|
pak arif dani.
tolong dikirimkan semua postingan saya..bukankah
disitu ada dalil2nya ?? jangan dipotong2.
dan perlu anda ketahui bahwa ulama2 ahlussunnah
terdahulupun tidak perna membiarkan kemungkaran berlalu tanpa 'berdebat' dengan
adu argumen (dalil).
mereka meluangkang umurnya untuk menulis
kitab-kitab guna meluruskan kesalahan2 pemahaman orang2 yang mengaku Islam yang
sebenarnya justru menghancurkan islam dari dalam seperti tarikat2 anda yang aneh
dari cara beribadah,pemahaman agama dll.
pada shahabat ridwanullah a'layhim jami'an
pun tidak perna membiarkan kemungkaran didepan mereka berlalu begitu saja,
agar ISLAM yang dibawah oleh Nabi yang mulia mereka Muhammad shallallahu
;alayhi wa sallam tidak tercampur dengan kebid'ahan,khurafat,kesyirikan
seperti yang terjadi di jaman ini.
maka perdebatan 'sah2' saja dengan
syarat:
1. Dilandasi dengan Iklash untuk menasehati, karena
tanpa adanya rasa iklash maka yang tersisa adalah kebencian
2. menegakkan dengan hujjah yang kuat dari 2 kitab
yang mulia (al-Qur'an dan as-Sunnah) karna tanpa itu yang ada hanya
logika-logika yang tidak ada titik temunya.
3. tidak mengharapkan adanya kalah dan menang tapi
diharapkan adalah tegaknya kebenaran berdasarkan al-Qur'an dan as-Sunnah
tersebut bukan berdasarkan perkataan selain sekeduanya.
4. menghilangkan kerusakan lebih besar, karena jika
tidak dilakukan adu argumen dikwatirkan org2 awam akan terpedaya dengan syubhat2
yang dimana syubhat ini merupakan pintu menuju keharaman.
5. dengan ILMU (qalAllahu wa
qolaRosul)
semoga bermanfaat.
Abu yahya adz-dzahabi
ps :kalau anda tidak menjawab tidak mengapa, karena
tujuan saya bukan buat jawab-jawaban, karena sesuatu yang haq tidak perlu lagi
diperdebatkan kecuali oleh orang-orang jahil (baca bodoh) dalam Dien ini. dan
terpenting masih banyak saudara2 saya (semoga Allah memberinya hidayah) yg mau
menerima kebenaran dari al-Qur'an dan as-Sunnah yang mulia
-- berikut potongan
dari posting saya yang terpotong ---:
1. dari nabi yang mulia Muhammad
Shallallahu 'alayhi wa sallam, bahwa beliau shallallahu 'alayhi wa
sallam tidak perna memerintahkan dzikir dengan cara berjama'ah, sekiranya beliau
perintahkan tentulah akan kita jumpai pada kitab2 hadits, dan perkataan mulia
beliau shallallahu 'alayhi wa sallam bahwa "barang siapa yang mengerjakan suatu
amalan yang tidak ada tuntunannya dari kami, maka tertolak "
Imam Asy Syatibi dalam Kitab Al - I'thisham 1/129, 2. dari shahabat ridwanullah alaihim ajmain yang merupakan sebaik-baik generasi, semua mereka mengingkari terhadap siapa saja yang melakukan dzikir seperti dzikir berjama'ah a. "Seorang pegawai menulis surat kepada Umar bin Khaththab radhiAllahu 'anhu, yang isinya, 'Di suatu tempat ada suatu kaum yang berkumpul dan mereka berdo'a untuk kebaikan b. "Seorang laki - laki mengabarkan kepada Ibnu Mas'ud radhiAllahu 'anhu bahwa ada satu kaum sedang berkumpul dalam mesjid setelah melaksanakan shalat maghrib, seorang dari mereka berkata, 3. dari Imam-imam ahlussunnah (semoga Allah merahmati mereka semua) bahwa: Abu Hanifah dalam Kitab Badai'u ash shana'i fi Tartibi Ays Syara' 1/196 mengatakan, "Bahwasannya mengeraskan suara ketika bertakbir pada dasarnya 4. dari fatwa-fatwa 'Ulama
(semoga Allah merahmati mereka)
Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin
berkata dalam Kitab Fiqh Al 'Ibadah hlm. 343, "Ada sebagian dari
jama'ah haji yang membaca talbiyah secara
