>
> Yup, semua warisan nenek moyang yang bertentangan dengan
keimanan dan
> hukum Alloh dan Rosul Nya mutlak harus
ditinggalkan.
===
1. Semua warisan nenek moyang yang bertentangan
dengan keimanan dan hukum Allah dan Rasul-Nya mutlak harus
ditinggalkan
2. Semua warisan nenek moyang yang bersesuaian dengan
keimanan dan hukum Allah dan Rasul-Nya
.............................................. ?
3. Semua warisan nenek
moyang yang syubhat dengan keimanan dan hukum Allah dan Rasul-Nya
.............................................. ?
>
> Sungguh merupakan sesuatu yang mencengangkan jika sesuatu yang kita
> yakini selama ini bahkan sudah membudaya dan mengakar dalam kehidupan
> kita ternyata adalah sesuatu yang sudah keluar dari koridor Alloh dan
> Rosul Nya. Mayoritas umat saat ini memang meyakini sebaliknya lalu
> apakah kita tetap menetapinya walaupun sudah mengetahui
kebenaran.
===
Idem dengan diatas
>
> Believe it or
not, Ritual ini sudah di lakukan nenek moyang kita
> penganut Budhist
maupun Hindu (lihat sejarah nusantara). Dan 200 juta
> muslim
diIndonesia sekarang ini masih melestarikannya!, sesudah
> datang
perintah untuk meninggalkan yang bathil dan menuju yang Haq.
===
>
Believe it or not, Islam sudah masuk pada masa kerajaan Sriwijaya, bahkan
disinyalir pada masa sahabat / tabi'in Islam sudah masuk pada masa
itu
>
> Tak ada dalam sejarah, Rosul mengumpulkan umatnya di
rumah salha
> seorang muslim saat itu yang meninggal, kemudian membaca
doa ini dan
> itu bahkan disuguhi ini dan itu. Apa yang diperintahkan
Rosul adalah
> untuk meringankan beban yang terkena musibah dan
bukannya
> memberatkannya, dalam Ritual ini yang terjadi adalah
sebaliknya.
> Penderitaan semakin bertambah dengan keharusan (hampir
semua meyakini
> hukum wajibnya tahlilan ini, padahal bukan) memberikan
makanan dan
> hidangan lainya bahkan uang!.
>
> Lalu dari
mana dasar wajibnya tahlilan ini (7 hari berturut turut, 40
> hari, 100
hari bahkan 1000 hari!)?, tidak ada dalam Islam, semuanya
> hanya
mengada adakan saja.
>
> Jika kita lihat dari azas manfaat dan
mudhorotnya, lebih banyak
> mudhorotnya dari pada manfaatnya
>
> 1. Membebani keluarga yang ditinggalkan mati secara ekonomi
>
2. Membebani keluarga yang ditinggalkan mati secara emosi, belum lagi
>
kesedihan hilang, mereka sudah dipusingkan dengan harus menyiapkan
>
sekian rupiah untuk membeli ini dan itu untuk jamuan, banyak yang
>
akhirnya hutang kesana kemari
> 3. Berkumpul hanya untuk pembacaan koor
ayat ayat Alloh dan jauh dari
> pengkajian dan penelaahan dari apa yang
terkandung didalamnya.
> 4. Mengirimkan bacaan buat si mati dengan
asumsi bacaan ini akan
> sampai dan meringankan beban si mati di alam
kubur.
> 5. Orang dikumpulkan dari awal sampai akhir ritual ini hanya
baca dan
> baca kemudian makan dan minum tanpa ada tolabul ilmi maupun
saling mansehati.
> dllsb
===
Bagaimana dengan yang disampaikan
mas Ramdan
http://groups.yahoo.com/group/keluarga-islam/message/12240
>
> Jadi adat istiadat yang memang keluar dari koridor Alloh dan
>
RosulNya, wajib kita jauhi. Karena kita adalah umat nya Muhammad dan
>
bukan umat pengikut nenek moyang.
>
> Salam
>
Ari
--- In [email protected], Ari <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:
>
> Yup, semua warisan nenek moyang yang bertentangan
dengan keimanan dan
> hukum Alloh dan Rosul Nya mutlak harus
ditinggalkan.
>
> Sungguh merupakan sesuatu yang mencengangkan
jika sesuatu yang kita
> yakini selama ini bahkan sudah membudaya dan
mengakar dalam kehidupan
> kita ternyata adalah sesuatu yang sudah
keluar dari koridor Alloh dan
> Rosul Nya. Mayoritas umat saat ini
memang meyakini sebaliknya lalu
> apakah kita tetap menetapinya
walaupun sudah mengetahui kebenaran.
>
> Believe it or not,
Ritual ini sudah di lakukan nenek moyang kita
> penganut Budhist maupun
Hindu (lihat sejarah nusantara). Dan 200 juta
> muslim diIndonesia
sekarang ini masih melestarikannya!, sesudah
> datang perintah untuk
meninggalkan yang bathil dan menuju yang Haq.
>
> Tak ada dalam
sejarah, Rosul mengumpulkan umatnya di rumah salha
> seorang muslim
saat itu yang meninggal, kemudian membaca doa ini dan
> itu bahkan
disuguhi ini dan itu. Apa yang diperintahkan Rosul adalah
> untuk
meringankan beban yang terkena musibah dan bukannya
> memberatkannya,
dalam Ritual ini yang terjadi adalah sebaliknya.
> Penderitaan semakin
bertambah dengan keharusan (hampir semua meyakini
> hukum wajibnya
tahlilan ini, padahal bukan) memberikan makanan dan
> hidangan lainya
bahkan uang!.
>
> Lalu dari mana dasar wajibnya tahlilan ini (7
hari berturut turut, 40
> hari, 100 hari bahkan 1000 hari!)?, tidak ada
dalam Islam, semuanya
> hanya mengada adakan saja.
>
>
Jika kita lihat dari azas manfaat dan mudhorotnya, lebih banyak
>
mudhorotnya dari pada manfaatnya
>
> 1. Membebani keluarga yang
ditinggalkan mati secara ekonomi
> 2. Membebani keluarga yang
ditinggalkan mati secara emosi, belum lagi
> kesedihan hilang, mereka
sudah dipusingkan dengan harus menyiapkan
> sekian rupiah untuk membeli
ini dan itu untuk jamuan, banyak yang
> akhirnya hutang kesana
kemari
> 3. Berkumpul hanya untuk pembacaan koor ayat ayat Alloh dan
jauh dari
> pengkajian dan penelaahan dari apa yang terkandung
didalamnya.
> 4. Mengirimkan bacaan buat si mati dengan asumsi bacaan
ini akan
> sampai dan meringankan beban si mati di alam kubur.
>
5. Orang dikumpulkan dari awal sampai akhir ritual ini hanya baca dan
>
baca kemudian makan dan minum tanpa ada tolabul ilmi maupun saling
mansehati.
> dllsb
>
> Jadi adat istiadat yang memang
keluar dari koridor Alloh dan
> RosulNya, wajib kita jauhi. Karena kita
adalah umat nya Muhammad dan
> bukan umat pengikut nenek
moyang.
>
> Salam
> Ari
>
> At 08:18 AM
7/18/2006, you wrote:
> >Apakah semua warisan nenek moyang mesti
ditinggalkan ?
> >
> >Adat istiadat masyarakat terhadap
orang yang terkena musibah (kematian)
> >sampai sejauh mana bisa
diterima oleh Islam, dan sampai sejauh mana
> >tidak diterima
(tertolak) oleh Islam ?
> >
> >wassalam
> >
>
>anut
>