|
Dari : Sayyid Hasan bin Husen
Assaggaf
Memang kita bisa rasakan bedanya peristiwa
penyambutan tahun baru Masehi dan tahun baru Islam (Hijriah). Tahun baru
Islam disambut biasa-biasa saja, jauh dari suasana meriah, tidak seperti
tahun baru Masehi yang disambut meriah termasuk masyarakat Muslim sendiri.
Sebagai tonggak penting perkembangan Islam, seharusnya umat Islam
menyambutnya dengan semarak, sembari merenungkan apa yang telah dilakukan
dalam kurun waktu setahun berlalu yang terselip di dalamnya banyak catatan
baik dan buruk.
Tapi ada yang lebih menonjol dalam memperingati
tahun baru Islam (Hijriah) yaitu terletak pada penerapan ubudiyah dan
ruhaniyah serta penghayatan makna peringatan itu sendiri untuk bisa
dijadikan sarana instrospeksi diri. Sebaliknya, di awal tahun baru Masehi,
pada umumnya yang ditonjolkan hanya aspek yang berkaitan dengan kulit
luarnya saja. Banyak manusia yang telah terlalaikan oleh momen pergantian
tahun. Waktu penting yang seharusnya dijadikan sarana instrospeksi diri,
malah telah disalahgunakan sebagai sikap melampaui batas. Atas nama
kebebasan dan kegembiraan mereka lalaikan nikmat Allah dengan menggelar
kemaksiatan dan sikap-sikap yang membawa kehancuran dan amarah Allah.
Dalam bahasa Arab, hijrah bisa diartikan sebagai pindah atau
migran. Tafsiran hijrah disini diartikan sebagai awal perhitungan kalender
Hijriah, sehingga setiap tanggal 1 Muharam, ditetapkan sebagi hari besar
Islam. Dan yang pertama kali menetapkan tahun Hijriah ini adalah khalifah
Umar bin Khattab. Hal tersebut oleh beliau dijadikan sebagai sejarah
langkah pertama dalam pembentukan masyarakat Muslim antara kaum Muhajirin
dan Anshar. Orang orang yang berhijrah dari Makkah karena diusir dari
kampung halaman mereka dinamakan Muhajirin, sedangkan penduduk asli
Madinah dinamakan Anshar.
"Orang-orang yang terdahulu lagi yang
pertama-tama masuk Islam di antara orang-orang muhajirin (pendatang) dan
anshar (pribumi) dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah
ridho kepada mereka dan mereka pun ridho kepada Allah dan Allah
menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di
dalamnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang
benar" (QS. At-Taubah: 100)
Memang, sejak hijrahnya rasulullah ke
Yatsrib, sebuah kota subur, terletak 400 kilometer dari Makkah, Islam
lebih memfokuskan pada pembentukan masyarakat Muslim yang tidak kampungan
dibawah pimpinan rasulullah. Itulah sebabnya kota Yastrib dirubah namanya
menjadi al-Madinah yang artinya "kota" (bukan kampung), atau lebih tenar
lagi disebut kota rasulullah. Bahkan dalam bahasa Arab, al-Madinah bisa
pula bermakna "peradaban". Adapun pada hakikatnya adalah sebuah niat atau
keinginan keras ('azam) yang keluar dari hati Rasulalah atas perintah
Allah, bahwa beliau bersama sama kaum Muhajirin dan Anshor, hendak
membentuk masyarakat Muslim baru yang bercirikan persaudaraan, keadilan
dan rasa kasih sayang terhadap sesama.
Inilah satu nilai yang
sangat penting kenapa hijrah dijadikan sebagai titik awal terbitnya fajar
baru peradaban umat Islam. Terbitnya fajar baru ini berkat hijrah. Maka
hijrah dengan demikian selalu membuat perubahan. Hijrah merupakan usaha
dan semangat besar manusia yang ingin merubah masyarakat yang beku dan
jumud menjadi manusia yang maju, sempurna dan bersemangat. Jadi kalau inti
dari peringatan tahun baru Hijriah adalah pada soal perubahan dan
pembentukan, maka ada baiknya momen pergantian tahun ini kita jadikan
sebagai saat saat untuk merubah dan membentuk. Itulah fungsi peringatan
tahun baru Islam.
Berbicara tentang perkembangan Islam, tentu
tidak bisa lepas dari peristiwa hijrah Rasulullah dari Makkah ke Madinah.
Dakwah Nabi di Makkah pada saat itu banyak mengalami rintangan berupa
tantangan, dan ancaman dari kaum musyrikin dan kafir Quraisy. Selama kurun
waktu 13 tahun sejak Nabi diutus, dakwah rasulullah tidak mendapat
sambutan menggembirakan, bahkan sebaliknya, banyak menghadapi lecehan,
hinaan, dan ancaman dari kaum musyrikin dan kafir Quraisy.