berjamaah dengan satu suara, salah seorang dari mereka maju ke depan, atau berada di tengah - tengah dan terkadang di barisan belakang, ia membaca talbiyah lalu para jamaah lain mengikutinya secara bersama - sama. Cara ini tidak pernah ada pada zaman sahabat Radhiyallahu 'anhum, bahkan Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu berkata, "Kami bersama Nabi Muhammad shallallahu 'alayhi wa sallam - pada saat haji wada' - maka ada diantara kami yang membaca takbir, ada yang membaca tahlil dan ada yang membaca talbiyah, beginilah yang disyariatkan kepada kaum muslimin, yaitu agar mereka membaca talbiyah sendiri - sendiri, tanpa ada sangkut pautnya dengan orang lain" beliau juga berkata dalam fatwanya dalam Kitab Ad Dararu As Sunniyah 4/318 mengatakan, "Bahwa berdoa bersama setelah seorang Imam salam dengan satu lantunan tidak ada asalnya dan tidak disyariatkan" Syaikh Hamid At Tuwaijiry Kitabnya Inkaru At Takbir Al Jama'i wa Ghairihi berkata, "Dalam Shahih Bukhari (no. 1830) dan Shahih Muslim (1704) dari 'Ashim Al Ahwal dari Abu Utsman dari Abu Musa Radhiyallahu 'anhu berkata, 'Ketika Rasulullah shallallahu 'alayhi wa sallam berjihad pada perang Khaibar ., mereka (para sahabat) menyerukan takbir seraya membaca : Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaha illallah dengan suara keras maka Rasulullah shallallahu 'alayhi wa sallam bersabda, 'Tahanlah diri kalian, sesungguhnya kalian tidak berdoa kepada Dzat yang tuli maupun jauh, sesungguhnya kalian berdoa kepada Dzat yang Maha mendengar yang dekat dan Dia selalu bersama kalian'. Jika Rasulullah shallallahu 'alayhi wa sallam melarang orang - orang yang meneriakan takbir padahal mereka berada di tanah lapang, maka perbuatan orang - orang yang bersahut - sahutan di dalam Masjidil Haram lebih terlarang lagi, karena mereka telah melakukan beberapa bid'ah yaitu berdzikir dengan suara keras, bersama - sama melagukannya sebagaimana yang dilakukan paduan suara, mendendangkannya dan mengganggu orang lain, yang semuanya ini tidak boleh dilakukan" Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz dalam Kitab Fatawa Nur 'Ala Ad Darb 1/358 mengatakan, "Berkumpul untuk berdzikir secara berjamaah adalah perbuatan yang tidak mempunyai dasar hukum dalam agama.dan wajib setiap muslim untuk meninggalkan perkara bid'ah, karena Rasulullah shallallahu 'alayhi wa sallam bersabda, 'Barangsiapa melakukan suatu perbuatan yang tidak berdasarkan pada perkataan kami maka ia tertolak' (HR. Muslim no.1718)" Syaikh Shalih bin Fauzan al Fauzan dalam Kitabnya Nur 'ala Ad Darb 1/23 mengatakan, ".Membaca Istighfar berjama'ah adalah bid'ah. Tidak pernah dicontohkan oleh Nabi Muhammad shallallahu 'alayhi wa sallam , karena beliau beristighfar sendiri tanpa terikat dengan orang lain, dan tidak dengan berjamaah, begitu pula para sahabat, masing - masing membaca istighfar sendiri - sendiri tanpa berjama'ah dan itulah yang dilakukan oleh orang - orang setelah mereka" --selesai- __._,_.___ Ilmu merupakan harta abstrak titipan Allah Subhanahu wata'ala kepada seluruh manusia yang akan bertambah bila terus diamalkan, salah satu pengamalannya adalah dengan membagi-bagikan ilmu itu kepada yang membutuhkan. Janganlah sombong dengan ilmu yang sedikit, karena jika Allah Subhanahu wata'ala berkehendak ilmu itu akan sirna dalam sekejap, beritahulah orang yang tidak tahu, tunjukilah orang yang minta petunjuk, amalkanlah ilmu itu sebatas yang engkau mampu. YAHOO! GROUPS LINKS
__,_._,___ |
- [keluarga-islam] Dzikir Berjamaah : Bagi yang tidak ... arief dani
- Re: [keluarga-islam] Dzikir Berjamaah : Bagi ya... Abu Yahya Adz-Dzahabi
- RE: [keluarga-islam] Dzikir Berjamaah : Bagi ya... Kartika, Bambang
- [keluarga-islam] RE 100x: Dzikir Berjamaah ... Nashir Ahmad M.
- Re: [keluarga-islam] Dzikir Berjamaah : Bag... Abu Yahya Adz-Dzahabi
- [keluarga-islam] Re: Dzikir Berjamaah :... al.fatih
- [keluarga-islam] Re: Dzikir Berjama... imbuhs
- Re: [keluarga-islam] Re: Dziki... Abu Yahya Adz-Dzahabi
- Re: [keluarga-islam] Re: D... Naufal
- Re: [keluarga-islam] R... Ari
- [keluarga-islam] Re: D... kang nceps
