|
SEJARAH
PENULISAN HADITS Di Masa Rasulullah dan Khulafaur Rasyidin, tidak diadakan penulisan hadits kecuali beberapa kasus. Hal ini disebabkan karena adanya larangan dari Rasulullah untuk menuliskan hadits. Dari Abi said al Khudri bahwasanya Rasul saw bersabda,Jangan kamu menuliskan sesuatu dariku, dan siapa yang menuliskan sesuatu dariku selain al-Quran maka hendaklah ia menghapusnya (HR Muslim-Shahih Muslim) Abu Hurairah berkata,Nabi suatu hari keluar dan mendapati kami sedang menuliskan Hadits-hadits, maka Rasulullah saw bertanya,Apakah yang kamu tuliskan ini?. Kami menjawab,Hadits-hadits yang kami dengar dari engkau ya Rasulullah. Rasul berkata.Apakah itu kitab selain Kitab Allah (alQuran) ?Tahukah kamu tidaklah sesat umat yang terdahulu kecuali karena mereka menuliskan kitab selain kitab Allah (HR Khatib) Abu Said al Khudri berkata,Kami telah berusaha dengan sungguh meminta izin untuk menulis (Hadits), namun Nabi saw enggan (memberi izin) Pada riwayat lain, Abu Said al Khudri juga berkata,Kami meminta izin kepada Rasul saw untuk menulis (hadits), namun Rasul saw tidak mengizinjkan kami (HR Khatib dan Darami) Dan beberapa nama yang sepakat bahwa penulisan hadits itu dilarang oleh Rasul saw diantaranya: Abdullah Ibn Masud, Abu Musa a; Asyari, Abu Hurairah, Abdullah Ibn Abbas dan Abdullah ibn Umar dan masih banyak lagi.. Dan terutama adalah 4 sahabat (Khulafaur Rasyidin) adalah termasuk yang menganggap bahwa penulisan hadits adalah dilarang. Abu Bakar Shiddiq, Diriwayatkan oleh Al Hakim dari al Qasim ibn Muhammad, dari Aisyah ra mengatakan bahwa ayahnya mengumpulkan sekitar 500 hadits. Pada suatu malam Abu Bakar membolak-balikkan badannya berkali-kali dan tatkala subuh datang dia meminta Aisyah hadits-hadits yang ada padanya. Selanjutnya, ketika Aisyah datang membawa hadits-hadits tersebut, Abu Bakar menyalakan api, lalu membakar hadits-hadits itu. (Ushul al Hadits- Ajjaj al Khatib halaman 153) Demikian juga dengan Umar bin Khattab, Diriwayatkan oleh Urwah ibn Zubair bahwasanya Umar bin Khattab ra bermaksud hendak menuliskan Sunnah, maka ia meminta fatwa kepada prasa sahabat yang lain tentang hal itu, dan para sahabat mengisyaratkan agar Umar menuliskannya. Umar kemudian melakukan istikharah kepada Allah selama sebulan, dan akhirnya ia mengambil keputusan yang disampaikannya dihadapan para sahabat seraya berkata Sesungguhnya aku bermaksud hendak membukukan sunnah, namun aku teringat suatu kaum sebelum kamu yang menuliskan beberapa kitab. Mereka asyik dengan kitab-kitab tersebut dan meninggalkan kitab Allah. Dan sesungguhnya, aku demi Alloh tidak akan mencampurkan Kitab Allah dengan apapun untuk selamanya Pada kitab lain yang diriwayatkan oleh Malik bin Anas, Umar ketika ia berbalik dari niatnya untuk menuliskan sunnah mengatakan Tidak ada suatu kitabpun yang dapat menyertai Kitab Allah Dan kemudian Umar memerintahkan sahabat yang terlanjut menuliskannya untuk membawanya ke Umar dan kemudian ia sendiri yang membakarnya. (Al Sunnah Qabla