Kenapa Th ini disebut th kambing ? Alkisah beberapa saat setelah Sang Buddha
mencapai Penerangan Sempurna, Beliau memanggil binatang-binatang yang ada di
hutan Gaya untuk menghadap. Dikisahkan secara berurutan ada 12 binatang yang
datang untuk menghadap Sang Guru Junjungan, yakni : Tikus, Kerbau, Macan/
Harimau, Kelinci, Naga, Ular, Kuda, Kambing, Monyet, Ayam, Anjing, dan Babi.

Walaupun itu mungkin hanya cerita dongengan belaka, tetapi sampai saat ini
kedatangan Tahun Imlek selalu ditandai dengan lambang 12 binatang tersebut
(Cap Ji Shio/ Chinese Horoscopes).

Di alam semesta ini ada 5 unsur utama yang disebut Ngo Heng (Wu Sing), yakni
: Logam, Air, Kayu, Api dan Tanah. Konon kelima unsur utama ini bersama
dengan Cap Ji Shio mempunyai pengaruh yang besar terhadap keadaan dan
kehidupan di muka bumi ini.

Dalam menyambut Imlek juga ada kebiasaan larangan, di antaranya: diwajibkan
menyembunyikan sapu, karena tidak boleh menyapu dalam rumah pada hari Imlek
dan dua hari sesudahnya.

Hari th baru Imlek disebut juga hari Persaudaraan (Ji Si Siang Ang) oleh
sebab itu dianjurkan bagi mereka yg penghidupannya sudah mapan untuk memberi
santunan kepada mereka yang tidak mampu.

Pada saat memasuki detik-detik tahun baru, sembahyang penutup tahun
sekaligus menyambut tibanya tahun baru yang dilakukan kemudian dilanjutkan
dgn saling memberi hormat dan mendoakan semoga panjang umur, murah rejeki
dan sehat sejahtera sambil memohon maaf kepada orang tua dengan melakukan
sungkem/hormat (Kui Ping Sien).

Pada hari kelimabelas dilaksanakan upacara Purnama Raya (Cap Go Meh/Goan
Siau) hari yang penuh makna, dimana biasanya pada zaman dahulu mereka
berlomba-lomba membuat lentera, lampions, yang berwarna warni, sehingga
malam itu betul-betul menjadi malam yang indah, sebab itu dinamakan Malam ke
15 yang Indah, Shi Wu Mei Ye, Beautiful Fifteenth Night Festival.  Sehingga
di kota kerajaan yang pada zaman dahulu ada jam malam, pada malam Cap Go Meh
itu larangan atau jam malam itu ditiadakan untuk malam itu.

Masyarakat keturunan Cina di Semarang merayakannya dengan menyajikan Lontong
Cap Go Meh yang terdiri dari lontong, opor ayam, lodeh terung, telur
pindang, sate kambing, dan sambal. Sementara di Jakarta, menunya adalah
lontong, sayur godog, telur pindang, dan bubuk kedelai.

Pada hari Cap Go Meh juga Toapekong pergi di gotong jalan2 keluar dari
Kelenteng, masyarakat di Menado menyebutnya upacara �Pesiar Toapekong�. Dan
kalau Toapekong keluar, selalu di iringi oleh arak2an Tarian Naga (Liong)
dan Tarian Singa (Barongsai).

Singa sangat terkenal dalam kebudayaan Tionghoa. Dalam bangunan-bangunan
kuno bangsa Tionghoa, terlebih-lebih pada bangunan pemerintah, singa adalah
hal yang tidak terpisahkan. Walaupun demikian hati2 kalau Anda ke Hong Kong
ditawarkan makanan daging singa, karena yg dimaksud ini adalah daging
kucing!

Banyak cerita rakyat yang ada mengenai asal usul Tarian Singa (Barongsai)
ini. Salah satunya mengatakan bahwa pada masa Dinasti Song terdapat seorang
raja, Raja Wen, yang mengirim tentaranya untuk berperang. Sayangnya tentara
tersebut dihadang pasukan musuh yang menunggang gajah. Saat semua sedang
bingung, Jenderal Guan Zhen Wu, pemimpin dari pasukan Raja Wen, menemukan
sebuah akal dengan dasar bahwa semua binatang tentunya takut raja hutan,
Sang Singa!

Jenderal Guan lalu memerintahkan para serdadunya untuk membuat singa palsu.
Singa palsu itu akan dipegang oleh dua orang serdadu. Setelah itu mereka
diperintahkan untuk bersembunyi menunggu pasukan musuh datang. Saat pasukan
musuh sudah dekat, mereka secara bersama melompat keluar dari tempat
persembunyian. Para gajah yang melihat singa itu menjadi takut dan melarikan
diri.

Barongsai terbagi atas dua kelompok, utara dan selatan. Bentuk singa dari
Barongsai bagian utara lebih menyerupai singa sebenarnya dibandingkan bagian
selatan. Di bagian utara, biasanya dimainkan secara berpasangan, sedangkan
pada kelompok bagian selatan biasanya dimainkan sendirian. Kepala Singa
Selatan dilengkapi dengan tanduk sehingga kadangkala mirip dengan binatang
�Kilin�.

Satu gerakan utama dari tarian Barongsai adalah gerakan singa memakan amplop
berisi uang yang disebut dengan istilah �Lay See�. Di atas amplop tersebut
biasanya ditempeli dengan sayuran selada air yang melambangkan hadiah bagi
sang Singa. Proses memakan �Lay See� ini berlangsung sekitar separuh bagian
dari seluruh tarian Singa.

Perkembangan barongsai kemudian berhenti pada tahun 1965 setelah meletusnya
Gerakan 30 S/PKI. Karena situasi politik pada waktu itu, segala macam bentuk
kebudayaan Tionghoa di Indonesia dibungkam. Barongsai dimusnahkan dan tidak
boleh dimainkan lagi. Perubahan situasi politik yang terjadi di Indonesia
setelah tahun 1998 membangkitkan kembali kesenian barongsai dan kebudayaan
Tionghoa lainnya. Banyak perkumpulan barongsai kembali bermunculan. Berbeda
dengan zaman dahulu, sekarang tak hanya kaum muda keturunan Tionghoa saja
yg memainkan barongsai, tetapi banyak pula kaum muda pribumi Indonesia yang
turut serta.

Maranatha
Mang Ucup yg ingin makan Lontong Capgomeh
Email: [EMAIL PROTECTED]



---------------------------------------------------------------------
Milis Kelenteng - Quan Shui
URL: http://lists.quanshui.org
Posting, email: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Kirim email ke