Kita Semua Bisa Beruntung
Penulis: GedePrama
 
Diantara cabang belajar yang menyedot demikian banyak perhatian orang
adalah ilmu keberuntungan. Dan ia tidak saja menarik banyak peminat,
melainkan juga berumur demikian lama. Sebut saja larisnya buku-buku Feng
Shui, atau larisnya konsultan di bidang yang serupa. Dalam kalkulasi seorang
sahabat manajer sebuah toko buku, nilai uang yang beredar untuk mengongkosi
ilmu keberuntungan tidak kurang dari jutaan dolar. 
 
Pertanyaan dasar yang mengganggu banyak orang dalam hal ini, apakah
keberuntungan hanya menjadi milik segelintir orang, ataukah bisa dimiliki
semua orang ? Ini memang pertanyaan klasik yang telah, dan mungkin akan
ditanyakan orang terus sepanjang zaman. Kalau bahan acuan keberuntungan
adalah bentuk hidung, dagu dan bentuk-bentuk fisik lainnya, benar keyakinan
pertama bahwa keberuntungan hanyalah milik orang dengan bentuk-bentuk fisik
tertentu. Jika bahan acuannya adalah sikap dan perilaku, cerita tentu saja
menjadi lain.
 
Kendati sering kali disebut sejumlah pengusaha Chinese sebagai orang
yang memiliki bentuk-bentuk fisik yang penuh keberuntungan, saya
cenderung untuk berargumen kalau keberuntungan lebih terkait dengan
sikap dan perilaku. Mirip dengan prinsip yang tergantung rapi di salah
satu ruangan kerja saya : ?Attitude is a little thing that makes a big
difference?. Sikap adalah hal kecil yang membuat perbedaan besar,
demikianlah acuan awal saya dalam memandang keberuntungan. 
 
Anda bisa bayangkan seorang yang amat pintar, berpengalaman dan bahkan
berprestasi mengagumkan. Ia memang akan dilirik banyak sekali orang dan
perusahaan. Cuman kalau semua kehebatan terakhir dibungkus dengan
sikap-sikap yang menyakiti hati orang, di sini berlaku rumus kehebatanmu
adalah harimaumu. Dan saya bertemu orang seperti ini dalam frekuensi yang
cukup sering. Ada yang memamerkan kesombongan di sana-sini. Ada yang hidup
dari satu sakit hati satu orang ke sakit hati orang lain.
Memang tidak bisa dipungkiri, ada sebagian dari mereka yang ditemani
keberuntungan sesaat. Akan tetapi pengalaman saya bertutur lain. Dalam
jangka panjang, kesengsaraan adalah sahabatnya kesombongan.
 
Semua orang pada dasarnya memiliki kekurangan, hanya saja menutupinya secara
berlebihan, hanya akan menimbulkan pandangan-pandangan mata yang tidak
terlalu bersahabat. Sadar akan hal ini, saya pernah terinspirasi oleh sebuah
renungan Konfusius yang ditulis seorang penulis jernih. 
?Humility and modesty are the best protection against the wrong opinion
of the others?, demikian penulis jernih ini pernah bertutur. Dengan kata
lain, penyelamat terbaik kita dari pendapat dan persepsi keliru yang
datang dari orang lain bernama kesopanan dan sikap rendah hati.
 
Dan ini bukan tanpa bukti, ia didukung oleh banyak sekali deretan bukti.
Hidup saya sebagian diselamatkan oleh dua penyelamat terakhir. Ketika
siap-siap untuk naik ke kursi nomer satu di sebuah perusahaan swasta,
ada yang menarik kaki, menggergaji kursi, difitnah dengan
kebencian-kebencian dan godaan-godaan sejenis. Kadang rasa marah dan dendam
suka datang. Syukurnya, godaan-godaan ini berkunjung ketika Tuhan sudah
mempersenjatai saya dengan dua penyelamat di atas. Sebagai hasilnya, banyak
ramalan orang-orang yang dipatahkan hanya oleh dua prinsip hidup yang
sederhana : kesopanan dan sikap rendah hati.
 
Sayangnya, mirip dengan langit-langit rumah yang membatasi pandangan kita ke
angkasa, demikianlah kesombongan menghalangi kesopanan dan sikap rendah
hati. Bagi sahabat- sahabat yang sudah demikian kuatnya diikat oleh
kesombongan, bahkan mengindentikkan dua penyelamat di atas sebagai kebodohan
dan keluguan. Dan sayapun sudah cukup sering disebut bodoh dan lugu. Tidak
mengerti bisnis, buta huruf di bidang keuangan, kurang ngotot dalam mencapai
target hanyalah sebagian stempel kebodohan dan keluguan yang pernah
dilemparkan ke saya. Mirip dengan parasut yang sudah terikat rapi di badan
demikian juga dengan dua penyelamat di atas.
Sebanyak dan sesering apapun lemparan-lemparan tidak mengenakkan datang dari
orang lain, sebanyak dan sesering itu juga modesty and humility datang
sebagai penyelamat.
 
Bedanya dengan malaikat penyelamat yang dibayangkan banyak orang dan hanya
berkunjung dengan syarat-syarat yang berat, dua penyelamat ini bisa sering
datang dengan syarat sederhana : latihan. Ya sekali lagi
latihan dan hanya latihan. Dan sang hiduppun memberikan tempat dan waktu
latihan yang hampir tidak terbatas. Belajar dari cerita di atas,
mulailah dengan membebaskan diri dari langit-langit yang bernama
kesombongan. Seorang sahabat pernah bertutur, kalau kesombongan tidak
menguntungkan siapa-siapa dalam jangka panjang. Kalau mempertinggi ego
sesaat tentu saja sulit diingkari. Namun hidup untuk ego, bukankah itu
sebentuk kemewahan yang hanya bisa dimaklumi kalau terjadi di masa
kanak-kanak ?
 
Boleh saja ada yang menyebutnya terlalu menyederhanakan, namun begitu
langit-langit kesombongan bisa ditembus, maka kesopanan dan sikap rendah
hati akan sering datang berkunjung. Dan keduanya tidak saja berkunjung
dengan misi sebagai penyelamat, tetapi juga bisa membuat orang hidup penuh
keberuntungan. Coba perhatikan apa yang pernah ditulis Chao-Hsiu Chen dalam
The Bamboo Oracle : ?A friendly heart creates happy people. A happy heart
creates lucky people?. Jadi, kenapa mesti ragu-ragu. Kalau saya bisa dibuat
beruntung oleh kesopanan dan kerendahan hati, Andapun bisa hidup beruntung
dengan modal yang sama.
 



---------------------------------------------------------------------
Jangan Lewatkan!
Pecinan.com - http://www.pecinan.com
Tionghoa dalam Budaya dan Tradisi

---------------------------------------------------------------------
Milis Kelenteng - Quan Shui
URL: http://lists.quanshui.org
Posting, email: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Kirim email ke