Tadwin hal 310-311) Utsman bin Affan, Di suatu khotbahnya berkata agar para sahabat tidak banyak meriwayatkan hadits yang mereka tidak pernah mendengarnya di masa Abu Bakar dan Umar. Ali bin Abi Tholib mengatakan, Aku tidak ragu-ragu dalam menerima hadits yang langsung aku terima dari Rasulullah saw, tetapi jika orang lain yang meriwayatkannya, maka aku akan mengambil sumpah orang tersebut Menurut ulama ahli hadits, mereka berpendapat dibolehkannya penulisan hadits dengan berdasar kepada : Dari Rafi ibn Khudaij bahwa ia menceritakan, kami bertanya kepada Rasulullah,Ya Rasulullah, sesungguhnya kami mendengar dari engkau banyak hadits, Apakah boleh kami menuliskannya? Rasulullah menjawab Tuliskanlah oleh kamu untukku dan tidak ada kesulitan (HR Khatib) Dari Anas ibn Malik bahwa ia berkata, Rasulullah saw bersabda ikatlah ilmu itu dengan tulisan Khotbah Rasulullah saw di Mekkah ketika penaklukan
(HR Bukhari) Dari Abdullah ibn Amr, aku berkata Bolehkan aku menuliskan apa yang aku dengar dari engkau? Rasulullah menjawab Boleh Aku berkata selanjutnya Dalam keadaan marah dan senang? Rasul menjawab lagi Ya, Sesungguhnya aku tidak mengatakan sesuatu kecuali yang haq (kebenaran) (HR Ahmad) Penulisan Hadits baru dimulai di abad ke 2 Hijriyyah oleh Umar bin Abdul Azis, seorang kholifah dari Dinasti Umayyah. Tetapi menurut Ajjaj Al-Khathib, kegiatan pembukuan hadits ini sudah dimulai sejak masa Abdul Aziz ibn Marwan (ayah dari Umar ibn Abdul Aziz. Yang ketika itu menjabat sebagai gubernur Mesir. Diriwayatkan bahwa Abdul Azis telah meminta kepada Katsir ibn Murrah al Hadhrami seorang tabiin di Himsa yang pernah bertemu tidak kurang dari 70 veteran perang Badar. Pencatatan ini dimulai tahun 75 H. Barulah di masa kekholifahan Umar bin Abdul Azis, meliau memerintahkan Gubernur Madinah, Abu Bakar Muhammad ibn Amr bin Hazm untuk mengumpulkan hadits dan juga Muhammad Ibn Syihab al Zuhri, Ulama besar di Hijaz dan Syam. Kitab hadits pada abad ke 2 H ini diantaranya adalah:
Kitab hadits abad ke 3 H diantaranya adalah :
Setelah sekilas kita melihat sejarah penulisan hadits, maka paling tidak kita menjadi tahu gambaran-gambaran, bahwa begitu banyak hadits-hadits pada waktu awal masa-masa itu, yang bersifat hadits-hadits politik, hadits-hadits palsu yang dikeluarkan demi kepentingan politik-politik tertentu. Begitu banyak pula susupan-susupan dari kaum Bani Israil (Israiliyyat), dan begitu banyak pula hadits-hadits palsu dibuat untuk kepentingan-kepentingan lainnya.
gitu loch..:)
salam huttaqi Ilmu merupakan harta abstrak titipan Allah Subhanahu wata'ala kepada seluruh manusia yang akan bertambah bila terus diamalkan, salah satu pengamalannya adalah dengan membagi-bagikan ilmu itu kepada yang membutuhkan. Janganlah sombong dengan ilmu yang sedikit, karena jika Allah Subhanahu wata'ala berkehendak ilmu itu akan sirna dalam sekejap, beritahulah orang yang tidak tahu, tunjukilah orang yang minta petunjuk, amalkanlah ilmu itu sebatas yang engkau mampu. YAHOO! GROUPS LINKS
|
