu tutup. Tapi kadang-kadang ada juga cerita yang
>bersambung ke malam berikutnya. Bila terjadi seperti itu, biasanya
>seseorang dari malam sebelumnya dituntut untuk mengulang apa yang telah
>dipercakapkan. Jadi selalu ada cerita yang dipercakapkan karena
>orang-orang yang bercakap-cakap pada malam berikutnya, belum tentu
>semua sama dengan orang-orang yang bercakap-cakap pada malam sebelumnya.
>
>***
>Setelah semua meja dibersihkan dan kursi-kursi ditata kembali, Pita
>kembali menguatkan hatinya untuk duduk di hadapan lelaki beruban itu.
>”Mengapa kau datang lagi?”
>”Untuk melihat siapa yang membantumu menutup kedai tuak ini.”
>”Aku sendiri yang melakukannya.”
>”Mengapa suami atau anakmu tak ikut membantu?”
>”Aku belum pernah menikah.”
>Martohap terkejut. Matanya sempat berbinar. Dia baru tahu kalau
>pernikahan itu tak pernah dilaksanakan, padahal rencana pernikahan itu
>yang membuat dia mempertaruhkan nasibnya di perantauan dan selama dua
>puluh tahun membuatnya takut untuk pulang.
>Walau membisu, Martohap tetap mengamati wajah yang dulu sangat
>dikaguminya. Dulu? Tidak! Tidak! Bantah hatinya seketika. Sekarang pun
>dia masih tetap mengaguminya. Dia memang sangat mengagumi perempuan
>yang tulus dan tegar. Apalagi bila perempuan itu telah membuktikan
>dirinya tulus menikmati kesendiriannya. Tegar mengikuti perjalanan
>hidupnya.
>”Aku pun belum pernah menikah.”
>Pita terbelalak. Untuk apa dia mengatakan itu? Tentu dia tidak
>sedang merayu, katanya dalam hati. Lalu dia tersenyum kecil. Dia tahu,
>Martohap memang tidak bisa merayu. Lelaki itu lebih suka berpikir dan
>bertindak.
>”Apakah seseorang yang telah menjalani kesendirian selama puluhan
>tahun berani menjalani kebersamaan di bagian akhir masa hidupnya? Bila
>mengenang cerita cinta sudah terasa indah, mengapa perlu mempertaruhkan
>kebersamaan? Bila kebersamaan itu akhirnya ternyata menyakitkan,
>bukankah nikmatnya kesendirian akan menjadi sia-sia? Padahal
>kesendirian itu telah dinikmati hingga usia menjelang senja. Tak lama
>lagi kematian akan datang untuk memisahkan kebersamaan. Mungkin naif
>bila kusimpulkan, semakin tua menjalani kesendirian, semakin takut
>menghadapi kebersamaan.”
>”Untuk apa kau katakan itu?”
>”Karena aku ingin pulang.”
>”Pulanglah!” kata Pita ketus. Hatinya meradang. Dengan sigap dia
>bangkit dari kursinya. Ditinggalkannya lelaki itu sebelum air matanya
>sempat menetes.
>Martohap terkesima. Matanya nanar menatap atap kedai tuak yang tak
>berlangit-langit itu. Lalu dia merogoh saku bajunya dan meletakkan
>sebuah amplop di atas meja. Langkahnya gontai ketika meninggalkan kedai
>tuak yang telah sepi itu.
>
>***
>Seperti biasanya, dua jam sebelum tengah malam, Pita selalu sibuk
>mengelap sisa-sisa makanan dan tuak yang tertumpah di atas meja. Dia
>masih tetap sendirian membersihkan dan merapikan kursi-kursi kedai
>tuaknya. Setelah menutup kedai tuaknya, sesekali dia membuka amplop
>yang ditinggalkan Martohap. Lalu dibacanya surat pendek itu untuk
>kesekian kalinya, ”Pita, hingga sekarang aku tetap mencintaimu! Aku
>berbahagia karena tak ada orang yang berhak melarangku untuk berhenti
>mengenangmu!”
>Pita mengangkat kepalanya. Ditatapnya kegelapan malam. Lalu bibirnya
>tersenyum. Ada segumpal kebahagiaan ketika dia membayangkan seorang
>lelaki beruban yang tak pernah berani melamarnya.* **
>
>Menteng Metro, Des 2009.
>
>      Yahoo! Toolbar is now powered with Free Anti-Virus and Anti-Adware 
> Software.
>
>Download Yahoo! Toolbar now!
>
>
>    
>     
>
>    
>    
>
>
> 
>
>
>
>  
>
>
>
>
>
>
>      


      
_______________________________________________________________________________
New Email addresses available on Yahoo!
Get the Email name you&#39;ve always wanted on the new @ymail and @rocketmail. 
Hurry before someone else does!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/my/

Kirim email ke