Kelenteng-kelenteng Tua dan Bersejarah

Tempat ibadah Kelenteng sudah ada di Indonesia sejak 400 tahun yang 
lalu. Tempat ibadah ini (yang kemudian oleh orang Indonesia disebut 
Kelenteng) merupakan tempat ibadah agama etnis Tionghoa - Buddha 
Konghucu dan Tao. Dalam perkembangan selanjutnya, agama ini dikenal 
dengan sebutan Tridharma. Banyak yang berasumsi bahwa kata Kelenteng 
merupakan adaptasi dari bahasa asing. Tetapi ternyata ini merupakan 
kata asli Indonesia. 

Ada dua versi cerita tentang asal mula kata Kelenteng. Yang pertama 
adalah bahwa kata Kelenteng berasal dari kata 'klinting' yang berasal 
dari genta yang dipukul pada saat upacara di Kelenteng. Yang kedua, 
Kelenteng berasal dari kata 'Yin Ting' dari kata 'Guan Yin Ting' yang 
artinya tempat ibadah Dewi Kwan Im. 

Profil Kelenteng-kelenteng tua dan bersejarah di seluruh Indonesia.

Asal mula kata Kelenteng. 
Kelenteng Jin De Yuan. Jakarta 
Kelenteng Da Bo Gong. Jakarta 
Kelenteng Wan Jie Si. Jakarta 
Kelenteng Sam Po Kong. Semarang 
Kelenteng Boen Tek Bio. Tangerang. 


Asal Mula kata Kelenteng

Pada masa Dinasti Tang (618-907) China berhasil mengirim ekspedisi 
militernya ke daerah China Selatan. Sejak itu orang China mulai 
menyebar ke Asia Tenggara dan banyak yang terus menetap. Diantara 
mereka banyak sekali orang-orang Hoakio/Hokkian yang berasal dari 
daerah-daerah yang terletak di sekitar Amoy di propinsi Fukien 
(Fujian) dan orang-orang Kwang Fu (Kanton) yang berasal dari Kanton 
dan Makao di propinsi Kwangtung (Guangdong). Pada masa Dinasti Sung 
(907- 1127) mulai banyak pedagang-pedagang China yang datang ke 
negara-negara Asia Tenggara termasuk Indonesia. Mereka berdagang 
dengan orang Indonesia dengan membawa barang dagangan berupa teh, 
barang porselin China yang indah, kain sutra yang halus serta obat-
obatan. Sedangkan mereka membeli dan membawa pulang hasil bumi 
Indonesia. 

Dalam sejarah China Kuno, dikatakan bahwa orang-orang China mulai 
merantau ke Indonesia pada masa akhir pemerintahan Dinasti Tang. 
Daerah pertama yang didatangi adalah Palembang yang pada waktu itu 
merupakan pusat perdagangan kerajaan Sriwijaya. Kemudian mereka 
datang ke Pulau Jawa untuk mencari rempah-rempah. Banyak dari mereka 
yang kemudian menetap di daerah pelabuhan pantai utara Jawa seperti 
daerah Tuban, Surabaya, Gresik, Banten dan Jakarta. 

Orang China datang ke Indonesia dengan membawa serta kebudayaannya, 
termasuk pula unsur agamannya. Dengan demikian, kebudayaan China 
menjadi bagian dari kebudayaan Indonesia. 

Didalam masyarakat China dikenal adanya tiga agama yaitu Khong Hu Cu, 
Tao dan Buddha. Akan tetapi dalam prakteknya tidak pernah ada 
fanatisme terhadap salah satu dari tiga agama tersebut. Dengan kata 
lain dalam prakteknya ketiga agama tersebut dilakukan bersamaan. 
Gabungan ketiga agama tersebut dikenal dengan nama Tridharma. 
Campuran ketiga agama tersebut dapat dijelaskan dalam kaitannya 
dengan latar belakang orang China di Asia Tenggara. Para leluhur 
mereka datang dari Cina Selatan dimana ketiga agama itu diterima 
sebagai satu kepercayaan. 

Kepercayaan terhadap ajaran agamanya dieksistensikan pula dalam suatu 
upacara suci dimana upacara tersebut melibatkan masyarakat. Oleh 
karena itu diperlukan suatu tempat atau bangunan suci untuk melakukan 
upacara. Setiap masyarakat beragama didunia ini memiliki suatu tempat 
ibadah untuk melakukan upacara keagamaan. Demikian pula halnya dengan 
orang China. Mereka juga memiliki tempat ibadah yang dinamakan 
Kelenteng. 

