-------Original Message------- From: [EMAIL PROTECTED] Date: Thursday, December 12, 2002 10:11:09 To: [EMAIL PROTECTED] Subject: [MB] Hidup jenaka dalam Dharma (7) Aku adalah engkau, engkau adalah Dia Lama sepeninggal Sang Buddha, para siswaNya mulai membuat penafsiran mengenai ajaranNya, sehingga terbentuklah aliran yang bermacam macam. Masing masing pengikut mengklaim bahwa cara dan jalan yang dianutnya adalah yang paling sesuai dengan ajaranNya. Tersebutlah ada dua orang bhikkhu yang saling bersahabat, meskipun mereka berbeda aliran. Tapi pada suatu hari mereka mulai memperdebatkan cara dan jalan masing masing. Setelah adu mulut panjang lebar, dalam tempo panjang, mereka masing masing mulai lelah, disamping waswas akan kehilangan persahabatan yang telah terbina sejak lama. Maka kata salah seorang dari mereka: "Baiklah kawan, agar tidak menjadikan persahabatan kita putus, kita tidak usah berdebat lagi. Kita masing masing mengalah saja. Mulai sekarang silakan engkau melaksanakan cara dan jalanmu, sementara aku akan melaksanakan cara dan jalanNya". Dan kemudian meninggalkan lawan bicaranya. <><><><><><><><><><><><><><><><><><> (catatan: dalam percakapan lisan tentu saja tidak ada beda antara 'Nya' dan nya', sehingga percakapan di atas dapat menimbulkan persepsi yang sedikit beda) Dua orang bhikkhu bertengkar tentang cara dan jalan? Ah, tentu mereka belum sepenuhnya memahami Dharma. Mungkin demikian tanggapan anda. Kenyataannya, banyak sekali perdebatan terjadi, karena kita masing masing menganggap diri kita paling benar. Mulai dari tata cara perletakan rupang, masalah pembunuhan berantai terhadap kutu atau kuman, ataupun bahkan sampai hakekat keBuddhaan itu sendiri. Perdebatan yang akhirnya dapat menjurus ke masalah pribadi masing masing, yang bahkan sama sekali tidak berhubungan dengan masalah awal. (Dan diakhiri dengan berhamburannya isi kebun binatang) Ada sebuah dalil hipotetis, yang berbunyi: Manusia membutuhkan energi untuk eksistensinya. Meskipun tersedia sumber energi yang tak terbatas, tetapi karena tidak tahu cara untuk mengaksesnya, maka manusia saling berebut dengan sesamanya. Ada dua cara dalam merebut energi dari orang lain. Secara aktif melalui pemaksaan dengan kata kata atau perbuatan untuk menunjukkan superioritas dan melalui cara cara menyelidiki / mencari kesalahan orang lain. Secara pasif melalui sikap diam/ tak bereaksi dan melalui sikap 'diri yang malang'; seseorang berusaha menimbulkan simpati dari orang lain, baik melalui perbuatan atau kata kata. Perdebatan adalah salah satu cara perebutan energi yang mengasyikkan. Pemenang perdebatan dapat tampil bermegah diri, karena berhasil merebut sejumlah energi dari lawan debatnya. Sementara yang kalah akan lemas lunglai. Anda lihat, bahwa sikap diam dan mengalahpun adalah juga sebentuk perlawanan jika tidak diikuti pikiran benar. Mengapa? Karena Buddhadharma mengajarkan bahwa karma didahului oleh kehendak, kehendak didahului oleh keinginan, keinginan didahului oleh pikiran. Seseorang dapat berbuat dengan pikirannya, jauh sebelum tindakan nyata dilakukan. Lagipula pikiran yang kita simpan ini , bagaikan tabungan, lama kelamaan membesar, dan suatu saat dapat muncul tanpa kita sadari, sehingga akibatnya lebih parah lagi. Lalu apa sumber energi yang tak terbatas tersebut? Adalah energi cinta kasih (metta). Tidak usah jauh jauh, kita masing masing mempunyai, tapi sering tidak menyadari dan tidak tahu cara mengaksesnya. Inilah yang disebut benih keBuddhaan yang terdapat pada setiap mahluk hidup. Tentunya bukan kebetulan jika kita mengenal metta-bhavana, tapi tidak mengenal misalnya karuna-bhavana atau upekkha-bhavana? Karena semua dasarnya adalah metta. Cintakasih adalah pondasi dasar praktek Buddhadharma. Jika kita terhubung dengan sumber tersebut, maka tidak perlu lagi saling berebut. Tentu saja tidak semua perdebatan tidak berguna. Sang Buddha sendiri sering juga melayani perdebatan, tetapi dalam maksud untuk mengajar, sehingga si pendebat akhirnya menyadari kesalahannya. Juga acapkali dalam suatu perdebatan, akhirnya justru ditemukan sintesa, yang menghasilkan hal hal baru yang bermanfaat, seperti ucapan filosuf Yunani, Heraklitos, bahwa perang adalah bapak realitas. (Dan sudah pasti kita tidak harus 'berperang' dulu agar mendapatkan ide baru.) Dalam tradisi Buddhis -Yogacara dan Madyamika- guru dan murid juga terlibat dalam perdebatan yang terus menerus tentang Dharma. Semakin sering berdebat semakin mereka mendapat penerangan, sehingga akhirnya dapat memahami semua konsep dan filosofi Buddhis, dan secara alami semua kekotoran batin akan terkikis. Akan tetapi, jenis latihan seperti ini hanya mungkin dilakukan jika kita punya waktu setiap saat, banyak rekan latihan, dan sedikit gangguan. Hal yang tak mungkin dilakukan praktisi awam di masa kini. Karena jika anda membayangkan saya bertemu anda setiap saat saja sudah sangat menjemukan. RENUNGAN: Janganlah engkau berkata ,aku telah menemukan Dharma Lebih baik merasa, aku menemukan bagian Dharma Jangan pula kauucapkan, aku menemukan Jalan Lebih baik bisikkan, aku menemukan sosok diri Yang senantiasa mencari Jalan Oleh sebab Dharma berjalan di setiap Jalan Tiada menuruti garis lurus, tiada melintang atau menyudut Tiada pula tumbuh liar bagai rumput Birana Sesungguhnya Dharma membuka kelopaknya Perlahan lahan helai demi helai Laksana sekuntum Teratai yang mekar indah Bermahkotakan 84.000 kelopak daun bunga Dan selembar kelopak yang engkau pegang Bukanlah bunga yang sebenarnya Meskipun demikian, jika hatimu berkata "Aku bukanlah si pemegang bunga melainkan akulah Sang Bunga" Sesungguhnyalah, engkau berada dalam Dharma TEKA TEKI: Kemana anda menuju, di sana anda berada. Nah, jika anda berjalan lurus ke arah Barat, ke mana anda akan sampai? ================================================================= Apakah kita hari ini sudah lebih baik dibanding kemarin? Apakah kita hari ini sudah lebih sabar dibanding kemarin? Apakah kita hari ini sudah lebih rajin dibanding kemarin? Apakah kita hari ini sudah lebih ramah dibanding kemarin? Apakah kita hari ini sudah lebih jujur dibanding kemarin? dst..... dst....... ============================================================== Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
--------------------------------------------------------------------- Milis Kelenteng - Quan Shui URL: http://lists.quanshui.org Posting, email: [EMAIL PROTECTED] Subscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
