-------Original Message------- From: [EMAIL PROTECTED] Date: Sunday, February 23, 2003 16:29:18 To: [EMAIL PROTECTED] Subject: Re: [lemb_kristologi_buddhist] Kelenteng duri dalam daging bagi Buddhisme Namo Buddhaya Ada beberapa hal yang rasanya perlu diluruskan. Pertama tama terdapat beberapa macam kelenteng. Ada kelenteng Tridharma/ Tiga Agama/ Sam Kauw; ada kelenteng keluarga yang memuja leluhur keluarga tertentu/ berdasar nama marga, ada kelenteng yang khusus memuja dewa dewi Tao, ada kelenteng yang justru sudah tercampur ajaran setempat, mis. kejawen adat istiadat suku tertentu. Lepas dari bermacam macam jenis kelenteng tesebut, harus pula dibedakan adat/ tradisi dengan ritual yang murni dari masing masing agama. Tidak dapat dipungkiri, bahwa memang banyak praktek tradisi yang berbau tahayul, yang bahkan tidak ditemui dalam salah satu dari Tiga Agama (Buddha, Tao, Khong Hu Cu). Jika ingin mencari kambing hitam, unsur inilah yang harus dihilangkan. Aliran Tao sendiri juga terbagi menjadi 10 cabang, dengan 'spesialisasi' masing masing. Ada yang mementingkan latihan, ilmu gaib, obat-obatan, ritual dll. Dalam salah satu referensi Tao saya dapatkan kutipan sbb: "Membakar uang kertas/ Kim Coa apakah ada gunanya? Banyak orang menganggap dewa-dewi menggunakan uang, maka dengan membakar uang kertas untuk menunjukkan kerendahan hati. Ini betul juga. Tapi benarkah dewa memakai uang? Tentu tidak. Dewa mana lagi yang mau barang duniawi? Membakar beberapa lembar uang kertas, mengira akan diambil untuk digunakan, anggapan ini akan jadi bahan tertawaan. Jadi membakar uang kertas itu tidak ada gunanya. kalau hanya mengikuti adat, meramaikan suasana, ya ... sudahlah
Lepas dari semua itu, ritual bakar membakar tersebut hanyalah perwujudan emosi manusia. Barangkali semasa hidupnya keluarga orang yang sudah meninggal kurang memperhatikan. Sehingga setelah meninggal, keluarga tersebut berkeinginan "menebus dosa" (wih, kok jadi seperti Kristen yach?) Dengan ritual demikian, keluarga orang tersebut mendapatkan pemenuhan emosinya. (Lagipula manusia senang melihat api yang menyala, terlebih di tengah malam, karena ada ketakutan terhadap kegelapan) Memang semua hal tersebut harus sama sama kita benahi, agar tidak menimbulkan prasangka negatif bagi umat Buddha. Banyak masalah mispersepsi di kalangan awam. Kelenteng = Vihara. Umat kelenteng = Umat Khong Hu Cu. Banyak yang tidak mengenal Tao sebagai agama, hanya tahu Tao dari film Mandarin. Banyak yang mengira umat Khong Hu Cu menyembah dewa dewi. Bahkan ada yang menganggap Vihara = Pura. Termasuk pula mispersepsi di kalangan Buddhis sendiri. Meditasi = sarana mencari kesaktian Meditasi = semedi = bertapa. Daftar mispersepsi ini dapat menjadi panjang. Lagi lagi ini adalah tugas berat yang harus dijalankan, agar masyarakat mendapat gambaran benar tentang agama Buddha. Bagi kalangan Kristen, umat Buddha juga menyembah berhala, karena ada patung di Vihara, atau di rumah rumah Buddhis. Ada hio ditancapkan di altar. Mulut anda boleh hingga berbusa, menerangkan makna simbolis rupang di Vihara, tapi mereka tidak akan menerima.(Tapi bukan berhala jika ada tanda / kayu bersilang di gereja ;-) Karenanya ada perbedaan salib Kristen dan Katolik, juga ada patung Maria di Katolik. Ada joke, biar tidak terlalu tegang, mungkin anda anda sudah pernah dengar juga. Mengapa salib Katolik ada sosok Yesus, salib Kristen tidak? Karena gereja Kristen umumnya ber AC yang dingin sedangkan Yesus di salib dalam keadaan setengah telanjang, so .... ;p Sorry, lagi ngaco nih. Jadi simbol ritual selalu dibutuhkan. Simbol ini bisa berupa patung, kayu bersilang, kubus batu meteor, tulisan, gerakan/ sikap, apapun bentuknya, selama seorang menganut agama , selalu ada simbol tertentu. Simbol simbol ini mau dihilangkan total? Bagaimana ujudnya? Sebuah bangunan bangsal kosong? Apakah ada upacara ritual? Hanya bermeditasi? Kembali ada simbol simbol dalam gerak, dalam ucapan. Lihat saja kelompok lain, ada larangan membuat lukisan/ patung dalam wujud manusia/ binatang. Akhirnya toh mereka membuat tulisan yang membentuk wujud binatang. Perlu diketahui, bahwa kebangkitan agama Buddha di Indonesia, tidak lepas dari dukungan 'kelenteng'. Di tahun 1934 diadakan upacara Waisak pertama kali di Borobudur, dan pada tahun 1938, Y.M. Narada Mahathera menghadiri Waisak di Borobudur, yang disponsori oleh Java Buddhist Association, Perhimpunan Theosofi, serta Sam Kauw Hwee. Baru ketika orba berkuasa, semua kelenteng ganti nama jadi Vihara, karena agama Khong Hu Cu (dan Tao) tidak diakui. Jadi '"bukan salah bunda mengandung", jika masyarakat berpersepsi bahwa kelenteng identik dengan vihara. Sebenarnya, kata 'kelenteng' bahkan lebih dulu menyebar di masyarakat dari pada kata biara/ 'wihara'. Jadi tampaknya kelenteng lebih sebagai sekutu dari pada musuh dalam melawan Kristen. (Kaya perang agama saja?) Terakhir, umat kelenteng tidak menganjurkan umat Buddha untuk membuang tempat pemujaan di rumah, tidak pernah membanting Buddharupang, atau menginjak injak kitab Su Si dalam kelenteng :-) Dan kalau tidak salah, di Walubi ada kelompok Matrisia (Majelis Tridharma Indonesia)? Wah, Walubi ini memang kelompok Buddhis yang aneh. Ada Buddha Tradisional, ada Buddha Jepang (nah, ini tanpa patung di viharanya, tapi ada kaligrafi) , ada Buddha Hidup, ada Buddha yang akan datang, ada Tiga Dharma (memang Dharma ada berapa?). Anyway, we are all at the same side. Soal mazhab Buddhis? Kalau diperuncing, akhirnya akan ada agama Theravada, agama Sutrayana, agama Mantrayana, agama Sukhavatti, agama Vajrayana, agama Tibetan, agama Zen, tapi agama Buddha malah tidak ada, karena siapa yang paling berhak memakainya?. Better making alliance than looking for enemies, ya nggak? Regards Li Yahoo! Groups Sponsor ADVERTISEMENT To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service. --------------------------------------------------------------------- Milis Kelenteng - Quan Shui URL: http://lists.quanshui.org Posting, email: [EMAIL PROTECTED] Subscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