Seorang sarjana arsitektur yaitu Evelin Lip menyatakan bahwa 
masyarakat China yang ingin mendirikan sebuah bangunan suci biasanya 
akan mengikuti aturan-aturan yang berlaku di China. Aturan-aturan 
tersebut adalah bahwa suatu bangunan suci biasanya didirikan diatas 
podium, dikelilingi oleh pagar keliling, mempunyai keletakan 
simetris, mempunyai atap dengan arsitektur China, sistim strukturnya 
terdiri dari tiang dan balok serta motif dekoratif untuk memperindah 
bangunan. Satu hal lagi yang tidak dapat dilupakan masyarakat China 
dalam pencarian lokasi adalah berpedoman pada Hong Sui (Feng Sui). 
Dengan berpedoman pada Feng Sui ini diharapkan akan memberikan 
keberuntungan pada penghuninya. Selain itu juga Lip mengatakan bahwa 
Kelenteng-kelenteng di China Utara berukuran lebih besar dan 
hiasannya sangat sedikit dibandingkan dengan yang ada di China 
Selatan dimana kelentengnya mempunyai banyak hiasan. Bumbungan 
atapnya dihiasi dengan motif naga, burung phoenix, ikan, mutiara atau 
pagoda dan ujung bumbungannya melengkung ke atas. Ciri arsitektural 
seperti inilah yang dibawa ke Singapore dan Malaysia oleh para 
perantau dan Pedagang China. 

Dari mana asal mula kata Kelenteng. Ada dua versi tentang asal mula 
kata Kelenteng. 

Banyak dari kita yang mengira kata Kelenteng adalah istilah luar. 
Tetapi sebenarnya kata Kelenteng hanya dapat ditemui di Indonesia. 
Kalau ditilik kebiasaan orang Indonesia yang sering memberi nama 
kepada suatu benda atau mahluk hidup berdasarkan bunyi-bunyian yang 
ditimbulkan - seperti Kodok Ngorek, Burung Pipit, Tokek - demikian 
pula halnya dengan Kelenteng. Ketika di Kelenteng diadakan upacara 
keagamaan, sering digunakan genta yang apabila dipukul akan 
berbunyi 'klinting' sedang genta besar berbunyi 'klenteng'. Maka 
bunyi-bunyian seperti itu yang keluar dari tempat ibadat orang China 
dijadikan dasar acuan untuk merujuk tempat tersebut. (Moertiko hal.97)

Versi lain menurut 'Kronik Tionghoa di Batavia', disebutkan bahwa 
sekitar tahun 1650, Letnan Tionghoa, Guo Xun-guan mendirikan sebuah 
tempat ibadah untuk menghormati Guan yin di Glodok. Guan yin adalah 
Dewi welas asih Buddha yang lazim dikenal sebagai Kwan Im. Pada abad 
ke-17 waktu umat kristen Jepang dianiaya, patung Dewi Kwan Im 
menggantikan patung Bunda Maria untuk menyesatkan mata-mata polisi 
Jepang. Tempat ibadah di Glodok itu disebut Guan yin Ting atau tempat 
ibadah Dewi Guan yin (Kwan Im). Kata Tionghoa Yin-Ting ini disebut 
dalam kata Indonesia menjadi Klen-Teng, yang kini menjadi lazim bagi 
semua tempat ibadah Tionghoa di Indonesia. (Heuken hal.181). 

 

Vihara-vihara di Indonesia

Kepercayaan suatu agama dieksistansikan dalam suatu upacara suci 
dimana upacara itu sendiri melibatkan masyarakat (umat). Untuk itu 
diperlukan sebuah tempat atau bangunan suci untuk melaksanakan 
upacara tersebut. Setiap masyarakat beragama didunia memiliki tempat 
peribadatan khusus untuk melaksanakan upacara keagamaan mereka. Islam 
memiliki mesjid, Katholik dan Kristen gereja, Hindu dengan puranya 
dan Buddha dengan Vihara. 

Vihara secara harfiah berarti tempat persinggahan, merupakan tempat 
tinggal atau kediaman para bhikkhu, terutama untuk berteduh dan 
berlatih meditasi. Dalam bahasa indonesia karena lafal pengucapan, 
vihara berubah menjadi biara. Dalam pengertian agama Buddha, vihara 
dipakai untuk merujuk tiga kediaman yaitu: Kediaman Dewa (Dhiba-
Vihara), Kediaman Luhur (Brahma-Vihara) dan Kediaman Mulia (Ariya-
Vihara). 


---------------------------------------------------------------------
Milis Kelenteng - Quan Shui
URL: http://lists.quanshui.org
Posting, email: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Kirim email ke