Ini semua mengenai kehendak bebas, hanya ada dua pilihan : Hidup berpusatkan pada Sang Pencipta atau hidup berpusatkan pada diri sendiri.
Handi Kowan > -----Original Message----- > From: mangucup [SMTP:[EMAIL PROTECTED]] > Sent: Monday, January 06, 2003 9:10 AM > To: [EMAIL PROTECTED] > Subject: [Kelenteng] Perkawinan gajah & semut > > Pada saat pertama kali si semut bertemu dgn gajah, semut langsung jatuh > cinta, betapa tidak, gajah yg demikian gagah, besar dan kuatnya benar2 > kelihatan hebat sekali dimata si semut. Kebalikannya gajah pun demikian, > ia > merasa semut itu kecil mungil, tangkas, rajin dan cantik inilah dia wanita > dambaannya yg belum pernah ia ketemukan sebelumnya. Mereka benar2 saling > mencintai satu dgn yg lain berdasarkan kelebihan2 mereka dari sudut > pandangan matanya masing2. > > Walaupun banyak yg menentarng perkawinan mereka, karena perbedaan yg > sedemikian menyoloknya, tetapi mereka tetap memaksakan keinginan mereka > untuk menikah satu dgn yg lain dgn pemikiran kasih akan bisa mengatasi > segala macam problem, disamping itu seperti juga pepatah cinta itu buta. > Karena mereka yakin bahwa kasih sayang mereka itu tulus, maka > pernikahannyapun dilaksankan dan diberkati dirumah ibadah dgn janji dan > sumpah untuk sehidup semati. > > Tetapi setelah mereka menikah baru mata mereka terbuka, bahwa banyak > sekali > problem yg tidak mungkin akan bisa teratasi, karena perbedaan yg > sedemikian > drastisnya. Mulai dari sex s/d komunikasi maupun hubungan dgn keluarga. > Gajah tidak boleh datang menemui keluarga semut, karena badannya ke > gedean, > semut tidak bisa dtg ketempat gajah, karena tidak kelihatan. Begitu juga > dlm > hubungan sex. > > Mungkin masalah ini masih bisa teratasi kalau mereka masih bisa > berkomunikasi satu dgn yg lain. Kalau gajah berbicara, semut merasa > suaranya > kekerasan, sedangkan kalau semut bicara tidak bisa dimengeri oleh gajah > karena suaranya terlalu lembut. Disamping itu problemnyapun berlainan, > problem gajah berbeda dgn problem semut, oleh sebab itu gajah merasa si > semut tidak mau mengerti dan memahami problemnya demikian juga > kebalikannya. > > Akhirnya mereka hidup dgn saling membohongi satu dgn yg lain, mereka hidup > penuh dgn ke-pura2an, hanya demi keluarga, demi anak, demi status, demi > lingkungan dan demi agama. > > Sekarang tanyalah sama diri kita sendiri berapa banyak perkawinan di > sekitar > kita, bahkan mungkin yg sedang di alami oleh diri kita pribadi, seperti > halnya gajah dan semut. > > Si istri dahulu mengawini suaminya karena ia kaya, hebat, beken dll-nya, > walaupun mungkin adanya perbedaan agama, umur, suku maupun status bahkan > mungkin impotent. Kebalikannya suami dahulu mengawini istri, karena ia > cantik jelita, rajin, sayang suami, penuh pengorbanan dll-nya, tetapi > kenyataannya, istri tidak memiliki pendidikan seperti yg diharapkan oleh > suaminya, tidak bisa memberikan anak, agamanya berbeda, keluarga istri > tidak > mau menerima atau kebalikannya, kebudayaan maupun bangsa pun berbeda > sekali. > Suami tidak bisa memenuhi kebutuhan sex sang istri. > > Tentu dgn mudah kita bisa mengucapkan perkataan demi rasa kasih, mereka > harus bisa saling mengalah satu dgn yg lain, ini mudah di ucapkan tetapi > sukar dilaksanakan. Apakah saya harus pindah agama demi istri saya? Apakah > saya harus merubah kebiasaan hidup