|
Salam persaudaraan,
"Ada segumpal daging didalam diri, bila daging itu
jelek, maka jelek pulalah seluruh diri kita, jika segumpal daging itu baik, baik
pulalah seluruh diri kita, itulah qolbu/hati"
"Allah tidak melihat wajahmu, tidak melihat
hartamu, tetapi yang dilihat adalah hatimu"
Titik sentral pada diri manusia adalah hatinya
masing-masing. Bukan dalam pengertian hati (lever) seperti dalam pemahaman
kedokteran, dan juga bukan dalam arti jantung (sebagai istilah ilmiah bagi
qolbun)...
Melainkan qolbu, atau hati/jantung dalam istilah
maknawi atau kias...
Satu waktu ketika lukman al hakim yang bijaksana
menyamar menjadi seorang budak, maka dia diperintahkan untuk memotong sapi
beberapa ekor, dan setelah itu ia diperintah oleh majikannya,"potongkan aku
daging sapi yang paling baik ..."
Ia potong jantungnya dan diberikan kepada
majikannya...
Kemudian majikannya memerintahkan kembali,"potong
daging sapi yang paling jelek!", sekali lagi ia kembali dan memotong jantung
sapi lagi
Majikan yang heran kemudian bertanya,"Mengapa aku
suruh kamu memotong daging yang paling baik, kamu potongkan aku jantungnya dan
ketika aku minta daging yang paling jelek kamu potongkan jantung sapi
lagi?"
Lukman berkata,"Tuanku, sesungguhnya perlambang
bagi manusia, jika jantung maknawinya baik, maka baik pula seluruh dirinya dan
jika jantung maknawinya jelek, jelek pula seluruh dirinya"
Seorang peneliti pernah menyelidiki, jantung
manusia yang jahat dengan jantung manusia yang baik, tidak ada bedanya secara
phisik..sebab memang bukanlah baik jantungnya secara fisik yang menjadi tolok
ukurnya...
Di dalam hati manusia, Imam Ghozali pernah
menjelaskan bahwa ada yang disebut Khotir, atau lintasa hati. Sebab jamak, maka
disebut khowatir (khawatir bhs Indonesia), lintasan-lintasan hati.
Disederhanakan oleh Imam Ghozali bahwa lintasan
hati itu ada 4 macam :
1. Lintasan hati yang berasal dari
Allah
2. Lintasan hati yang berasal dari
Malaikat
3. Lintasan hati yang berasal dari hawa atau
keinginan jasmani dan
4. Lintasan hati yang berasal dari
Iblis..
Manakah diantara lintasan-lintasan itu yang sering
mendorong hati kita untuk berbuat sesuatu?
apakah lintasan yang positif ? (dari Allah atau Malaikat ?)
dan apakah lintasan yang negatif (dari hawa atau iblis) yang mendorong hati
kita untuk berbuat sesuatu?
Bagian yang tidak mudah, keahlian yang tidak mudah
yang sekarang ini jarang sekali orang bisa memilah-milah lintasan2
hatinya...
Tampaknya Baik belum tentu sumbernya lintasan hati
itu dari Allah, dan tampaknya buruk belum tentu sumber lintasan itu dari
Iblis...
"Mungkin yang menurut kamu baik, belum tentu baik
bagi Allah dan yang menurutmu tidak baik, mungkin itu baik menurut
Allah"
AKAL adalah alat dari pada hati...letaknya BUKAN di
OTAK...AKAL ada di dalam hati, tetapi ALAT yang dipakai sebagai sarana memang
adalah otak.
Seorang doktor psikolog PHD, telah melakukan
penelitiannya selama 30 tahun, dan ia menangani pasien seorang yang mengalami
kecelakaan, separo dari otaknya hancur/rusak. Ketika si pasien sembuh dengan
keadaan separo otaknya hancur, ternyata kecerdasannya tidak berubah, dan ia
kemudian menyimpulkan bahwa "Ada hubungan antara hati/jantung maknawi dengan
akal pikir"
Bukan lagi ada hubungan,melainkan memang lah akal
itu adalah alat daripada hati.
Di dalam hati ini ada 3 anugrah besar yang
diberikan oleh Allah sebagai sarana untuk hidup, yaitu Pikir, Kemauan dan
Rasa...
Ahli Pikir maka menjadilah dia ilmuwan seperti
hawking, einsten, marie Currie,dll.
Ahli kemauan yakni kemauan yang kuat akan menjadi
tokoh dengan ambisinya, seperti hitler, sukarno, mussolini, mc
artur,dll.
Dan ahli rasa akan menjadi tokoh2 yang ahli didalam
masalah olah rasa, seperti ahli spiritual, ahli seni,dll.
