Maaf Bang Dul, menurut kitab yang ane baca, sabda nabi tersebut 
berawal ketika Aisyah ditanya oleh sahabat mengenai bagaimana cara 
rasulullah dalam menyampaikan khutbah...

Jadi itu bukan ane sendiri yang sok tahu me-ngait2kan hadits 
tersebut dengan khutbah juma'at. Ilmu ane belom nyampe kesana Bang, 
hehehe....

Mengenai rukun2 itu disusun oleh para ulama sebagai metode untuk 
mempermudah kita mempelajari dan menerapkan suatu ibadah.

Memang ada kemiripan antara Bid'ah dengan maslahat mursalah. Kedua-
duanya (baik bidah ataupun maslahat mursalah) merupakan bagian dari 
hal-hal yang belum pernah terjadi pada masa nabi.

- Bidah mempunyai ciri khusus yaitu bahwa bidah tidak terjadi, 
kecuali dalam hal-hal yang sifatnya ibadah (taabbudiyyah) dan hal-
hal yang digolongkan ibadah dalam masalah agama. Berbeda dengan 
mashlahat mursalah, karena mashlahat mursalah adalah hal-hal yang 
dipahami tempatnya (tujuannya) secara akal, dan seandainya 
disodorkan pada akal tentu akal akan menerimanya, ia juga sama 
sekali tidak ada hubungannya dengan taabbud (masalah yang sifatnya 
ibadah) atau dengan hal-hal yang sejalan dengan taabud dalam 
syariat. Misalnya penerapan teknologi dalam hal beribadah, seperti 
penggunan toa untuk adzan, pembuatan kitab2 yang berisi penjelasan 
mengenai perihal suatu ibadah termasuk didalamnya rukun2 dalam 
beribadah oleh para ulama, metodologi yang digunakan dalam meneliti 
hadits, dan lain sebagainya..

- Bidah mempunyai ciri khusus yaitu merupakan sesuatu yang dimaksud 
sejak awal oleh pelakunya. Mereka biasanya- taqarrub kepada Allah 
dengan mengamalkan bidah itu dan mereka tidak berpaling darinya. 
Sangat jauh kemungkinan bagi ahli bidah- untuk menghilangkan 
amalannya, karena mereka menganggap bidahnya itu adalah hasanah dan 
menang di atas segala yang menentangnya. Sedangkan mashlahat 
murshalah merupakan maksud yang kedua bukan yang pertama dan masuk 
dalam cakupan sarana pendukung (wasail), karena sebenarnya mashlahat 
murshalah ini disyariatkan sebagai sarana pendukung dalam 
merealisasikan tujuan syariat-syariat yang ada. Sebagai bukti hal 
itu, mashlahat murshalah bisa gugur bila berhadapan dengan mafsadah 
(kerusakan) yang lebih besar. Contoh yang paling gampang penggunaan 
internet sebagai media untuk "ngaji online" adalah maslahat 
murshalah, tapi bisa gugur bila ternyata penggunaan untuk maksiatnya 
lebih besar.. :)

- Bidah juga mempunyai ciri khusus yaitu bahwa keberadaannya membawa 
hal yang memberatkan mukallafun (orang-orang yang dibebani untuk 
melaksanakan syariat) dan menambah kesusahan mereka (Ada ibadah 
tambahan yang harus dikerjakan). Sedangkan mashlahat murshalah 
sesungguhnya mendatangkan kemudahan dan menghilangkan kesulitan 
mukallafun atau membantu dalam menjaga hal-hal yang sangat penting 
bagi mereka (Seperti Pembukuan Hadits).

- Mashlahat murshalah juga memiliki ciri khusus, yaitu tidak pernah 
ada pada masa Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, dikarenakan tidak 
ada faktor pendorong untuk melakukannya atau sekalipun faktor itu 
ada, tapi ada hal yang menghalanginya. Sedangkan bidah yang tidak 
ada pada zaman Nabi Shallallahu alaihi wa sallam sebenarnya memiliki 
faktor pendorong dan tuntunan yang banyak, dan tidak ada yang 
menghalanginya. Tapi semua hal itu tidak dilakukan oleh para sahabat 
dan salafusshalih, sebab tidak diperintahkan dan tidak dicontohkan 
oleh nabi saw. Seperti yang disabdakan oleh rasulullah bahwa semua 
bidah itu adalah sesat, dan mereka berpegang teguh terhadap sabda 
nabi saw tersebut.

