Kong Zi ( Kong Cu - Hokkian ) lahir pada tahun 551 SM dan wafat pada tahun
476 SM. Nama aslinya adalah Qiu atau Zhong Ni. Ia dilahirkan di Zouyi di
negeri Lu ( sekarang Qufu, propinsi Shandong ). Beliau adalah seorang
filsuf, politikus, dan ahli pendidikan besar yang pernah hidup di Tiongkok
pada akhir masa Chungqiu ( 770 - 475 SM ). 
Ia juga merupakan pengikut aliran Ru-Jia.

Leluhur Kong Zi adalah bangsawan dari negeri Song, Kong Shu fang, yang
karena kekalutan dalam negerinya, lalu kabur ke negeri Lu. Kong He adalah
ayah Kong Zi, ia pernah menjadi pejabat rendah di negeri LU.
Kelahiran Kong Zi ditandai dengan gejala-gejala alam yang luar biasa,
seperti munculnya seekor binatang gaib, qi lin, dan dua ekor naga
menari-nari mengitari atap rumah, yang menandakan bahwa kemudian hari sang
anak menjadi orang besar.

Pada usia 3 tahun, Kong Zi kehilangan ayah, dan ibunya menyusul pada waktu
ia berumur 17 tahun. Karena sejak kecil hidup dalam kemiskinan, semangatnya
untuk mencapai kehidupan lebih baik sangat besar. Pada usia 15 tahun ia
telah menjadi orang yang berpengetahuan luas dan gemar belajar. Dalam segala
kerendahan hatinya, ia tidak malu bertanya pada orang yang dianggapnya lebih
tahu, tidak lelah menyelidiki suatu masalah, sehingga ia memperoleh
pengetahuan yang luas.

Dia telah menjadi orang yang dihormati di negerinya karena ilmunya, pada
usia 30 tahun. Banyak orang datang berguru kepadanya. Sebab itu ia kemudian
mendirikan sebuah sekolah semacam institut sekarang, yang menampung para
peminat yang akan belajar, tanpa membedakan asal-usul dan derajat mereka.
Kong Zi lah yang pertama kali memperkenalkan sistem sekolah dan universitas
modern, berdasarkan sistem pengajaran yang diterapkan di sekolah yang
didirikannya. Hal ini sekaligus mendobrak monopoli pendidikan oleh kaum
bangsawan dan memperluas kesempatan di kalangan masyarakat untuk memperoleh
kehidupan yang lebih layak.

Pada usia 50 tahun, Kong Zi memangku jabatan Si-kong ( Menteri Urusan Proyek
Pembangunan ) dan kemudian Si-kou ( Menteri Urusan Peradilan dan Hukum ). Ia
pernah juga menjadi Pejabat Perdana Menteri di negeri Lu tersebut. Konon,
berkat bimbingan Kong Zi, negeri LU menjadi sebuah negeri tertib dan aman
dimana "rakyat tidak perlu menutup pintu di waktu malam dan barang tercecer
di jalan tidak ada yang memungut".

Demi mengembangkan ajaran-ajaran moralnya, kong Zi pada tahun 497 SM 
melakukan perjalanan ke negeri-negeri selama 14 tahun untuk memberi ceramah.
Ia menjelajahi negeri- negeri Wei, Chen, Song, Zheng, Cahi, dan Chu, tapi
karena ajaran-ajarannya dianggap tidak berguna bagi negeri-negeri yang
selalu ingin berperang itu, ia menjadi kecewa.
Ia kembali ke negeri Lu pada usia 68 tahun, meskipun tetap dihargai sebagai
sesepuh, ajaran-ajarannya tidak lagi mendapat tempat di situ. 
Karena politik yang dianjurkan tidak mendapat perhatian, Kong Zi akhirnya
memusatkan perhatiannya pada bidang pendidikan. Seluruhnya ada 3000 murid
yang berguru kepadanya, diantara mereka yang terkemuka ada 72 orang, yang
seringkali dijuluki "72 orang bijak". 

Diantara murid-murid itu ada yang memangku jabatan tinggi, tapi mereka tidak
henti-hentinya minta petunjuk dari guru mereka. Golongan terpelajar ajaran
Kong Zi ini membentuk suatu aliran intelektual yang dikenal sebagai "Ru-jia"
yang arti harafiahnya adalah Golongan Terpelajar.
Pada usia senja, Kong Zi mulai menyusun buku-buku klasik. Diantara buku-buku
yang disusun itu, antara lain Shi-Jing ( Kitab Syair ), Li-Ji ( Kitab
Upacara ), Yaitu-Jing ( Kitab Perubahan ), Chun-qiu ( Kitab Catatan Tentang
Kejadian Seputar Negeri Lu Dari Tahun 722 - 481 SM ), dan Shi-Ji ( Kitab
Sejarah ). Buku-buku ini merupakan maha karya klasik Tiongkok dan warisan
tak ternilai bagi generasi seterusnya untuk mempelajari sejarah, kebudayaan,
dan filsafat Tiongkok.

Kong Zi adalah seorang ilmuwan yang pengaruhnya dalam sejarah Tiongkok
sangat besar. Inti pokok ajarannya adalah filsafat yang berdasarkan asas
"ren" yang bisa diartikan dalam bahasa Indonesia sebagai "kebajikan". Orang
selalu mendahulukan kepentingan orang lain, hidup saling hormat-menghormati,
dan saling mengasihi adalah inti sari dari ajaran "ren" ini. "Ren adalah
standar moral tertinggi bagi seseorang yang dicerminkan dalam tingkah laku
yang bersusila atau "li". "Ren tercermin dari watak, sedangkan "li"dari
tingkah laku.