Hanya para Nabi lah yang memiliki ketiga hal itu
secara kuat, pikir. kemauan dan karsa
(demikian dalam bahasa yang berbeda disampaikan
oleh hamka)
nah, aqli atau akal itu artinya adalah ikatan, yang
mengikat ketiga hal tersebt yakni pikir, kemauan dan rasa..
pengikatnya atau aqlinya adalah agama. Jadi sebab
itulah agama hanya berlaku bagi orang2 yang berakal. Berakal pikir, berakal
kemauan dan berakal rasa.
Tidak terkena hukum agama bagi orang2 yang tidak berakal.
Setelah dari dorongan hati, akal tergerak, maka
yang awal dipakailah sarana otak sebelah kanan, yang berbicara tentang intuitif,
firasat, imajinasi, dll, dan setelah menggunakan otak sebelah kanan, mulailah
diproses/digunakan otak sebelah kiri, yang runtut, ilmiah, logis, urut,
dll.
Demikianlah yang terjadi dikala seorang anak belum akil baligh, dorongan
hati dan penggunaan otak kanan yang dominan. Sedangkan setelah terkena
pendidikan ilmiah, maka mulailah pelatihan terhadap otak sebelah kiri dilakukan.
Bertahun-tahun kemudian, setelah penggunaan otak kiri yang dominan, maka fungsi
otak kanan mulai jarang dipakai..sehingga "suara hati" semakin tertutup oleh
pemikiran2 yang logis dan ilmiah..
Ada yang luput dari perhatian orang banyak,
mengapakah bacaan quran itu dari kanan ke kiri? dan tidak dari kiri ke kanan
seperti umumnya yang sekarang ini kita baca huruf latin?
Mungkin Jepang sudah menyadari akan hal ini dan
sekarang komik2 Jepang sudah dibuat dengan cara membaca dari kanan ke
kiri...
Sayang orang Islam sendiri sedikit yang
tahu...
Bacaan dari kanan ke kiri, secara tidak sadar maka
kita melatih penggunaan otak kanan terlebih dahulu dengan kemudian baru
menggunakan otak sebelah kiri.
Anda tahu apa pengaruhnya?
Ketika kita terbiasa menggunakan otak sebelah kiri,
yang ilmiah, yang runtut yang logis, dll, maka cara berpikir leterlijk sudah
kita tanamkan pada diri kita. Pengaruh-perngaruh dari sumberan luar yang melalui
panca indera akan besar pengaruhnya pada diri kita.
Sumberan dari penglihatan yang kemudian di proses
di otak kiri, akan membentuk networking neuron-neuron yang ada di otak...yang
semakin lama semakin kuat dan semakin menguat..
Sumberan dari telinga, bisikan-bisikan kemudian
akan di proses di otak kiri dan membentuk jembatan yang kuat antara
neuron-neuron yang semakin lama semakin menguat dan semakin
menguat...
Dan dari sanalah, dengan semakin menguatkan
jaringan2 antara neuron2 di dalam otak, karena kita terbiasa, maka kita akan
menganggap itu sebagai sebuah kebenaran.
Padahal itu hanyalah kebenaran yang semua
disebabkan karena kita sudah familiar saja dengan sesuatu tersebut. Hanya karena
kita sudah terbiasa dengan pemahaman tersebut.
Kebiasaan-kebiasaan, jawaban-jawaban,
pemahaman-pemahaman, pengertian-pengertian yang sudah kita biasakan dan
membentuk jaringan di dalam otak kita itu, maka akan kita anggap sebagai sebuah
kebenaran. yang semakin lama semakin lama akan membentuk keyakinan di dalam diri
kita dan kalau sudah mengkristal, maka keyakinan kita itu tidak berobah di
sebabkan karena hal yang sudah terbiasa kita dapatkan di dalam pemahaman
otak.
Coba renungi, apa yang dikatakan oleh menteri
penerangan jerman di PD II."Kebenaran adalah 62.000 x kebohongan."
Bagaimana kita akan mendapatkan kebenaran yang
hakiki jika kita hanya berdasar kepada apa yang ada di akal pikir kita
yang itu bersumber dari informasi-informasi dari luar saja:?
informasi, pengetahuan, keilmuan, pemahaman apalah
itu yang sumbernya dari luar, atau dari pancaindera, itulah yang membentuk "Fram
of Reference" dan pengalaman2 yang sudah kita alami selama kita hidup, dan itu
akan diingat dalam memori, membentuk jaringan tersendiri yang menyambungkan
neuron2 juga didalam otak kita, itulah yang menimbulkan "Field of Experience"
dan menurut umum, sebagaimana disebutkan oleh Water Lippman, itulah yang
menimbulkan "Picture in Our head"
tetapi jangan dilupakan bahwa peneliti barat yang
masih berkutat dipenyelidikan tentang otak tidak memahami, siapakah yang
melakukan fungsi kontrol terhadap otak..
