Berikut ini adalah kejadian yang berlangsung pada tahun-tahun terakhir masa
pemerintahan raja Chien Lung, di akhir abad ke 18.

Orang-orang yang tinggal di Junchou semuanya kejam. Mereka menikmati
pembunuhan. Tidak hanya anak laki-laki dan para pria yang kejam, tapi juga
orang-orang tua, wanita, dan bahkan anak-anak perempuan juga kejam. Tidak
ada banyak anak perempuan karena orang-orang di sana lebih menyukai anak
laki-laki. Jika mereka mendapat bayi perempuan, mereka akan
menenggelamkannya dan mencoba lagi untuk mendapat anak laki-laki. Mereka
tega membunuh bayi sendiri, maka bisa dibayangkan bagaimana mereka
memperlakukan hewan!

Mereka mengajar anak-anak mereka untuk mengumpulkan siput untuk dijual dan
dimakan. Anak-anak mengumpulkan siput dan kerang serta kodok, bahkan
anak-anak yang amsih sangat kecilpun tahu bagaimana cara membunuh
hewan-hewan tersebut dengan pisau. Jika seorang ayah atau ibu melihat
anaknya memperlakukan hewan dengan tidak baik, mereka akan tersenyum bangga
dan mengatakan, "Anakku pintar!"

Tentu saja karena anak-anak di sana dibesarkan dengan cara itu, mereka pikir
membunuh binatang adalah baik, sehingga ketika mereka dewasa, mereka
membunuh hewan apapun yang bisa dibunuh.

Tetapi tidak bisa dikatakan bahwa semua orang di Junchou jahat sekali. Ada
seorang wanita tua yang baik hati bernama Kung. Dia adalah satu-satunya
orang di sana yang tidak membunuh hewan. Sesungguhnya, dia sering
menyelamatkan siput-siput yang pergi terlalu jauh dari air. Dia menolong
banyak semut agar tidak terinjak. Semua tetangganya menertawakannya dan
mengatakan bahwa dia sinting.

Suatu malam seorang nelayan bermimpi dua orang berpakaian seragam hitam
mengambil sebuah buku dari tepi sungai.

"Buku apa itu!" dia bertanya.

"Ini adalah catatan perbuatan baik dan buruk. Ada hutang besar yang
disebabkan pembunuhan2 yang dilakukan oleh kalian. Kalian sebaiknya
berhati-hati!"

Nelayan tersebut tidak banyak berpikir tentang mimpi itu karena dia selalu
membunuh, tapi lima hari kemudian seluruh kota Junchou dilanda banjir besar.
Kebanyakan penduduknya bahkan tidak sempat berteiak minta tolong sebleum
tenggelam.

Hanya Nyonya Kung tua yang lolos. Sehari sebelumnya, cucu terkecilnya
terserang malaria. Dia membawa cucunya ke Vihara di pegunungan untuk
membakar dupa dan berdoa kepada dewa-dewa untuk menyembuhkannya. Beberapa
hari kemudian, cucunya sembuh,  maka dia meninggalkan Vihara. Ketika sampai
di rumah, dia menemukan seluruh kota telah lenyap, dan hanya dia dan cucunya
yang selamat. Yang lainnya telah meninggal.

Dikutip dari : "Mencintai Kehidupan"

---------------------------------------------------------------------
Milis Kelenteng - Quan Shui
URL: http://lists.quanshui.org
Posting, email: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Kirim email ke