saya dari orang Asia menjadi orang > bule? > Apakah saya harus memaksakan keluarga saya untuk bisa menerima istri/suami > saya? Apakah saya bisa memaksakan suami untuk jadi kaya, muda dan ganteng > lagi? Apakah perasaan kasih itu bisa dipaksakan atau dirubah demi rasa > kesian ataupun demi tuntutan agama? > > Perasaan kasih adalah satu perasaan yg keluar dari hati dan perasaan kita. > Ini tidak bisa dipaksakan hanya demi agama, demi orang lain, demi anak, > demi > lingkungan maupun demi status. Walaupun agama menuntut saya tidak boleh > cerai, tetapi agama tidak bisa memaksa dan menuntut saya untuk mengasihi > seseorang. > > Yg menjadi pertanyaan saya kepada rekan2 maupun para pembaca semua, apa yg > harus dilakukan oleh si gajah dan semut! Apakah sebaiknya gajah memiliki > (WIL) wanita idaman lainnya hanya demi mempertahankan perkawinannya? > Apakah > semut harus ber-pura2 main sandiwara terus, memainkan peran sebagai > seorang > istri yg baik, walaupun sudah tidak ada rasa kasih di dlm hatinya? > > Agama bisa menuntut agar kita menjalani kehidupan sesuai dgn pilihan kita, > tetapi apakah agama bisa menuntut gajah dan semut untuk hidup dlm penuh > kebohongan dan ke-pura2an hanya untuk mempertahankan perkawinan dgn motto > yg penting tidak cerai karena ini melanggar hukum agama? Mana yg lebih > berdosa hidup penuh dgn ke-pura2an dan penuh dgn kebohongan maupun > kemunafikan, ataukah cerai dan pisah secara baik2? > > Walaupun hidup seperti di dlm neraka tanpa ada kebahagiaan dan rasa kasih, > tetapi karena demi anak, demi keluarga, demi status dan demi agama, kita > paksakan untuk hidup dlm penuh kebohongan dan kepura2an maupun > kemunafikan. > > Apakah boleh saya berterus terang mengkapkan kepada istri saya bahwa saya > sudah tidak menyayanginya lagi? Apakah boleh saya mengucapkan kepadanya > secara terus terang, bahwa sudah tidak ada lagi rasa kasih di dlm diri > ini? > Bahwa kita melakukan hubungan sex bukannya berdasarkan rasa kasih lagi, > melainkan karena hanya kebutuhan biologis saja, atau karena merasa > diwajibkan untuk melayaninya. > > Berapa banyak wanita yg mempertahankan perkawinannya walaupun sudah tidak > ada lagi rasa kasih, karena takut di tinggal oleh suami. Harta tidak > mereka > miliki, pendidikan maupun pekerjaan mereka tidak punya, sedangkan anak2 > masih kecil???? > > Apakah saya harus menerima dan bersabar terus menerus kalau istri/suami > lacur tiap hari, hanya demi status perkawinan? > > Agama banyak sekali memberikan peraturan dan larangan ini dan itu, tetapi > tidak memberikan jalan keluarnya, terkecuali jawaban standard ialah > berdoalah dan memohon kepada Sang Pencipta. Apakah Sang Pencipta mau > merubah > gajah jadi semut atau kebalikannya? > > Mohon pencerahan kepada semua rekan2 dan para pembaca yg saya hormati. > > Mang Ucup > Email: [EMAIL PROTECTED] > > > > > --------------------------------------------------------------------- > Milis Kelenteng - Quan Shui > URL: http://lists.quanshui.org > Posting, email: [EMAIL PROTECTED] > Subscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] > Unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] --------------------------------------------------------------------- Milis Kelenteng - Quan Shui URL: http://lists.quanshui.org Posting, email: [EMAIL PROTECTED] Subscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