Karena
itu, Rasulullah diperintahkan untuk pindah (hijrah). Akhirnya, beliau
dengan sangat terpaksa meninggalkan kota kelahirannya Makkah, berhijrah ke
Kota Madinah. Dari kecintaan Rasulullah terhadap kota Makkah, di
perbatasan kota Makkah beliau menangis dan menengok ke arah Ka'bah. Beliau
bersabda,
"Seandainya mereka tidak mengeluarkanku dari Makkah,
maka aku tidak akan keluar." (Al-Hadist)
Di Madinah, Nabi dan para
sahabat Muhajirin mendapat sambutan hangat oleh kaum Anshor (penduduk asli
Madinah). Agama Islam pun mengalami perkembangan amat pesat. Dalam kurun
waktu relatif singkat, suara Islam mulai bergema keseluruh penjuru alam
dan Islam pun berkembang meluas ke seluruh pelosok permukaan bumi. Karena
itu tidak mengherankan, jika peristiwa hijrah merupakan titik pusat bagi
perkembangan Islam dan bagi pembentukan masyarakat muslim yang telah
dibangun Rasulullah.
Menurut para pakar sejarah, masyarakat
muslim, kaum Muhajirin dan Anshor yang dibangun Rasulullah saw di Madinah
merupakan contoh masyarakat ideal yang patut ditiru, penuh kasih sayang,
saling bahu-membahu dan lebih mengutamakan kepentingan umum daripada
kepentingan pribadi. Karena itu, tidak mengherankan jika Khalifah Umar bin
Khattab menjadikan peristiwa hijrah sebagai awal perhitungan tahun baru
Islam, yang kemudian dikenal dengan tahun baru Hijriah. Pentingnya
peristiwa hijrah itu dijelaskan dalam Al-Qur'an yang tersebar di beberapa
ayat, di antaranya,
"Dan orang-orang yang telah menempati kota
Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum kedatangan mereka (Muhajirin),
mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada
menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada
mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin)
atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan apa yang mereka
berikan itu. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka
itulah orang orang yang beruntung" (QS. Al-Hasyr: 9)
Maka dari
itu, ada beberapa aspek penting yang bisa diambil sebagai teladan dari
hijrahnya rasulullah ke Madinah:
Pertama, melakukan "ishlah" pada
diri umat Islam di dunia agar bisa melihat ke depan, bisa maju dan
melangkah lebih baik. Waktu itu akan terus berjalan meskipun persoalan
umat Islam di dunia sekarang ini semakin menumpuk dan mempuruk. Oleh
karena itu, menurut orang bijak, mereka yang tidak pandai memanfaatkan
waktu dangan baik, akan tergilas oleh roda waktu. Detak jarum jam ibarat
pedang, kalau lengah maka kita akan mati ditebas waktu.
Kedua,
membina masyarakat yang tak berkasta atau tidak pandang bulu. Inilah misi
utama ajaran Islam yang menciptakan masyarakat yang adil, dan tak
berkasta. Tepatnya, masyarakat tak berkelas. Yakni masyarakat yang tidak
membedakan kelas, kaya atau miskin, pejabat atau rakyat, kulit hitam atau
putih pamong peraja atau jelata, dan status sosial lainya. Di mata Allah,
semua manusia sama dari asal Adam, dan Adam dari asal tanah. Tak ada
bedanya antara orang Arab dan bukan Arab, hanya tingkat ketakwaanlah yang
membedakan antara satu dangan yang lain. Allah berfirman dalam surat
Al-Hujurat ayat 13,
"Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan
kamu dari seorang lelaki dan seorang perempuan, dan menjadikan kamu
berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, supaya kamu saling kenal-mengenal.
Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah
orang yang paling bertakwa di antara kamu."
Ketiga, melakukan
renungan atas apa yang kita telah perbuat agar bisa bercermin kepada
nilai-nilai dan semangat hijriah dalam kehidupan beragama dan
bermasyarakat. Nilai-nilai kehidupan dan bermasyarakat ini telah
dicontohkan Rasulullah di saat hijrah beliau ke Madinah yaitu dengan
mempersaudarakan antara kaum Muhajirin (pendatang) dan kaum Anshar
(pribumi). Beliau telah membina tali persaudaraan yang kuat dari berbagai
segi. Bahkan bukan antara kaum Muhajirin dan Anshar saja, tapi beliau
telah membina hubungan baik dengan beberapa kelompok Yahudi yang hidup di
Madinah dan sekitarnya. Nilai-nilai dan semangat semacam inilah yang patut
kita jadikan sebagai contoh atau teladan dalam kehidupan kita sehari-hari.
Keempat, mengambil sikap saling mencintai antara sesama manusia
sebagaimana talah dicontohkan secara nyata oleh kaum Anshar. Sebagai
penduduk asli, kaum Anshar telah menunjukkan sikap cintanya secara tulus
tanpa pamrih kepada kaum Muhajirin (pendatang). Rasulullah telah
mempersaudarakan antara mereka dan membina kasih sayang, saling
menghargai, saling membahu dan mengutamakan kepentingan orang lain. Ini
menunjukkan betapa tingginya rasa cinta kaum Anshar terhadap saudaranya
kaum Muhajirin, sekaligus betapa besarnya pengorbanan Rasulullah dalam
membina persaudaraan yang dilandasi dengan cinta dan kasih sayang.
Semoga dengan datangnya tahun baru Hijriyah ini, kita bisa
mengambil sebanyak mungkin manfaat dari nilai-nilai dan semangat hijrahnya
Rasulullah ke Madinah yang perlu terus-menerus diterapkan dalam kehidupan
nyata dalam memupuk semangat saling mencintai, kerja sama dalam kebajikan,
tulus ikhlas dan kasih sayang terhadap
sesama.
|