Nuhun Kang Ramdan atas perhatosanana.. :) Hal utama yang melanggar syariah dalam acara tahlilan kematian adalah Berkumpul di rumah keluarga si mati dan memakan hidangan yang disediakan oleh keluarga si mati.
Beberapa Dalilnya diantaranya adalah Hadits berikut, Berkata Abdullah bin Ja'far tatkala datang khabar bahwa Ja'far telah terbunuh, Rasulullah SAW bersabda: "Bikinkanlah makanan untuk keluarga Ja'far karena telah datang kepada mereka hal yang menyibukkan mereka" (HR Asy-Syafie dan Ahmad). Jadi justru seharusnya yang menyediakan makanan adalah tetangga untuk keluarga yang kena musibah kematian, bukan yang terkena musibah menyediakan makanan buat orang yang datang. Hadits yang diriwayatkan imam Ahmad dari Jabir bin Abdullah Al Bajali dengan sanad yang shohih: "Adalah kami (para sahabat) menganggap bahwa berkumpul di rumah ahli mayyit dan mereka menyediakan makanan sesudah mayyit dimakamkan adalah termasuk perbuatan meratap". Hadits diatas menerangkan bahwa berkumpul dan menghidangkan makanan dalam upacara kematian di rumah ahli mayyit adalah termasuk meratap yang dilarang (diharamkan) oleh agama. Riwayat lain menerangkan: Bahwa Jarir datang kepada Umar ra, lalu Umar bertanya: "Adakah mayyit kalian diratapi? Dia menjawab: Tidak, lalu bertanya juga: Adakah orang-orang berkumpul di keluarga mayyit dan membuat makanan? Dia menjawab: ya, maka Umar berkata: "Yang demikian adalah ratapan". (Al Mugni Ibnu Qudamah zuz 2 hal 43). Berdasarkan dalil2 tersebut, maka jumhur ulama berpendapat bahwa berkumpul di rumah ahli mayyit dan makan-minum yang disediakan oleh keluarga mayyit adalah perbuatan bid'ah yang tidak sesuai dengan sunnah. ---- Sedangkan fatwa2 dari ulama madzhab Syafie yang berkaitan dengan acara tersebut adalah sbb: 1. Di dalam kitab Fiqh I'anatut Talibin telah dinyatakan, "Ya, apa-apa yang dilakukan oleh orang yaitu berkumpul di rumah keluarga mayat dan dihidangkan makanan untuk perkumpulan itu, ia adalah termasuk bid'ah mungkarat (bid'ah yang diingkari agama). Bagi orang yang memberantasnya akan diberi pahala." (I'anatut Talibin, syarah Fathul Mu'in : juz 2, hal 145) 2. Imam Syafie sendiri tidak menyukai amalan berkumpul di rumah kematian sepertimana yang telah dikemukakan di dalam kitab al-Umm (Kitab Karangan Imam Syafi'I yang masyhur) : "Aku tidak suka akan mat'am yaitu berkumpul (di rumah keluarga mayat) meskipun di situ tiada tangisan kerana hal tersebut malah akan menimbulkan kesedihan." (As-Syafie al-Umm : juz 1; hal 24) 3. Selanjutnya di dalam kitab I'anatut Talibin juga disebutkan lagi, "Dan perkara yang sudah menjadi kebiasaan yaitu keluarga mayat menghidangkan makanan untuk para undangan yang berkumpul, adalah satu perkara bid'ah yang tidak disukai agama (Islam). Hal ini samalah seperti berkumpul di rumah keluarga kematian itu sendiri karena terdapat hadits sahih yang telah diriwayatkan oleh Jarir r.a yang berkata, "Kami menganggap bahwa berkumpul di rumah keluarga kematian yang menghidangkan makanan untuk jamuan para hadirin adalah sama dengan hukum niyahah (meratapi mayat) yaitu haram." (I'anatut Talibin, juz 2, hal 146) 4. Pengarang kitab I'anatut Talibin juga mengambil keterangan sahih di dalam kitab Bazzaziyah yaitu, "Dan hal itu dibenci, menyelenggarakan makanan pada hari pertama (kematian), hari