|
Assalamu'alaikum wr wb
Pagi itu, hari pertama bulan Rojab 1427, kami bangun
terlambat, jam 4.05an! Sebentar lagi adzan subuh berkumandang. Padahal biasanya
istri saya selesai mencuci hampir bersamaan dengan adzan subuh atau paling lama
saat iqomat subuh, tentu saja kami mesti buru-buru agar tidak kesiangan, apalagi
akhir-akhir ini air sumur tidak bisa dipompa karena menyusut, mesti ditimba
dulu.
Setelah menimba air (istri saya mencuci pakaian) saya mandi,
wudlu dan sholat subuh. Habis sholat saya baca rotib al-Haddad di samping anak
saya yang sudah bangun, tidak rewel tapi malah senyam-senyum sendiri. Saya geser
duduk saya tepat ke sebelahnya, saya lanjutkan bacaan saya dan sengaja saya
perdengarkan ke dekat telinganya agar dia nanti jadi orang yang cinta habaib
dsb.
Selesai rotib-an, dari dalam kamar terdengar di luar sana
teman saya mengajari anaknya menyanyi lagu anak-anak,
"Satu-satu, aku sayang ayah...dua-dua, aku sayang
ibu...tiga-tiga, sayang adik kakak...satu dua tiga, sayang semuanya..."
Eh, tiba-tiba saya pengen memodifikasi lagu itu, dan selesai.
Kemudian saya nyanyikan buat anak saya yang sudah ada di pangkuan saya, tiduran
sambil minum susu.
"...'Satu-satu, Uli (*) sayang Allah...
Dua-dua, Uli sayang Nabi... Tiga-tiga, sayang Malaikat... Satu dua
tiga, sayang semuanya...' Sayang bapak, sayang ibu, sayang mbah, sayang mbah
buyut...", saya bernyanyi, lagu itu saya ulang-ulang terus biar anak saya hafal,
lalu tanya siapa tho Allah itu, nah akan saya jawab kalau Allah itu
Tuhan, baginda Muhammad itu Nabi dsb.
Saya tidak mau anak saya tidak tahu siapa Allah, seperti
ketika suatu saat saya tanya seorang anak usia 3an tahun,
"Adeeek, tahu ndak siapa Allah?", tanya saya.
Anak itu menjawab dengan menggelengkan kepalanya. Saya tidak
mau anak saya seperti itu, saya mau anak saya sudah tahu kalau Allah itu
Tuhannya, baginda Nabi Muhammad itu Nabinya dsb. Yah paling tidak seperti
itu...
"Ayo lik (**) lagi, satu-satu, Uli sayang Allah...
dua-dua, Uli sayang Nabi... tiga-tiga, sayang Malaikat... satu dua
tiga, sayang semuanya... satu-satu, Uli sayang Allah...
dua-dua, sayang Rosulullah... tiga-tiga, sayang para Nabi... satu dua
tiga, sayang semuanya...", ajak saya sambil terus bernyanyi.
Ketika istri saya masuk kamar selesai mencuci, saya ajak ikut
bernyanyi, "Buk buk...nyanyi, buk...", dan, kami pun bernyanyi bersama.
Subhaanaka-llaahumma wa bihamdika, Asyhadu an-laailaahailla
anta, Astaghfiruka wa atuubu ilaika...
(*) : Uli adalah panggilan keluarga saya
untuk anak saya Muhammad Haykal. Uli diambil dari kata Maulid, sebab anak saya
lahir tepat tanggal 12 Robi'ul Awal 1427, MaULId...Uli. Tapi keluarga istri saya
panggil anak saya Haykal.
(**) : Lik adalah panggilan untuk anak
laki-laki di Jawa (Wuk untuk perempuan), ada juga yang lain yaitu Nang (Nok
untuk perempuan). Seperti di Betawi menyebut anak laki-laki dengan Tong, atau
Neng untuk perempuan.
__._,_.___
Ilmu merupakan harta abstrak titipan Allah Subhanahu wata'ala kepada seluruh manusia yang akan bertambah bila terus diamalkan, salah satu pengamalannya adalah dengan membagi-bagikan ilmu itu kepada yang membutuhkan. Janganlah sombong dengan ilmu yang sedikit, karena jika Allah Subhanahu wata'ala berkehendak ilmu itu akan sirna dalam sekejap, beritahulah orang yang tidak tahu, tunjukilah orang yang minta petunjuk, amalkanlah ilmu itu sebatas yang engkau mampu. YAHOO! GROUPS LINKS
__,_._,___ |