Dalam masalah politik, Kong Zi menentang penarikan pajak yang memberatkan
rakyat. Ia menekankan kesederhanaan dan pengamatan. Dalam menjalankan
pemerintahan, ia menekankan perlunya moral yang baik dan kebajikan dalam
mendidik. Dia tak menyetujui penggunaan kekerasan dan ancaman hukuman berat
yang sewenang-wenang.

Kong Zi adalah ilmuwan besar yang juga politikus, seorang ahli pendidikan,
di samping seorang rohaniwan yang tangguh. Beliau tidak hanya seorang tokoh
besar yang jarang ditemukan bandingannya di Tiongkok maupun di dunia luar
dan tidak hanya Nabi dari Tiongkok, tapi merupakan Nabi Dunia. Perilakunya
menjadi suri teladan bagi umat manusia, semangatnya dikenang oleh generasi
penerusnya. Karena itulah pengaruhnya di dunia internasional sangat besar.
Ajaran-ajaran Kong Zi seperti juga tokoh-tokoh besar dunia yang lain,
tersebar ke negara-negara di luar Tiongkok, bahkan tidak sedikit yang
mempengaruhi kebudayaan mereka. 

Pengaruh ajaran-ajaran Kong Zi berkembang pesat di Eropa dan mempengaruhi
pikiran para pujangga di benua itu. Begitu tinggi penghargaan mereka, bahkan
ada yang menganjurkan Kong Zi diangkat menjadi Santo dan ditambahkan dalam
jajaran Santo Katolik. Diantara para pemuja Kong Zi di Eropa ini yang paling
terkenal adalah seorang tokoh ilmuwan Perancis, Voltaire (1694 - 1778 ).
Filsuf Perancis pada masa revolusi, Condorce, mengatakan bahwa kaidah
politik yang pertama adalah adil, yang kedua adalah juga adil, dan yang
ketiga adalah tetap adil. Pandangan ini jelas sekali berasal dari ajaran
Kong Zi yang mengatakan bahwa politik adalah keadilan.

Semboyan revolusi Perancis terkenal yaitu Liberty ( kebebasan ), Equality (
persamaan ), dan Fraternity ( persaudaraan ) berasal dari ajaran humanisme
Kong Zi. Seorang ahli filsafat Jerman, Christian Wolff, sangat tertarik akan
ajaran yang mengatakan bahwa politik dan ajaran kebajikan harus bercampur
menjadi satu. Pandangan dan penghormatan Wolff kepada filsuf dari Timur ini
mengakibatkan kegemparan di Universitas Halle.
Kita semua tahu bahwa bangsa Amerika sangat bangga akan Piagam
Kemerdekaannya ( Declaration of Independence ) yang menjadi dasar negara
Amerika Serikat. Sesungguhnya piagam yang terkenal ini sangat terpengaruh
oleh ajaran Kong Zi. Pembuat naskah piagam kemerdekaan tersebut, Thommas
Jefferson, pernah berkata, "Manusia pada dasarnya adalah sama dan mempunyai
hak paling hakiki yang tidak dapat ditiadakan. Hak yang paling hakiki adalah
hak untuk memperoleh kehidupan yang layak, hak untuk bekerja, dan bertempat
tinggal yang layak ...."

Dalam diskusi pembuatan naskah tersebut ada orang yang mengusulkan agar hak
untuk mendapat pekerjaan dan memperoleh tempat tinggal yang layakdiganti
dengan hak untuk menjadi kaya. Mendengar ini Jefferson berkata, "Apa yang
aku katakan tadi berasal dari seorang nabi Tiongkok, Kong Zi. Kong Zi
berkata bahwa seorang cendekiawan mendambakan kebajikan, sedangkan orang
yang pengetahuannya rendah lebih mementingkan bagaimana menikmati hidup.
Perkataan Kong Zi ini mencakup arti yang sangat dalam sekali, karena
pikirannya begitu luas...." Ketika mereka mendengar Jefferson menyebut nama
Kong Zi, semua tertunduk. Dengan pernyataan Jefferson ini, jelas bahwa
Piagam Kemerdekaan ini dipengaruhi pikiran-pikiran Kong Zi. Negara-negara
Asia yang paling banyak menerima pengaruh ajaran Kong Zi adalah Korea,
Jepang, dan Singapura. Meskipun tidak disebut secara terang-terangan sebagai
dasar negara, tapi dalam tutur katanya, para pemimpin negara- negara tesebut
sering kali menyitir ayat-ayat suci Kong Zi. Terbukti negara-negara tersebut
sekarang ini menjadi negara maju terkemuka di Asia dan dunia. RRC yang sudah
sekian lama  mencampakkan ajran Nabi Besar ini, karena menganggapnya sebagai
racun  feodal, sekarang mulai berpaling kembali menerapkan ajarannya setelah
komunisme terbukti tidak sesuai dengan negara Tiongkok dan rakyat Tionghoa. 

Di negeri asalnya, sekarang ini ajaran Kong Zi mulai dihargai kembali dan
diyakini kebenarannya. Pada bulan September 1987, tepatnya tanggal 31
Agustus sampai 9 September,Yayasan Konfusianisme seluruh Tiongkok bekerja
sama dengan Lembaga Penelitian Filsafat Timur dari Singapura
menyelenggarakan sebuah simposium tentang Konfusianisme. Simposium ini
diadakan di kota tempat kelahiran Kong Zi, yaitu di Qufu, propinsi Shandong,
dengan dihadiri oleh para ahli Konfusianisme dari 12 negara termasuk Amerika
dan Eropa. Rupanya Konfusianisme mengalami kebangkitan di negeri asalnya.

---------------------------------------------------------------------
Milis Kelenteng - Quan Shui
URL: http://lists.quanshui.org
Posting, email: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Kirim email ke