Pertanyaan ini masih menjadi awan gelap bagi
mereka,
apakah yang mengontrol kerja otak ada di dalam otak
juga?
sudah diketahui memang bahwa yang mengontrol kerja
fisik adalah otak, tetapi siapakah yang mengontrol otak? siapakah atau bagian
manakah yang menjadi trigger bagi otak ?
Itu tergantung kepada lintasan-lintasan
hati...
Pabila hati dikuasai oleh Allah atau malaikatNya,
sederhanakan dikuasai oleh hal yang baik, maka jalan otak didalam menelusuri
jembatan neuronnya akan mengarah kepada hal yang baik...
dan jika hati dikuasai oleh dorongan hawa nafsu
atau dikuasai oleh iblis, maka jalan otak akan menelusuri jembatan neuron yang
negatif juga, mengarah kepada hal yang jelek...
Masihkah kita sulit memahami bahwa benar apa yang
disampaikan oleh Muhammad,"jika segumpal daging itu jelek, maka jelek pula
seluruh dirinya dan jika segumpal daging itu jelek, maka jelek pula seluruh
dirinya?"
Sayang, cara berpikir dengan menggunakan otak kiri,
dengan diperkuat dengan pembacaan dari kiri ke kanan, sudah sedemikian kuat
sehingga telah menjadi imam di dalam otak kita....sehingga sulitlah kita
lepas dari "picture in our head" yang disebabkan karena "frame of reference" dan
"field of experience" yang kita dapatkan dari sumber2 luar melalui
pancaindra..dan ini mayoritas telah terjadi pada diri manusia...
Ditambah dengan hati kita yang tidak pernah
dibersihkan dari lintasan-lintasan hati yang berasal dari nafsu, dan tidak
pernah dibersihkan dari lintasan2 hati yang berasal dari iblis...
Lalu, bagaimanakah kita akan mendapatkan kebenaran
yang sejati ?
Aturan, koridor, hukum2, syariat,
norma diperlukan adanya untuk mengikat, mengatur, menjaga akal pikir dari
pembentukan jaringan neuron yang negatif.
Aturan, koridor dan hukum, syariat, norma
diperlukan untuk Pembentukan "Field of Experience" yang benar, dan
pembentukan Frame of reference" yang sesuai sehingga terbentuklah "Picture in
Our head" yang sesuai dengan kebenaran yang dikehendaki,
Tetapi apa yang terjadi jika hati masih dikuasai
oleh lintasan hawa nafsu dan iblis ???
Misalnya akal pikir begitu kuat mengajak berpikir negatif, tetapi hati
mengalihkannya untuk berpikir positif, maka akal pikirpun akan sulit berpikir
yang negatif..
Tetapi meskipun akal pikir diajak berpikir positif, dibuatlah aturan-aturan
yang menakutkan bagi akal pikir, seandainya hati mengajak negatif, tetap saja
perbuatan akan negatif..
"Hati adalah Raja, dan AKAL adalah
Perdana Menterinya, serta yang lain adalah rakyatnya. Jika Yang Menduduki
Singgasana adalah Hawa nafsu, dorongan kepentingan jasmani, materi, maka akan
diperintah bagaimanakah perdana mentrinya? akan diperintah bagaimanakah akalnya?
dan akan dibawa kemana rakyatnya?.....
Dan ketika Raja yang berkuasa di dalam hati adalah
Yang mahay Bijaksana, Maha ROhman Maha ROhim, Maha Suci, dll, maka AKAL perdana
mentrinya akan diperintah bagaimanakah? dan rakyat akan dibawa
kemana?"
Bagaimana engkau mengatakan kekuasaan ada ditangan
rakyat? sementara tetap yang berkuasa adalah sang Raja?
Raja hati bijaksana dan baik yang berkuasa, maka perdana mentri pikiran
akan mengikuti dan rakyatpun akan mentaati,
tetapi Raja yang jahat dan menyesatkan yang berkuasa, maka meski perdana
mentrinya baik sebab aturannya baik, tetap saja perintah sang Raja yang akan
dilaksanakan, dan tampaklah bahwa rakyatnya juga akan mentaati Raja yang jahat
dan menyesatkan itu.
renungan selasa
huttaqi
Ilmu merupakan harta abstrak titipan Allah Subhanahu wata'ala kepada seluruh manusia yang akan bertambah bila terus diamalkan, salah satu pengamalannya adalah dengan membagi-bagikan ilmu itu kepada yang membutuhkan. Janganlah sombong dengan ilmu yang sedikit, karena jika Allah Subhanahu wata'ala berkehendak ilmu itu akan sirna dalam sekejap, beritahulah orang yang tidak tahu, tunjukilah orang yang minta petunjuk, amalkanlah ilmu itu sebatas yang engkau mampu. YAHOO! GROUPS LINKS
|
- [keluarga-islam] LINTASAN HATI ?! Huttaqi
- Re: [keluarga-islam] LINTASAN HATI ?! Hese Pinter NA
- Re: [keluarga-islam] LINTASAN HATI ?! Ramdan
