Memohon pada Dewa dan Buddha agar dikaruniai harta dan rejeki, bahkan memohon pangkat dan anak, terhindar dari malapetaka, memohon kesembuhan dari penyakit, berumur panjang, dll, pasti dapatlah berhasil.
Tetapi memohon pada Dewa dan Buddha itu ada syaratnya. "Syaratnya" ialah harus melakukan kebajikan dalam jumlah tertentu. Seperti Tuan Liao Fan telah bersumpah di hadapan Buddha akan melakukan 3.000 buah kebajikan untuk mendapatkan kedudukan, kemudian bersumpah lagi melakukan 3.000 buah kebajikan, kemudian terus melakukan kebajikan tanpa memohon berumur panjang, ternyata ia mendapatkan umur yang panjang. Dilihat dari situ berarti melakukan kebajikan merupakan "Syarat" yang sangat penting. Jadi walaupun Dewa dan Buddha welas asih, tetapi tidaklah sembarangan memberikan berkah dan karuniaNya kepada orang. Tegasnya dapatlah kita lihat bahwa Dewa dan Buddha tidak melanggar prinsip hukum karma tentang "Siapa yang berbuat baik pasti akan mendapatkan imbalan yang baik." Jadi kesimpulannya "Menanam bibit baik, mendapatkan buah yang baik, menanam bibt yang buruk akan mendapatkan buah yang buruk pula", merupakan "KEBENARAN" yang abadi. Ada sebuah kisah Nyata : Pada musim gugur yang lalu, aku berkunjung ke sebuah kuil untuk melihat sebuah upacara. Tatkala itu ada seorang ibu yang bernama Erl Ku sedang sujud menyembah Dewa Lu Co memohon rejeki. Lu Co menulis sebuah sajak yang berisi 5 buah kata padanya. Arti dari sajak itu kira-kira menghendakinya secepatnya melakukan kebajikan besar, selebihnya tidak ada petunjuk lain. Hal ini telah menjadi buah pembicaraan orang di sekita tempat itu. Kesimpulan mereka ialah bahwa Erl Ku mungkin akan menghadapi malapetaka, karenanya mereka mengusulkan agar Erl Ku cepat memberikan "JANJI", jika selamat dilindungi Dewa, kelak akan memberikan sajian untuk berterima kasih. Biasanya Erl Ku memuja Dewa. Dengan cepat ia berlutut di hadapan Altar dan berjanji. Seusai itu legalah hatinya dan dengan tenang duduk disamping, seperti orang lain yang duduk bersamanya. Erl Ku mengira setelah berjanji, maka ia tidak perlu merasa was-was lagi, semua aral melintang akan dihapus oleh Dewa Lu Co. Tetapi aku berpendapat bahwa persoalannya tidak semudah itu. Aku tidak tega lalu kukatakan padanya: "Dewa Lu Co menginginkanmu berbuat kebajikan besar, pastilah ada sebabnya. Jika Anda hanya berjanji lalu menganggap urusan telah selesai, mungkin hal ini tidaklah akan menyelesaikan persoalannya, sebab "Berjanji bukanlah berbuat kebajikan." Kata-kataku ini telah membuatnya tidak berkenan. Setelah menatapku ia berkata: "Kamu anak muda tahu apa? Berjanji tidak berguna? Lalu apakah yang berguna?" Aku mengerti banyak orang lebih suka mendengar kata-kata yang memuji. Aku telah "menamparnya", pastilah ia tidak senang. Lalu kukatakan kepadanya: "Melepaskan makhluk hidup adalah cara melakukan kebajikan yang terbaik. Dapatkah anda dihadapan Dewa melepaskan hidup-hidup beberapa ekor makhluk bernyawa? "Jika dapat, hasilnya akan lebih baik daripada memberikan janji." Oleh karena orang-orang di sekitarnya tidak mendukung kata-kataku, tentu saja akhirnya Erl Ku tidak menggubris kata-kataku, apalagi melakukannya. Peristiwa ini telah lewat 20 hari, aku telah melupakannya. Pada suatu pagi, aku datang kembali ke kuil ini untuk melihat upacara. Terdengar berita bahwa Erl Ku mendadak sakit keras, telah ditolong di rumah sakti, namun gagal dan iapun meninggal dunia. Berita ini datang demikian cepatnya, siapapun tidak menduganya, maka ramailah lagi pembicaraan dalam kelenteng itu. "Ia masih muda tapi telah tiada, usianya baru 50 tahun, dua hari yang lalu masih segar bugar." Katanya tatkala itu ada orang yang menyuruhnya melepaskan makhluk hidup, ia merasa tidak senang." Aku menarik nafas panjang. Seringkali orang mengatakan memuja Dewa dan Buddha adalah sebagai kepercayaan yang sesat. Orang yang mengatakan "Sesat" pasti tidak mengerti "Kebenaran Keyakinan" yang terkandung di dalamnya. Bahkan orang yang memujaNya kebanyakan tidak mengerti "Kebenaran Keyakinan" yang dikandungnya serta hakekat perputaran Hukum Karma. Tidak heran bahwa Po Sat menganggap manusia benar-benar perlu dikasihani karena ketidakmengertiannya. Dikutip dari : "Hakekat utama dan satu-satunya cara untuk Memperbaiki Nasib" --------------------------------------------------------------------- Milis Kelenteng - Quan Shui URL: http://lists.quanshui.org Posting, email: [EMAIL PROTECTED] Subscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
