Bagaimana tanggapan rekan-rekan terhadap cerita dibawah?
Thanks.
Handoyo

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Kisah Dewa Kematian
(dikutip dari sebuah buku spiritual) 

Guru pembimbing utama saya, ---censored--- banyak menjelaskan tentang 
tugas-tugas dari para malaikat, dewa-dewi dan para mahluk suci yang 
ditentukan oleh ---censored---. Setiap malaikat dan dewa-dewi mempunyai tugas 
penting yang khusus sesuai dengan tingkatan masing-masing. Dimana perintah 
dari ---censored--- selalu dijunjung tinggi. Salah satu tugas yang cukup 
menarik adalah tugas dari malaikat pencabut nyawa yang lebih di kenal sebagai 
sepasang dewa kematian, yang oleh beliau selalu di namakan si Hitam dan si 
Putih.

Pasangan malaikat pencabut nyawa, si Hitam dan si Putih mempunyai tugas 
membawa dan mengawal roh awal dari para mahluk yang telah tiba ajalnya. 
Bilamana pada masa hidupnya, orang ini telah mengumpulkan banyak karma baik. 
Si Hitam dan si Putih akan menjelma menjadi mahluk yang luar biasa indahnya, 
dan menarik roh orang tersebut dengan halus tetapi cepat sekali, kedua dewa 
ini membantu agar orang tersebut dapat melepaskan ikatan rohnya tanpa harus 
merasakan sakit yang lama. Walaupun demikian, rasa sakit yang dirasakannya 
tetap tidak dapat digambarkan dengan kata-kata.

Sebaliknya bilamana pada masa hidupnya orang ini telah melakukan banyak karma 
buruk, si Hitam dan si Putih menjelma sebagai mahluk yang sangat mengerikan 
dan akan menarik roh orang tersebut dengan kasar dan perlahan-lahan. Orang 
ini akan mengalami proses kematian yang sulit dan rasa sakit yang luar biasa. 
Sungguh suatu penderitaan awal yang sulit dibayangkan.

---censored---, sejak berumur lima tahun telah mempunyai hubungan yang baik 
dengan kedua malaikat pencabut nyawa. Hubungan beliau yang sejak kecil ini 
sangat terkenal tidak hanya terkenal didalam dunia manusia, tetapi hingga 
didunia spiritual. Kisah kedua malaikat ini banyak saya dengar dari beliau. 
Untuk ini saya mempersembahakan sebuah cerita tentang sepasang malaikat 
pencabut nyawa. Semoga para umat dapat memetik hikmah dari kisah ini.

Alkisah seorang nenek tua yang tinggal seorang diri di kaki gunung wilayah 
Hua-Lien. Seluruh keluarga dari nenek ini telah meninggal dunia pada suatu 
wabah yang menimpa desanya beberapa tahun yang lalu.

Setiap hari nenek ini bekerja mencari kayu bakar untuk dijual dipasar. Sebelum 
matahari terbit, dia sudah pergi ke atas gunung untuk mengumpulkan kayu 
bakar. Di pagi hari dia harus sudah tiba di pasar untuk menjual kayunya. Lalu 
uang hasil penjualan kayunya dibelanjakan untuk kehidupan sehari-harinya. 
Tubuh nenek ini sudah sangat bongkok sekali, karena harus meminggul kayu 
bakar yang berat.

Suatu hari si nenek jatuh sakit, tetapi si nenek tetap memaksakan untuk pergi 
ke gunung mencari kayu bakar. Ketika hendak turun gunung nenek tidak kuat 
lagi menahan sakitnya dan berkata dalam hati: "Diriku sudah tua dan selalu 
menderita sakit. Umurku tidak lama lagi. Semoga pada saat kematian nanti, 
saya tidak merasakan sakit lagi.".

Si Hitam dan si Putih rupanya mendengar permohonan nenek ini, si Hitam dan si 
Putih merasa kasihan akan penderitaan sang nenek karena harus bekerja keras 
setiap hari tanpa hentinya walaupun telah sakit-sakitan. Mereka kemudian 
memutuskan untuk membantu sang neek dengan mempercepat ajal sang nenek agar 
sang nenek dapat terbebaskan dari penderitaannya setiap hari.

Mereka lalu menampakkan diri, dan menanyakan nenek itu: "Nenek, saya dapat 
membantu permohonan nenek."

Nenek sangat terkejut melihat si Hitam dan si Putih dihadapannya, dengan 
ketakutan berkata,"Saya… tidak ingin mati, saya…. masih mau hidup."