ketiga, sesudah seminggu dan juga memindahkan makanan ke tanah kubur secara bermusim-musim." (I'anatut Talibin, juz 2, hal 146) 5. Di dalam kitab Fiqh Mughnil Muhtaj disebutkan: "Adalah, keluarga kematian yang menyediakan makanan dan orang ramai berkumpul di rumahnya untuk menjamu, merupakan bid'ah yang tidak disunatkan, dan di dalam hal ini Imam Ahmad telah meriwayatkan hadits yang sahih daripada Jarir bin Abdullah, berkata, "Kami menganggap bahwa berkumpul di rumah keluarga kematian dan keluarga tersebut menghidangkan makanan untuk menjamu para hadirin, adalah sama hukumnya seperti niyahah (meratapi mayat) yaitu haram." (Mughnil Muhtaj, juz1, hal 26) 6. Di dalam kitab Fiqh Hasyiyatul Qalyubi dinyatakan, "Syeikh ar- Ramli berkata, "Di antara bid'ah yang mungkarat (yang tidak dibenarkan agama), yang dibenci apabila diamalkan sebagaimana yang telah diterangkan di dalam kitab ar-Raudhah, yaitu apa-apa yang telah dilakukan oleh orang yang dinamakan "kifarah" dan hidangan makanan yang disediakan oleh tuan rumah kematian untuk jamuan orang yang berkumpul di rumahnya sesudah kematian, serta penyembelihan di tanah kubur." (Hasyiyatul Qalyubi, juz 1, hal 353) 7. Di dalam kitab Fiqh karangan imam Nawawi yaitu kitab al-Majmu' syarah Muhazab, menyebutkan, "Penyedian makanan yang dilakukan oleh keluarga kematian dan berkumpulnya orang yang ramai di rumahnya, adalah tidak ada nasnya sama sekali, yang jelasnya semua itu adalah bid'ah yang tidak disunatkan." (an-Nawawi, al-Majmu' syarah Muhazab, juz 5, hal 286) 8. Pengarang kitab I'anatut Talibin juga turut mengambil keterangan di dalam kitab al-Jamal syarah al-Minhaj yang berbunyi seperti berikut, "Dan di antara bid'ah mungkarat yang tidak disukai ialah sesuatu perkara yang sangat biasa diamalkan oleh individu yaitu majlis menyampaikan rasa duka cita (kenduri arwah), berkumpul dan membuat jamuan majlis untuk kematian pada hari keempat puluh, bahkan semua itu adalah haram." (I'anatut Talibin, juz 2, hal 145-146) 9. Selanjutnya, pengarang kitab tersebut juga mengambil lagi keterangan daripada kitab Tuhfatul Muhtaj syarah al-Minhaj yang berbunyi, "Sesuatu yang sangat dibiasakan oleh seseorang dengan menghidangkan makanan untuk mengundang orang ramai ke rumah keluarga kematian merupakan bid'ah yang dibenci sebab ada hadits yang telah diriwayatkan oleh Jarir yang berkata, "Kami (para sahabat nabi Sallallahu `alaihi wasallam) menganggap bahwa berkumpul di rumah keluarga kematian dan keluarga tersebut menghidangkan makanan untuk majlis itu adalah sama dengan hukum niyahah yaitu haram." (I'anatut Talibin, juz 2, hal 145-146) 10. Pengarang kitab tersebut mengambil lagi fatwa dari mufti mazhab Syafie, Ahmad Zaini bin Dahlan, "Dan tidak ada keraguan sedikit pun bahwa mencegah umat daripada perkara bid'ah mungkarat ini sama seperti halnya menghidupkan sunnah nabi Sallallahu `alaihi wasallam. Mematikan bid'ah seolah-olah membuka pintu kebaikan seluas-luasnya dan menutup pintu keburukan serapat-rapatnya karena orang lebih suka memaksa-maksa diri mereka berbuat hal-hal yang akan membawa kepada sesuatu yang haram." (I'anatut Talibin, juz 2, hal 145-146) 11. Dan di dalam kitab Fiqh Ala Mazahibil Arba'ah menyatakan, "Dan di antara bid'ah yang dibenci agama ialah sesuatu yang dibuat oleh individu