|
kalo saya sih cuman mo nambahin
pertanyaan
jika "cinta tanah air bukan sebagaian dari iman"
adalah hadist palsu lalu apakah " kebersihan sebagian dari iman" juga hadist
palsu?
lalu sebenarnya iman yang utuh itu seperti apa ya?
saya juga sering berpikir jika memang kedua hal diatas adalah sebagaian dari
iman... maka kita juga harus mencari sebagian yang lainnya dong... agar
utuh
salam
----- Original Message -----
Sent: Tuesday, February 28, 2006 12:49
PM
Subject: RE: [keluarga-islam] "Cinta
Tanah Air Sebagian Dari Iman" Bukan Hadits
Jazakallah Kang Ari Dino...
Pada
saudaraku yg lain yg mungkin meyakini ungkapan itu adalah Hadist, walaupun
mungkin termasuk Hadist Lemah, ayo kirim referen-nya, biar kita semua betambah
ilmunya...
Salam
AL-Pacitan
Saya copy paste dari diskusi di www.persis.or.id
...., tepatnya Majalah risalah
edisi September / Oktober 1968 No. 62-63 Th VII. dengan judul HADITS PALSU
YANG MERACUNI ALAM ISLAMI. Disitu dikatakan bahwa ungkapan "Cinta tanah
air adalah sebagian dari iman" ini berasal dari "Patriotism is an article of
faith" yang dibahasa 'arabkan menjadi "Hubbul wathan minal ieman". Ungkapan
ini sebagai slogan yang dijadikan motto oleh majalah al-Jinan (taman sari)
yakni sebuah majalah dwi bulanan gerakan politik kebangsaan (nasionalisme)
Arab, yang dipimpin oleh Buthrus al-Bustani dan Nashif al-Yaziji. Keduanya
adalah orang Kristen berkebangsaan Lebanon, di situ pula ditukilkan
pernyataan dari George Antonius, dalam bukunya " The Arab Awakening "
cetakan Philadelphia, Lippinath, 1939. .......Bustani started a
political-cum-literary bi-monthly in 1870 and gave the slogan "Patriotism is
an article of faith". Hal Itu dilakukan dengan sengaja untuk menarik umat
Islam agar tidak lagi menghiraukan agamanya dan menjadi pengikutnya dengan
tidak merasa meninggalkan agamanya. "The practical harmonization with Islam
was effected when western-educated Muslim leaders, with more religion on
their tongues than in their hearts, utilized the religious prejudices and
sentiments of masses for their nationalistic purposes" (penyelarasan praktis
dengan Islam berhasil ketika peminpin-peminpin Islam berpendidikan Barat,
dengan lebih banyak membicarakan agama pada lidah-lidah mereka dari pada
dalam hati-hati mereka, menggunakan anggapan dan perasaan keagamaan
orang-orang awam untuk kepentingan tujuan-tujuan politik kebangsaan mereka.
Demikian tulis Philip K. Hitti dalam bukunya "The New Asia" p. 105, A Mentor
Book, USA , 1965. Selanjutnya Majalah Risalah menuliskan : Maka ternyata
kemudian orang-orang awam terhasut, sebab menganggap semboyan nasionalisme
itu sebagai hadits Shohih, sehingga alam Islami tinggal menjadi sesosok
tubuh yang tulang-belulangnya berserakatan, yang sulit sekali untuk disusun
kembali menjadi tubuh yang utuh sebagaimana sebermula adanya. Keadaan
termaksud diatas terjadi disebabkan lengahnya umat Islam. Mereka dibenamkan
dalam-dalam oleh pemimpinnya sendiri dalam kejumudan. Pada masa itu yang
penting ialah bagaimana agar si Fulan tetap berkuasa. ........ (Majalah
Risalah Hal 164-165. Edisi September / Oktober 1968 No. 62-63 Th
VII.
Bila telah nyata bahwa itu hadits palsu, bahaya sekali buat kita
mengatakan bahwa itu adalah Hadits Rasul yang Shohih, kita akan teringat
Sabda Rosululloh saw. yang begitu mutawatir yakni : " Man kadzdzaba 'alaya
muta'amidan fal yatabawwa mak'adahu minan naar" (Barang siapa berdusta atas
namaku dengan sengaja maka dipersilakan tempat duduknya di
neraka). Sekian, semoga menjadi jawaban.
Ilmu merupakan harta abstrak titipan Allah Subhanahu wata'ala kepada seluruh manusia yang akan bertambah bila terus diamalkan, salah satu pengamalannya adalah dengan membagi-bagikan ilmu itu kepada yang membutuhkan.
Janganlah sombong dengan ilmu yang sedikit, karena jika Allah Subhanahu wata'ala berkehendak ilmu itu akan sirna dalam sekejap, beritahulah orang yang tidak tahu, tunjukilah orang yang minta petunjuk, amalkanlah ilmu itu sebatas yang engkau mampu.
YAHOO! GROUPS LINKS
|