JALAN YG LURUS

 

Biasanya tiap malam sebelum tidur, aku selalu ditemani oleh bacaan untuk mempercepat datangnya kantukku, malam itu yang aku baca “TAFSIR FI ZHILALIL QUR’AN” SAYYID QUTHB jilid I, aku mulai membaca dari Mukadimah dan tidak ada yang aku lewati.

Karena gaya bahasa yang indah, aku berusaha terus mengulang dan membaca secara perlahan dan sampai pada bagian permulaan surah AL-BAQARAAH yaitu Surah AL-FATIHAH pada kalimat “Maka apabila hamba itu mengucapkan; IHDINASH SHIRAATHAL MUSTAQIIM, SHIRAATHAl LADZIINA AN’AMTA ALAIHIM GHAIRIL MAGDHUUBI ALAIHIM WALADH-DHAALIIN; Allah berfirman : “ini adalah untuk hamba-Ku dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta” .

 

Sungguh kalimat ini sangat menarik perhatianku dan timbul ide dikepalaku untuk menanyakan pada yang lebih tahu dan kutunggu sampai esok harinya, aku berangkat kerja seperti biasanya dan sesampainya di kantor, aku langsung menghubungi guruku (orang yg selama ini selalu menjawab semua yg menjadi pertanyaan dalam pikiranku).

 

Ku putar nomor telphonnya dan tidak berapa lama terdengar suaranya, seperti biasanya ku ucapkan salam dan beliau menjawab salamku, tanpa buang waktu aku mulai menanyakan

 

“Pak..boleh enggak, kalau pada saat aku mengucapkan kalimat IHDINASH SHIRAATHAL MUSTAQIIM aku selipkan permintaanku…? karena di tafsir yg aku baca itu Allah berfirman bahwa “ini adalah untuk hamba-Ku dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta”.

 

Dengan santainya beliau menjawab

 

“ Ya sudah minta aja..?! memang kamu mau minta apa?! Suami yang ganteng, keren, kaya?! Dan suaranya sudah mulai terdengar sinis “minta aja semuanya..rumah mewah, mobil bagus, apartemen.?! silahkan kamu minta semua, dan itu tidak sulit bagi Allah..?!"

 

aku hanya diam mendengarkan semua omongannya, sampai beliau meneruskan kembali bicaranya

 

“kamu tahu..apa arti dari IHDINASH SHIRAATHAL MUSTAQIIM.?!" Berbalik beliau menanyakan padaku, dan ku jawab dengan hati-hat,

 

“tunjukilah kami jalan yang lurus..?” seperti anak kecil yang sedang diuji, untuk mengulang hafalan yang diberikan oleh gurunya.

 

Dengan sedikit keras suaranya kembali terdengar

 

“terus masih ada lagi, .permintaan yang lebih besar dari IHDINASH SHIRAATHAL MUSTAQIIM..?!” omongannya seperti menghantam kepalaku yang tadinya beku.

 

“Astagfirullah…” seperti baru sadar dari lamunan, aku langsung mengucapkan istigfar.

 

“jadi tolong…jangan kamu mengecilkan arti yang sesungguhnya  sudah besar..?nikmat apa lagi yg kamu inginkan dan lebih baik dari jalan yang lurus..?” kembali  dengan suara yg lebih rendah beliau menanyakan padaku, dan dengan penuh rasa bersalah, aku menjawab

 

“tidak ada..tidak ada lagi nikmat yg lebih besar dari jalan yg lurus..?sungguh aku bodoh sekali..kenapa aku tidak terpikirkan..apa yg bapak pikirkan..?” kalimat menyalahkan diriku keluar dari mulutku sendiri.

 

Dan terdengar suaranya menanggapi

 

“itu karena kamu hanya membaca, dan tidak kamu pelajari makna dari artinya..?” suara pelannya sudah menenangkan hatiku “sekarang kamu mau minta apa..?”

 

“aku mau minta jalan yang lurus aja..?” hehehe

 

“jadi..lain kali kalau membaca pelan-pelan dan pahami maknanya..?”

 

seperti anak kecil yang sudah mendapatkan mainannya, aku berkata

 

“iya..terimakasih ya..pak..nanti aku baca dan pahami lagi pelan-pelan..” kuakhiri pembicaraanku dengan mengucapkan salam dan setelah beliau menjawab salamku, ku tutup telphonku dengan perasaan yg lega dan seperti baru mendapatkan barang berharga, aku tersenyum-senyum sendiri.

 

 

 

salam:)

Hana


 


Yahoo! FareChase - Search multiple travel sites in one click.

Ilmu merupakan harta abstrak titipan Allah Subhanahu wata'ala kepada seluruh manusia yang akan bertambah bila terus diamalkan, salah satu pengamalannya adalah dengan membagi-bagikan ilmu itu kepada yang membutuhkan.
Janganlah sombong dengan ilmu yang sedikit, karena jika Allah Subhanahu wata'ala berkehendak ilmu itu akan sirna dalam sekejap, beritahulah orang yang tidak tahu, tunjukilah orang yang minta petunjuk, amalkanlah ilmu itu sebatas yang engkau mampu.




YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke