-------Original Message------- From: [EMAIL PROTECTED] Date: Friday, November 29, 2002 09:31:17 To: '[EMAIL PROTECTED]' Subject: [MUBI] Liao Fan (80 a) Nomor 80-a Apa itu kebajikan yang seolah-olah kebajikan dan kebajikan sebenarnya? Di masa Periode Musim Semi dan Musim Gugur, terdapat seorang bupati bernama Lu yang membuat sebuah peraturan, memberi hadiah kepada mereka yang membayar tebusan untuk membebaskan penduduk di sana yang menjadi budak. Di masa itu, Konfusius memiliki seorang murid yang sangat kaya bernama Zi Gong. Sekalipun Zi Gong membayar tebusan untuk membebaskan orang-orang ini, ia tidak mau menerima imbalan atas perbuatan itu. Contoh ini menjelaskan sukarnya membedakan antara "kebajikan sebenarnya dari kebajikan yang seolah-olah kebajikan." Kesulitan muncul karena standar orang biasa tentang perbuatan baik berbeda dari standar orang suci dan orang bajik. Bagaimana orang bisa menjadi budak di dalam rumah para bangsawan? Karena mereka telah melanggar hukum dan dikirim ke rumah berbagai bangsawan menjadi budak menjalani hukuman. Akan tetapi, pemerintah mengeluarkan sebuah aturan, yang menyatakan bahwa sepanjang ada orang yang bersedia membayar sejumlah uang, mereka bisa dibebaskan dan mendapatkan kembali kemerdekaannya. Ini merupakan perbuatan baik dan pemerintah mendorong para orang kaya untuk melakukan perbuatan baik dengan membayar tebusan bagi para pelanggar hukum itu. Tujuannya untuk menyediakan kesempatan bagi para pelanggar hukum untuk memperbaiki diri Karenanya, Zi Gong membayar tebusan bagi seorang budak sehingga ia dibebaskan dari rumah bangsawan, namun tidak mau menerima imbalan yang ditawarkan oleh pemerintah. Ketika mendengar kejadian ini, Konfusius sangat tidak senang hati, dan memarahinya sambil berkata, "Engkau telah berlaku salah dalam hal ini. Tatkala orang suci dan bajik melakukan sesuatu, mereka berjuang untuk memperbaiki moralitas, mengajar orang untuk menjadi baik dan bajik. Kita tidak melakukan sesuatu demi kepentingan diri sendiri atau reputasi. Di wilayah Lu, orang miskin lebih banyak dari orang kaya. Dengan menolak menerima imbalan, engkau membuat orang lain berpikir bahwa menerima imbalan adalah perbuatan serakah. Jika ini terjadi, tidak akan ada orang yang membayar uang tebusan untuk membebaskan orang lagi. Konfusius tidak senang hati terhadap perbuatan Zi Gong. Mengapa? Karena Zi Gong tidak melihat situasi itu sejernih orang bajik. Pengertian orang bajik atas benar dan salah kadang-kadang berbeda dengan pandangan orang rata-rata. Tujuan mereka adalah untuk memperbaiki perilaku sosial dan standar moral. Ajaran mereka diperuntukkan bagi semua orang, tidak hanya untuk individu tertentu saja. Perbuatan Zi Gong, dari sudut pandang individu, sangat luar biasa dan patut dipuji. Akan tetapi, ia menentang kondisi lokal dan merusak sebuah pola. Dan di situlah letak kesalahannya. Pada masa itu di wilayah Lu, orang miskin jauh lebih banyak dibandingkan orang kaya. Oleh karenanya, imbalan yang ditawarkan oleh pemerintah dirancang untuk membantu memotivasi penduduk secara umum. Karena Zi Gong menolak menerima imbalan, semua orang memujinya sebagai orang baik. Akibatnya, orang yang melakukan perbuatan yang sama, tidak akan berani menerima imbalan itu, karena jika menerimanya akan membuat orang lain berpikir ia berbuat baik cuma untuk menerima imbalan. Jika demikian halnya, maka tidak akan ada orang yang mau membayar tebusan untuk membebaskan budak lagi. Ini akan menghancurkan sistem yang dibangun oleh pemerintah. Jika tujuannya adalah untuk mendorong setiap orang untuk berbuat baik, maka Zi Gong seharusnya menerima imbalan itu, bukan untuk kepentingan pribadi, namun untuk membawa manfaat bagi orang banyak. Ini menunjukkan bagaimana orang suci dan bajik memahami sesuatu berbeda dari orang rata-rata. .
--------------------------------------------------------------------- Milis Kelenteng - Quan Shui URL: http://lists.quanshui.org Posting, email: [EMAIL PROTECTED] Subscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