yaitu menyembelih hewan-hewan di tanah kubur tempat mayat di tanam dan menyediakan hidangan makanan yang diperuntukkan bagi mereka yang datang bertakziah." (Abdurrahman al-Jaza'iri, al-Fiqhu Ala Mazahibil Arba'ah, juz 1, hal 539) Demikianlah di antara pendapat-pendapat para ulama Syafi'iyah berkenaan selamatan atau kenduri arwah. Mereka telah bersepakatbahawa amalan tersebut adalah bid'ah mungkarat atau bid'ah yang dibenci. Sedangkan untuk kegiatan mengirim pahala bacaan kepada si mati, ulama Syafi'iyah telah bersepakat dan mempunyai satu pandangan yang teguh yaitu mengirimkan pahala bacaan al-Qur'an kepada si mati adalah tidak akan sampai kepada si mati atau roh yang dikirimkan. Di bawah ini adalah sebagian daripada pendapat ulama Safi'iyah yang berkaitan dengan amalan tersebut. Pendapat-pendapat ini telah diambil dari kitab-kitab tafsir, kitab-kitab fiqh dan kitab-kitab syarah hadits. 1. Pendapat Imam Syafie rahimahullah. Imam Nawawi menyebutkan di dalam kitabnya, Syarah Muslim: "Adalah, bacaan al-Qur'an (yang pahalanya dikirimkan kepada mayat), maka pendapat yang masyhur dalam mazhab Syafie ialah amalan tersebut tidak akan sampai kepada mayat. Sebagai dalilnya, imam Syafie dan para pengikutnya mengambil daripada firman Allah SWT (yang artinya), "Dan seseorang itu tidak akan memperoleh melainkan pahala daripada daya usahanya sendiri." Serta dalam sebuah sabda Nabi Sallallahu `alaihi wasallam yang bermaksud, "Apabila manusia telah meninggal dunia, maka terputuslah segala amal usahanya kecuali tiga daripada amalnya, sedekah jariah, ilmu yang dimanfaatkan dan anak (lelaki atau perempuan) soleh yang berdoa untuk simati" (an-Nawawi, Syarah Muslim : juz 1 hal; 9) Kemudian imam Nawawi di dalam kitab Taklimatul Majmu', Syarah Muhazzab juga mengatakan: "Adalah membaca al-Qur'an dan mengirimkannya sebagai pahala untuk seseorang yang mati dan menggantikan sembahyang untuk seseorang yang mati atau sebagainya adalah tidak sampai kepada mayat yang dikirimkan menurut Jumhurul Ulama dan imam Syafie." Keterangan ini telah diulang beberapa kali oleh imam Nawawi di dalam kitabnya, Syarah Muslim. (as-Subuki, Taklimatul Majmu', Syarah Muhazzab: juz 10, hal; 426) Menggantikan sembahyang untuk si mati maksudnya adalah menggantikan sembahyang yang telah ditinggalkan oleh si mati semasa hidupnya. 2. Al-Haitami di dalam kitabnya, al-Fatawa al-Kubra al-Fiqhiyyah, berkata: "Bagi seseorang mayat, tidak boleh dibacakan kepadanya apa-apa pun berdasarkan keterangan yang mutlak dari ulama Mutaqaddimin (terdahulu) yaitu bacaan-bacaan yang disedekahkan kepada si mati adalah tidak akan sampai kepadanya karena pahala bacaan tersebut hanya pembacanya saja yang menerima. Pahala yang diperoleh dari hasil suatu amalan yang telah dibuat oleh amil (orang yang beramal) tidak boleh dipindahkan kepada orang lain berdasarkan sebuah firman Allah yang berbunyi, "Dan manusia tidak memperolehi kecuali pahala dari hasil usahanya sendiri." (Al-Haitami, al-Fatawa al-Kubra al- Fiqhiyah : juz 2, hal; 9) 3. Imam Muzani (Murid Imam Syafi'i), di dalam Hamisy al-Umm, juga berkata: "Rasulullah Sallallahu `alaihi wasallam telah memberitahu sebagaimana yang telah diberitakan dari Allah bahawa dosa seseorang akan menimpa dirinya sendiri seperti halnya sesuatu amal yang telah