Lalu sang nenek mengangkat kayu bakarnya yang berat , dan berlari cepat 
meninggal si Hitam dan si Putih. Rupanya nenek ini tidak merasakan sakitnya 
lagi karena ketakutannya akan kehadiran kedua malaikat pencabut nyawa.

Si Hitam dan si Putih merasa sangat heran, bukankah tadi sang nenek memohon 
agar dapat meninggal tanpa harus merasakan sakit. Setelah permohonannya akan 
dikabulkan, ternyata sang nenek malah menolaknya dan ingin tetap hidup 
walaupun mengalami penderitaan dan kesakitan setiap harinya.

Kisah ini mempunyai banyak makna yang tersembunyi, kiranya salah satu makna 
yang akan saya jelaskan adalah tentang masalah menjelang kematian.

Datangnya kematian yang menjemput setiap mahluk, melalui berbagai macam cara 
dan proses yang beraneka ragam. Ada yang melalui usia tua, sakit, tidak sadar 
diri, musibah kecelakaan, terbunuh, dan bahkan di saat meditasi, dsb.

Semua manusia akan meninggal, hanya cara dan prosesnya yang berbeda-beda. 
Proses kematian tergantung daripada banyak hal, seperti: unsur alam, waktu, 
keadaan lingkungan, karma atau perbuatan, kondisi tubuh, dsb. Apapun proses 
yang akan dihadapi saat menjelang kematian bukanlah hal yang harus ditolak 
atau dipaksakan, karena proses ketidak abadian ini tidak dapat dihindari.

Walaupun telah mengetahui akan kematian yang pasti akan tiba, manusia selalu 
mengangap bahwa kematian tidak akan datang secepatnya pada dirinya. Bila kita 
membaca koran, kita dapat melihat setiap hari adanya berita kematian yang 
datang setiap saat tanpa memperdulikan berapa lama usia manusia.

Banyak manusia dengan sombong berkata bahwa dirinya tidak takut menghadapi 
kematian. Bila saja mereka dapat melihat apa yang akan terjadi setelah 
kematiannya, tentu mereka tidak berani dengan sombongnya berkata demikian.

Lihatlah, Sang nenek walaupun selama hidupnya penuh dengan penderitaan yang 
luar biasa. Nenek ini juga tidak mempunyai anak-anak yang harus di urusnya, 
dan juga tidak ada harta maupun hutang yang menjadi beban. Boleh dikatakan 
tidak ada lagi kecemasan dan beban dunia yang memberatkan diri sang nenek ini 
dalam menghadapi kematian.

Tetapi ketika Dewa Kematian benar-benar hadir menjemputnya, sang nenek menjadi 
takut dalam menghadapi kematiannya. Walaupun dirinya telah diberitahukan 
bahwa kematiannya tidak akan sakit sedikitpun, nenek ini tetapi menolak 
kematiannya. Penderitaan sang nenek tidak dapat mengalahkan ketakutan akan 
datangnya saat kematian.

Bagaimana kita dapat berkata tidak takut menghadapi kematian, bilamana 
keterikatan akan duniawi masih melekat. Lagipula proses kematian kita belum 
di janjikan tanpa rasa sakit oleh Dewa Kematian.

Ketakutan sang nenek akan Kematian tidak lagi bersumber dari unsur luar maupun 
dari ikatan duniawi lagi. Ketakutan sang nenek disebabkan karena sang nenek 
ini tidak pernah siap dalam menerima kematiannya. Dirinya masih belum 
mempunyai kepercayaan dan kenyakinan akan apa yang akan terjadi dan bagaimana 
nanti setelah kematiannya.

Kiranya pesan dalam kisah nenek ini dapat terungkap. Saya mengingatkan kembali 
kepada para umat bahwa:

Menemui sang kematian adalah sangat mudah, karena kematian pasti akan datang. 
Dan menghadapi proses kematian juga merupakan hal yang mudah karena semua 
mahluk pasti akan menjalani dan mengalaminya. Tetapi menerima kelanjutan dari 
kematian adalah hal yang sangat sulit karena dibutuhkan suatu pembinaan, 
kepercayaan dan kenyakinan akan Dharma yang kuat.

Tetapi sesungguhnya yang lebih sulit adalah melampau proses kematian tersebut, 
karena hanya sedikit sekali para mahluk yang dapat melampau proses 
kematiannya dengan kesadaran yang  selalu jernih.



---------------------------------------------------------------------
Milis Kelenteng - Quan Shui
URL: http://lists.quanshui.org
Posting, email: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Kirim email ke