|
Berangkat dari apa yang di sampaikan oleh ibu
Rahima pada imel terdahulu yang menyampaikan bahwa:
"Beliau (Imam Ghozali) adalah seorang ulama yang
mulanya memegang jabatan di pemerintahan....." "(Imam Ghazali) Ahli Fiqh ( faaqih), mahir dalam berdebat, dan berbicara.
Kemudian beliau masuk dalam tatanan
kerajaan(pemerintahan), dan masuk dalam wilayah kementrian." maka rasanya perlu saya berikan perbandingan apa yang disampaikan ibu
rahima dengan beberapa referensi di bawah ini : Tentang Imam Ghozali :
Nasab dan Kelahirannya
Ia adalah Zainuddin, Hujjatul Islam Abu Hamid,
Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al Ghazali Ath Thusi An Naysaburi, Al Faqih
Ash Shufi, Asy Syafi'i, Al Asy'ari.
Ia Lahir di kota Thus yang
merupakan kota kedua di Khurasan setelah Naysabur pada tahun 450 H.
Ibnu Asakir mengatakan "Imam Ghozali lahir di Thus
pada tahun 450 H. Masa kecilnya dimulai dengan belajar fiqih. Kemudian ia pergi
ke Naysabur dan selalu mengikuti pelajaran-pelajaran Imam al Haramain. Ia
berusaha dengan sungguh-sungguh sehingga dapat menamatkannya dalam waktu
singkat. Ia menjadi orang terpandang pada zamannya. Ia duduk untuk membacakan
dan membimbing murid-murid mewakili gurunya dan menulis buku"
Gurunya membanggakan dan mempercayakan kepadanya
kedudukannya. Kemudian ia meninggalkan Naysabur dan menghadiri majelis al Wazir
Nizham al Mulk. Ia mendapat sambutan hangat darinya. Majelis Nizham al Mulk
senantiasa dipadati ulama dan didatangi para imam. Pada satu kesempatan Imam al
Ghazalai mengemukakan pandangannya yang sesuai dengan pandangan para tokoh itu,
maka mencuatlah namanya. Lalu Nizham al Mulk memerintahkan nya pergi ke Baghdad
untuk mengajar di al Madrasah An Nizhamiyyah, maka ia pergi ke kota itu dan
semua orang mengagumi pengajaran dan pandangan-pandangannya. Maka ia menjadi
imam penduduk Irak setelah menjadi Imam di Khurasan.
Setelah beberapa waktu, di tahun 489, ia pergi ke
Damaskus dan tinggal di situ beberapa waktu untuk berkholwat. Kemudian dari
damaskus pergi ke baitul al Maqdis dan mulai menulis al Ihya.
Ibnu al Jauzi di dalam al Muntazim
berkata,"Menjelang wafatnya ia diminta sahabatnya, berwasiatlah kepadaku, Ia
menjawab "Hendaklah engkau ikhlas". Senantiasa ia mengulanginya hingga
meninggal.
(Lihat otobiografi pengarang dalam wafiyat al a'yan
I/463, Thabaqat AsSyafiyah IV/101, Ath Thabawat al Aliyyah fi manaqib Asy
Syafi'iyyah, Miftah as Sa'adah II/191-210)
Di masa kanak-kanak ia belajar fiqih di Thus kepada
Imam Razakani dan menginjak muda ia menuntut ilmu ke Jurjan, akhirnya ke
Naisabur pada sekolah tinggi Nidzamiyah yang diasuh Imam al Haramayn, Abu Ma'ali
al Juwaini. Ia sangat menguasai fiqih al Syafi'i dan kalam Al asy'ari. Kemudian
ia pindah ke Mu'askar dimana ia berhubungan dengan Nidzamu al Mulk, Perdana
mentri Bani Saljuk yang kemudian mengangkatnya menjadi guru di Universitas
Nidzamiyah di Bangdad. Di kota itu namanya terkenal luas, halaqoh pengajiannya
membesar dan ia produktifmenulis. Tetapi kemudian ia lebih menyukai kehidupan
spiritual daripada material.
(Tahafut al Falasifah, xiv,)
Dari apa yang ditulis di atas, jelas bahwa Imam
Ghazali tidak pernah menjabat di pemerintahan maupun di kementrian, tetapi
beliau konsisten di dalam masalah keilmuwan..mengajar dan menulis di Universitas
Nizham al Mulk..
Semoga dengan tulisan ini menambah wacana kita
semua.
salam
huttaqi
Ilmu merupakan harta abstrak titipan Allah Subhanahu wata'ala kepada seluruh manusia yang akan bertambah bila terus diamalkan, salah satu pengamalannya adalah dengan membagi-bagikan ilmu itu kepada yang membutuhkan. Janganlah sombong dengan ilmu yang sedikit, karena jika Allah Subhanahu wata'ala berkehendak ilmu itu akan sirna dalam sekejap, beritahulah orang yang tidak tahu, tunjukilah orang yang minta petunjuk, amalkanlah ilmu itu sebatas yang engkau mampu. YAHOO! GROUPS LINKS
|