dikerjakan adalah hanya untuk dirinya sendiri bukan untuk orang lain dan ia tidak dapat dikirimkan kepada orang lain." (Catatan kaki al-Umm as-Syafie : juz 7, hal ; 269) 4. Imam al-Khazin di dalam tafsirnya mengatakan, "Dan yang masyhur di dalam mazhab Syafie adalah bahwa bacaan al- Qur'an (yang pahalanya dikirimkan kepada mayat) adalah tidak dapat sampai kepada mayat yang dikirimkan" (Al-Khazin, al-Jamal : Juz 4, hal ; 236) 5. Di dalam tafsir Jalalain telah disebutkan seperti berikut, "Maka seseorang tidak akan memperolehi pahala sedikit pun dari hasil usaha orang lain." (Tafsir Jalalain : juz 2, hal ; 197) 6. Ibnu Katsir di dalam tafsirnya, Tafsirul Qur'anil Azim telah menafsirkan surah an-Najm ayat 39 sebagai berikut: "Yaitu sebagaimana dosa seseorang tidak boleh menimpa atas orang lain begitu juga halnya seseorang manusia juga tidak bisa memperoleh pahala melainkan dari hasil usaha amalannya sendiri. Dan daripada surah an-najm ayat 39 ini, Imam Syafie r.a dan para ulama yang mengikutnya telah mengambil kesimpulan bahwa, pahala bacaan yang dikirimkan kepada mayat adalah tidak akan sampai kepadanya karena amalan tersebut bukan daripada hasil usahanya sendiri. Oleh sebab itu, Rasulullah Sallallahu `alaihi wasallam tidak pernah menganjurkan umatnya agar mengamalkan pengiriman tahlil. Baginda juga tidak pernah memberikan bimbingan tersebut dalam nas atau berupa isyarat di dalam hal tersebut. Tidak juga di kalangan para sahabat ada yang melakukan amalan tersebut, dan sekiranya amalan tersebut memang satu amalan yang digalakkan, tentunya mereka telah mengamalkannya terlebih dahulu, karena amalan untuk mendekatkan diri kepada Allah ada batasan-batasan nas yang terdapat di dalam al- Qur'an dan sunnah Rasul Sallallahu `alaihi wasallam dan tidak boleh dipalingkan dengan qias-qias atau pendapat-pendapat ulama." Demikian yang saya ketahui Kang Ramdan, dan hal2 seperti diatas ini telah saya konfirmasikan kepada Ustadz dimana saya melakukan kajian agama, dan beliau pun mem-benarkannya. Wassalam --- In [email protected], Ramdan <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Kang Wandy, > Apa sebaiknya dijelaskan mana saja dari kegiatan Tahlilan ini yang menurut > Akang bertentangan bahkan dinilai haram oleh pemuka Madzhab Syafi'i, > termasuk Imam Syafi'i sendiri? > Agar para langganan di warung ini jadi lebih mengerti. > > Jadi tujuannya untuk berbagi ilmunya tidak tanggung, gitu... > he-he-he... > sok mangga atuh... > > salam > :) ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Check out the new improvements in Yahoo! Groups email. http://us.click.yahoo.com/6pRQfA/fOaOAA/yQLSAA/wDNolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> Ilmu merupakan harta abstrak titipan Allah Subhanahu wata'ala kepada seluruh manusia yang akan bertambah bila terus diamalkan, salah satu pengamalannya adalah dengan membagi-bagikan ilmu itu kepada yang membutuhkan. Janganlah sombong dengan ilmu yang sedikit, karena jika Allah Subhanahu wata'ala berkehendak ilmu itu akan sirna dalam sekejap, beritahulah orang yang tidak tahu, tunjukilah orang yang minta petunjuk, amalkanlah ilmu itu sebatas yang engkau mampu. Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/keluarga-islam/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