Nah, mengenai Hadits Jabir, paling tidak itu menunjukan bolehnya 
seorang khatib berbicara diluar konteks khutbah yang dibacanya. 
Selebihnya wallahu a'lam. Dan ane lihat mayoritas ulama tidak 
mempermasalahkan khutbah dengan 2 bahasa. Atau kalo ngga disebut 
mayoritas ulama, paling ngga dibeberapa mesjid NU, Muhammdiyah, 
Persis yang pernah ane ikut jamaah sholat jumat didalamnya, semua 
pake khutbah 2 bahasa dan ngga ada yang mempermasalahkan. Kalau di 
mesjid lain ane ga tau dah, maklum ane masih rada kuper sih... :)

Wassalam


--- In [email protected], Abdullah Al Batawi 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> bang yudi,
>   itu sih artinye berlandaskan hadits tetapi ente sendiri yang 
mengkaitkannye kepade khutbah jum'at, tetapi hadits tsb tidak 
langsung menunjuk pade kekhususan khutbah jum'at. Seperti yang ane 
bilang tadi kalo ane memahamin hadits itu adalah sebagai wujud 
akhlakul karimah Rosul saw secara umum, bukan dikhususkan untuk 
khutbah jum'at... gak ape-2 sih ente jadi'in sandaran.
>    
>   tulisan ente :
>   Ditambah lagi Hadits dari Jabir yang menujukan bahwa boleh 
seorang 
> Khotib untuk berbicara diluar dari isi khutbah. 
>   
> kaya'nye itu gak nunjukin tentang kebolehan khutbah pake bahasa 
masing-2, gak tau deh kalo ente anggep kalo itu dijadikan sandaran 
buat pembolehan khutbah pake bahasa masing-2, iye gak ape-2 koq.
>    
>   tentang rukun-2, apakah Rosul saw yang menyusun rukun-2 ? itu 
kan yang nyusun pare ulame yang udeh ahlinye (hasil ijtihad) agar 
umat bise tahu tatacare sholat jum'at ame khutbahnye, seperti halnye 
urutan surah dan ayat dalam Al Quran, ape itu perintah Rosul untuk 
menyusunnye seperti urutan sekarang.
>    
>   Makanye ane berpendapet bahwa rukun-2 khutbah itu disusun oleh 
ulame, bukan ame Rosul saw, dan ape Rosul saw kasih perintah buat 
ulame untuk nyusun Rukun-2 ? 
>    
>    
>   wassalam
>   
> duy_201 <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>   Insya Allah itu bukan bid'ah Bang, karena ada hadits yang 
menjadi 
> landasannya. Yang disebut bid'ah itu adalah sesuatu yang tidak ada 
> landasannya, baik dari Al-quran maupun Assunnah.
> 
> "...beliau berbicara dengan perkataan yang jelas, yang mudah 
> ditangkap dan diingat oleh orang yang duduk bersama beliau."
> 
> 





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital.
http://us.click.yahoo.com/vJUKhA/lbOLAA/a8ILAA/wDNolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Ilmu merupakan harta abstrak titipan Allah Subhanahu wata'ala kepada seluruh 
manusia yang akan bertambah bila terus diamalkan, salah satu pengamalannya 
adalah dengan membagi-bagikan ilmu itu kepada yang membutuhkan. 
Janganlah sombong dengan ilmu yang sedikit, karena jika Allah Subhanahu 
wata'ala berkehendak ilmu itu akan sirna dalam sekejap, beritahulah orang yang 
tidak tahu, tunjukilah orang yang minta petunjuk, amalkanlah ilmu itu sebatas 
yang engkau mampu. 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/keluarga-islam/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke